Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 18 Desember 2012

Pemujaan Dewa Kuvera untuk Kesejahteraan


Umat Hindu di Nusantara dikenal sebagai pemuja Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Namun mereka mungkin akan sedikit kaget bila mereka mendengar tentang pemujaan terhadap dewa lainnya. Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat Hindu di India, di mana masyarakatnya melakukan pemujaan terhadap dewa-dewa sesuai dengan kepentingan dan situasi, kondisi dan keadaan wilayah tersebut. Jatuh bangunnya pemujaan terhadap dewa tertentu dijelaskan dalam buku-buku Purana, misalnya pemujaan terhadap Dewa Kuwera (Kuvera).

Di dalam Atharwa Weda disebutkan, Dewa Kuwera pertama kali muncul sebagai pemimpin dari roh-roh jahat, kegelapan. Brahmana Shatapatha menyebut Kuwera sebagai pimpinan dari para pencuri dan penjahat. Di dalam cerita Mahabharata dijelaskan bahwa Kuwera lahir dari seekor sapi. Pada jaman tersebut Kuwera masih dianggap sebagai assura. Baru kemudian di buku Manusmerti, dia mendapat posisi yang dihormati sebagai pelindung dunia atau Loka-pala.

Menurut beberapa Purana, seperti Gautama Dharmasastra dan Apastamba, bahwa pada awalnya Kuwera adalah seorang manusia. Setelah beberapa waktu akhirnya Kuwera mencapai status kedewataan, dengan sebutan “dewa Kekayaan” dan dewa paling sejahtera. Kemudian Kuwera mendapatkan berbagai julukan, seperti Loka-pala atau pelindung dunia, penjaga arah utara atau Dik-pala, namun juga kadang-kadang dianggap penguasa arah mata angin di timur, seperti yang disebutkan dalam cerita Ramayana. Begitu juga tentang kedudukan Kuwera sebagai dewa baru disebutkan dalam buku Grihyasutra.

Menurut cerita, Kuwera merupakan saudara tiri dari Rahwana, Kumbhakarna dan Wibisana. Dia menjadi penguasa di daerah Alanka dengan istana yang indah serta kegemerlapan. Hal ini membuat Rahwana iri. Untuk mengalahkan Kuwera, Rahwana melakukan pemujaan terhadap Dewa Siwa untuk memohon kekuatan, agar bisa mengalahkan Kuwera. Setelah melakukan pemujaan dan pertapaan yang sulit, akhirnya Rahwana mendapatkan kekuatan untuk menandingi Kuwera dan Rahwana akhirnya bisa mengalahkan Kuwera. Atas kekalahan ini, maka kerajaan dan kendaraan Kuwera, Puspaka Wimana diambil oleh Rahwana.

Kemudian Kuwera meninggalkan Alanka dan mendirikan kerajaannya di Alaka di lembah Himalaya dengan suasana yang sejuk, menawan serta memiliki udara segar dengan bau wangi. Di lembah Mahameru ini Kuwera didamping para gadis-gadis menawan, cantik dan hidup penuh dengan kemewahan dan disana dia dipuja oleh para “sida”.

Seperti disebutkan di atas, bahwa Kuwera memang telah dikalahkan oleh Rahwana, namun dia tetap dipuja sebagai penguasa dari kekayaan material, dan Kuwera sering dilukiskan dengan gambaran bertubuh cebol dan gendut, berkaki tiga, bermata satu yang berwarna kuning atau Ekaksipingala. Hanya memiliki delapan gigi, memakai hiasan permata, membawa kantong uang serta sebuah pentong. Kuwera juga dilukiskan duduk di atas manusia.

Di dalam beberapa Purana, Kuwera dijelaskan bahwa Kuwera memiliki gigi yang rusak, berkaki tiga, memiliki tiga kepala dengan lengan empat, memakai untai permata. Di Tibet, perwujudan Kuwera sering didampingi dengan musang atau “monggos” sebagai pertanda Kemenangan Kuwera terhadap Naga penguasa kekayaan.

Di buku lain seperti dalam Vishnudharmottara purana dijelaskan, bahwa Kuwera merupakan penjelmaan dari Artha atau kesejahteraan, kemenangan, kejayaan. Lebih lanjut dalam Purana tersebut dijelaskan, bahwa Kuwera hanya memiliki mata kiri saja, memiliki dua taring. Shakti dari Kuwera bernama Riddhi, dan sering dilukiskan duduk di pangkuan sebelah kirinya dari Kuwera. Di sisi kanan Kuwera biasanya ada “Ratna-patra (tempat permata), gada atau pentong.

Dalam Agni Purana dijelaskan, bahwa Kuwera duduk di atas kambing dengan sebuah pentong atau gada. Kuwera tidak saja dipuja di agama Hindu, tetapi juga di lingkungan agama Jain dan Buddha. Dalam agama Buddha, Kuwera disebut dengan nama Vaisravana, sedangkan di Jain beliau disebut dengan nama Sarvanubhuti.
Dipuja pada Perayaan Sabuh Mas

Dari buku-buku yang menjelaskan tentang Kuwera dapat disimpulkan, bahwa Kuwera itu merupakan dewa yang juga memiliki posisi yang sangat dihormati, baik dalam Hindu, Jain atau Buddha. Karena Kuwera-lah yang memberika karunia kepada para penguasa untuk mendapatkan Artha atau kekayaan, kemasyuran dan kejayaan dalam kehidupan mereka. Kuwera dipuja bersama-sama dengan Dewi Laksmi terutama pada perayaan Diwali atau Hari Kekayaan yang kemudian di Bali disesuaikan dengan tradisi lokal, sehingga menjadilah hari sabuh mas.

Dihubungkan dengan apa yang dijelaskan dalam buku-buku tersebut, bisa dikatakan bahwa masyarakat Hindu tersebut dianjurkan mewujudkan hidup sejahtera, memiliki harta yang digunakan untuk memenuhi kewajiban sebagai makhluk sosial, religius. Bahkan mengumpulkan harta itu sangat dianjurkan guna menjaga diri, agar bisa hidup sehat, sejahtera sehingga kita bisa hidup nyaman dan damai. Ini juga dibuktikan dalam cerita penjelmaan atau awatara dari Tuhan. Misalnya Sri Rama lahir di keluarga Raja Dasarata yang sangat dermawan, religius, baik budi pekerti, rendah hati dan begitu juga dengan Sri Krishna. Walaupun Sri Krishna lahir di penjara, namun Sri Krishna menikmati masa kecilnya di keluarga Nanda yang berkecukupan. Itu artinya, bahwa hanya dengan hidup berkecukupanlah kita bisa hidup tenang, religius, bisa menolong sesama sepanjang waktu. Hal itu bisa terjadi karena orang tidak khawatir lagi tentang keadaan hidupnya, tidak lagi ada pertanyaan besok saya makan apa, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Material vs Ketidakterikatan

Masyarakat Hindu didorong untuk memperoleh kekayaan tersebut dengan benar sesuai ajaran sastra. Akan sangat ironis bila ada masyarakat Hindu yang malas, tidak mau memenuhi kewajiban hidupnya sesuai dengan kecakapannya, lantas berdalih bahwa orang-orang harus melepaskan ikatan duniawi, dengan tidak mengejar kekayaan, kejayaan, kemasyuran. Pernyataan tentang ketidakterikatan terhadap dunia material sangat sulit dilakukan di jaman sekarang ini, karena manusia jaman sekarang ini memiliki tanggung jawab yang sangat kompleks.

Orang-orang yang selalu berbicara tentang ketidakterikatan, sementara diam-diam mereka masih sibuk mencari kekayaan, pujian serta kemasyuran maka orang semacam ini tidak ubahnya seperti cerita “pedanda baka”. Bahkan ada pepatah asing mengatakan begini “menasehati orang lain minum air, namun dia sendiri minum anggur”, artinya mana ada orang akan percaya tehadap kita, bila ngomongnya saja tentang ketidakterikan sementara dia sendiri sibuk mencari kekayaan material.

Beberapa yogi reformis pernah berkata begini “orang-orang yang menghindari mencari kekayaan dengan alasan ketidakterikatan, mereka itu sebenarnya para pemalas yang bersembunyi di balik kemalasannya. Mereka berlindung di balik jubah yang dikenakannya.” Mereka itu sebenarnya sedang menipu dirinya sendiri. Mungkin pernyataan tersebut ada benarnya, karena sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari di mana orang sering berbicara tentang kehidupan tidak terikat, namun dalam kehidupan sehari-harinya sering meminta-minta atas nama Tuhan.

Kehidupan melepaskan ikatan seperti masyarakat Hindu di India itu merupakan hal yang sudah biasa, karena masyarakat India benar-benar melaksanakan tahapan kehidupannya berdasarkan catur asrama, artinya mereka tersebut mengikuti prinsip kehidupan dengan baik. Berbeda dengan masyarakat Hindu Nusantara. Kita di sini belum bisa melepaskan kehidupan kita dari lingkungan sosial. Apalagi di Bali dengan tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang kental dengan prinsip menyamabraya, di mana kita tidak bisa hidup acuh tak acuh dengan keluarga, tetangga serta lingkungan sekitar kita. Warga Hindu Bali umumnya tidak mudah melepaskan tanggung jawabnya terhadap keluarganya, lingkungan sekitarnya, dan lain sebagainya. Walaupun secara teori kehidupan seseorang telah mencapai tahap wanaprasta misalnya, namun dia tetap saja akan melakukan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, agar tidak tergantung pada orang lain atau setidaknya tidak membebani orang lain.

Oleh karena sistem kemasyarakatan kita berbeda, maka pola pemujaan juga berbeda. Mungkin bagi beberapa orang beranggapan bahwa kita hanya perlu memuja Tuhan saja, namun hal tersebut agak sulit diterapkan di Bali karena tatanan beragama di Bali terlahir proses adaptasi yang panjang dan semua disesuaikan dengan pola masing-masing wilayah. Masyarakat kita dari dulu sudah bijak menyesuaikan pemujaannya walaupun kelihatan mereka itu seperti kolot namun kebijaksanaannya sangatlah luar biasa. Begitu juga tentang pemujaan terhadap Kuwera, walaupun kita jarang mendengar tentang pemujaan tersebut, namun sebenarnya masyarakat kita telah memuja Kuwera dengan gaya Bali, seperti yang telah disebutkan di atas. Mereka tidak memuja Kuwera secara langsung, namun mereka mengenal adanya upacara Sabuh Mas, yang jatuh pada hari Selasa wuku Sinta dan pemujaan Ratu Rambut Sedana yang dirayakan pada hari Buda Cemeng Klawu.

Umat Hindu juga perlu memilah dan memilih mendengarkan ceramah-ceramah tentang pembebasan diri dari ikatan material. Bisa saja sang penceramah berbicara tentang ketidakterikatan terhadap materi, namun untuk mendengarkan ceramahnya kita harus membayar. Oleh sebab itu, puja sajalah setiap dewa yang bisa mendorong kita menuju kehidupan kita ke arah kesejahteraan, seperti dengan memuja Kubera.
(Wayan Miasa)

Selanjutnya......

Memuja Dewa Kuwera Melalui Karma Yoga

Ketut Sandika


Hinduisme mengenal empat tujuan kehidupan yang disebut dengan Catur Purusa Artha, yakni dharma (kebenaran, kebajikan), artha (kekayaan), kama (keinginan), moksa (bersatunya roh pribadi dengan roh universal). Dharma disebutkan awal, dengan maksud hendaknya kita meraih artha (kekayaan) untuk memenuhi kama (keinginan) harus bersandar pada dharma (kebenaran), sehingga moksa semasih hidup (jiwan mukta) dan moksa pada saat jiwa meniggalkan ragawi dapat tercapai. Kebebasan sempurna akan dapat dicapai, jika keempat tersebut terpenuhi. Kama tidak akan dapat terpenuhi, jika tidak memiliki artha, demikian pula dharma tidak akan dapat kita jalankan sebagaimana mestinya tanpa artha, baik kama ataupun artha tidak akan mendatang kebahagiaan, jika tidak bersandarkan atas prinsif dharma. Demikian pula, moksa tidak akan tercapai zaman ini, jika dharma, artha dan kama tidak terpenuhi.

Seseorang yang hanya mampu memenuhi dharma dan kama, tanpa artha ia masih belum dapat dikatakan mencapai kebebasan sempurna. Terlebih hidup dizaman ini, dimana artha adalah sebagai sesuatu yang utama untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Merujuk pada empat tujuan hidup tersebut, menandakan bahwa Hindu tidak menganggap kaya atau kekayaan itu adalah jalan sesat. Bahkan dalam Veda, yakni tepatnya dalam kitab artha sastra secara implisit diuraikan tentang bagimana kita mendapatkan dan mengelola kekayaan dengan baik, sehingga dapat mencapai kebahagiaan jasmani dan rohani. Olehnya, Hinduisme memberikan rekomendasi untuk kita mencari kekayaan yang sebanyak-banyaknya (berdasarkan dharma) dan mengelolanya dengan baik untuk kebahagiaan dan kesejahteraan semesta, bersama dengan segala isinya (lokasamgraha).

Teramat sangat pentingnya kekayaan itu, sehingga masyarakat Hindu mengaplikasikannya melalui pemujaan kepada Dewa Kuvera (Kuwera) atau Hindu di Bali lebih sering menyebutnya dengan pemujaan kepada betara rambut sedana. Dewa Kuvera sendiri adalah manifestasi dari Tuhan sebagai Dewa kekayaan atau dewa sebagai bendahara surgawi. Pemujaan umat Hindu kepada Dewa Kuvera adalah sebagai salah satu bentuk hormat dan bhakti umat kepada Dewa Kuvera yang telah melimpahkan kekayaan di alam ini, sehingga manusia dapat menikmati. Perlu diingat, bahwasannya pemujaan kepada Dewa Kuvera sebagai dewa kekayaan tidak serta merta kita mendewakan kekayaan tersebut, dan justru itu akan membawa kita kepada penderitaan. Akan tetapi sesungguhnyalah kita memuja Dewa Kuvera sebagai dewa kekayaan dengan harapan beliau berkenan melimpahkan kekayaan dan sekaligus menuntun agar kekayaan yang kita miliki dapat digunakan untuk tujuan dharma. Dengan kata lain, kekayaan didapat dengan cara dharma dan digunakan untuk dharma itu sendiri.

Lantas, apakah hanya dengan memuja Dewa Kuvera 24 jam, tanpa bekerja kekayaan tersebut dapat diraih? Tidaklah mungkin, bagaimanapun juga untuk meraih kekayaan itu, syarat mutlaknya adalah bekerja atau karma yoga. Sebab pada hakikatnya dengan bekerja pun sesungguhnya kita sudah melakukan pemujaan kepada Dewa Kuvera. Dan, hal itu banyak diraikan dalam mitologi Hindu yang menjelaskan bahwa Dewa Kuvera sebagai bendahara surgawi atau disebut dengan dewa kekayaan akan memberikan kekayaan surgawi jika para dewa memuja melalui dimensi kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Para dewa saja agar mendapatkan berkah dan karunia dari Dewa Kuvera harus bekerja, apalagi kita sebagai menusia. Selama ini, kita hanya memahami bahwa untuk mendapatkan anugerah kekayaan dari Dewa Kuvera hanya berada di depan arca atau pratima menghaturkan segala bentuk persembahan, tetapi lupa akan kerja atau pekerjaan. Lebih-lebih menghaturkan persembahan dengan cara berhutang, maka justru dewa kekayaan tidak akan berkenan memberikan kekayaan.

Dewa Kuvera merupakan sebuah pencitraan dewata yang mampu memberikan inspirasi rohani kepada kita, jika kita memahami dengan baik maksud dari kemunculan beliau sebagai salah satu aspek Tuhan sebagai dewa kekayaan. Kemunculan citra beliau tersebut secara fundamental memberikan kita pemahaman, bahwa kekayaan akan didapatkan jika sudah melakukan daya usaha atau pekerjaan di bawah rindangnya pohon dharma. Mengecap manisnya madu kekayaan yang didapatkan dari pekerjaan berasaskan dharma, walaupun sedikit akan dirasakan abadi. Dan, justru kekayaan akan menjadi racun, jika didapatkan dengan cara yang tidak benar. Pemahaman inilah sebenarnya yang dimunculkan dalam sebuah citra Dewa Kuvera ataupun betara rambut sedana yang umum dipahami oleh umat Hindu di Bali.

Citra dewa ini tidak mengarahkan kita untuk berkehidupan yang berkencendrungan materialisitis yang ekstrim, mencari kekayaan dengan cara amoral, lebih-lebih mengambil uang rakyat. Citra dewata ini adalah mengajak umat manusia untuk mencari kekayaan melalui karma yoga. Bekerja dengan tidak terikat akan hasil atau hasil bukan menjadi tujuan yang akan menyebabkan kita terikat. Citra Dewa Kuvera memberikan kesan bahwa kekayaan alam, pengetahuan dan kekayaan lainnya akan mengalir, jika kita dapat mengesampingkan hasil dari tindakan apa yang kita lakukan, sebab alam sudah menentukan sendiri, bahwa segala tindakan sudah pasti memiliki konsekwensi yang kita terima. Bagaimana kita bekerja dengan tidak mengharapkan hasil? Jawabannya adalah kondisikan pikiran untuk selalu tidak tertuju pada hasil dari apa yang kita lakukan atau kerjakan. Bekerjalah dengan pengkondisian pikiran mengarah pada Tuhan dalam hal ini dapat diarahkan pikiran kepada Dewa Kuvera.

Dewa Kuvera sebagai personifikasi Tuhan sebagai dewa kekayaan akan selamanya berkenan memberikan karuniannya, jika kita menjalankan dengan baik pekerjaan atau tindakan kita. Ini adalah sebuah hal yang harus kita yakini, sebab kekayaan akan dapat dijadikan tangga menuju moksa, jika sudah mengikuti rule dharma. Mendapat kekayaan melalui kerja (dharma) adalah pesan yang hendak disampaikan oleh sebuah citra Dewa Kuvera. Bekerjalah dan tidak terikat kepada hasil sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Kuvera.

Selanjutnya......

Kuwera Pemimpin Para Yaksha, Penguasa Kekayaan

I Nyoman Suamba

Dalam agama Hindu, Kuwera adalah dewa pemimpin golongan bangsa Yaksa atau Raksasa. Meskipun demikian, ia lebih istimewa dan yang utama di antara kaumnya. Ia bergelar “bendahara para Dewa”, ia disebut juga Dewa Kekayaan. Kuwera merupakan putera dari seorang resi sakti bernama Wisrawa. Ia satu ayah dengan Rahwana, namun lain ibu. Ia menjadi raja di Alangka, menggantikan Malyawan, namun di kemudian hari kekuasaannya direbut oleh Rahwana. Karena merasa tidak sanggup mengalahkan Rahwana, Kuwera pun dengan berat hati menyerahkan tahta.

Sumber lain menyebut, Kuwera adalah putra ketiga Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Ia mempunyai sembilan saudara kandung masing-masing bernama; Bathara Wungkuam, Bathara Tambora, Bathara Wrahaspati, Bathara Siwah, Bathara Surya, Bathara Candra, Bathara Yama/Yamadipati, Bathra Kamajaya dan Dewi Darmanasti. Bathara Kuwera adalah Dewa lambang kebaktian dan kemanusiaan. Ia dilambangkan sebagai bentuk kekaguman dipuja dan dipuji dalam sastra: di antara semua Rudra aku adalah Dewa Siva, di antara para Yaksa dan Raksasa aku adalah dewa kekayaan (Kuvera), di antara para Vasu aku adalah api (Agni) dan di antara gunung-gunung aku adalah Meru. Demikianlah Kuwera dipuji sebagai lambang kekaguman akan kebesaran Tuhan, dan segala perwujudan tersebut hanya memberi isyarat-isyarat tentang kebesaran Tuhan. Kuwera diceritakan bertugas memberi petunjuk, fatwa, pahala dan perlindungan serta pertolongan kepada umat di Arcapada.

Pada jaman Ramayana, ia menitis pada Brahmana Sutiksna, brahmana suci di Gunung Citrakuta/Kutarunggu untuk memberi wejangan ilmu Asthabrata, yaitu ajaran kepemimpinan yang diilhami kebesaran dan keseimbangan delapan unsur alam, kepada Ramawijaya. Sedangkan pada jaman Mahabharata, Bathara Kuwera menitis pada Resi Lomosa, brahmana suci negara Amarta yang dengan setia mendampingi dan memberi nasehat Prabu Yudhistira selama masa pemgembaraan di hutan sebagai akibat kalah dalam taruhan permainana dadu dengan keluarga Kurawa. Bersama Sanghyang Cakra, putra Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarakti, Bathra Kuwera ditetapkan sebagai juru tulis/pencatat hasil sidang para dewa yang menetapkan lawan-lawan yang akan saling berhadapan dalam perang Bharata yuda antara keluarga Kurawa melawan keluarga Pandawa di tegal Kurusetra.

Bathara Kuwera menikah dengan Dewi Sumarekti, putri Sanghyang Catur Kanaka dengan Dewi Hira, putra Sanghyang Heramaya. Dalam Mahabharata Kuvera disebutkan sebagai putra Bathara Pulastya, sedangkan menurut Uttarakanda, ia adalah putra Sang Wisrawa. Layang Uttarakanda menjelaskan, Begawan Bharadwaja menyerahkan putrinya kepada Sang Wisrawa. Sang Wisrawa tersebut adalah seorang Resi, istrinya bernama Dewi Lokati seorang putri Raja Negara Lokapala bernama Prabu Lokawana, berputra Waisrawana. Sang Wisrawa dan Dewi Lokati adalah sama-sama keturunan Bathara Guru yang kesembilan, atau keturunan Bathara Sambo yang ke delapan. Nama Waisrawana dijelaskan sebagai pemberian Bathara Brahma, pada saat baru dilahirkan, Sang Bathara berkata demikian: “Ike puyutku kta ya, si Wisrawa mara samjna ning bapanya, towi samplah ta rupanya lawan yayahnya, matangnya si Waisrawana ngaran ike puyutku” artinya : “Buyutku ini bapaknya bernama Wisrawa, dan wajahnya sama persis dengan bapaknya, maka si Waisrawana namanya buyutku ini”. Setelah menginjak dewasa, Sang Waisrawana sangat gemar olah tapa. Begitu giatnya bertapa membuat Bathara Brahma terpesona, hingga Bathara Brahma berkenan datang ke pertapaannya. Ketika ditanya oleh Bathara Brahma “mempunyai keinginan apa”, demikian Sang Waisrawana berkata: “Sojar Hyang mami, yan hana karunya Bathara ri pinakang hulun, kumwa juga pintan ra puyut bathara: kalokapalan mwang kadhanapalan ya tikang anugraha rahadyan sanghulun”. Artinya kurang lebih demikian: “Pukulun sesembahan hamba, jika paduka berkenan memberikan anugrah kepada hamba, demikian permohonan hamba: jadikanlah hamba Raja Jagadraya (Lokapala) dan juga menjadi Dewa Kekayaan”. Demikian jawaban Bathara Brahma: “ Udu mangkana pwa kaharepta, astwakenangkwateka pinalakunta. Indra, Yama, Baruna ktang lokapala kapat kami. Aku ta gantyananta kapat ing lokapala. Mwang nihan tang wimana makangaran si Puspaka, ya tiki wahananta, yatanyan padā lawan dewatā”.

Artinya: ”Aduh begitukah keinginanmu, akan kukabulkan keinginanmu itu. Yang berpangkat Lokapala itu adalah Bathara Indra, Bathara Yama, Bathara Baruna, berempat denganku. Engkau gantikanlah posisiku sebagai Lokapala ke empat. dan kereta ini bernama Puspaka, sebagai kendaraanmu, agar engkau setara dengan para dewa”. Setelah berkata demikian dan memberikan kereta bernama Puspaka kepada Sang Waisrawana, Bathara Brahma lalu kembali ke Brahmaloka, sedangkan Sang Waisrawana lalu kembali menghadap sang ayah yaitu Resi Wisrawa. Jadi sejak saat itu yang disebut Lokapala (Raja jagad), yaitu : 1. Bathara Indra, raja para dewa. 2. Bathara Yama, raja neraka (yang menguasai neraka) 3. Bathara Baruna, raja air seisinya (raja samudra seisinya) 4. Bathara Waisrawana (Kuwera), merajai para gandarwa, kinara dan yaksa dan menjadi dewa kekayaan (perhiasan, benda-benda berharga).

Kepada sang ayah, Sang Waisrawana mengutarakan bahwa telah mendapatkan anugrah dari Bathara Brahma, namun sang bathara tidak memberitahukan dimanakah ia harus menetap. Sang ayah, Resi Wisrawa berkata: “Wahai putraku Waisrawana, ketahuilah! Di Langka (Alengka) ada sebuah kerajaan dari emas bertahtakan permata berlian yang berkilauan, bangunan tersebut buah tangan dewa ahli bangunan, yaitu Bathara Wiswakarma. Indahnya kerajaan Langka layaknya khayangan Bathara Indra. Konon dahulu kala, kerajaan tersebut diduduki oleh raja raksasa dengan segenap wadyabalanya. Namun kini kerajaan tersebut telah kosong, sebab seluruh raksasa telah pindah dari Negara tersebut pindah ke dasar pratala (bumi), karena merasa sangat takut kepada Bathara Wisnu. Sebaiknya engkau menempati Negara Langka yang teramat sangat indah tersebut, tentu engkau akan mengalami kebahagiaan”.

Sang Waisrawana melaksanakan apa yang diperintahkan sang ayah. Setelah menghaturkan sembah sungkem kepada sang ayah, Sang Waisrawana pun mengendarai kereta Puspaka menuju Negara Langka (Alengka). Karena kereta Puspaka tersebut dapat melalui apapun menuju tempat yang dikehendaki pengendaranya, juga kecepatan kereta tersebut bagaikan kilatan cahaya, dalam waktu singkat Sang Waisrawana telah sampai di Kedhaton Langka. Di saat Sang Waisrawana telah menduduki kerajaan Langka, banyak dari para yaksa, gandarwa, kinara yang datang dan tinggal di dataran langka, semua mengabdi menjadi rakyat Sang Waisrawana.

Pada jaman dahulu Negara Langka tersebut adalah kedhaton yang dikuasai tiga raksasa bersaudara, putra Sang Sukeça, yaitu: Malyawan, Mali dan Sumali. Karena memiliki watak yang teramat angkara murka, ketiga raksasa tersebut ingin menguasai Suralaya, maka kemudian bertempur melawan Bathara Wisnu. Pada akhirnya Malyawan dan Mali terbunuh dalam pertempuran oleh Bathara Wisnu, sedangkan Sumali serta para wadyabala raksasa yang masih hidup berlarian mengungsi dan bersembunyi ke Rasatala (Dasar Bumi), tak mempunyai keberanian untuk kembali menduduki Negara Alengka, karena merasa takut kepada Bathara Wisnu.

Sang Sumali mempunyai anak putri bernama Kaikasi (dalam pedhalangan disebut Sukesi), dipasrahkan kepada Resi Wiçrawa, berputra empat, yaitu: Daçamukha, Kumbhakarna, Çurpakanakha dan Wibhisana. Setelah keempat putra tersebut menginjak dewasa, mengerti jika kedhaton Langka sesungguhnya adalah milik leluhurnya. Karena hal tersebut, Daçamukha menggugat atau menuntut kedhaton Langka kepada Sang Waisrawana. Oleh saran Resi Wiçrawa, Sang Waisrawana meninggalkan kedhaton menuju wukir (gunung) Kailasa, diikuti para yaksa, gandarwa dan para kinara. Kereta Puspaka pun direbut oleh Daçamukha.

Selanjutnya......

Berlakulah Sebagai Dewa Kuwera Dalam Memimpin

Ida Ayu Tary Puspa

Hindu mengenal Dewa sebagai manifstasi Tuhan di alam ini. Pemujaan kepada para dewa ditujukan untuk ista dewata. Sebagai penganut Hindu, kita percaya pada para dewa dan kita boleh menghadirkan dewa yang ingin kita puja dalam sembah kita. Dewa adalah sinar Tuhan. Hal ini sesuai dengan konsep beragama Hindu yang mengenal bahwa monotheisme itu menyatakan, bahwa kita mempercayai hanya satu Tuhan, sedangkan para dewa adalah sinar suci Beliau.

Dalam konsep kenotheisme, umat Hindu percaya bahwa pada masa terentu ada dewa tertinggi yang dipuja. Agni pernah menjadi dewa tertinggi, kemudian Indra pun pernah menjadi dewa tertinggi dan akhirnya kita mengnal Tri Murti sebagai dewa tertinggi. Dalam Hindu, masing-masing dewa dikenal sesuai manifestasinya. Seperti halnya Dewa Kuwera di lain sisi disebut pula dengan Kubera, diyakini sebagai Dewa kekayaan. Dalam Dewata Nawa Sanga posisi Dewa Kuwera ini adalah sama dengan Wisnu, yaitu di utara. Kenapa demikian, dalam memelihara alam semesta beserta isinya termasuk manusia, maka kehidupan tidak dapat dilepaskan dari harta yang sering diidentikkan dengan kekayaan. Dipeliharalah artha itu untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya sesudah diperoleh dalam jalan dharma. Siapa pun di dunia ini ingin hidup yang layak, kaya artha. Akan tetapi kita tidak boleh lupa dan serakah bahkan takabur bila disesatkan oleh harta karena semua sumber itu berasal dari Sang Hyang Widhi
.
Sang Hyang Widhi telah mengatur segalanya termasuk peran dewa kekayaan (Kuwera). Siapa yang mendapatkan kekayaan mesti pula mendermakannya, karena itu kita tidak boleh kikir karena kekayaan itu adalah titipan Tuhan dan hanya orang-orang terpilih yang dipercaya Tuhan untuk diberikan mengelola kekayaan itu. Peran Dewa Kuwera ini adalah sebagai penuntun, agar manusia dapat mengelola kekayaannya dengan baik. Kita memiliki dewa kekayaan yang patut dipuja termasuk kaya hati yang baik dan kaya rohani yang baik yang bukan hanya berorientasi kepada materi semata.

Kalau kita telah memiiiki dewa kekayaan, lantas kenapa kita memuja dewi kekayaan dari umat lain. Perlulah umat Hindu mengetahui, bahwa kita memiliki dewa yang mesti dipuja untuk mendapatkan kekayaan yang datangnya tidak tiba-tiba atau simsalabim. Namun untuk memperoleh kekayaan adalah dengan usaha keras, dengan bekerja (Karma Yoga).

Secara tradisi lokal umat Hindu di Bali mempercayai kehadiran seorang dewi yang dapat menuntun jalan terbaik untuk mendapatkan kekayaan dengan bekerja keras adalah Dewi Sri Sedana atau di tempat lain disebut pula dengan Dewi Rambut Sedana. Beliau adalah seorang Dewi. Kenapa memuja seorang dewi sebagai Sakti? Apakah ada kaitannya dengan manusia dengan figur wanita yang selalu dikaitkan dengan harta dan tahta? Perlu perenungan lebih dalam. Perempuan atau di sisi lain dia disebut juga dengan wanita diharapkan memiliki kekayaan rohani yang pantas untuk melakoni kehidupan sebagai seorang bendahara dalam keluarga dan kasir yang baik, maka wanita akan dapat menjalankan peran-perannya dalam swadrma dalam sektor domestik. Hal ini merupakan realitas kehidupan, karena segala urusan rumah tangga termasuk kebutuhan lain-lain dibidani oleh wanita dalam kedudukannya sebagai seorang istri atau seorang ibu.

Umat Hindu di Bali lebih mengenal Dewi Sri Sedana yang dipuja terutama oleh mereka yang bergerak dalam perdagangan, tetapi secara umum umat Hindu di Bali memujanya terlebih ada peringatan khusus yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali terhadap dewi ini yang perayaannya dilakukan pada budha cemeng Klau. Bisa dipastikan bahwa mereka yang bergerak dengan harta atau uang pada hari pemujaan terhadap Dewi Sri Sedana akan menggelar upacara seperti Bank, LPD menyelenggarakan ritual khusus sebagai penghomatan terhadap Beliau.

Dalam wujud yang terkecil, sebuah sarana upacara berupa banten sayut, dapat diwujudkan dalam banten beralaskan tamas berisi pisang, jajan uli, jajan begina, kacang-kacang dan dilengkapi pula dengan bantal tape banten serta tebu dan sampian nagasari serta canang sari. Yang unik adalah dalam tamas itu disertai dengan tipat bagia, tipat sari, dan tipat dampul. Apa makna persembahan tersebut? Segala sesuatu dimohonkan agar kita hidup dengan mempersembahan dan mensyukuri anugerah-Nya agar pendapatan yang kita peroleh di jalan dharma dapat medampul atau mepunduh ‘terkumpul’ dapat mesari dan dapat mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan hidup baik di dunia ini dan nanti dalam dunia akhirat tentu diharapkan oleh setiap umat Hindu sesuai dengan tujuan agama Hindu adalah moksartham jagadhita ya ca ithi Dharma.

Persembahan berupa banten sesayut sri sedana seperti terlihat pada gambar.

Sejalan dengan itu, siapa itu Dewa Kuwera yang dikatakan sebagai dewa kekayaan dalam Veda dan dinyatakan pula sebagai bendahara sorga? Kalau dirunut dalam kepemimpinan menurut Asta Bratha, maka kita akan menemukan nama dewa ini selain nama Dewa Indra, Surya, Waruna, Candra, Yama, Bayu, dan Agni. Dalam ajaran kepemimpinan menurut Astabrata sebagaimana nasihat Rama kepada Wibisana setelah Rahmana gugur, maka Wibisana-lah yang akan menjadi pemimpin di Alengka. Rama kemudian menasihati Wibisana agar dapat menjadi pemimpin besar dengan kemauan besar dan menjadikannya besar, sebab perjalanan sebuah Negara tidak akan dapat dilepaskan dari sejarah pemimpin-peminpinnya. Muncullah Kuwerabrata sebagai seorang pemimpin harus dapat melakukan brata ibarat Dewa Kuwera. Yang dimaksudkan adalah menggunakan uang dan kekayaan Negara untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Hal itu merupakan sebuah tantangan karena kalau sudah berurusan dengan uang menjadi sebuah masalah yang riskan, karena pengendakian diri harus kuat. Selaia dengan alur, aturan yang sudah diterapkan jangan sekali-sekali menggunakan kekayaan Negara untuk kepentingan pribadi. Kalau untuk kemakmuran masyarakat itu merupakan kewajiban oemimpin yang harus dilakukan. Dengan bercermin pada Dewa Kuwera, maka penggunaan uang harus sesuai dengan aturan dan sesuai dengan peruntukannya. Andai pemimin dapat bercermin pada kepemimpinan Dewa Kuwera niscaya tidak akan terjadi korupsi di Negara ini karena ternyata para koruptur tidak pernah takut kepada dewa apalagi kepada Tuhan. Mereka lupa saat dilantik dan diambil sumpah jabatan yang disaksikan oleh rohaniwan agama masing-masing. Dewasa ini para koruptur lebih takut kepada KPK dibandingkan dengan Tuhan walau di departemen yang terdiri dari para orang suci sekalipun. Inilah zaman kali sangara dan purwa sangara kata penyair yang seorang raja dan penyair yang seorang wiku, yaitu Ida Pedanda Made Sidemen dan Cokorda Mantuk ring Rana yang sudah lebih dulu menggambarkan zaman Kali Yuga ini dimana manusia berburu dan memburu harta demi kepuasaan hasrat atas dorongan kama.

Mencari harta boleh, bahkan wajib asalkan mencarinya selalu dalam jalan dharma. Dalam Hindu untuk menjalankan empat tujuan hidup apa yang dikenal dengan Catur Purusa Artha dengan urutan dharma, artha, kama. Dan moksa dewasa ini justru terbalik dengan urutan yang pertama adalah arta, kemudian disusul oleh kama, dharma, dan moksa. Sebagai manusia yang dilahirkan utama, maka kita tidak boleh menyalahkan zaman apalagi larut dalam zaman, dengan makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan binatang dan tumbuhan, kita mesti dapat menggunakan akal pikiran dengan penerangan budi. Dengan demikian, maka hidup akan selalu dalam kendali Dharma, dan hidup menjadi berarti bukan dengan menjadi bikul medasi atau bikul mekumis.

Selanjutnya......

Dilema Dewa Uang: Dicari Tetapi Dipinggirkan

I Gede Wiratmaja Karang

Presiden pertama Indonesia menjelaskan bahwa “Manusia hidup perlu makan, untuk makan perlu uang, untuk dapat uang bekerjalah, agar dapat pekerjaan belajarlah”. Dari pernyataan pidato Bung Karno ini secara tidak langsung menekankan adanya korelasi antara belajar, uang dan hidup. Sehingga semua orang butuh uang, semua orang mencari uang, semua orang mengunakan uang agar dapat hidup. Permasalahanya terletak pada pengertian uang, bentuk uang dan sebagai pemeluk Hindu yang percaya dengan manifestasi Tuhan adalah Dewa Uang. Setiap orang yang ditanya tentang Dewa Uang jawabanya beragam, ada yang menyebut Bhatara Sri Rambut Sedana, Bhatara Sedana, dan yang lebih menyesatkan ada yang menyebut Bank, Tuyul atau brerong.

Pendapat yang menyebut Dewa Uang adalah Bhatara Sri Rambut Sedana, Bhatara Sedana, Bhatari Melanting, Bhatari Mas Meketel, Bhatari Subadar, Bhatara Ulan Alu dan nama lainya sangat sah-sah saja. Karena prinsip kepercayaan terletak pada pekerjaan atau swadarma penyembahnya. Bhagawadgita 4.11 jelas menyebutkan “dengan jalan apa pun kau menyembah diriku, aku akan terima karena itu merupakan jalanku”. Bhagawadgita merupakan sintesa dan toleransi terbesar dari berbagai aliran pemikiran. Brahman adalah tidak terbatas, demikian pula tidak terbatas aspek-Nya. Oleh karenanya tidak pula terbatas jalan untuk mencapai-Nya. Bhagawadgita menjelaskan bahwa melaksanakan ajaran agama diserahkan kepada pilihan seseorang. Bagi Bhagavadgita manusia ideal dalam dunia ini adalah yang berbudi pekerti harmonis, yang aktif bekerja, humanitis, berusaha keras, mencari emansipasi jiwa, memiliki pengetahuan tentang Atman dan berbakti kepada Brahman.

Terkait dengan uang tidaklah salah bila diawali dengan pengertian uang itu sendiri. Uang didefinisikan sebagai alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apa pun yang dapat diterima oleh setiap orang dalam proses pertukaran barang atau jasa. Jenis uang yang beredar di masyarakat dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu uang kartal dan uang giral. Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli sehari-hari. Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan akan adanya sebuah alat tukar yang lebih mudah, praktis dan aman.

Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang atau jasa, sehingga menghindari perdagangan dengan cara barter. Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai. Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain: uang sebagai alat pembayaran yang sah, uang sebagai alat pembayaran utang, uang sebagai alat penimbun kekayaan, uang sebagai alat pemindah kekayaan, uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi.

Pengertian, jenis dan fungsi uang yang sudah diuraikam di atas menyebabkan uang memiliki arti penting dalam kehidupan manusia. Sehingga umat Hindu memuja uang sebagai salah satu manivestasi Brahman. Dewa Uang dalam kitab-kitab suci agama Hindu di sebut dengan nama Dewa Kuwera atau Kubera karena hurup w dan b satu rumpun dalam Bahasa Sanskerta. Dewa Kuwera memiliki nama lain Dhanapati, Wisrawana. Dewa Kuwera merupakan bendahara khayangan atau bendaharanya para Dewa. Karena bendahara khayangan sudah sewajarnyalah disembah sebagai Dewa Uang dan Dewa Kekayaan, walaupun bagi umat Hindu di Bali tidak begitu terkenal. Sehingga disinilah letak dilema dari Dewa Uang yaitu Dewa Kuwera. Walau dicari setiap waktu oleh semua umat manusia, tetapi beliau tidak dikenal. Dicari tetapi termarginalkan, terpingirkan bahkan cenderung dilupakan.

Masyarakat Hindu di Bali sudah sedikit bergeser keyakinanya kepada Dewa Kuwera. Kearifan lokal Bali menonjolkan Bhatara Sri Rambut Sedana atau Bhatara Sri Sedana sebagai Dewa Kemakmuran dan kekayaan. Berdasarkan Etimologi kata Sri Sedana berawal dari kata Sri yang berarti cantik, subur, makmur, juga berarti kebahagiaan, kemuliaan. Sedana berakar kata dari dana mendapat awalan se- sehingga menjadi aktif. Kata dana merupakan kata sifat berarti derma, memberi, kemurahan. Sehingga Bhatara Sri Sedana berarti kekuatan Brahman dengan manifestasinya memberikan kesuburan, kemakmuran, kebahagiaan, kemuliaan, memberikan derma, memberikan kemurahan. Kalau disinonimkan fungsi dan tugasnya hampir sama dengan Dewa Kuwera. Wajarlah Dewa Kuwera dicari tetapi dipinggirkan, karena umat Hindu Bali sudah memiliki lokal genius yaitu Bhatara Sri Sedana.

Bhatara Sri Sedana dipuja dengan piodalan setiap 10 hari atau 6 bulan tepatnya pada Rabu Wage Wuku Klawu atau disebut juga dengan nama Buda Wage Klawu, dikenal dengan nama rahinan Buda Cemeng Klawu. Semua lembaga yang berbau uang akan sibuk melaksanakan upacara keagamaan bernuansa Hindu. Bank, pedagang, pura melanting, palinggih rong 2, celengan, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan ucapan rasa terima kasih atas karunia Brahman dengan manifestasinya sebagai Dewa Kuwera. Walaupun di Bali dipuja dengan istilah Bhatara Sri Sedana. Khusus pada uang kepeng yang memiliki nilai magis karena berbahan dasar pancadatu juga menjadi pusat pemujaan. Pancadatu dimaksud, seperti: tembaga sebagai simbol Dewa Brahma, timah sebagai simbol Dewa Siwa, besi sebagai simbol Dewa Wisnu, perak sebagai simbol Dewa Iswara, dan emas sebagai simbol Dewa Mahadewa. Demikian juga karena uang kepeng berbentuk bulat juga sebagai lambang windu. Uang kepeng merupakan wujud akulturasi budaya antara Cina dan Bali sebagai pengaruh Putri Khang Cing We dengan Raja Jayapangus.

Agama Hindu memiliki prinsip ajaran yang berbunyi “Moksa artham jagadhita ya ca iti dharma” yang berarti tujuan umat manusia beragama adalah untuk mencapai jagadhita atau sejahtera dan Moksa atau kebahagiaan. Jagadhita adalah tercapainya kesejahteraan jasmani, sedangkan Moksa adalah terwujudnya ketentraman batin, kehidupan abadi yakni manunggalnya Sang Hyang Atma dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Kitab Sarasamuscaya, 15, menjelaskan bahwa “supaya diperhatikan dengan diingat-ingat dalam mengusahakan kama, artha, dan Moksa, sebab tidak ada pahalanya. Adapun yang harus diusahakan dengan jalan dharma, tujuan itu pasti tercapai, walaupun hanya dalam angan-angan saja akhirnya akan berhasil”. Ajaran tersebut selanjutnya dijabarkan dalam konsepsi catur purusa artha atau sering juga disebut dengan istilah Catur Warga. Catur Purusa Artha atau Catur Warga dapat diartikan ; catur berarti empat, purusa berarti jiwa atau manusia, Atha berarti tujuan utama. Sedangkan Catur Warga, yang terdiri dari kata catur berarti empat, dan warga berarti jalinan erat atau golongan. Catur Warga berarti empat tujuan hidup umat manusia yang utama yang terjalin erat antara yang satu dengan yang lainnya.

Salah satu sloka dari brahma purana dinyatakan: Dharma Artha kama Moksa sariram sadhanam. Yang artinya: “badan adalah alat untuk mendapatkan dharma artha kama dan Moksa. Ajaran ini sudah sepatutnya untuk dipakai pedoman dalam hidup. Pahami, pedoman dan wujudkanlah dalam setiap langkah hidup dengan ajaran Catur Purusa Artha sebagai satu kesatuan yang utuh. Bagian Catur Purusa Artha, adalah Dharma yang berarti kewajiban yang benar dan abadi. Artha dapat berarti tujuan utama dan kekayaan, Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Moksa berarti ketenangan dan kebahagiaan spiritual yang kekal abadi yang juga disebut nirwana, suka tan pewali duka atau mukti.

Nitisastra III.8 ada menguraikan kegunaan yang utama dari harta emas perak itu adalah untuk menolong orang sengsara, sedih dan melarat, dan untuk menjaga keutuhan artha benda itu tak lain dari memagarinya dengan memberikan sedekah dan derma. Harta kekayaan yang didapat itu tak bedanya dengan gelombang-gelombang samudra besar. Deras, dan kencang, walaupun dibendung, atau diberikan saluran, akhirnya akan hilang mengalir tanpa sisa semuanya hanyut dan habis. Pengunaan harta hendaknya disesuaikan dengan Canti Parwa 25 yaitu “Kesentosaan umat manusia dan kesejahteraan masyarakat datang dari dharma, laksana dan budhi luhur, kesejahteraan manusia itulah tujuan utama dari dharma.

Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidupnya pada hakekatnya adalah perjalanan mencari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, lalu bersatu dengan beliau. Perjalanan seperti itu adalah perjalanan yang penuh dengan rintangan, bagaikan mengarungi samudra yang bergelombang. Bhagawadgita menekankan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau Brahman, yang merupakan tujuan terakhir dari hidup ini. Sebab semua kepercayaan, semua ajaran kebajikan dan semua etika moral bersumber kepada Brahman. Tidak ada suatu kepercayaan yang mengatasinya. Tidak ada suatu kepercayaanpun akan mempunyai arti kalau tidak bisa menolong kemanusiaan untuk mengangkat kesadarannya. Terutama dalam suatu konflik bathin kalau Brahman tidak menyinari jiwanya. Itulah dilema dari Dewa Uang atau Dewa Kuwera walau dicari tetapi malah dipinggirkan, bahkan tidak dikenal. “Om Shreem, Om Hreem, Shreem, Hreem, Kleem, Shreem, Kleem, Vitesvara-ay namah”.

Selanjutnya......

Tak Terpikir Menjadi Hindu, Malah Jadi Sulinggih


“Saya kepingin sekali umat Hindu maju dan tidak ada yang ‘loncat pagar’,” kata perempuan yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah, pada tahun 1951 itu. Siapakah dia? Namanya cukup panjang, yakni Ida Rsi Vaisnava Agni Istri Hari Sri Sadana. Nama walaka-nya tentu tak sepanjang itu. Dia bernama Edy Harnity.

Di manakah griya-nya? Alamat griya-nya sebetulnya tidak sulit untuk ditemukan. Terletak di jalan raya Singaraja-Seririt, tepatnya di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Namanya Griya Batur Taman Sadana. Jika Anda kebetulan melewati jalan raya itu, bila sudah sampai di SPBBU Dencarik cobalah berhenti, lalu menolehlah ke arah utara, pasti terlihat deretan bangunan yang berbeda dari rumah-rumah sekitarnya. Itulah griya-nya. Namun untuk mencapai girya itu harus bergerak ke barat lagi sekitar 50 meter sampai menemukan jalan beraspal ke arah utara (pantai). Karena griya itu terletak di tengah persawahan, mobil harus diparkir di pinggir jalan. Sebab satu-satunya jalan yang tersedia hanya jalan setapak. Sepeda atau sepeda motor memungkinkan melewati jalan setapak itu, tetapi tidak bisa bila berpapasan.

Ketika Raditya mengunjungi pada pertengahan November lalu, Ida Rsi tampak tengah menerima tamu. Juga ada beberapa kerabatnya dari Singaraja beranjangsana. Meski di luar udara cukup panas, namun karena berada di areal persawahan, suasananya jadi adem.

Ida Rsi boleh dikatakan mendadak menjadi sulinggih. Ceritanya, awal Oktober 2012 dia mendapat telepon dari PHDI Pusat bahwa akan diadakan pediksaan massal pada 21 Oktober 2012 lalu. Untuk itu Harnity disuruh menyiapkan diri dan segala keperluan administrasi kesulinggihan. Awalnya ada keraguan pada diri Harnity menerima permintaan PHDI, meskipun sebelumnya ia telah berguru pada seorang nabe. Nabenya tersebut adalah Ida Rsi Bujangga Hari Anom Palguna, dari Griya Batur, Tegalcangkring, Jembrana. Pendidikan spiritual itu dilakukan bersama-sama dengan suaminya, Gede Ardhana Wisnu. Namun nasib menentukan lain. Sebelum tuntas pembelajaran itu, pada 2010 suaminya telah lebih dulu dipanggil Tuhan.

Sebelum meninggal suaminya berpesan, kalau bisa, agar proses pembelajaran itu dituntaskan. “Kepikiran oleh wasiat suami, saya terus berdoa agar diberikan tuntunan sehingga diperoleh jalan terbaik bagi kami. Saban hari kami berdoa, lama-lama kami merasakan ketenangan yang sangat mendalam. Rasa benci, iri, dendam, dan sebagainya sirna seketika entah ke mana perginya. Sampai akhirnya kami mendapat telepon dari PHDI dan menjalani pediksaan di Denpasar. Semuanya itu di luar rencana saya. Saya pun sempat tak percaya. Kok bisa ya?” tuturnya.

Walaupun sudah mediksa dan sudah bergelar sulinggih, namun dirinya belum berhak ngeloka-palasraya atau muput untuk segala ritual. Kesulinggihan-nya hanya terbatas untuk kalangan keluarga saja. Ya, Ida Rsi Istri baru “mampu” sebatas nyurya sewana, mejapa, dan mahoma. “Agar bisa ngeloka-palasraya saya masih harus melakukan dua tahapan lagi, yaitu ngelinggihang Weda dan ngelinggihan lingga,” ungkapnya. Ida Istri akan berusaha menggapai posisi itu namun tidak menentukan target. Akan dijalani melalui proses alami dan berharap tetap ada campur tangan dari Tuhan untuk tujuan mulia itu.

Dalam Weda, dia mendapatkan pengetahuan bahwa setiap orang seharusnya pernah melakukan diksa semasa hidupnya. Dia tidak mau setelah mati baru dilakukan diksa. “Apa artinya kalau sudah jadi mayat baru didiksa?” cetusnya.

Untuk menjadi sulinggih, Edy Harnity tak pernah membayangkan sebelumnya. Jangankan menjadi sulinggih, menjadi Hindu saja tak kepikiran sampai saat usia remaja. “Ajaran Hindu sebetulnya bagus sekali. Tapi sayang, tidak banyak umat yang mau merujuk dari sastra agama. Kebanyakan umat cukup puas dengan tradisi gugon tuwon. Sebagai orang yang dibesarkan di keluarga Islam, saya terbawa pada kebisaan merujuk kitab suci, sehingga jika ada yang bertanya tentang sebuah ritual berikut mantramnya, saya bisa menunjukkan sumbernya,” katanya.

Memang sejak kecil hingga tumbuh menjadi dara ayu, dia dibesarkan dan dididik dalam keluarga muslim di Pemalang, Jawa Tengah. Namun saat melanjutkan pendidikan Sekolah Kebidanan di Semarang, dia bertemu dengan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) asal Banjar (Buleleng, