Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 01 Februari 2011

PERSEMBAHAN ILMU PENGETAHUAN LEBIH MULIA DARI PADA PERSEMBAHAN MATERI

Ketut Nerta

Sreyan drawya mayad yajnaj
Jnanayajnah Parantapa
Sarwam Karma Kilam Parta
Jnane parisama pyate (Bhg.IV.33)

Artinya:
Persembahan berupa ilmu pengetahuan, o Arjuna, lebih mulia dari pada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini akan mendapatkan, apa yang diinginkan dalam ilmu pengetahuan, o Parta.

Demikian sabda Sri Kresna bahwa persembahan berupa ilmu pengetahuan (Jnana), lebih mulia dari pada persembahan materi. Pernyataan ini identik dengan seorang guru mendidik mengajar para siswa dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran. Pendidikan secara umum berarti usaha sadar merupakan kewajiban (swadarma) bagi guru untuk mencerdaskan anak didik, baik dari segi intelektual maupun moralitas. Dewasa ini dunia pendidikan banyak menjadi sorotan publik, terutama sistem pendidikan di Indonesia yang lebih mementingkan aspek intelektual dibandingkan dengan aspek-aspek yang lain, yang seharusnya juga menjadi lahan garapan bagi para pendidik. Ranah kognitif yang lebih banyak dibidik, sementara ranah emosional dan spiritual banyak ditinggalkan. Hasilnya terjadi degradasi moral siswa yang dapat kita saksikan saat ini, dan sangat sulit diperbaiki. Padahal siswa adalah juga manusia, yang tidak hanya mempunyai kecerdasan intelektual, tetapi juga mempunyai bentuk-bentuk kecerdasan yang lain.

Para siwa adalah anugrah yang luar biasa dari Hyang Widhi, yang merupakan titipan dari Hyang Widhi pula. Di sinilah peran guru sebagai pendidik sangat penting, sebab mendidik lebih mengarah kepada bagaimana sikap dan perilaku guru dalam keseharian. Guru akan menjadi model bagi peserta didik. Mendidik merupakan proses menyadarkan manusia agar mengubah dirinya minjadi manusia yang seutuhnya, baik secara intelektual, spiritual, moral dan sosial. Proses penyadaran itu tidak dapat dilakukan dengan pengajaran saja, tapi harus melalui pendidikan. Lantas bagimana caranya menjadi seorang pendidik dengan sepenuh hati.
Sri kresna bersabda sebagai berikut:

"Pelajarilah itu dengan sujud disiplin,
Dengan bertanya dan dengan kerja berbakti,
Orang yang berilmu, mereka melihat kebenaran,
Akan mengajarkan kepadamu pengetahuan itu
(Bhg. IV. 34)

Jadi menurut Sri Kresna, pelajarilah ilmu itu dengan penuh disiplin (Prani Patena) baik bagi siswa maupun guru (proses belajar mengajar). Siswa diwajibkan untuk bertanya (Pari Prasnena) secara kritis menanyakan pelajaran yang belum dipahaminya. Dan dengan melatih (Sewaya) siswa agar menjadi terampil bidang ilmu yang digelutinya. Sehingga siswa benar-benar memahami ilmu pengetahuan (jnana) dan dapat melihat kebenaran (tatwa darsinah). Dengan demikian guru dapat menguasai ilmu pengetahuan tersebut, dan lebih berpengalaman di bidangnya. Pada akhirnya dapat mengembangkan atau mentransfer ilmu pengetahuan kepada para siswa dengan benar dan dapat pula melihat kebenaran.

Guru juga perlu menemukan jati dirinya, dan juga jati diri para siswa yang unik dengan berbagai latar belakang. Selain itu perlu juga sikap keteladanan sang guru. Sehingga kita mampu mendidik dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran, bahwa apa yang kita lakukan adalah merupakan punia yang akan mendapatkan pahala kelak.

Demikianlah sabda Sri Kresna, bahwa persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih mulia dari pada persembahan materi. Ini identik dengan guru mendidik dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran. Wahai, para guru marilah kita sediakan hati kita dengan sepenuhnya untuk mendidik anak-anak bangsa ini, sehingga mereka akan menjadi generasi penerus yang cerdas secara intelektual dan juga bermoral mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar