Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 24 Mei 2011

Pendidikan dan Menjadi Guru Sejati

Luh Made Sutarmi

Mereka yang tahu bagaimana cara berpikir tidak membutuhkan guru. Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.
Mahatma Gandhi

“Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah dimiliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Demikian kata-kata bijak terlontar dari bibir Thomas Jefferson, salah sorang Guru Bangsa Amerika. Kabar baiknya adalah rawatlah apa yang sebenarnya Anda miliki dan mungkin akan Ada miliki, sejatinya itu adalah sebuah proses untuk mewujudkan pendidikan dalam diri. Sebab pendidikan adalah sebuah jalan yang kerap dibangun untuk mencapai sasaran. Pendidikan diabaikan,sebab banyak kalangan berharap bahwa tujuan bisa dicapai dengan tanpa jalan. Namun pendidikan sering dijebak untuk diarahkan agar mencapai program mengkultuskan individu di setiap masa. Di sana akan terjadi ruang yang sarat dengan kepentingan.

Ketika Drona mendidik ksatria Astina, tanpa boleh ada elemen lain yang berlabel rakyat jelata di dekatnya, saat itu pendidikan sudah mulai terpasung, pendidikan sudah memasuki rekayasa sang pemimpin. Di dimensi itu akan nampak jelas, paduan antara kekuasaan politik dan kata-kata yang mendukungnya. Namun ada batas dan bahaya. Ketika untuk meneguhkan sebuah kekuasaan sederet kata jadi doktrin, dan doktrin jadi slogan, dan slogan jadi mantra, manusia hidup terasing dari proses bahasa. Itulah kekuatan pendidikan.

Sebab, para murid hanya menghafal. Ia makin tak pasti dengan makna kata yang diucapkannya. Ia juga makin kurang yakin akan tafsir yang datang dari dirinya sendiri, karena makna ditentukan para penguasa. Pada gilirannya, para penguasa juga mengalami keterasingan, karena dalam keseragaman slogan, mereka tak tahu di mana kata-kata sendiri berarti. Inilah wacana dalam spektrum pendidikan yang dikebiri oleh sebuah ideologi baru, yakni fragmatisme.

*****
Resah dan gelisah mencuat juga di Balerung istana,di ruang yang berlabel elit dan intelektual, menghadirkan perdebatan sengit antarpunggawa keraqjaan tentang bagaimana melanggengkan dan menyelamatkan kekuasaan Astina. Segala corak dan kebijakan terselip bagaimana membuat penerus Astina menjadi baik, dan tak hirau apa yang dilakukan para penguasa mereka. Aroma itu terus menyusup di antara para pelaku negeri. Juga berdebar ke nafas punakawan istana , yakni Tuwalen, Merdah dan Condong di rumah mereka.

Tuwalen berkata, “Ah punggawa terus berdebat, semua menjajikan perubahan, transformasi budaya lewat pendidikan, semua itu bak semilir angin selatan yang sejuk namun sering membuat mabuk kepayang.”

Merdah menyaut ketus, “Dari pada tidak ada harapan sama sekali, walaupun janji-janji belum ditepai, tapi kita masih memiliki harapan, dari pada wakil rakyat dan punggawa tidak berjanji semasekali. Nang! Kini pemerintah sudah menepati janjinya di dunia pendidikan. Contohnya adalah sertifikasi guru telah berjalan.”

Tuwalen menimpali, “Benar itu Dah, guru semua senang, semua terlihat meriah, semangat sertifiksi guru membawa angin segar di dunia pendidikan kita?”

“Ya, banyak sekolah di Astina dipadati dengan mobil mewah, guru tidak lagi kere. Untuk sertifikasi, semua guru senang berseminar, walaupun hanya dengan membayar, dan anehnya banyak yang tidak hadir, hanya membutuhkan sertifikat dan bukan ilmu, Bli,” kata Condong dengan mulut manyun.

“Ah... kamu sirik, banget, sih kenapa kamu tidak jadi guru aja?”

“Wong aku tidak sekolahan Bli,” sergah Condong

Merdah bertanya, kenapa para guru kini belum juga puas, Eh sudah sertifikasi, kualitas pendidikan sering naik turun, kurang apa lagi ya? Malem menjawab datar, “Keinginannya tinggi, guru juga manusia, toh. sebab Sepanjang seseorang mengembangkan keinginan untuk buah dari tindakannya, maka orang tersebut tidak akan mempunyai kedamaian dalam hati. Ambillah sebuah kasus. Sebelum perkawinan, hanya ada satu orang dan satu orang; setelah perkawinan, mereka menjadi dua orang. Pasangan tersebut mempunyai anak setelah satu tahun. Awalnya, ia hanya mempunyai dua kaki; setelah perkawinan, mereka mempunyai empat; setelah melahirkan anak mereka mempunyai enam kaki. Seperti itulah, ketika keluarga tumbuh, jumlah kaki juga tumbuh, dan mereka akan mengkhirinya dengan duka cita. Semua itu bukanlah kreasi dari Tuhan. Semua itu adalah hasil dari kelemahan mental seseorang yang terikat pada kehidupan ini,” kata Tuwalen serius.

“Guru sekarang menjadi susah,” kata Tuwalen menambahkan. Sebagai seorang guru (pendidik), bila murid-murid kita berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita akan semakin mudah. Tetapi bila murid kita tidak berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita menjadi semakin penting. (Walau lebih mudah mendidik anak-anak yang "sudah baik", tetapi tugas pendidik yang sejati adalah mendidik mereka yang masih "mencari jalannya" ini.

Merdah tersenyum, “Guru itu kini terus mendapat tantangan. Bagaimana Nang, kalau aku menjadi guru agar bisa tenang?”

Tuwalen berkata: Ya. Engkau harus mengubah bahwa semua pengalamanmu ini hanya mengubah dunia sementara saja. Mereka seperti awan yang berlalu. Kalian tidak perlu merasa cemas akan pengalaman-pengalaman tersebut. Kalian sedang bergerak maju. Lanjutkan perjalanan hidupmu dengan keyakinan yang meninggkat terhadap Tuhan. Mengapa kalian harus menatap ke belakang dan merenungkan tentang masa lalu? Itulah yang engkau camkan kalau menjadi guru

Condong menimpali, “Dah , kamu harus siap, anak-anak sekarang senang berkelahi, kamu harus masuk sasana tinju dulu, kalau mau jadi guru.” Merdah, terkekeh. Tuwalen berkata dengan tenang dan lembut, “Mendidik bukanlah sebuah seni atau ketrampilan yang semakin menghilang, masih banyak orang yang mampu melakukannya sampai sekarang. Cuma masalahnya, semakin banyak orang yang kehilangan penghargaan akan peran sangat penting yang satu ini.”

“Nang, kini guru sudah diperhatikan, bagaimana harus disikapi oleh mereka yang menjadi guru, Nang?”

Tuwalen berkata lagi, “Sebagian orang ragu-ragu atas segala sesuatu, tidak hanya tentang pendidikan saja tetapi dalam hidupnya juga. Mereka cemas akan beberapa orang yang tidak lagi hidup. Siapa pun yang dilahirkan pasti akan meninggalkan dunia ini pada waktunya nanti. Tuhanlah satu-satunya yang hadir terus menerus baik dulu, kini, dan yang akan datang, karena Beliau hadir di mana mana. Beliau berada dalam wujud berbeda dan disebut pada waktu yang berbeda sesuai dengan aspirasi dan imajinasi dari para bhaktaNya. Hilangkan imajinasi-imajinasimu itu dan rasakan Tuhan dengan satu prinsip ketuhanan secara terus menerus. Itulah prinsip menjadi guru, yang hadir sebagai bunga puspa hati dalam diri kita.”

Inilah pesan terakhir untukmu kata Tuwalen lagi, “Pada waktu Anda berbicara dengan orang lain, janganlah memikirkan bahwa Anda yang melakukannya. Mohon kekuatan Guru dalam diri Anda, dan Anda akan terkejut bahwa Anda dapat berbicara dengan bijaksana, indah dan penuh kebajikan yang belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Itulah caranya untuk menjadi Guru. Om Gam Ganapataye namaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar