Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 25 Juni 2012

Optimalisasi Fungsi Otak Dengan Belajar Bahasa Sanskerta

I Ketut Sandika

Sankaracarya yang agung dalam Sutrabhasya berpandangan, bahwa keinginan manusia adalah sama dengan binatang. Keinginan tersebut adalah makan, tidur dan bersetubuh, selain itu perasaan takut juga hal yang umum pada keduanya. Tetapi yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia diberikan manah (pikiran) dan budhi (kecerdasan intelek) untuk dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Pikiran merupakan anugrah yang luar biasa dari Tuhan kepada manusia, dan pikiran adalah apa yang dikerjakan otak. Jadi, ketika kita mampu mengoptimalkan fungsi otak, maka pikiran yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik juga.

Perspektif teoretis sains menjelaskan bahwa manusia memiliki otak besar yang terdiri dari belahan otak kanan dan kiri. Otak kanan berkaitan dengan Emotional Intelligence seseorang, yakni hal yang bersifat artistik, kreativitas, perasaan, emosi dan yang lainya. Sedangkan belahan otak kiri lebih kepada Intelegence Quotient, yakni berkaitan dengan fungsi akademika, kemampuan tata bahasa, berbicara, baca tulis dan sejenisnya. Menyimak uraian fungsi dari masing-masing otak tersebut, menjadi hal yang penting untuk menyeimbangkan belahan otak kanan dan kiri, karena dua belahan otak tersebut sama-sama penting.

Akhir-kahir ini banyak metode yang berkembang di dalam mengaktifkan fungsi otak tersebut secara optimal. Dan dalam perspektif Veda hal tersebut sudah dipelajari oleh para Rsi yang vipra sejak zaman dulu, hingga saat sekarang. Salah satu dari sekian banyak orang bijak tersebut adalah Rsi Panini. Rsi Panini adalah yang mengembangkan tata bahasa Sanskerta, sehingga bahasa ini menjadi bahasa Veda. Bahasa Sanskerta dengan huruf Devanagari adalah bahasa dan huruf yang digunakan di dalam menuliskan mantram-mantram pustaka suci Veda. Secara fundamental mempelajari bahasa Sanskerta di samping untuk memahami literatur Veda, hal yang terpenting juga untuk diketahui, ketika seseorang secara intens belajar dan membaca bahasa Sanskerta baik dalam bentuk mantram atau sloka ternyata dapat mengoptimalisasikan fungsi otak secara seimbang.

Hal tersebut dapat diketahui dari gambaran kehidupan para Rsi atau Yogi yang medalami Veda. Membaca, melantunkan, menembangkan (mencantingkan) bahasa Sanskerta dalam bentuk mantram atau sloka Veda secara intens menyebabkan daya kecerdasan mereka meningkat dan menembus batasan imanensi, hingga mampu berada pada tatanan trancendensi. Dengan kemampuan itu, para Rsi atau Yogi mampu menembus dimensi waktu yang berbeda dan mengatasi gerak gravitasi bumi, sehingga tidak jarang seorang yogi dapat berada di mana-mana dalam sekejap mata. Demikian juga kesadaran mereka melampui kesadaran manusia pada umumnya. Belajar atau menghafal mantram atau sloka dengan bahasa Sansekerta akan membangkitkan getaran atau bhava ketuhanan dalam diri. Sebenarnya daya kerja otak akan bekerja dengan baik ketika kita selalu mendekatkan diri dengan hal-hal yang rohani, sebab otak sangat mudah menangkap atau mengingat hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan.

