Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Minggu, 05 Juni 2011

Taman Majapahit Ditargetkan Selesai 2014

Walau sempat mandek dan jadi kontroversi, pemerintah akan meneruskan pembangunan Taman Majapahit di komplek Museum Majapahit, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Sekretaris Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Suroso menjelaskan pembangunan Taman Majapahit dimulai sejak 2009 lalu. "Kami berharap tahun 2014 sudah jadi," kata dia Kamis 5 Mei 2011 malam.
Soal dana, tambah dia, pada tahun 2010 dianggarakan sekitar Rp10 miliar, sementara tahun ini Rp15 miliar. "Sangat kecil. Kami upayakan bertahap, sesuai dengan kemampuan negara untuk bisa terus melaksanakan kegiatan itu," kata dia.

Jika dihitung secara keseluruhan, sampai jadi, proyek ini akan menyerap anggaran sampai Rp200 miliar. Dana itu dibutuhkan untuk menyiapkan sejumlah fasilitas seperti lapangan parkir, museum, tempat berdagang, dan perbaikan jalan. Dari mana kekurangan uangnya? "Tapi kan itu bukan pekerjaan kami sendiri. Provinsi dan kabupaten berkontribusi dan kami harapkan dari kalangan usahawan bisa masuk," tambah dia.

Taman Majapahit akan berada di atas lahan 9 x 11 kilometer. Menurut Suroso lahan seluas itu tak harus dibebaskan secara keseluruhan. Ada lokasi untuk kerajinan, restoran, dan penginapan. "Jangan dianggap pembangunan yang membebaskan 9x11 kilometer menjadi tanah kosong. Tetapi bagaimana meningatkan potensi-potensi di sana. Baik budaya, ekonomi, sosial dan sebagainya yang dapat mendukung terwujudnya Taman Nasional Majapahit."

Suroso mengatakan, tujuan Taman Majapahit adalah untuk melestarikan dan membangun karakter bangsa. "Dari sisi ekonomi kalau taman Majapahit itu berkembang, semua sektor kerajinan, usaha dan lainnya hidup, maka masyarakat akan lebih sejahtera. Dibandingkan sekarang, hanya membuat bata."

Terkait protes arkeolog dan budayawan yang menuding pemerintah melanggar Undang-undang karena telah merusak situs sejarah, Suroso berpesan, "Kita mencoba untuk memberikan gambaran kepada arkeolog muda, tugas kita bukan berakhir pada sebuah pencapaian kalau kita sudah bongkar, selesai. Tetapi ada pekerjaan yang lain lagi. Apakah yang kita bongkar itu bermanfaat bagi masyarakat atau tidak. Itu yang penting. Kalau kita bongkar tidak dibutuhkan masyarakat, percuma. Tapi kalau kita membongkar dan masyarakat bisa sejahtera, itu yang kita harapkan." Untuk masyarakat, tambah dia, Taman Majapahit berguna untuk mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa depan. "Bahwa dari candi-candi, dari peninggalan-peninggalan lain, kita bisa belajar dari kearifan bangsa kita."
(adi/VIVAnews).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar