Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Senin, 29 April 2013

Pro Kontra Parisada Sebagai Ormas Perkumpulan

Setelah Majalah Hindu Raditya melaporkan dari Pesamuhan Agung PHDI di Palangka Raya bahwa PHDI sudah didaftarkan sebagai ormas perkumpulan (Majalah Raditya edisi Maret 2013) muncul berbagai tanggapan dan penjelasan. Berikut dua buah tanggapan dan didahului oleh penjelasan dari Pengurus PHDI Pusat. Ketiga materi itu dimuat dalam Surat Pembaca Majalah Raditya edisi Mei 2013.


PENJELASAN PHDI PUSAT ATAS ARTIKEL PARISADA BERUBAH MENJADI ORMAS PERKUMPULAN di MAJALAH HINDU RADITYA EDISI 188-MARET 2013

Dalam kerangka perundang-undangan, sesuai dengan UU RI Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, maka terdapat dua jenis organisasi masyarakat yaitu 1. Ormas Badan Hukum dan 2. Ormas Tidak Badan Hukum. Untuk jenis yang pertama terdapat dua badan hukum yaitu 1. Perkumpulan yang diatur dengan Staatsblad 1870-64 tentang Perkumpulan dan 2. Yayasan yang diatur dengan UU RI Nomor 28 tahun 2004 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 16 tahun 2001 tentang Yayasan. Untuk Ormas jenis kedua, sesuai dengan PP Nomor 18 tahun 1985 dan Permendagri Nomor 5 tahun 1986, terdapat dua kategori yaitu: 1. Ormas yang mendaftar dan memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dan 2. Ormas yang hanya memberitahu dan memperoleh Surat Tanda Terima Pemberitahuan Keberadaan Organisasi (STTPKO). Terlampir kami sertakan bagan Ormas dimaksud dengan beberapa contoh ormas di dalamnya (copy sesuai aslinya – catatan: copy tidak dimuat).

Terkait keberadaan Majelis-Majelis Agama, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) keduanya merupakan Ormas Badan Hukum Perkumpulan (lihat Bagan terlampir). MUI atau Majelis Ulama Indonesia adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi ulama, zu’ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. (Wikipedia 22 Maret 2013). Sementara WALUBI dan MATAKIN merupakan Ormas Tidak Berbadan Hukum.

Pernyataan bahwa Parisada Hindu Dharma Indonesia kini tak lagi berupa majelis seperti MUI, KWI, PGI atau Walubi, namun seperti Ansor atau Front Pembela Islam merupakan kesesatan cara berpikir yang boleh jadi karena ketidaktahuan. Dengan mengambil bentuk Ormas Badan Hukum Perkumpulan, Parisada tetap merupakan Majelis Tertinggi Agama Hindu di Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 Anggaran Dasar Parisada (Tambahan Berita Negara tanggal 4/12-2012 No.97-53/Perk/2012) dan satu kelompok dengan PGI dan KWI. Sementara Ansor dan Front Pembela Islam adalah Ormas Tidak Badan Hukum sebagaimana Parisada sebelum menjadi Ormas Badan Hukum Perkumpulan. Justru dengan menjadi Ormas Badan Hukum Perkumpulan, Parisada berpisah dengan Ansor dan Front Pembela Islam dan bergabung dengan PGI dan KWI sebagai sesama Majelis Agama.

Terkait dengan pendirian Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, dapat dijelaskan bahwa sesuai bunyi Pasal 9 ayat (1) UU RI Nomor 16 tahun 2001 tentang Yayasan menyatakan “Yayasan didirikan oleh satu orang atau lebih dengan memisahkan sebagian harta kekayaan pendirinya, sebagai kekayaan awal.” Dalam penjelasan atas Pasal 9 ayat (1) tersebut dinyatakan bahwa “Yang dimaksud dengan “orang” adalah orang perseorangan atau badan hukum”. Yayasan Pendidikan Widya Kerthi yang menaungi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) sebelum ini, didirikan oleh perseorangan yang secara kebetulan menjadi Pengurus Parisada. Hal ini tidak menjamin yayasan yang didirikan menjadi milik Parisada setelah yang bersangkutan berakhir masa tugasnya sebagai Pengurus Parisada. Oleh karenanya pendirian Yayasan Pendidikan Widya Kerthi diperbaharui dengan Parisada sebagai Badan Hukum Perkumpulan sebagai pendiri utama disertai 13 tokoh Hindu lainnya, dengan maksud untuk tetap dapat menjaga assets-assets Parisada dan tidak menguap seperti sebelum ini.

Tanpa bermaksud berapologi, Pesamuhan Agung Parisada 2013 di Palangkaraya dinyatakan penuh dengan “nuansa ormas” dan nyaris terjadi adujotos, hal ini masih lebih baik daripada Mahasabha VIII tahun 2001 di Denpasar (tidak bemuansa ormas?) yang dihiasi dengan pelecehan kepada Pandita (Sulinggih) dan pemukulan kepada Peserta Mahasabha (sampai saat ini korban pemukulan masih hidup).

Demikian penjelasan kami sebagai hak jawab terhadap artikel tersebut di atas. Semoga pikiran yang baik datang dari segala arah, dan Majalah Hindu Raditya tetap memberi pencerahan kepada umat Hindu dan masyarakat pada umumnya. Terimakasih.

PENGURUS HARIAN PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT
Ketua Ideologi, Politik, Hukum dan HAM

Yanto Jaya, SH

Sekretaris Umum
Ir. Ketut Parwata


Tanggapan Perubahan Status PHDI dari Lembaga Peduli Umat Hindu (LPUI) Singaraja

Kepada Yth.
Ketua Umum PHDI Pusat
di Jakarta

Om Swastyastu,
Setelah mengikuti berita perubahan status Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dari majelis menjadi organisasi masyarakat (perkumpulan) sebagaimana dimuat dalam Raditya Edisi 188 – Maret 2013, hlm. 38 – 39, kami memandang perlu untuk menyampaikan tanggapan sebagai berikut.

• Menolak dengan tegas perubahan (tepatnya penurunan) status PHDI dari majelis umat, sebagaimana MUI, KWI, PGI, dan Walubi menjadi ormas, seperti partai politik atau ormas keagamaan. Kami memandang status dan posisi PHDI sebagai majelis pembuat bhisama, sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharmasatra XII, merupakan harga mati yang tidak boleh ditawar-tawar lagi.
• Mendesak Pengurus Harian PHDI Pusat agar menarik kembali dan membatalkan pendaftaran PHDI sebagai ormas pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta mengembalikan status PHDI sebagai Majelis Tertinggi Umat Hindu.
• Meminta semua pihak, khususnya tokoh-tokoh Hindu, agar tidak menggunakan majelis keumatan yang agung dan suci sebagai alat untuk mencapai tujuan kelompok atau pribadi.

Demikian sikap kami, semoga para pemimpin umat Hindu dapat berbuat tulus demi kebesaran Hindu Dharma. Om Ano bhadrah kratawo yantu wiswatah, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. Om Shantih, shantih, shantih, Om.

Ketua,
Drs. I Wayan Suja, M.Si

Sekretaris,
Kadek Sugiarpama

Tembusan:
• Dharma Adyaksa PHDI Pusat.
• Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat.
• Ketua PHDI Provinsi Bali.
• Ketua PHDI Kabupaten Buleleng
• Arsip.


Parisada di Kudeta Para Walaka

Om Swastyastu,
Saya terkejut membaca Majalah Raditya edisi Maret 2013 yang memberitakan laporan dari Pesamuhan Agung di Palangka Raya yang menyebut intinya “Parisada sudah berbadan hukum ormas perkumpulan”. Saya sedikit tidaknya tahu sejarah Parisada dan seluk beluknya meski pun saya sudah merantau bekerja di luar Bali. Karena itu saya kaget dan miris, ternyata Parisada sudah dikudeta oleh pengurus hariannya yang nota bene para walaka. Izinkan saya ikut urun rembug.

1.Parisada yang dilahirkan lewat Piagam Campuhan adalah kumpulan para pandita (pendeta), karena itu namanya Parisada berasal dari kata Parisad.

2.Pengurus harian dan Sabha Walaka sejatinya bukan Parisad, karena itu organ ini hanya pelaksana saja. Semua keputusan digodok akhir dan dikeluarkan oleh Parisad, yakni yang bernama Sabha Pandita.

3.Jika PHDI didaftarkan sebagai ormas (apakah perkumpulan atau yayasan atau apapun namanya), seharusnya yang didaftarkan sebagai Pendaftar Utama adalah organ Parisad (sabha pandita) bukan pengurus harian.

4.Karena No. 3 di atas mungkin tak sesuai peraturan, maka PHDI tak pernah didaftarkan sebagai ormas.

5.Urusan aset dan supaya PHDI berkembang pesat dan maju, sudah ada pemikiran membentuk lembaga di bawahnya, dan lembaga itu didaftarkan. Misalnya, Lembaga Artha yang direncakan menaungi Badan Dana Punia. Yayasan yang mendirikan sekolah. Lembaga yang mendirikan rumah sakit dan sebagainya. Lembaga ini yang didaftarkan, bukan PHDI-nya yang didaftarkan.

6.Jika PHDI yang didaftarkan akan terjadi penipuan. Jelas oleh peraturan Ketua Umum dan Sekjen dan pengurus lainnya yang terdaftar, dan itu jadi ormas perkumpulan. Buktinya, setelah PHDI didaftarkan, PHDI yang terdaftar ini membuat Yayasan Widya Kerthi baru yang segera pula didaftarkan. Ini sah secara hukum, tetapi mencederai pendirian Parisada sebagai majelis para pandita (parisad) yang sudah membentuk Yayasan Widya Kerthi sejak lama.

7.Kalau ini dibiarkan dan tidak dicabut, bisa saja PHDI yang terdaftar ini membuat keputusan macam-macam, karena memang sah secara hukum. Gawat ini, bisa-bisa bhisama dicabut. Dan tentu sebagai ormas perkumpulan, rapat-rapat (termasuk Rakernas, Pesamuan, Mahasabha) akan dipimpin oleh Ketua Umum. Karena begitulah ormas perkumpulan.

8.Lihat kisruh sekarang: ada 2 Yayasan Widya Kerthi, yang lama bentukan Parisada dengan organ tertinggi Sabha Pandita, yang baru bentukan PHDI yang terdaftar. Pertanyaan saya: apakah Yayasan yang lama dengan kepengurusan Prof Wita dan sebelumnya, tak pernah didaftarkan? Kalau ya, ini kecerobohan besar, patut disesalkan. Tapi PHDI yang terdaftar juga tak etis, kalau mau mendaftarkan Yayasan Widya Kerthi ke Kemenhum & HAM, ya, daftarkan yang sudah ada, istilah Jawa-nya kulo nuwun, jangan main serobot. Mentang-mentang sudah terdaftar enak saja membuat yayasan baru.

9.Saya setuju PHDI dibenahi karena banyak yang perlu diluruskan, terutama pada Sabha Pandita sebagai pemegang mandat utama. Saya salut kepada pandita seperti Ida Mpu Jaya Prema Ananda, pemikiran beliau bagus jika bicara di forum lintas agama. Tetapi janganlah dengan niat memperbaiki PHDI itu lantas mengkudeta PHDI sebagai majelis umat, lalu membuat PHDI versi ormas perkumpulan. Saya setuju memperbaiki PHDI tetapi tetap dengan menghormati sejarah, tempatkan pandita sebagai pemegang keputusan, karena Parisad itulah Parisada.

Kesimpulan: cabut pendaftaran itu, ini bahaya besar.

I Gusti Pande Karmaya
Semarang

(Catatan: Penulis surat ini hanya mencantumkan alamat Candi, Semarang, tetapi karena isinya positif dan hanya bermaksud “mengingatkan”, kami muat apa adanya, sebagai bahan perbandingan.)




Selanjutnya......

Rabu, 24 April 2013

Melihat dari Dekat Para Nagasadhu Dalam Perayaan Maha Kumbhamela


Festival suci umat Hindu yang digelar setiap 12 tahun sekali, yaitu Maha Kumbhamela telah berlangsung pada 10-15 Februari 2013 lalu di Prayag, Allahabad, India. Pertemuan tiga sungai yang disucikan umat Hindu tersebut, yaitu Gangga, Yamuna dan saraswati, dikunjungi tak kurang dari 120 juta peziarah pada perayaan Hindu terbesar tersebut. Fotografer Fabrizio Prolleti dari Italia yang menyaksikan peristiwa tersebut dari dekat menuturkan perjalanannya kepada Putrawan dari Raditya.

Fabrizio yang selama sepuluh tahun terakhir ini tinggal di Bali, berangkat tanggal 23 Januari 2013 menunju New Delhi. Dari Delhi ia melanjutkan perjalanan dengan naik kereta api selama 12 jam perjalanan menuju Allahabad. Tiba dilokasi, ia telah menyaksikan hamparan luas yang dipenuhi tenda di atas pasir pinggir sungai, pertemuan Gangga, Yamuna dan Saraswati. Sebagai seorang jurnalis, ia dipersilakan memasuki tenda media bergabung dengan para wartawan dan fotografer dari berbagai negara.

Suhu udara ketika itu sekitar 5-10 derajat Celcius, jadi sangat dingin. Apalagi pagi-pagi sekitar pukul 03. 30 ia dan teman-teman media lainnya harus sudah terjaga untuk segera melakukan sesi pemotretan maupun meliput para sadhu yang melakukan mandi suci sekitar pukul 04.00 pagi. Untuk menghangatkan badan pada pagi yang super dingin itu, mereka hanya minum teh hangat (cai karam).

Mengintip Kehidupan Naga Sadhu

Festival Maha Kumbhamela adalah perayaan untuk memohon anugerah tirtha amrtha yang dipercaya turun pada waktu tersebut. Selain didatangi oleh ratusan juta umat Hindu dari India dan luar negeri, festival suci ini semakin khas dengan kehadiran para Naga Sadhu. Mereka ini adalah para pertapa yang tinggal di gua-gua Himalaya maupun pertapa gunung, di mana ciri khas mereka adalah telanjang bulat dengan menutupi tubuhnya hanya dengan sisa abu pembakaran mayat. Mereka menuju tempat pusat perayaan Maha Kumbhamela dengan bergerombol berjalan kaki, namun ada juga Naga Sadhu naik kuda, bahkan mengendarai mobil tua.

Fabrizio mencoba mengenali tata cara kehidupan mereka dari dekat, karena umumnya mereka ramah juga dan mempersilakan wartawan memasuki kemahnya. Ternyata para Naga Sadhu ini membawa alat-alat memasak sendiri, karena mereka sangat memperhatikan kualitas makanan yang baik, sehat dan satwika. Api untuk memasak sayur, kentang dan biji-bijian berasal dari api suci, yaitu api homa yang mereka nyalakan terus menerus di dekat kemah mereka selama mereka ada di sana. Mereka sangat menjaga kemurnian bahan makanan yang akan disantapnya. Beberapa pengunjung memberikan susu dalam kemasan kepada para sadhu, sehingga setiap menjelang pagi sekitar pukul 03.30 itu, Fabrizio melihat para sadhu sibuk memeriksa kemasan susu dalam kemasan itu. Setiap kata-demi kata di pembungkus susu tersebut dibacanya dengan teliti, dan begitu ada zat tertentu yang dipandangnya tidak baik atau berisi zat pengawet, maka segera saja susu dalam kemasan tersebut dibuang.

Para Naga Sadhu ini seperti tidak terpengaruh oleh cuaca dingin di sekitar tempat itu. Manakala peziarah lain semua memakai selimut tebal-tebal, mereka tetap asyik bertelanjang ria seakan tak hirau dengan lingkungan. Setelah ditanya rahasia “kehebatannya” itu, mereka kemudian memberi penjelasan, bahwa kekebalan tubuhnya didapatkan dari kebiasaannya mengisap rokok charas dan cylum. Charas ini berbentuk keras, karena berasal dari semacam lendir yang mengendap yang dikumpulkan dari ganja di musim berbunga. Bila ganja berbunga, menurut mereka, pohon itu diambil kemudian dipukul-pukulkan sehingga keluar cairan bunganya yang berupa lendir lengket. Zat ini kemudian disimpan hingga mengeras. Bila saatnya untuk dimanfaatkan, charas ini harus dinyalakan dengan api suci yang biasa digunakan untuk pemujaan. Dengan bantuan sejenis pipa, charas ini dapat dinikmati sehingga para Naga Sadhu dapat mencapai suatu sensasi dan secara mental mengisolasi fisiknya dari pengaruh dingin dan panas. Bila saat mengisapnya charas ini dicampur dengan daun ganja, maka akan mendatangkan efek lebih kuat, dan ini disebut cylum.

Sama halnya dengan kebiasaan melumuri tubuh dengan abu pembakaran mayat, bahwa abu putih itu menurut keyakinan mereka untuk memudahkan lebih dekat dengan Lord Siwa, demikian pula dengan pemakaian “daun suci” charas adalah untuk menjalin hubungan dengan Siwa dan mempercepat pencapaian salvation (pembebasan). Jadi, meskipun charas itu tegolong narkotika, tapi para sadhu tak mau menyebutnya itu sebagai zat narkotik, sebab baginya itu adalah zat suci. Para sadhu bebas mengonsumsi zat itu di India dan tidak dikenakan sanksi hukum.

Ada seorang Naga Sadhu yang menceritakan dirinya dahulu hidup berkeluarga. Namun istrinya meninggal pada usia muda yang mengakibatkan dirinya terpukul dan lari ke gunung untuk menjadi pertapa. Sebagai sadhu ia mengangkat tiga sumpah, yaitu tyaga, tapsya dan tapawana. Tyaga adalah bebeas dari pengaruh duniawi, tapasya adalah hidup untuk penebusan dosa melalui tapa, dan tapawana adalah menjadikan dunia sebagai rumah (hidup mengembara). Dengan demikian, ia mulai hidup untuk tujuan asketis, mencita-citakan moksha. Di gunung sadhu ini hidup bertapa sambil berkebun untuk mencukupi kebutuhan jasmaninya. Tanamannya adalah sayuran, biji-bijian dan tak ketinggalan ganja. Di India, ganja bukan barang legal dan juga tidak dianggap ilegal, sehingga merupakan suatu kebiasaan dari sebagian sadhu berbudidaya ganja untuk mereka konsumsi sendiri.

Mandi suci di pertemuan tiga sungai suci dimulai jam 04.00 pagi dan panitia menghentikan aktifitas itu sekitar jam 10. 00 pagi. Polisi dan aparat keamanan lain menjaga aktifitas itu sangat ketat, karena mereka khawatir akan serangan teroris yang hendak mengacaukan perayaan tersebut. Meski terjadi kerumunan sangat besar dan di antaranya banyak membawa senjata tajam, seperti pedang, tri sula, tombak, dan lain-lain, namun acara penyucian diri itu dapat berjalan cukup tertib, meski diantaranya beberapa ada yang jatuh dan terinjak-injak oleh gelombang peziarah yang tiada terkira banyaknya.

Tata cara umat biasa maupun para sadhu di dalam mandi suci adalah terlebih dahulu mencelupkan kepala tiga kali ke air secara berturut-turut, setelah itu dilanjutkan dengan membasuh muka juga tiga kali, dan mencuci mulut sebanyak tiga kali juga. Meskipun kondisi air sungai nampak keruh, tapi keyakinan keagamaan membuat mereka semangat dan penuh antusias melakukan ritual tersebut, bahkan banyak di antaranya minum air tersebut. Sehabis itu baru melakukan mandi dengan cepat untuk kemudian pergi ke tepi sungai mengambil perahu-perahuan yang di dalamnya sudah diisi bunga dan lilin yang menyala. Perahu-perahuan itu kemudian dihanyutkan di sungai sebagai tanda akhir dari ritual di sungai. Para aparat keamanan tidak membiarkan peziarah lama-lama dalam air, hanya sekejap saja berada di air kemudian polisi sudah memukulkan tongkatnya supaya mereka mundur untuk memberi giliran antrean berikutnya yang masih super panjang.

“Ini sungguh pengalaman luar biasa, meskipun banyak hal kontradiktif yang saya lihat antara Bali dan India, tapi saya suka bisa menyaksikan peristiwa besar tersebut,” tutur Fabrizio. Lantas, setelah bergaul cukup lama dengan para Naga Sadhu, apakah Fabrizio berminat mengikuti jejak mereka, menjadi sadhu pegunungan hidup bebas telanjang ria? “No, No, No...,” jawabnya tertawa.

Putrawan

Selanjutnya......

Apakah Air Akan Melebur Dosa Kita

I Made Tisnu Wijaya

Di kalangan masyarakat ada mitos yang berkembang tentang “air peleburan dosa”. Apakah air pelebur dosa itu? Dari segi kata “pelebur” itu, dapat diterjemahkan dengan “mengembalikan” atau “menghilangkan” dosa. Namun seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dosa itu tidak dapat dihilangkan, karena setiap hasil perbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan hasilnya, entah itu hasil yang baik ataupun yang buruk.

Seperti yang dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya XX. 358 “ sesungguhnya kehidupan manusia di dunia adalah sebagai ahli waris dari karmanya. Artinya, hasil baik atau buruknya perbuatan pasti akan diterima, pada hakekatnya kita terikat oleh baik buruknya perbuatan kita. Pendeknya terdahululah kehidupan di dunia ini. Tegasnya ialah bahwa kita semua dikuasai oleh perbuatan kita yang terdahulu.” Dan juga sloka 359 “Purwakarma atau perbuatan yang lalu itu mau tak mau pasti akan dipetik setiap pahalanya oleh yang membuat atau melakukan karma itu. Dan karmaphala itu tidak bingung dalam menentukan dimana ia harus menuju dan tinggal, yaitu pada pembuatnya dahulu. Seperti halnya anak sapi, tidak akan bingung ia dalam mencari induknya untuk menyusui walaupun ratusan sapi yang di hadapinya yang semuanya sedang menyusui anak-anaknya. Walaupun bagaimana bercampur aduknya sekalian induk-induk sapi itu, namun tanpa ragu-ragu anak-anaknya akan mengenali juga induknya sendiri.”

Sesungguhnya dosa itu tidak akan pernah lepas dari kita, sama seperti banyangan yang akan selalu mengikuti kemana pun kita pergi. Selama matahari itu bersinar maka bayangan itu akan selalu ada, namun bila matahari tidak tampak, maka bayangan tersebut akan tidak kelihatan secara jelas, namun tetap menempel pada kita. Bila kita pikirkan, apakah benar setelah mendapat percikan air pelebur dosa, dosa kita akan dilebur atau hilang dan bisa mencapai Moksa secara langsung? Sama seperti dalam cerita Lubdaka yang hanya dengan begadang semalaman akan bisa manghapus dosanya dan akan mencapai sorga. Namun makna sesungguhnya dari cerita tersebut adalah ketika kita menjalani malam Siwaratri itu, kita disuruh merenungkan segala perbuatan yang telah kita lakukan selama ini apakah sudah benar atau salah? Dalam Manawa Dharmasastra IV. 170 dijelaskan “ tidak akan ada orang yang hidup tidak penuh dosa, orang yang mengumpulkan kekayaan dengan jalan yang tidak halal, orang yang selalu gembira jika dapat menyakiti orang lain tidak akan bisa sampai merasakan kebahagiaan dalam hidup di dunia.” Dari sloka tersebut bisa kita maknai bahwa, orang yang hidup di dunia ini adalah orang yang berdosa, namun dengan lahir di dunia sebagai seorang manusia adalah sebuah anugrah, karena akan bisa menebus segala dosa yang pernah kita lakukan pada kehidupan yang terdahulu dengan cara berbuat sesuai kaidah-kaidah dharma.

Air memang berfungsi sebagai pembersih namun tidak sebagai pembersih dosa, tetapi lebih sebagai pembersih tubuh kita dari segala kekotoran. Air mempunyai sifat menyejukkan, maka dari itu, sehabis melukat pikiran kita akan terasa tenang. Seperti kegiatan melukat yang dilakukan oleh orang-orang Bali. Melukat itu lebih menekankan pada aspek etika, karena sehabis kita melukat pasti dalam pikirannya bahwa “bahwa saya sudah tidak berdosa, dan tidak boleh berbuat dosa lagi”, memang pemikiran seperti itu pasti ada saja, yang terpenting dalam melukat itu adalah sebagai sarana pembersihan untuk menghilangkan hambatan yang ada dalam diri dan di luar diri kita. Tidaklah mungkin seorang yang ingin meningkatkan spiritualnya ada halangan yang akan merusak konsentrasinya di dalam meningkatkan kegiatan spiritualnya.

Di lain pihak, ada juga seorang anak kecil yang lahirnya bertepatan dengan tumpek wayang setiap akan otonannya disuruh melukat dengan tirta wayang yang bertujuan agar segala malapetaka menjauh dan sikapnya agar menjadi baik. Namun yang terjadi, anak tersebut tetap saja nakal dan terkadang membuat orang tuanya payah untuk mengikuti segala keinginannya. Dari kejadian itu bisa kita cermati bahwa, selain dengan kita melakukan pelukatan pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga kepada anak haruslah ada juga, karena di jaman ini, jika anak-anak tidak dididik dengan baik, maka anak tersebut tidak akan mempunyai moral yang baik. Bukannya melukat itu tidak ada artinya, namun harus dibarengi dengan didikan yang baik, oleh karena itu perlu ada keseimbangan antara spiritual dengan pendidikan yang diterapkan kepada anak.

Maka dari itu, dosa itu sesungguhnya tidak akan bisa kita hilangkan. Justru akan selalu ada untuk membayangi kita, bahkan seorang Yudhistira yang dikatakan sebagai seorang Dharmawangsa pun dalam kehidupannya pernah berbuat dosa. Apalagi kita yang hidup di zaman Kali, di mana adharma lebih merajalela dari dharma, maka tidak akan mungkin tidak pernah berbuat dosa, namun yang membedakan hanya kadar dosa yang diperbuat. Jika Anda sudah bahwa berbuat dosa itu memang tidak dianjurkan, maka jauhkanlah diri Anda dengan kegiatan yang bisa membuat Anda melakukan dosa dan sebaliknya. Mantapkanlah diri untuk berbuat sesuai dengan ajaran susastra agama. Oleh karena itu, jika kita sudah sadar bahwa lahir ke dunia ini adalah kegiatan untuk menebus segala perbuatan dosa, maka banyak-banyaklah menjalankan ajaran dharma itu agar kelak kita bisa mencapai moksa sesuai dengan tujuan kita sebagai umat Hindu.

Selanjutnya......

Air Dalam Tradisi Veda

I Ketut Sandika

Banyak sarjana terutama sarjana barat berpandangan, bahwa agama muncul dikarenakan ketakutan manusia akan kekuatan alam. Kemudian kekuatan tersebut dipuja dan diberikan persembahan agar alam dengan kekuatannya tidak mendatangkan bencana pada manusia. Dengan kata lain, agama muncul karena ketakutan. Beberapa orang mungkin beranggapan paradigma tersebut benar, akan tetapi ditelusuri lebih dalam tidak semua agama muncul berawal dari ketakutan. Hinduisme dimana Veda sebagai kitab suci dan memiliki otoritas muncul tidak berawal dari rasa takut, melainkan Veda muncul atas dasar kebutuhan manusia untuk dapat menyatu harmoni dengan alam. Demikian juga Veda menyebutkan alam dengan kekuatannya adalah aturan yang mutlak (rtam) dari realitas dan kebenaran, dan itu adalah Tuhan sendiri.

Alam sama dengan Tuhan atau pantulan dari realitas Tuhan adalah kebenaran yang diterima oleh Veda. Sebab Veda secara implisit menyebutkan manusia hidup dalam kandungan Tuhan (hranyagharba). Oleh karenanya, Veda memberikan penghormatan kepada alam dengan mempersonifikasikan alam sebagai ibu yang melahirkan dan pemberi kahidupan. Alam dalam Samkya Darsana terlahir dan mewakili unsur prakrti sebagai asas material. Dan asas prakerti bertemu dengan unsur purusa (kejiwaan), maka akan terlahir segala yang ada ini. Demikian Veda memaknai dan merepresentasikan alam sebagai asas Tuhan yang realitas. Dengan ini mungkin Hindu dikatakan agama alam. Mengenai Hindu dikatakan agama alam, sesungguhnya kita berterima kasih atas tudingan itu. Karena bagaimanapun agama alam adalah agama yang mencintai alam, Tuhan ada di alam bahkan dekat dengan kita, dan ada dalam diri (alam micro/bhuwana alit), dan kita tidak akan pernah bisa melakukan penafikan, bahwasannya kita hidup di alam, bukan di langit. Sungguh beruntung rasanya kita sebagai agama alam, karena alam yang memberikan kehidupan. Olehnya Veda melalui syair indahnya memberikan keagungan dan penghormatan pada alam maupun unsur-unsur di dalamnya.

Salah satu dari sekian unsur alam yang mendapatkan penghormatan dan gelar kesucian dalam Veda adalah unsur air. Air dalam tradisi Veda dipuja dan diberikan penghormatan yang tinggi karena dalam Veda, air sangat disucikan sebagai pemberi kehidupan. Tidak ada sama sekali Veda menyebutkan memuja air karena ketakutan. Dalam Veda banyak disebutkan kegunaan air, salah satunya adalah digunakan untuk pengobatan, dan Veda merekomendasikan bahwa air adalah sarana paling efektif untuk merawat kesehatan. Seperti dalam mantram Rgveda X.9.6; Apsu me somo Abravid antar visvani bhesaja yang artinya: Sang Hyang Soma menyebutkan bahwa air memiliki semua faktor penyembuhan. Demikian juga pada mantram Rgveda X.9.5; apo yacami bhesajam yang artinya: Kami mohon pada penguasa air untuk menyembuhkan penyakit kami. Dan, lebih banyak lagi mantram Veda yang menyebutkan kegunaan air untuk pengobatan. Demikian pula air dalam Veda dianggap sebagai pemberi kemuliaan, seperti dalam mantram Atharvaveda VII. 89.1; Apo divya acayisam, rasenna samaprksmahi, tam ma sam srja varcasa, yang artinya: kami mengumpulkan air dan berhasil mencampurnya dengan air soma, semoga ia memberikan kemuliaan.

Demikian banyak manfaat air dalam Veda, sehingga tradisi Veda meyakini air sebagai kesucian. Perlu dipahami, bahwa keyakinan itu bukanlah sekedar mitos belaka, akan tetapi atas dasar kebenaran memang air memiliki manfaat yang fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam kitab Purana Hindu, air suci diyakini sebagai Dewi Gangga yang tinggal dalam jalinan rambut Dewa Siwa. Dari Dewi Gangga inilah air suci sungai Gangga mengalir, dan tidak akan pernah berhenti mengalir sebagai air surgawi penuh keabadian. Yang mana Dewi Gangga dimohon oleh Bhagirata turun ke dunia untuk menyucikan dan mengampuni dosa dari putra Raja Sagara yang telah dikutuk oleh Rsi Kapila menjadi abu. Akhirnya sang dewi berkenan dan mengalirlah sungai Gangga turun ke dunia menyucikan sekaligus mengampuni putra Sagara.

Oleh sebab itulah air sungai Gangga diyakini sebagai air surgawi yang penuh dengan kesucian. Dari berbagai belahan dunia datang berendam di sungai Gangga untuk mendapatkan kesucian, penyembuhan dan sebagainya. Demikian pula pada saat perayaan Kumbamela, para Yogin turun gunung dan berendam di sungai Gangga untuk penyucian diri dan bathin. Lantas apakah ini mitos belaka? Atau keyakinan yang buta? Kitab Purana adalah kisah kuna yang dituangkan dalam beragam cerita, dan di dalamnya terkandung makna yang dalam. Cerita turunnya air suci Gangga di samping adalah kebenaran historis, cerita tersebut juga merupakan media pendidikan bagaimana hendaknya kita menjaga alam dalam hal ini air maupun sungai. Air adalah penting untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya, olehnya kita berkewajiban menjaga kebersihan air dan sungai dari pencemaran.

Kemudian mengenai keyakinan sungai Gangga adalah sungai yang suci, banyak orang bahkan ilmuwan barat telah membuktikannya. Mereka dengan rasa penasaran ingin membuktikan benar tidak air sungai Gangga memiliki kesucian atau keajaiban. Adalah Dr D. Herelle berasal dari Perancis, seorang dokter ahli medis membuktikannya. Ia melakukan penyelidikan dan sekaligus tinggal di tepi sungai Gangga. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa air sungai Gangga benar-benar ajaib, sebab dari observasi yang dilakukan, air sungai Gangga dapat membunuh bakteri disentri dan kolera, demikian juga bakteri yang merugikan manusia. Kemudian dengan penuh kekaguman ia berkata “Suatu mineral yang tidak dikenal yang dikandung oleh air Gangga ternyata dapat membunuh kuman atau bakteri penyakit”. Dr. GE. Nelson seorang kebangsaan Inggris juga melakukan penyelidikan di sungai Gangga dan menyatakan bahwa air sungai Gangga dapat bertahan berbualan-bulan bahkan bertahun-tahun karena air dalam sungai Gangga terkandung anasir-anasir yang tidak dikenal, sehingga dapat bertahan lama. Dr. F.G Harrison seorang ilmuwan juga berpandangan sama, bahwa air sungai Gangga adalah sangat ampuh untuk membunuh kuman apa pun, dan anehnya justru air tersebut jika dimasak akan melahirkan banyak bakteri. Demikian juga para ilmuwan Barat lainnya, menyatakan kekagumannya dengan sungai Gangga, bahkan mereka rela meninggalkan segalanya untuk menyepi di pinggir sungai Gangga.

Demikian sucinya air sungai Gangga, sehingga tidak ada kuman yang hidup. Air sungai Gangga mengalir disertai dengan keyakinan dan penghormatan kepadanya sebagai air yang suci. Demikian juga air sungai, laut dan kandungan air di alam ini, yang tidak lain adalah air kehidupan yang muncul dari Gangga. Bertumpu pada hal ini, tradisi Veda begitu meyakini air suci sebagai pemberi kesucian dan kehidupan bahkan penghapus segala dosa. Dosa adalah karma dan kita akan nikmati sebagai sebuah konsekuensi, tetapi dengan air suci, karma buruk akan terkikis, sehingga yang tersisa tinggal karma baik. Terlebih, jika kita dapat menyucikan diri di sungai Gangga dan belajar pada aliran airnya yang tenang, menyiratkan bahwa ketenangan jiwa adalah kebutuhan untuk menenangkan arus gelombang pikiran. Dengan air kita dapat hidup, tidak salah kita memberikan penghormatan dan meyakininya sebagai yang dipenuhi kesucian, maka dari itu jaga dan lestarikan air sebagai dewi Gangga pemberi nektar abadi kehidupan.
Om Ganggaya Namah.

Selanjutnya......

Melukat Tidak Memberi Pahala Rohani Seketika

I Wayan Miasa

Masyarakat di seluruh muka bumi ini memang memiliki berbagai simbol-simbol kepercayaan yang beranekawarna, namun makna yang disampaikan antara kepercayaan masyarakat suatu wilayah dengan wilayah lainnya memiliki pesan yang sama. Mereka secara penampilan luar nampak berbeda, tetapi sesungguhnya mereka itu menjalankan ritual yang hampir mirip antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya saja dalam hal upacara “malukat” di Bali. Upacara penyucian air ini ada berbagai belahan bumi, hanya saja kegiatan tersebut dibedakan atas dasar bahasa. Orang Inggris menterjemahkan ritual “malukat” itu dengan sebutan “cleansing ceremony” atau “purifying ceremony”, sedangkan orang Jerman menyebut upacara penyucian itu dengan istilah “Einweihungszeremonie”.

Berhubungan dengan upacara-upacara atau ritual penyucian ini, ada berbagai pendapat yang sedang berkembang di lingkungan masyarakat dunia, misalnya ada yang melakukan upacara penyucian lewat mandi ke tempat-tempat yang air dan sungainya dianggap suci. Di lain pihak ada yang melakukan ritual penyucian lewat pelaksanaan “penyucian lewat upacara api suci”, seperti upacara homa atau agni hotra. Bahkan ada juga pernyataan yang menyatakan bahwa penyucian dilakukan berdasarkan jenis hal yang disucikan, misalnya badan disucikan dengan air, pikiran memakai sarana penyucian yang lain lagi, dan seterusnya.

Berdasarkan realita yang berkembang di masyarakat kita ada berbagai kecenderungan yang berkembang dalam melaksanakan ritual penyucian ini. Masyarakat yang kehidupan ekonominya sudah meningkat memaknai upacara penyucian tersebut dengan melaksanakan ritual penyucian lewat mendatangi tempat-tempat yang disiratkan dalam buku-buku suci agama tersebut, seperti sungai Gangga, Yamuna dan lain sebagainya. Sedangkan untuk di daerah Bali tempat-tempat yang sering dituju adalah Tampak Siring, pantai-pantai yang dianggap suci di lingkungan Bali.

Masyarakat religius yang pikirannya sudah didoktrin untuk hanya percaya kepada suatu otoritas akan jarang mau memaknai pesan-pesan yang terkandung di dalam sebuah ritual. Mereka jarang mau mengolah pesan yang tersirat di balik suatu kegiatan ritual tersebut. Bahkan mereka jarang mau berlogika lebih lanjut. Ada suatu contoh pada masyarakat kita, misalnya ada pernyataan bahwa dengan mandi di Sungai Gangga orang tersebut akan masuk sorga. Kalau kita hubungkan dengan kehidupan nyata kita, berarti makhluk-makhluk yang ada di sungai Ganggalah yang akan pertama mendapatkan sorga atau pembebasan. Karena mereka tiap hari berada di sungai suci itu, seperti kakul, yuyu, dan ikan-ikan lainnya. Mereka tersebut hampir tiap hari berada di dalam sungai Gangga. Segampang itukah kita mendapatkan pembebasan atau sorga?

Kita sering berpikir instan “prejani” dalam beberapa hal. Kita jarang mau memaknai suatu proses dan memahami pesan-pesan yang tersirat di balik suatu ajaran. Kita didoktrin berpikir menurut aslinya atau “as it is”. Kita bisa belajar dari usaha raja Bhagirat dalam menurunkan Gangga ke bumi ini. Beliau bisa mendatangkan Ibu Gangga ke Bumi ini lewat suatu usaha yang keras dengan berbagai tapa bratanya sampai Shree Vishnu berkenan mengutus Ibu Gangga turun ke bumi untuk memenuhi permohonan seorang Raja Bhagirat yang telah melakukan perjuangan yang berat. Dan sebagai hasil dari pertapaan yang berat itulah ada pembebasan.

Bila kita hubungkan dengan kenyataan kehidupan masyarakat kita sekarang ini dimana mereka percaya bahwa dengan melakukan perjalanan suci ke tempat-tempat suci mereka akan tersucikan, maka itu artinya hanya orang yang mampu melakukan hal tersebut saja akan tersucikan dan orang-orang yang kurang mampu tidak akan pernah disucikan. Pola pikir seperti ini akan cenderung membuat masyarakat kita “membeli” kesucian. Misalnya orang yang berkecukupan akan bisa berkali-kali melakukan perjalanan penyucian baik di daerah Bali, luar Bali bahkan sampai ke India. Lantas apakah orang kurang mampu tidak tersucikan karena tidak pernah “malukat” atau melaksanakan kegiatan penyucian?

Kita bisa belajar dari kehidupan kerbau yang berkubang di lumpur, walaupun dia itu dimandikan dengan sabun berkelas dunia sekalipun, sang kerbau tetap akan berkubang di lumpur yang bau tersebut. Kita tidak bisa berharap bahwa dengan memandikan sang kerbau sekali lantas dia menjadi suci atau bersih. Kita perlu ada usaha untuk mengubah kebiasaan sang kerbau agar tidak lagi berkubang ke lumpur setelah mendapatkan sabun bertaraf internasional. Begitu juga dengan kegiatan ritual penyucian tersebut. Kita jangan berharap bahwa hanya dengan mandi sekali di tempat yang suci, entah itu sungai Gangga, Yamuna, Radha Kunda, dan di tempat suci lainnya, kita berharap kita langsung suci. Ritual penyucian baru merupakan tahap awal memulai suatu usaha memperbaiki diri menuju ke hal-hal suci, bagaikan kita memanaskan besi di api. Jangan harap kita bisa mendapatkan pisau yang bagus dari membakar besi di api itu. Kita perlu tempa besi panas tersebut, mengolahnya dan membentuknya sesuai dengan pisau yang kita inginkan. Kalau kita hanya memanaskan besi tersebut dalam api tanpa mau mengolahnya untuk menjadi pisau, itu sama saja artinya kita membuang-buang energi dan waktu.

Kita juga perlu bercermin dari kehidupan bunga lotus atau bungan padma, dimana bunga tersebut memang dari sejak awal tumbuhnya sudah harum, tanpa harus ditanam di air yang harum pun bunganya akan terus harus dan terbebas dari bau busuk. Perhatikan saja bunga lotus di lingkungan kita, walau bagaimanapun kotornya air tersebut bungan lotus tetap menyebarkan bau harum, begitu pula daun-daunnya tidak akan basah bila terkena air. Jika kita mau menyucikan pikiran, badan atau raga kita, kita tidak usah bepergian jauh-jauh untuk mencari air penyucian, tapi galilah potensi kesucian yang ada pada lingkungan di sekitar kita. Begitu juga kita perlu memahami diri kita seperti bunga lotus.

Ritual penyucian apa pun itu bentuknya, selama orang yang melaksanakan penyucian tersebut tidak menyertai upacara tersebut dengan usaha merubah diri menuju ke arah kebajikan, maka upacara penyucian, entah itu agni hotra, penglukatan, mabayuh, serta kegiatan penyucian lainnya akan hanya menjadi suatu kegiatan rutin atau rutinitas saja. Bila ritual semacam ini tidak disertai dengan memberi pemahaman yang benar kepada warga masyarakat maka akan timbul pendapat bahwa semua akan bisa disucikan dalam sekejap dan hal tersebut akan berefek pada komersialisasi suatu penyucian. Maka bukan tidak mungkin suatu saat akan ada event organizer yang menawarkan penyucian prejani, menjadi orang suci prejani serta hal-hal yang prejani lainnya.

Oleh karena kita perlu memberikan pengertian yang menyeluruh kepada warga kita tentang makna yang terkandung di balik suatu mitos, ajaran-ajaran spiritual lainnya agar mereka tidak terjebak dalam tatanan rutinitas dan kita berharap nantinya agar warga kita tidak tersesat dalam perjalanan selanjutnya. Kita perlu mengingatkan mereka bahwa upacara penyucian apapun itu, entah berupa upacara penyucian dengan kembang bunga 7 jenis, 9 jenis, 11 jenis atau 33 jenis tidak akan bisa menjadikan kita suci dalam sekejap. Ritual tersebut baru merupakan tahap awal menuju jalan kebenaran atau kesucian.

Apa pun bentuk upacara penyucian tersebut entah mandi dengan berbagai jenis kembang, airnya diambil dari 108 sumber mata air, memakai berbagai jenis api suci, penyucian dipimpin oleh pemimpin keagamaan berkwalitas internasional dan lain sebagainya, namun bila yang melaksanakan penyucian tersebut tidak ada usaha untuk menyucikan diri, pikiran, perkataan, perbuatan maka ritual-ritual penyucian tersebut akan hanya suatu kegiatan religius yang datang dan pergi sesuai dengan trend masyarakat pendukungnya.

Masyarakat kita yang sudah tercekoki pikiran untuk menjadi orang suci dengan tujuan akhir hidupnya mencapai sorga, pembebasan, bisa bersatu dengan Tuhan, maka masyarakat dengan pola pikir seperti ini perlu diberi pengertian yang lebih logis dalam berspiritual ataupun dalam kehidupan beragama. Cobalah perhatikan secara seksama pesan moral yang disampaikan dalam sejarah perkembangan keberadaan suatu agama, di mana masing-masing agama memiliki ajaran yang banyak ditentukan oleh desa, kala, patra saat itu. Misalnya saja sebelum sungai Gangga diturunkan ke bumi, maka upacara penyucian yang dilakukan mungkin lewat ritual api suci. Setelah sungai Gangga turun ke bumi berkembanglah upacara penyucian lewat mandi di sungai-sungai suci. Dan ritual penyucian ini akan terus berubah sesuai dengan keadaan suatu wilayah karena kegiatan seperti akan berkembang sesuai dengan peradaban masyarakatnya.

Apa pun bentuk penyucian tersebut entah lewat upacara Mahakumbamela, panglukatan, pabersihan, Agni hotra dan yang lainnya akan memiliki manfaat yang sangat besar bila kita mampu merubah kebiasaan kita yang kurang baik menuju lebih ke perubahan karakater yang lebih baik. Begitu juga sebaliknya bila kita menganggap acara penyucian tersebut akan menjadikan kita otomatis suci tanpa diikuti perubahan mentalitas dan karakter yang lebih baik, maka kita sesungguhnya adalah korban dari ritual penyucian tersebut.

Selanjutnya......

MELUKAT DAN MAHAKUMBHAMELA

Gede Agus Budi Adnyana

Perdebatan mulai memanas antara dua kubu, yang pertama mengagungkan Mahakumbhamela sebagai sebuah ritual penyucian diri (prayascitta), dan di pihak lain ada yang anti dengan hal tersebut. Kelompok yang anti tentu saja bukan berarti mereka tidak mengerti akan hakikat Mahakumbhamela, namun hanya sedikit kurang setuju saja. Jika Kumbhamela yang notabena dilakukan di tepian Gangga (tepatnya di Trivedhi, setelah dijajah Islam berubah nama menjadi Allahabad) harus diikuti oleh sebagian besar umat Hindu, termasuk Hindu Bali. Sebab tidak dipungkiri, beberapa oknum yang pernah melakukan upacara itu, kemudian menyatakan dengan bangga bahwa mandi di sungai Gangga adalah penyucian diri kelas utama dibandingkan dengan melukat di pura-pura atau di mata air di Bali.

Kontan saja, beberapa penganut Hindu Bali yang berjalan dalam dasar geguat Bali menjadi sedikit resah dengan ungkapan itu. Tetapi penulis sendiri melihat hal tersebut bukan dalam oposisi biner, melainkan berada dalam cara pandang yang sama rata, yakni di tengah-tengah. Kita perlu memahami hakikat Mahakumbhamela, namun dengan tata cara religi yang sesuai dengan desadresta, kuladresta, purwadresta, dan simadresta, yang berlaku di masing-masing tempat, di mana agama Hindu itu ada. Tidak mungkin bagi umat Hindu Bali datang berbondong-bondong ke Prayag untuk melakukan Kumbhamela. Demikian juga sebaliknya, umat Hindu India, tidak mungkin diwajibkan datang melukat ke Tampak Siring, sebuah tempat yang diyakini Bhatara Indra mengeluarkan tirtha pamarisuddha. Namun, jika umat mampu melakukannya, itu hal yang berbeda konteks kembali.

Permasalahannya adalah, seringkali kita tidak memahami hakikat upacara dengan situasi dan kondisi dimana kita berada. Kita memang perlu tahu, bahkan harus tahu bagaimana Kumbhamela tersebut. Namun bukan berarti kita harus ikut dan wajib untuk hal tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan berpikir global namun beragama komunal secara lokal. Mahakumbhamela diartikan dengan banyak difinisi. Ada yang menyebutnya sebagai ritual bagi para Yogi untuk turun dari pertapaan mereka melakukan penyucian diri, ada yang menyatakan bahwa upacara ini dilakukan untuk memperingati peristiwa besar yang pernah terjadi di jaman Satya.

Latar belakang mengapa para yogi itu melakukan ritual ini 12 tahun sekali, didasari atas perhitungan astronomi yang sangat rumit. Diyakini perhitungan ini tepat ketika para Dewa melakukan perang tanding dengan Raksasa ketika tirtha amrta berhasil didapatkan. Kisahnya ketika Samudra Manthana dilebur oleh golongan Dewa dan Raksasa untuk menemukan Laksmi (kehidupan). Maka dipergunakanlah Gunung Mandara sebagai tongkat pengocoknya dan Hyang Wasuki sebagai talinya. Kemudian benda-benda mengagumkan mulai keluar, seperti pohon parijata, racun Hala-hala, Cakrasudarsana, Widyadara, Kuda Aucisrawa, Gajah purba Airavata, permata Kaustabamani, dan terakhir muncullah Sang Hyang Dhanvantari (dokternya para Dewa) membawa kendi Amrta. Para raksasa kemudian mengambil kendi tersebut, dan paniklah para Dewa.

Untuk hal itu, Sang Hyang Vishnu kemudian menjelma menjadi Dewi Mohini dan menggoda raksasa sehingga kendi Amrta itu dapat diambil kembali. Setelah mengetahui bahwa Mohini merupakan penjelmaan Sang Hyang Narayana, maka murkalah para raksasa dan mengejar Sang Hyang Vishnu. Kejar-kejaran terjadi, para Dewa kemudian membantu Sang Hyang Hari dan ketika proses kejar-kejaran itu terjadi, meneteslah tirtha Amrta di empat tempat, salah satunya di Allahabad (Trivedhi). Jadi tempat di Gangga itu adalah suci, sebab tirtha amrta sudah menetes di sana. Maka untuk memperingati hal tersebut, dilakukan sebuah ritual.

Para Yogi sangat yakin, bahwa jika melakukan prayascitta di waktu yang sama dengan waktu dimana tirtha amrta menetes, maka badan jasmani dan rohani (sukma sarira) kita disucikan. Manusia memiliki tiga badan, pertama adalah badan kasar (Anggasarira) kemudian badan halus (Sukmasarira) dan yang terakhir adalah badan inti (Jiwa/Antakaranasarira). Melakukan prayascitta menyucikan badan kasar dan badan halus yang masih dapat dilekati oleh karma. Hal serupa juga terjadi para prosesi melukat ala Hindu Bali.

Sungai Gangga memang sudah terbukti secara ilmiah tidak mengandung kuman dan bakteri. Kemudian ditambah lagi, dalam kitab suci, baik Sruti dan Smrti semuanya menyatakan Gangga adalah suci. Jadi adalah tepat bagi umat Hindu memuja Gangga. Demikian juga di Bali. Pura Tirtha Empul, adalah pura luhur yang memiliki narasi panjang yang hampir setara dengan Purana yang lain. Sang Hyang Indra (Raja para Dewa), dengan siddha Beliau yang maha pengasih, menciptakan kelebutan tirtha suci untuk melakukan prayascitta. Secara ilmiah juga sudah terbukti, air suci di Tirtha Empul, memiliki kristal-kristal air seperti bunga padma. Jadi melakukan prayascitta dimanapun, tidak masalah. Asalkan didasari atas keyakinan dan ketulusan hati.

Bukan berarti kita harus anti terhadap Kumbhamela. Tidak demikian. Sebab bagaimanapun juga agama Hindu dimanapun, tidak akan pernah lepas dari India (Bharatvarsa). Bahkan pagi-pagi sekali para sulinggih kita di Bali sudah ke India dengan mahamantra puja sapta Gangga beliau. Bahkan ada juga mantra seperti: Om Gangga Yamuna Caiwa, Godavari Sarswati, Narmada, Sindhu, Kaveri, Jalasmin sanidhim kuru…

Semua sungai suci itu ada di India. Sekarang jika kita memang anti pati terhadap India, tidak mungkin untuk merubah mantra menjadi: Om Tukad Unda, Tukad Badung, Tukad Yeh langit, Tukad pakerisan..”. tidak mungkin puja pandita berubah demikian, pastilah merujuk sungai suci Gangga. Kekuatan beliau ditarik dan dimohonkan oleh sulinggih kita di Bali. Bahkan ini sebuah bukti bahwa sulinggih kita di Bali, sangat piawai menarik kekuatan Ibu Gangga agar menyeberang dari India dan hadir di dalam kamandalu dimana sulinggih itu melakukan puja stava. Jadi berhenti melakukan justifikasi bahwa melakukan penglukatan di Bali tidak sama dengan di India.

Kita sekarang berpikir Hindu sebagai agama yang fleksibel. Mungkin bagi pembaca yang budiman, yang kaya raya, banyak duit, tidak masalah untuk ke India. Lalu bagaimana dengan saudara kita yang miskin, bahkan saking miskinnya rumah saja harus berdinding bedeg. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk beli tiket pesawat dan biaya akomodasi lainnya untuk terbang ke India. Alangkah bijaknya, jika pembaca yang budiman yang kaya raya, memberikan sedikit derma kepada saudara kita yang kurang mampu. Sebab hal itu, juga merupakan prayascitta, ngelukat semua kekotoran dan tindakan buruk yang pernah kita lakukan.

Selanjutnya......

Mitos Pohon Angker dan Kuburan

Made Subagia

Penghormatan terhadap leluhur, lambang-lambang seperti pohon kehidupan dan air tirta, topeng yang memesonakan, itu semua menunjukkan rasa hormat, penuh getaran ketakutan terhadap eksistensinya sendiri. Semua lambang itu merupakan jendela-jendela yang membuka pandangan terhadap dunia transeden, maksudnya lambang-lambang itu menunjukkan ke arah kekuasaan-kekuasaan yang ada di atas dan di luar manusia (transenden). (CA. Van Peursen, 1976: 42).

Sejak zaman primitive rupanya manusia sudah memiliki naluri untuk mempertanyakan eksistensi dirinya. Pertanyaan yang terus berkembang hingga mencapai titik yang tak terjawab oleh batas-batas alam nyata, yaitu menyangkut dari mana asal muasal kehidupan ini. Pertanyaan-pertanyaan inilah memunculkan cara pandang transenden, keinginan menjangkau sesuatu realita yang tersembunyi di alam lain, di atas alam kenyataan. Dengan pengakuan atas adanya kekuatan atau eksistensi lain di luar alam nyata ini, kemudian manusia mengembangkan pemahaman-pemahaman baru dalam tata cara mereka memperlakukan alam sekitar. Kepercayaan mengenai sebuah pohon angker di Bali misalnya, dapat dijelaskan sebagai hasrat yang kuat dari manusia yang ingin menyingkap fenomena ciptaan ini. Ada apakah gerangan di balik yang nyata? Itulah prinsip pertanyaan dasarnya. Dari pertanyaan dasar itu berkembanglah kemudian, adakah kekuatan lain di pohon besar ini atau apakah kekuatan lain yang bersemayam di batu besar ini?

Membayangkan adanya keberadaan lain dalam sebuah benda (di matahari, bulan, langit, laut, sungai, pohon-pohon, batu, keris, pancuran, gua dll) adalah pintu bagi manusia purba memahami adanya potensi energi lain dalam setiap keberadaan. Setiap pohon tidaklah sekadar hadir sebagai penyejuk, tapi padanya terkandung suatu getaran tertentu yang bisa ditangkap oleh kepekaan manusia tentang manfaat maupun sifat dari energinya. Bila menjumpai pohon kepuh, maka orang Bali tidak menyebutkan kalau pohon tersebut memiliki energi gaib yang kuat, tetapi dikatakan kalau pohon tersebut dihuni oleh wong samar. Atau pada serumpun pohon bambu di tepi sungai dikatakan dihuni kawanan memedi usil dan pohon asam yang besar dihuni banaspati. Wong samar, memedi dan tonyo adalah nama-nama makhluk halus di Bali atau tergolong bangsa jin. Ini artinya masyarakat Bali mengasosiasikan suatu energi itu ke dalam suatu wujud yang lebih mudah dipahami pikiran, sehingga melahirkan suatu tata cara dalam bersikap dalam berhubungan dengan keberadaan energi-energi alam gaib itu.

Dengan kehadiran atau tepatnya, dengan pikiran manusia menghadirkan makhluk-makhluk gaib itu dalam berbagai pohon, menyebabkan pohon-pohon itu angker dan keramat. Dan yang terpenting adalah, dari keangkeran pohon-pohon itu masyarakat berharap mendapat perlindungan darinya. Bila mohon sesuatu pada sebuah pohon tenget, maka pikirannya kembali dikuatkan, harapannya dipulihkan. Misalnya, dalam suatu kasus ada warga yang mengalami sakit tertentu. Menurut kepercayaan yang berkembang di daerah itu, mungkin keadaan itu dipicu karena yang bersangkutan jarang membawa “buah tangan” ke penghuni pohon tersebut. Lalu diadakanlah permakluman, keluarga si sakit datang ke pohon itu sambil mempersembahkan sesajen dan permen.

Dengan prosesi itu, pikiran anggota keluarga pasien menjadi tenang, setidaknya ia tidak lagi terganggu oleh kepercayaan yang telah ia anut dalam pikirannya tentang kekeramatan pohon itu. Ini menjelaskan bagaimana tingkat permainan mental kita dalam setiap merespon fenomena alam di sekitar kita, sehingga sistem keyakinan (tentang sesuatu yang gaib) bisa juga berarti cara-cara pikiran memperkuat dirinya. Boleh jadi kepercayaan diri itulah sesungguhnya yang menguatkan seseorang, tetapi kepercayaan diri itu tidak bisa tumbuh sendiri tanpa bantuan sugesti-sugesti relegi dari luar.

Selain pohon kepuh, beringin, pule, bunut, juga ada pohon berumur pendek yang dikeramatkan. Dengan alasan digemari leak, orang-orang Bali mencabuti pohon pepaya renteng bila tumbuh dekat-dekat rumahnya. Pepaya renteng adalah jenis pepaya dengan bunga bertangkai panjang dan kalau di daerah Maluku bunga jenis pepaya ini biasa dimasak sebagai sayuran yang enak. Jadi di Maluku pepaya ini sengaja dipelihara untuk dipetik bunganya, sementara di Bali pohon ini tak akan diijinkan tumbuh besar. Bila terlanjur besar, maka dikhawatirkan siluman leak suka bersandar di batang pepaya itu pada malam buta untuk mengisap aura magis pohon itu. Demikianlah mitos yang berkembang, karenanya nasib pohon gedang renteng di Bali menjadi tanaman yang punah atau dipunahkan.

Masih beruntung daun beringin dibutuhkan sebagai perlengkapan upacara, sehingga pohon ini lumaya masih lestari. Berbeda dengan kepuh, jika ia tidak tumbuh di tebing yang sulit dijangkau atau di hutan tak bertuan, niscaya pohon ini pun terancam punah. Adakah orang Bali membiarkan tegalannya ditumbuhi pohon kepuh? Barangkali pohon-pohon kepuh yang terlanjur besar itu karena dulunya tidak sempat diketahui oleh yang empunya tanah atau tumbuh di lokasi sulit dijangkau, sehingga bisa tumbuh sampai besar. Bila tidak, tentulah pohon calon “rumah wong samar” ini akan dibabat sejak pohon itu masih pendek.

Setra Ganda Mayu

Setra artinya kuburan, ganda berarti harum dan mayu berarti mayat. Jadi Setra Ganda Mayu artinya, sebuah tempat di mana mayat (jenazah) manusia diperlakukan sedemikian rupa, sehingga di tempat inilah mayat-mayat dimuliakan atau diperlakukan dengan menghormatinya, sehingga roh dari mayat-mayat tersebut akhirnya memperoleh keharuman (kebahagiaan) di alam sana. Inilah sebabnya, mengapa sesungguhnya setra atau kuburan bagi penganut Hindu merupakan tempat suci. Di setra menjadi salah satu tempat, di mana para keluarga dari orang yang meninggal mendoakan roh orang yang meninggal itu supaya mendapat tempat di alam yang terang. Dengan demikian, setra dalam konsep Hindu bukanlah tempat membuang jenazah saja sebagaimana dapat dilihat dari penampakan fisik, tetapi setra juga merupakan titik awal perjalanan bagi sang roh ke alam baka.

Meskipun setra sejatinya merupakan areal yang disucikan, toh secara umum masyarakat menganggap tempat semacam itu sebagai tempat angker, entah itu di dunia Timur maupun Barat sekalipun. Paling tidak di belahan dunia Barat, kepercayaan akan kuburan kuno yang angker sering bisa kita saksikan dalam tayangan-tayangan film. Sementara di Nusantara, sebagian besar masyarakatnya memang mengasosiasikan kuburan sebagai tempat yang menyeramkan.

Di Bali, kuburan menjadi pusat berbagai ritual rahasia para praktisi ngelmu gaib, terutama dari disiplin tantrik. Vidya tantrik sebagai sebuah sadhana spiritual untuk mencapai pembebasan rohani, maupun avidya tantrik yang mengembangkan magis destruktif, sama-sama menjadikan kuburan sebagai “laboratoriumnya.”

Dalam falsafah murni tantrik, kuburan adalah guru terbaik, di mana ruang ini memberikan manusia suatu kesadaran, bahwa manusia pada akhirnya menjadi tulang-belulang yang setara dengan seonggok sampah. Dengan kesadaran, bahwa tubuh adalah suatu materi yang tak kekal, maka para pengikut tantris melakukan perenungan (yoga sadhana) di kuburan untuk mencari hakikat yang lebih dalam dari fisik. Dengan perenungan ini, seorang praktisi tantrik kemudian menemukan kesadaran rohani, sebagai suatu yang lebih mulai melampaui badan dan seluruh perhatian pun kemudian dipusatkan kepada keberadaan dan pertumbuhan rohani ini. Di India, para praktisi vidya tantrik bermeditasi di kuburan dan melengkapi dirinya dengan atribut pisau belati, tengkorak manusia dan sebagainya. Belati sebagai simbol keberanian untuk maju, karena seorang pencari jalan terang tidak akan berhasil tanpa memiliki tekad yang cukup dan keberanian di dalam menerobos semua rintangan. Tengkorak menyimbolkan sifat badan yang sementara, sehingga kesombongan, kebanggaan terhadap atribut jasamaniah, seperti ketampanan, kecantikan, kekuatan fisik, kekayaan, jabatan dan sebagainya akan bisa luruh dan gugur di kuburan ini. Dengan melihat tata cara mereka, kita menjadi paham, bahwa tantra adalah sebuah yoga sadhana untuk pemurnian diri.

Dalam lontar-lontar disebutkan, kalau sejumlah orang suci mencapai pencerahan di kuburan, misalnya Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Mpu Bradah, dan lain-lain. Kuburan sangat baik di dalam membantu manusia menumbuhkan rasa pasrah dan ikhlas kepada Yang Maha Kuasa, sehingga dengan kepasrahan dan ketulusan ini, sadhana spiritual bisa berhasil lebih cepat. Inilah keutamaan kuburan. Hanya saja, karena di Bali mungkin dalam sejarahnya yang melakukan ritual rahasia di kuburan lebih sering para penganut avidya tantrik, atau mereka yang termotivasi berbuat jahat, akhirnya citra kuburan sebagai tempat suci berubah menjadi tempat menyeramkan, leteh, sumber kejahatan dan sebagainya.

Citra kuburan sebagai tempat angker juga dipengaruhi pengalaman sejumlah orang yang pernah melihat hantu kuburan. Hantu pocong sangat terkenal di Jawa dan menjadi sumber ketakutan bagi banyak orang. Sesungguhnya hantu kuburan ini adalah badan etheris dari jazad orang yang meninggal dan baru dikubur. Badan etheris terbentuk dari bahan yang amat halus yang tak dapat ditangkap dengan indra biasa. Badan etheris ini merupakan pasangan badan fisik dan bentuknya pun serupa. Bila seseorang masih hidup, maka badan etheris bisa dipisahkan dengan badan fisik, tetapi tak bisa berada jauh dari tubuh fisik. Pada saat kematian, atman (sang aku) ke luar badan bersama-sama dengan badan etheris. Dan seseorang benar-benar dikatakan meninggal, bila benang penghubung (sutratman) antara badan fisik dan badan etheris terputus. Badan etheris inilah yang sering nampak sebagai hantu kuburan yang bisa dilihat oleh orang yang peka.

Selanjutnya......

KEBIASAAN HIDUP SEBAGAI LATIHAN ROKHANI


I Ketut Wiana

Setiap hari manusia menjalani hidupnya dengan berbagai kebiasaan, sejak bangun pagi hingga siang, sore dan malamnya tidur dan besoknya bangun lagi. Semua proses itu akan dilalui selama hidup.Yang patut diperhatikan bagaimana prosesi kehidupan sehari-hari itu dijadikan pembelajaran dan latihan rokhani. Artinya dalam menjalani proses kehidupan itu dipahami sebagai proses belajar dan berlatih untuk memperbaiki kwalitas hidup agar semakin bermakna.

Realitas prosesi kehidupan sehari-hari itu kita amati, untuk mengetahui apakah proses kehidupan yang kita jalani itu sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang kita anut. Misalnya sebagai umat yang beragama Hindu, sudahkah bangun pagi antara pukul 04. 00 sampai pukul 06. 00. Pagi-pagi setelah bangun sudahkah melakukan Asana dan seterusnya Puja Raditya Dina atau sembah yang pagi memanjatkan minimal Puja Savitri Mantram yang lebih populer dengan Gayatri Mantram. Karena menurut Chandogia Upanisad, untuk meningkatkan kwalitas hidup seyogianya melakukan puja pada Tuhan tiga kali sehari, yaitu Raditya Dina, Madya Dina dan Sandya Dina. Inilah yang disebut Tri Sandya.

Tiga kali pemujaan ini memiliki dimensi yang cukup luas menyangkut kehidupan ini. Misalnya setiap perubahan waktu menimbulkan akibat baik dan buruk. Agar jangan kena akibat buruk dari perubahan waktu itu maka dekatkan diri dengan Tuhan dengan memuja Tuhan setiap sandya tersebut. Sembahyang pagi siang dan sore itu juga bermaksud untuk mengendalikan Tri Guna dan juga menguatkan kemampuan hidup dengan konsep Tri Kona, yaitu hidup ini untuk mencipta (utpati) sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Memelihara dan melindungi (sthiti) sesuatu yang sepatutnya dilindungi dan meniadakan (mempralina) sesuatu yang sudah seyogianya dipralina.

Demikian juga setiap kita makan, heninglah sejenak dan awas dengan seksama. Sudahkah kita mengkonsumsi makanan yang satvika yang didapat dari hasil dharma. Dari pagi sampai sore kita kerja. Renungkan, sudahkah kita bekerja sesuai dengan etos kerja Hindu, yang bekerja dengan sungguh-sungguh penuh dedikasi dan bekerja dengan senang hati karena hal itu diyakini sebagai suatu kewajiban atau swadharma.

Demikian juga dalam pergaulan, apakah sudah bergaul dalam suasana satsannga atau pergaulan atas dasar satya, yaitu kebenaran Weda. Sudahkan dalam pergaulan itu kita melakukan apa yang disebut dalam Bhgawad Gita sebagai Nahamwadi, artinya tidak egois menonjolkan diri secara eksklusive dalam pergaulan. Orang yang tidak menonjolkan diri dalam pergaulan itu tergolong orang yang disebut Sattwam.

Pengalaman hidup ini juga kadang-kadang sukses dan kadang-kadang gagal atau Sidhhyasiddhi. Menuurt Bhagawad Gita, orang yang seimbang jiwanya menghadapi sukses dan gagal itu tergolong orang Sattwam. Demikiian juga dalam keluarga kadang-kadang semuanya searah dan kompak, tapi ada juga yang tidak sepenuhnya demikian. Sarasamuscaya menyatakan “Tan girang yang inalem.” Artinya, tidak demikian senang sampai lupa diri kalau dipuji. “Tan lara yang ininda.” Artinya, tidak menderita kalau dicaci. Orang seimbang dalam suka dan duka itu pikiran, perasaannya dan hati selalu tenang. Orang tenang demikian itu mudah mencapai karunia Tuhan. Di samping itu ketenangan jiwa itu mendorong munculnya pikiran jernih dalam menyelesaikan masalah.

Orang yang menggunakan pengalaman hidup sebagai pembelajaran dan latihan rokhani akan mencari dan menggunakan rejeki dengan cerdas, cermat dan bermartabat. Menerima lingkungan sosial, baik keluarga maupun di luar keluarga dengan adil dan bijak. Dalam hubungan dengan keluarga dan hubungan sosial di luar keluarga sering terjadi hubungan yang harmonis dan tidak harmonis. Hal seperti itu harus diambil maknanya dalam hidup ini. Di Bali ada sejenis pepatah: “Memusuh ajak nyama sing dadi metelah-telahan.” Artinya, bermusuhan dengan saudara tidak boleh habis-habisan. Dengan adanya pengalaman yang manis dan pahit itu dapat diambil hikmahnya. Dengan bersikap tidak bermusuhan habis-habisan itu kita akan lebih memahami hubungan sosial itu secara seimbang.

Memang hidup ini dalam hubungan sosial kadang-kadang bertemu kadang-kadang berpisah. Karena demikian keadaannya, maka janganlah kita tajamkan kalau ada hal-hal yang membuat berpisah. Dengan demikian akan ada saja peluang untuk kembali rukun. Di tempat kerja pun akan ada berbagai pengalaman hidup yng dialami. Ada yang manis, kadang-kadang ada juga pengalaman yang pahit. Kedua pengalaman tersebut dapat dijadikan pelajaran dan latihan rokhani untuk selalu seimbang menerimanya. Bhagawad Gita juga menyatakan Tulya Nindastuti, artinya seimbang menerima yang mencaci dan yang memuji. Keduanya akan bermanfaat kalau kita dudukkan hal itu dengan seimbang.

Demikianlah berbagai pengalamn hidup dapat direnungkan setiap hari untuk dijadikan bumbu penyedap perjalan hidup kita. Memang benar pengalaman itu adalah guru terbaik.Tentunya kalau kita mau menjadikan pengalanitu sebagai guru. Artinya berbagai hal yang negatif jangan sampai terulang kembali, sedangkan hal-hal yang positif terus ditingkatkan. Dengan demikian pengalam hidup ini akan berguna bagi setiap orang yang mau berguru dengan pengalaman hidup nya. Pengalaman hidup dapat dijadikan media untuk menempa fisik dan mental yang tangguh menghadapi berbagai dinamika hidup, baik yang manis maupun yang pahit. Keduanya bagaikan bumbu bawang dan cabai membuat masakan jadi enak.

Selanjutnya......

Bisnis Sosial dan Wirausaha Sosial

I GN Nitya Santhiarsa

“Dengan mengendalikan seluruh indria, berpikran tetap dan tenang, berusaha untuk kesejahteraan semua makhluk, sesungguhnya mereka sampai kepadaKU”-Bhagawadgita XII-4

Ada hal yang menarik dari sloka suci di atas, yaitu berusaha untuk kesejahteran semua makhluk. Kalimat ini mengandung makna yang luas dan mendalam, yang sangat bermanfaat bila kita pahami dan amalkan. Sudah menjadi kodrat bagi manusia, terutama golongan dewasa produktif atau kelompok grhasta untuk bekerja tekun dan professional, agar bisa hidup dan menghidupi keluarga masing-masing. Bekerja seperti ini umumnya masih dikategorikan berusaha untuk kesejahteraan sendiri atau kesejahteraan keluarga, namun ajaran Hindu tidak berhenti pada hal ini melainkan meluas bekerja guna kesejahteraan semua makhluk, yaitu kepada sesama manusia (sosial-humanis) dan juga kepada binatang dan tumbuhan (ekologis). Menurut ajaran Hindu, setiap umat Hindu diharapakan pada saat berusaha atau bekerja agar mampu memberikan berkah dan manfaat bagi orang banyak dan alam lingkungannya. Inilah salah satu ajaran Hindu yang utama dan mulia, sepatutnya setiap umat Hindu memperhatikannya.

Satu hal lagi yang patut dicermati, Catur Warna itu bukan murni berarti empat golongan pekerja, tapi juga bermakna empat golongan pekerjaan/profesi, jadi satu orang bisa menjalankan keempat profesi sekaligus dan fenomena ini adalah hal yang lumrah di jaman sekarang. Contohnya ada dosen merangkap jadi pengusaha, ada dokter yang jadi tentara dan sebagainya, yang terpenting setiap profesi dilaksanakan secara tekun dan bersungguh-sungguh. Tentang Catur Warna, dahulu peran brahmana-kesatria atau rajarsi lebih menonjol di masyarakat, namun keadaan sekarang berubah, keempat warna sama-sama kuat dan menonjol.

Swadharma utama sekarang juga menjadi milik profesi wesia-sudra atau wesia-sudra swadharma. Profesi pengusaha (bisnis) dan jasa pelayanan (services) menjadi primadona pekerjaan yang dapat menghasilkan keuntungan dan kekayaan serta kedudukan utama di masyarakat, sehingga sekarang banyak orang menjalankan swadharma sebagai wesia-sudra.

“Bertani, beternak, dan berdagang adalah tugas para wesia, yang terlahir dari sifat alamiahnya sendiri, dan kegiatan pelayanan adalah tugas para sudra, yang juga terlahir dari sifat alamiahnya sendiri” Bhagawadgita XVIII-44

Jadi, apa kaitan kedua fenomena sosial di atas, yakni berusaha untuk kesejahteraan semua makhluk dan kebangkitan golongan wesia-sudra? Ternyata kedua fenomena sosial di atas memiliki konteks yang sangat erat dan menjadi trend di masyarakat dewasa ini. Kedua fenomena sosial ini berakar sama, yaitu pada ajaran Karma Yoga, yang dapat kita pelajari secara ringkas dan padat pada kitab Bhagawadgita terutama pada bab III dan bab V, yaitu Karma Yoga dan Karma Samnyasa Yoga. Karma Yoga adalah bagian dari Catur Yoga Marga, yaitu empat jalan untuk mengabdi kepada Tuhan, ada empat jalan, yaitu Raja Yoga, mengabdi kepada Tuhan dengan amalan spiritual Yoga, Jnana Yoga, mengabdi kepada Tuhan dengan mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, Bakti Yoga, mengabdi kepada Tuhan dengan mengamalkan ibadah kebaktian dan ritual, dan Karma Yoga, mengabdi kepada Tuhan dengan berusaha atau bekerja untuk kesejahteraan semua mahkluk.

Menurut ajaran Karma Yoga, bekerja yang terbaik adalah bekerja kepada Tuhan, bekerja tanpa pamrih, bekerja tanpa terikat pada hasilnya dan bekerja untuk kesejahteraan bersama, model-model bekerja seperti inilah yang menjadi anjuran dari ajaran Karma Yoga yang tercantum dala kitab Bhagawadgita. Karma Yoga sekarang ini menjadi trend untuk dijalani, karena perkembangan jaman yang merubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri di mana sebagian besar waktu digunakan untuk bekerja.

Perubahan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri tidak bertentangan dengan ajaran Hindu, kedua pola masyarakat sudah diatur dalam ajaran Hindu, yang menganggap ini masalah hanyalah orang yang keliru menafsirkan jaran Hindu yang sangat lengkap dan kompleks. Ajaran Hindu bersifat fleksibel dan adaptif terhadap perubahan, di mana dalam masyarakat industri terjadi pergeseran titik berat jalan dari Bakti Yoga Marga menuju Karma Yoga Marga, namun secara umum keempat jalan masih dapat dilaksanakan. Bekerja sambil beramal, atau mencari keuntungan duniawi dan surgawi sekaligus menjadi semboyan bagi umat Hindu yang menempuh jalan Karma Yoga. Hal inilah yang menjadi dasar bagi kebangkitan profesi wesia-sudra di kalangan umat Hindu.

Kiyosaki, seorang finansial planner terkemuka menyatakan bahwa bekerja menurut derajat kebebasan finansial ada empat macam, yaitu bekerja pada orang lain yaitu menjadi pegawai, bekerja pada diri sendiri yaitu menjadi konsultan misalnya, berbisnis, yaitu punya usaha sendiri seperti pemilik restoran, dan berinvestasi, yaitu punya modal cukup besar untuk mendanai usaha tertentu seperti menjadi komisaris perusahaan. Semakin tinggi derajat kebebasan finansial semakin kaya orang itu, demikian pernyataan Kiyosaki. Di antara keempat macam pekerjaan ini, pekerjaan berbisnis dan berwirausaha sekarang ini banyak dianjurkan oleh pemerintah dan juga menjadi pilihan masyarakat, karena banyak memberikan manfaat bagi kemajuan dunia usaha di suatu daerah. Membuka bisnis dan menjadi wirausaha berarti membantu upaya pemerintah mengurangi masalah pengangguran dan masalah rendahnya produktifitas, di samping itu juga berarti menggerakkan peredaran modal di kalangan masyarakat untuk usaha yang produktif, yang mana hal ini tentunya membuat ketangguhan sosial menjadi lebih baik.

Perlu juga diketahui oleh umat Hindu, bahwa profesi wesia-sudra adalah profesi mulia. Hal ini bisa kita ketahui dari fakta bahwa semua nabi dari Agama Yahudi, Nasrani dan Islam adalah pernah bekerja sebagai gembala ternak (gopala atau gupta). Demikian juga awatara kita, Bhagawan Sri Krisna, Beliau adalah seorang gembala. Kemudian, Nabi Muhammad menyatakan bahwa profesi yang paling menguntungkan di dunia adalah profesi sebagai pedagang, seperti yang beliau teladani kepada umatnya.

Seiring tumbuhnya kesadaran dan semangat untuk berbisnis untuk mendapatkan kekayaan yang sebesar-besarnya, tumbuh pula kesadaran dan semangat untuk peduli pada keadilan sosial dan kelestarian alam, sehingga munculah fenomena bisnis sosial dan enterpreneur-sosial atau kewirausahaan sosial. Bisnis sosial adalah usaha secara profesional namun tujuannya bukan mencari keuntungan maksimal melainkan mencari manfaat sosial yang maksimal. Contoh bisnis sosial adalah memproduksi makanan sehat dan murah untuk kaum miskin, merancang asuransi kesehatan buat kaum miskin, membuat kursus pengembangan diri dan life skill untuk mengatasi pengangguran, dan sebagainya. Enterpreneur sosial adalah usaha mandiri yang dikembangkan untuk kemajuan diri sekaligus juga untuk pemberdayaan masyarakat. Misalnya produksi pakan ternak untuk mendukung kemajuan usaha peternakan rakyat, mengolah sampah kertas menjadi kertas daur ulang untuk mendukung usaha kerajinan dan sebagainya. Jadi ada semangat peduli pada kaum miskin dan kelestarian alam dalam menjalankan usaha semacam ini. Bisnis sosial dan enterpreneur sosial adalah sebuah pilihan usaha, tidak ada paksaan untuk melakukan usaha semacam ini, menjalankan usaha ini harus murni berdasarkan kesadaran betapa pentingnya hidup saling berbagi atau hidup saling menghidupi (paras param bhawayantah) dalam berusaha atau bermatapencaharian.

Selain itu sikap untuk bermurah hati juga menjadi ajaran utama dalam agama Hindu, yaitu adanya kewajiban dan kerelaan melaksanakan dharmadana kepada sesama berupa sedekah, hibah dan hadiah. Umat Hindu menjalani kehidupan berusaha mengikuti prinsip rwabinedha dan prinsip keseimbangan keharmonisan, termasuk ketika berbisnis, yaitu diharapkan setiap orang selain memiliki kemampuan bisnis dan kecerdasan financial, harus diimbangi dengan kesadaran untuk berbagi (charity), setiap keinginan untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan harus diseimbang-serasikan dengan kemauan untuk beramal dan berderma. Umat Hindu diharapkan juga mempunyai rasa atau kebijaksanaan untuk memutuskan kapan bekerja profesional dan dibayar serta kapan bekerja ngayah atau kerja gotong royong (relawan).

Bekerja untuk mencari nafkah menghidupi keluarga itu suatu keharusan, sedangkan sibuk bekerja mengejar kekayaan atau kesenangan duniawi sehingga melalaikan ibadah itu adalah kekeliruan atau dosa. Kemudian bekerja dengan tekun, dengan meyakini kerja merupakan ibadah atau bekerja dengan tidak melalaikan ibadah, serta bekerja sesuai dengan dharma untuk kesejahteraan semua makhluk. Ini adalah tergolong bekerja untuk Tuhan atau kerja yang diberkati, model bekerja yang dianjurkan untuk menjadi pilihan umat. Menurut pendapat penulis, berusaha untuk kesejahteraan semua makhluk sangat tepat diwujudkan melalui bisnis sosial dan enterpreneur sosial, sebab keduanya adalah lembaga ekonomi sekaligus lembaga sosial yang terbukti cukup efektif untuk menciptakan keadilan sosial di masyarakat sehingga kehadiran kedua macam lembaga tadi menjadi suatu kebutuhan di jaman sekarang ini. Om, Namo Siva Budha ya namah swaha!

( I GN Nitya Santhiarsa, Ketua Forum Dharma, staf dosen Universitas Udayana).

Selanjutnya......

Dharma Paling Luhur Adalah Mengikuti Kebenaran

A.A. Gede Raka

Suatu kali ketika Dharmaraja dan Draupadi sedang berada dalam pembuangan, mereka berjalan-jalan di hutan. Pada waktu itu Draupadi melihat suatu buah yang sangat besar di atas sebatang pohon. Ia ingin mendapatkan buah itu karena akan merupakan santapan yang mewah bagi Pandava bersaudara. Dharmaraja menanggapi keinginan Draupadi lalu memanah buah itu hingga jatuh. Kemudian ia berusaha mengangkatnya, tetapi tidak berhasil karena sangat berat. Sementara itu Arjuna datang dan mencoba mengangkat buah tersebut. Dharmaraja dan Draupadi berusaha membantunya, tetapi mereka bertiga tetap tidak mampu mengangkatnya. Sementara itu Bhima, Nakula, dan Sahadewa tiba. Bhima mencemooh, ”Agak mengherankan kalau adikku Arjuna yang dapat mengangkat gandiwa tidak mampu mengangkat buah yang sekecil itu. Mungkin gandiwa itu terbuat dari….” Mula-mula Bhima mencoba mengangkat buah itu secara sambil lalu hanya dengan satu tangan, tetapi buah itu tidak bergerak. Ia menjadi serius dan menggunakan kedua tangannya, tetapi gagal. Mereka berenam berusaha mendorong dan menarik buah itu, tetapi tetap saja tidak berhasil.

Nah, ada kisah di balik buah yang luar biasa ini. Di hutan itu tinggallah seorang pertapa bernama Romarishi. Secara harfiah namanya berarti ‘yang panjang rambutnya’. Rambut sang resi telah menyebar ke segala tempat. Ialah yang memelihara pohon ini dan melakukan tapa brata yang keras untuk mendapatkan buahnya. Buah ini dikenal sebagai amrutapala. Orang yang memakannya akan bebas selamanya dari lingkaran kelahiran dan kematian. Itulah sebabnya Romarishi ingin memperolehnya. Ketika Pandava bersaudara berusaha keras mengangkat buah itu, Romarishi merasa terganggu karena rambutnya terinjak-injak. Ia sadar bahwa ada orang yang mencoba mencuri buah itu dan ia menjadi berang. Rambutnya yang tergerai sangat panjang mulai bergerak mencari Pandava dan mengikat mereka. Draupadi katakutan melihat gulungan-gulungan rambut datang mendekat. Ia berdoa, ”Oh,Krishna, selama ini Paduka selalu melindungi kami. Paduka harus datang menyelamatkan kami lagi. Selain Paduka, kami tidak mempunyai perlindungan lain.”

Sebagai tanggapan atas doa Draupadi, Krishna muncul sambil tersenyum. Beliau datang dengan suatu muslihat yang akan menyelamatkan Pandava dari murka Romarishi. Beliau berkata, ”Jika kalian ingin diselamatkan, kalian harus menaati perintah-Ku secara mutlak.” Kemudian Dharmaraja berkata, ”Krishna! Pernahkah kami tidak menaati perintah Paduka? Kami siap sedia melakkan apa saja yang Paduka katakan.” Kemudian Krishna berkata, ”Dharmaraja! Tidak banyak waktu yang dapat dilewatkan. Engkau tidak bisa lagi tetap tinggal di sini. Aku akan segera pergi ke ashram Romarishi. Kalian menyusul ke sana setelah lima menit. Apa pun yang terjadi di sana, tetaplah tutup mulut dan diam.”

Sementara itu Romarishi luar biasa marahnya. Ia akan mengutuk para pencuri. Tepat pada saat itu Krishna masuk ke ashramnya. Romarishi bergegas menyambut Sri Krishna. Ia bersujud di kaki Beliau seraya berkata, ”Swami, betapa mujur dan beruntungnya saya karena Paduka mengunjungi tempat tinggal saya yang sederhana.” Kegembiraan sang resi meluap-luap. Sementara itu Pandava bersaudara tiba di pertapaan sang resi sesuai dengan rencana Sri Krishna.

Krishna yang sedang asyik bercakap-cakap dengn sang resi berpura-pura baru saja melihat kedatangan Pandava. Perhatian Tuhan selalu terpusat kepada bhakta Beliau. Begitu Krishna melihat Pandava, Beliau langsung bersujud dengan sangat hormat di hadapan mereka satu demi satu. Beliau bahkan bersujud di kaki Draupadi. Pandava bersaudara merasa sangat malu, tetapi karena mengingat perintah Sri Krishna, mereka tidak berkata apa-apa.

Melihat kejadian ini sang resi merasa heran dan bingung. Ia berpikir, ”Krishna adalah seorang Avatar dan Beliau bersujud di hadapan orang-orang ini. Pasti orang-orang ini lebih hebat dari Beliau.” Karena itu, sang resi mengikuti contoh Sri Krishna dan ikut bersujud di kaki Pandava bersaudara satu demi satu. Setelah bersujud, ia tidak dapat lagi mengutuk orang yang telah disambutnya dengan salam hormat.

Kemarahan sang resi segera lenyap. Kemudian Romarishi bertanya kepada Sri Krishna, ”Swami, apa makna segenap misteri ini? Tiada yang lebih mulia dan lebih hebat daripada Paduka, akan tetapi Paduka bersujud di hadapan orang-orang ini, Apa makna yang terkandung dalam hal ini?” Krishna tersenyum dan berkata, ”Oh resi yang mulia, Aku bersemayam dalam hati para bhakta-Ku. Aku adalah tawanan bhakta-Ku. Pandava bersaudara ini luar biasa besar bhaktinya kepada-Ku. Dalam keadaan apa pun mereka tidak pernah melupakan Aku. Aku dikuasai oleh bhakta semacam itu.”

Sang resi menyadari kehebatan Pandava lalu berkata, ”Silakan ambil buah ini, saya tidak memerlukannya. Buah itu lalu dipotong oleh Draupadi dan dipersembahkan seiris kepada Sri Krishna. Krishna berkata, ”Tidak tahukah engkau kalau Aku tidak makan buah? Tidak hanya pada waktu itu, sekarang pun Aku tidak makan buah-buahan.” Kemudian Draupadi mohon kepada Sri Krishna agar setidak-tidaknya Beliau menyentuh buah itu sehingga mereka dapat memakannya sebagai prashadam ‘makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan’.

Romarishi terharu melihat kasih Sri Krishna kepada bhakta Beliau sehingga ia menitikkan air mata bahagia. Krishna berkata kepada sang resi bahwa hidupnya telah mendapatkan pemenuhan. Kemudian Beliau menumpangkan tangan pada sang resi yang kemudian menunggal dengan Beliau.

Melihat ini, Pandava bersaudara pun mohon agar dianugerahkan kemanunggalan. Mereka berkata, ”Swami, kami sudah tidak mempunyai keinginan apa-apa. Kami sudah mengalami segala hal dalam hidup ini. Mohon kami juga dianugerahi kebebasan.” Kemudian Sri Krishna berkata, ”Peran kalian dalam drama kehidupan ini belum selesai.Kalian masih harus mencapai banyak hal lagi.”

Suatu drama terdiri atas banyak adegan. Seorang aktor tidak dapat meminta agar sutradara membebaskannya setelah adegan pertama selesai. Ia tidak dapat pergi sebelum seluruh adegan drama selesai. Krishna berkata kepada Pandava, ”Masih banyak hal yang harus dicapai dalam kehidupan ini. Kalian harus memberi teladan kepada dunia dan dharma harus ditegakkan. Bagaimana kalian dapat meninggalkan dunia tanpa menyelesaikan tugas yang telah diserahkan kepada kalian? Setiap manusia lahir untuk memahami dan menghayati kebenaran. Apa guna kelahiranmu sebagai manusia, jika engkau tidak mencapai hal ini. Mainkan peranmu secara sempurna dalam drama kehidupan ini.” Sambil berkata demikian, Krishna pun menghilang.

Kini tidak seorang pun menyadari keluhuran satya ‘kebenaran’ dan dharma ‘kebajikan’ Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran dan kebajikan tidak akan pernah dibiarkan menderita. Karena itu, ikuti jalan kebenaran. Jangan memberi peluang pada kebohongan, ketidakbenaran, dan ketidakadilan. Kebenaran dapat mengubah bumi menjadi langit dan langit menajdi bumi. Oleh karena itu, anggaplah kebenaran sebagai nafas hidup dan hayati kebahagiaan jiwa dari hal itu. Inilah pendidikan yang seharusnya dipelajari.

Selanjutnya......

Dialog Arjuna dengan Sukma tentang Kemurungan

Luh Made Sutarmi

Mereka yang mempersembahkan semua kerja kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa, tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun teratai dalam air. Tuhan yang maha mulia tak pernah bisa diadaptasikan untuk kita miliki, namun cinta sejati patut engkau korbankan untuk maksud yang damai, itulah jiwa ini. Jiwa yang selalu rindu, berbisik dalam keindahan sukma, yang dalam.

Arjuna ketika membayangkan Subadra menggeliat dalam renungan tengah malam. Kerinduan seakan sulit ditampik untuk mengatakan bahwa Subadra yang selama ini berstana dalam hatinya yang paling dalam sulit dilupakan. Di sinilah Arjuna menemukan makna cinta, jika manusia menemukan, bahwa satu prinsip ketuhanan dalam semua aktivitas manusia. Konsep itu seperti, aliran arus listrik pada bola lampu, kipas angin, kompor listrik dan mesin yang digerakkan oleh daya listrik itu, lalu agama dunia ini seperti itu adannya. Penghormatan terhadap kehadiran sesuatu yang menggerakkan yang tidak terlihat, itu adalah prinsip ketuhanan yang tetap ada, dan akan tumbuh pada setiap hati sebagai taman kasih. Kasih yang murni dapat keluar hanya dari hati yang terbenam dalam kedamaian.

Dalam kerinduan itu, Arjuna bermeditasi dan dia bertemu dengan sukma hatinya yang terdalam, di sana terjadi dialog yang panjang. Arjuna berkata, “Saya lagi murung, dan tolong saya, saya lama belum bertemu dengan kekasih hamba, Subadra. Apa penyebab kemurungan ini?” Suksma hatinya menjawab, “Penyebabnya ialah ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan ia menyamakan diri dengan tubuh, dan karena menyamakan diri dengan tubuh, ia menjadi bingung dan bimbang, ia kehilangan tekad dan keberanian, dan tidak mampu menyelesaikan apa-apa, termasuk berpisah hanya untuk menjalankan tugas sebagai seorang ksatria, belum dapat engkau lakukan Arjuna.”

“Kadang sifat pengecutku muncul, dan aku sering berprilaku cengeng.” Suksma berkata kepada Arjuna, "Selama sifat pengecut ada pada dirimu, tugas sekecil apa pun tidak akan dapat kau selesaikan. Engkau akan tetap dibayangi kesedihan. Tahukah engkau apa yang menyebabkan kesedihan ini? Tidak lain ialah keterikatanmu; engkau dimabukkan oleh rasa ini milikku, dan itu bukan milikmu. Sikap memiliki ini bersumber dari ketidaktahuan. Keterikatan dan ketergila-gilaan ini akan selalu membuat engkau bimbang dan menjebloskan engkau ke jurang kesedihan. Itulah sebenarnya musuh-musuh yang harus engkau taklukkan, musuh-musuh dalam dirimu sendiri. Arjuna! Selama engkau diliputi oleh sikap memiliki ini, hanya memikirkan dirimu sendiri, keluargamu, bangsamu, dan harta bendamu, cepat atau lambat pasti engkau akan terlempar ke lembah kesedihan. Engkau harus beralih dari sikap aku dan punyaku ke tingkat yang lebih tinggi dengan senantiasa berpegang pada sikap kita dan punya kita. Dari sikap mementingkan diri sendiri engkau harus berangsur-angsur maju ke sifat tanpa pamrih, dari keterikatan menuju.”

“Ya, kau terbelenggu dalam kisah duniawi dan nafsu memiliki membuat dirimu selalu berada dalam kungkungan yang sangat menakutkan, membuat kamu sedih. Ketahuilah Bila seseorang diliputi kesedihan yang mendalam dan menderita kekaburan batin, apa yang harus dilakukan untuk melepaskannya dari belenggu khayalan? Misalnya bila seseorang tenggelam di sungai, engkau harus mengangkatnya lebih dulu, membawanya ke pinggir, dan memberikan pernapasan buatan; kemudian engkau dapat mulai memberikan perawatan berikutnya untuk mengembalikan sirkulasi darah dan membantu memulihkan keadaannya. Tentunya engkau tidak akan mulai memberikan berbagai perawatan selama ia masih berada di dalam air, tenggelam.”

“Ya, jiwaku terperangkap dalam cinta keterikatan, menikmati keindahan kehidupan.” Sukma berkata, “Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kalian adalah kehidupannya itu, kalianlah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan kalian adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu. Arjuna! Sadarilah, bahwa penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah. Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan. Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri - obat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan tanpa bicara.”

Arjuna tetap bertahan dalam meditasinya, dialog itu terus berjalan seiring pergerakan malam. Lalu, Arjuna dengan sadar mengucapkan sebuah senandung mantra, "Tvameva maataa cha pitaa tvameva, Tvameva bandhuscha sakhaa tvameva, Tvameva vidyaa dravinam tvamev, Tvameva sarvam mama devadeva" ('Engkau ibuku, Engkau Ayahku, Engkau kerabat yang terdekat, Engkau kawanku terdekat, Engkau kebijaksanaanku, Engkau hartaku, Engkau segala-galanya bagiku, Engkau Tuhanku, Tuhanku satu-satunya), maka hidupnya diatur oleh Tuhan, dan dia berdiri menjadi instrument Tuhan. Di sana ada kerinduan dan kasih Arjuna pada yang Maha kasih, Tuhan yang Maha Pemurah, yang juga berstana dalam hati yang paling dalam dari Subadra.
Om Gam ganapataye namaha****

Selanjutnya......

Menggali Lebih Dalam Upacara Nilapati

Laporan Putrawan

Untuk menyucikan para leluhur supaya dapat memotong upadrawa yang ditimbulkan oleh dosa-dosa selama hidup, maka perlu dilakukan upacara penyucian leluhur dengan upacara Penapuh Upadrawa. Inilah upacara Nilapati yang bermaksud untuk meruwat sosot upata para leluhur dan meningkatkan kesucian beliau. Demikian antara lain diungkapkan oleh Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Samyoga pada acara “Sarasehan Nilapati” yang diselenggarakan di Sekretariat Maha Gotra Pasek Sanak sapta Rsi (MGPSSR) Pusat, di Jalan Cekomaria 777 Denpasar Timur, pada Minggu, 3 Maret 2013.

Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Samyoga juga menyebutkan, upacara ngaben hingga memukur belum dapat mengantarkan para leluhur untuk mendapatkan tempat yang wajar di alam sana, karena itu masih diperlukan upacara Nilapati untuk menyucikan para leluhur yang masih ternoda yang diakibatkan oleh beberapa dosa besar selama hidupnya, di antaranya pernah menghukum orang tak bersalah atau membunuh orang sadhu darma. Selain itu, dosa yang disebabkan oleh tindakan menyuruh atau pernah disuruh merusak menciderai orang lain yang tak bersalah yang menyebabkan kematian orang lain. Pelaku perbuatan itu akan mencapai neraka dan keturunannya tertimpa sengsara. Juga dosa yang diakibatkan leluhur yang meninggal tak wajar, seperti salah pati dan ulah pati, dapat hukuman mati dan sebagainya yang menjadikan sang pitara tidak mendapat tempat yang benar.

Sarasehan yang diikuti ratusan peserta terdiri dari para Ida Pandita Mpu se Bali, Pemangku, Pinandita dan semeton Mahagotra lainnya juga menghadirkan dua pembicara lain, yaitu Ida Pandita Mpu Siwa Putra Parama Daksa Manuaba dan Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda. Sarasehan ini digelar sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka menyongsong HUT 61 MGPSSR yang jatuh pada 17 April 2013 (yang akan dirayakan pada 21 April 2013, yang bertepatan dengan hari Minggu).

Ida Pandita Mpu Siwa Putra dalam kesempatan tersebut menyatakan, bahwa upacara Nilapati merupakan bagian dari upacara Pitra Yadnya, sehingga perlu dibahas lebih matang untuk dapat menjawab beberapa hal prinsipiil, seperti, apakah dasar rujukan sastra dari upacara Nilapati, bisakah upacara ini dipraktikkan untuk mencapai tujuan manusia, yaitu moksartham jagadhita ya ca iti dharma, kemudian muncul juga pertanyaan penting, apakah dengan upacara ini dosa para leluhur dapat dihapuskan, dan beberapa pertanyaan penting lainnya. Karena itu, upacara Nilapati sebagai wujud sujud bhakti para pratisentana kepada para leluhur, perlu mendapat perhatian lebih serius, sehingga ke depan menjadi lebih jelas dipahami oleh umat, khususnya warga Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi.

Istilah Upacara Nilapati merupakan hal yang baru dipopulerkan, wajar jika kemudian mengundang banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai upacara ini. Ida Mpu Jaya Acharyananda dalam kesempatan tersebut menguraikan, bahwa dalam lontar Lebur Sangsa ditemukan istilah Nilapati, sementara dalam lontar Lebur Gangsa disebut dengan istilah Halapati. Tutur Lebur Gangsa versi lain menyebutnya dengan istilah ilapati. Walaupun memiliki istilah yang berbeda, namun jika dicermati secara seksama akan dijumpai substansi yang sama, yakni pamarisudha atau panyudhamala melalui Nawur Danda Kalepasan.

Dari sudut etimologi, Nilapati berasal dari kata Nila dan Pati. Nila artinya biru, hitam atau setiap zat atau bahan yang gelap kemudian secara semantik diartikan sebagai noda. Kemudian Pati berarti kematian, namun Pati juga dapat berarti raja, penguasa dan Tuhan. Berdasarkan arti leksikal di atas, Nilapati berarti kematian yang hitam, mati membawa noda atau dikuasai oleh noda/kegelapan sekaligus Tuhan yang telah ternoda. Dengan demikian secara maknawi dijumpai berbagai konsep tentang Nilapati, di antaranya (1) mati yang ternoda; (2) dikuasai oleh noda; (3) Tuhan yang ternoda.

Akibat dari noda itu menyebabkan hidup tidak selamat dan ketika meninggal sulit mencapai kelepasan. Selain itu adanya dasar keimanan akan kelahiran yang berulang-ulang (samsara) telah memberikan penguatan kelahiran sebagai manusia adalah menderita. Selain itu ajaran Samkhya dengan Panca Klesanya telah pula menjelaskan, bahwa kelahiran ini diliputi oleh klesa atau noda yang menyebabkan pati atau spirit Tuhan dalam personal ikut ternoda.

Dengan demikian, manusia wajib melepaskan diri dari noda. Noda atau klesa merupakan awal mula dari papa, sedangkan papa adalah awal mula dari dosa dan dosa menjadi awal mula dari neraka. Di dalam kakawin Ramayana dengan tegas dijelaskan, bahwa tujuan dari penjelmaan ini sebagai manusia adalah melenyapkan penderitaan yang bermula dari noda itu, “Ksayanikang papa nahan prayojana.” Bagaimana cara melenyapkan penderitaan itu, maka dalam Hindu ditawarkan berbagai solusi sesuai dengan teologi Saiva Siddhanta. Di antaranya melalui jalan Karma sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuccaya sloka 4 yang menyatakan: “Apan ikang dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.” Artinya, menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Selain melalui jalan Karma, noda kelahiran ini juga dapat dibersihkan melalui jnana atau ilmu pengetahuan absolut (para widya). Melalui pengetahuan sejati ini manusia diharapkan mampu membedakan mana yang absolut dan mana yang relatif (maya). Melalui pengetahuan manusia diharapkan memperoleh pencerahan (enlightenment) sehingga tidak terjebak dalam perangkap kuasa maya. Hal ini disebutkan dalam Bhagavadgita IV sloka 36: Api ced asi papebhyah, sarwebhyah papakritawah, sarwam jana plawenai’wa, wijinam samtarisyasi. Artinya, walau seadainya engkau paling berdosa, di antara manusia yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini, lautan dosa engkau seberangi.

Jadi upacara Nilapati merupakan jalan bhakti (Bhakti Marga). Dan seberapa besar pengaruhnya upacara Nilapati itu bagi penyucian leluhur tentu tidak dapat diukur secara kuantitas, mengingat upacara itu bukan kuantitasnya yang menjadi jaminan, melainkan kualitasnya.

Selain itu, meskipun lontar Lebur Sangsa dan Lebur Gangsa merekomendasikan suatu upacara Nilapati untuk menghapuskan dosa-dosa akibat kelahiran, maka juga dianjurkan pentingnya menjunjung moralitas yang baik untuk mencapai keselamatan. Di antaranya disebutkan: “Jika kamu mengharapkan kelahiran yang selamat, berbuatlah yang benar, dengan kebajikan lanjut sampai pada puncak pikiran yang suci. Hati yang sabar, penampilan dan tingkah laku mulia selalu menjadi pegangan. Jangan kamu bersikap tidak hati-hati. Utamakan segala perbuatan atau tingkah laku yang menyebabkan hidup menjadi selamat, karena akan mengalami kesulitan besar apabila dilandasi oleh suatu yang tidak baik. Selalu memiliki kecenderungan seperti keadaannya semula. Ibaratnya sebutir biji jawa yang dibelah menjadi seratus. Ditenggelamkan di tengah lautan, begitu sulitnya menjadi utuh kembali. Demikianlah dialami oleh orang yang berdosa, selalu menimbulkan kejahatan dilekati oleh dosa akibat kematian yang ternoda. Sulit untuk kembali menjadi bijaksana, jika tidak atas restu Tuhan untuk menjadi sempurna kembali.

Sesuai dengan pengantar yang disampaikan oleh Ida Pandita Jaya Acharyananda, bahwa dalam praktik beragama ada jalan Niwrthi (jalan ke dalam batin) dan jalan Prawrthi (melalui upaya eksternal). Upacara atau ritual adalah wujud praktik Prawrthi yang tentunya hal itu bersifat pilihan, yaitu umat Hindu di dalam meningkatkan kualitas rohaninya dapat menempuh jalan Niwrthi maupun Prawrthi. Demikian juga sifat Niwrthi dan Prawrthi ini difasilitasi lewat empat jalan (Catur Marga). Dengan demikian upacara bukanlah sebuah kemutlakan di dalam menapaki spiritual.

Pandita menjelaskan, agama di zaman modern lebih menekankan filsafat, misalnya muncul keyakinan yang mengatakan, bahwa yang lebih penting adalah kualitas pikiran yang luhur, sehingga tidak usah ada ritual. Bahkan Pada zaman post modern sekat antaragama menjadi tidak jelas, karena nilai-nilai universal lebih dipentingkan daripada identitas kelompok. Dengan demikian, boleh-boleh saja melaksanakan upacara Nilapati tentunya dengan harapan praktik tersebut dapat secara signifikan mendorong terwujudnya moralitas luhur di kalangan masyarakat pengusung upacara itu. Dan tak kalah pentingnya, bahwa upacara apa pun haruslah berdasarkan tulus ikhlas lascaraya (bhakti) yang dilandasi logika, artinya berupacaralah sesuai kemampuan, sehingga tidak ada acara baris berbaris atas nama upacara, yaitu “adep kiri” dan “adep kanan” yang mana praktik seperti ini hanyalah akan mendatangkan kesengsaraan.

Selanjutnya......

Mahagotra Pasek Membentuk Paguyuban Pinandita

Laporan Putrawan

Sebanyak 52 Pinandita dari kalangan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, pada 24 Februari 2013 lalu mengikrarkan diri untuk membentuk Paguyuban Pinandita Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi. Keputusan membentuk Paguyuban ini berlangsung di Sekretariat Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR), di Jalan Cekomaria 777 Denpasar dengan melibatkan para pinandita Pasek dari seluruh Bali.

Jro Mangku Made Sulasa Jaya dari MGPSSR Pusat selaku mediator dan inisiator pembentukan ini menjelaskan kepada Suara Pasek, bahwa paguyuban ini adalah perkumpulan pinandita, bukan pemangku. Ia menyebutkan, kalau pemangku dikukuhkan oleh masing-masing pura tempat pemangku itu ngayah, sedangkan pinandita yang terhimpun dalam paguyuban ini adalah bersifat lebih umum yang pengukuhannya dilakukan oleh MGPSSR. Namun demikian, Jro Mangku Made Sulasa Jaya menambahkan, kalau setiap pinandita Pasek juga siap mengabdi sebagai pemangku di suatu pura bilamana sewaktu-waktu diminta oleh umat.

Tujuan dibentuknya paguyuban ini, di antaranya untuk menyamakam pakem gagelaran pemangku (pinandita), sehingga sesuai dengan uger-uger yang ditetapkan dalam sastra. Hal ini ditekankan mengingat selama ini masih banyak ditemukan adanya perbedaan di dalam gagelaran (cara-cara nganteb upakara), sehingga perlu dievaluasi terutama yang menyangkut bagian prinsifiil, sedangkan beberapa unsur lokal yang sifatnya variasi tentu dibiarkan tetap dilestarikan sesuai desa, kala, patra.
Yang tidak kalah penting yang mendorong dibentuknya paguyuban ini adalah untuk lebih mempererat pasemetonan, khususnya di antara Pinandita Pasek, sehingga dapat terjalin suatu persatuan yang sinergis demi terbentuknya kekuatan lebih besar di dalam usaha memberikan layanan dan pengabdian kepada umat. Dengan terbentuknya suatu wadah, maka program kerja yang mencakup layanan lebih luas akan dapat diselenggarakan, demikian juga dapat memacu peningkatan SDM lewat pendidikan secara bersama-sama di MGPSSR.

Pada pertemuan 24 Februari 2013 tersebut terpilih Jero Mangku Satra sebagai Ketua Paguyuban Pinandita Pasek, dengan sekretaris Jero Mangku Sidiartha dan Bendahara Jero Mangku Jaman. Program pertama yang akan digarap adalah menyatukan pakem bilamana menjadi manggala upacara. Dan di masa-masa selanjutnya akan disusun pedoman cara tata kelola pura di lingkungannya masing-masing, kemudian menyosialisasikan tata cara beragama yang tidak memberatkan umat. Selain itu akan membentuk koordinator wilayah sampai di kecamtan untuk mendata pura dadia Pasek maupun pura pasemetonan Pasek lainnya yang ad di wilayahnya masing-masing. Setelah ini terdata rapi, maka ke depannya akan diusahakan suatu advokasi di dalam upaya untuk pemeliharaan pura maupun kebutuhan lainnya yang terkait dengan keberadaan pura tersebut. Karena itu, agenda paguyuban ini adalah kerja besar, sehingga di masa selanjutnya anggota Paguyuban Pinandita Pasek akan terus bertambah seirama dengan pendidikan pinandita yang akan diadakan MGPSSR secara berkala di masa-masa mendatang.

Selanjutnya......

Umat Hindu di Kalimantan Barat Sambut Hari Nyepi

Sekitar seribuan umat Hindu di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak dan Kubu Raya, terlihat sibuk menyiapkan diri dalam rangka menyambut prosesi peribadatan Hari Nyepi tahun 2013. Menurut Ketua Parisad Hindu Darma Indonesia, Kalimantan Barat, Putu Duva Bandem, puncak peringatan Nyepi bagi umat Hindu jatuh pada tanggal 1, bulan Waisaka atau bulan Sasih Kadasa. Peribadatan Nyepi diawali dengan persembahyangan melasti di pantai. “Tujuannya untuk penyucian diri lahir dan batin,” kata Putu Duva kepada wartawan, Senin 11 Maret 2013 lalu.


Selanjutnya pada tutup tahun Saka yang jatuh pada tanggal 11 Maret 2013, dilakukan persembahyangan bersama dimulai sejak siang hari yang diawali dengan arak-arakan ogoh-ogoh. “Ini merupakan simbol raksasa yang memiliki sifat sombong , congkak dan angkuh,” tuturnya, kemudian diperangi dengan harapan umat manusia dapat memerangi sifat angkuh dan sombong yang ada dalam diri sendiri.

Usai arak-arakan ogoh-ogoh, kemudian dilanjutkan dengan peribadatan Tawur Agung yang bertujuan menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam semesta dengan manusia. “Pada prosesi ini, ditekankan pada hubungan manusia dengan Tuhan, manusia sesama manusia dan manusia dengan alam,” jelasnya. (Yuniardi/ PenaOne)

Selanjutnya......