Dipandang dari ilmu neurosains cara kerja pikiran tergantung pada cara kerja otak, di mana otak yang terdiri dari banyak struktur sel akan bekerja dengan baik, jika pikiran terkendali demikian juga sebaliknya. Dari sekian banyak bagian dan struktur sel otak tersebut terdapat titik Tuhan yang disebut dengan Go-spot. Titik inilah yang bergetar saat orang berhubungan dengan hal-hal yang berbau rohani. Demikian juga dengan membaca dan menghafal sloka bahasa Sansekerta secara tidak langsung akan membangkitkan getaran titik Tuhan dalam otak, sehingga daya kerja otak mampu bekerja secara optimal. Getaran tersebut juga akan membuat fungsi dari masing-masing belahan otak berfungsi seimbang. Keseimbangan ini akan mempengaruhi kesehatan fisik manusia. Seorang yang memiliki keseimbangan fungsi otak akan menjadi tenang dalam menghadapi situasi dan kondisi apa pun.

Dua struktur sel yang penting dalam otak adalah hippocampus, yang berfungsi untuk merekam dan mengingat, menyediakan ruang, intelektual, konteks verbal yang memberikan arti kepada respons emosi kita. Struktur berikutnya adalah amygdala, struktur ini adalah struktur saraf kecil yang terletak di atas batang otak. Saraf kecil ini memainkan peranan penting dalam kemampuan kita di dalam merasakan emosi dan menciptakan ingatan-ingatan. Dua sel tersebut akan mengalami kelemahan bahkan mati, ketika kita tidak pernah memberikan sentuhan bhava ketuhanan terhadap otak kita. Dan hal itu yang banyak terjadi dewasa ini, akibat tekanan dan tuntutan di dalam pemenuhan material, kita lupa memberikan otak kita sentuhan ketuhanan. Yang terjadi banyak orang yang mengalami depresi yang berujung pada hilangnya kesadaran sejatinya menjadi manusia.

Belajar bahasa Sanskerta maupun menghafal sloka atau mantram dengan bahasa Sanskerta secara tidak langsung memberikan sentuhan bhava kepada otak kita, sehingga dua sel tersebut tetap kuat dan bekerja dengan baik dalam otak. Belajar bahasa Sanskerta akan memberikan penguatan pada susunan sel-sel dalam otak sehingga sel tidak akan mengalami kelemahan. Cuma terkadang kita tidak terlalu sering bersentuhan dengan hal-hal yang berbau rohani, jangankan membaca atau belajar bahasa Sanskerta, membaca mantram saja kita sudah dikatakan belajar jadi pamangku atau sulinggih terlebih lagi ada anggapan “Melajah memantra pasti bisa ngeliak” (belajar mantra pasti bisa ilmu hitam).

Titik Tuhan dalam otak bersifat laten, ia tidak akan mengalami getaran jika tidak ada rangsangan dari luar. Titik Tuhan ini akan mampu menggetarkan seluruh sel otak, jika hal-hal yang rohani datang dari luar, dan sebaliknya akan pasif jika hanya disentuh oleh hal-hal yang bersifat non rohani. Penting juga diperhatikan, di dalam belajar, menghafal apalagi mengidungkan bahasa Sanskerta melalui mantram atau sloka yang perlu diperhatikan adalah chanda atau iramanya harus tepat dan yang paling penting disertai dengan ketulusan hati dan penjiwaan. Jangan sekali belajar Sanskerta mengharapkan kemasyuran, harta dan tahta terlebih surga.

Satguru Sankaracarya suatu hari melakukan perjalanan bersama dengan beberapa muridnya. Di pinggiran sungai satguru melihat seorang Rsi belajar tata bahasa Sanskerta dari Panini. Satguru bertanya: “Apa yang engakau lakukan?”, Rsi menjawab: “Saya sedang mempelajari tata bahasa Sanskerta dari Panini untuk saya dapat mengajarkanya pada raja di istana, sehingga saya mendapatkan kemasyuran dan harta, hingga saya menjadi orang terkenal dan akhirnya surga pun saya miliki.” Sankaracarya berkata, “Sungguh bodoh dirimu, itu tidak tidak akan mengantarkanmu pada pencerahan, ucapkanlah bhaja govindam, bhaja govindam.” Penulis mahasiswa IHDN Denpasar, Bangli
Sekjen Vivekananda Spirit Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar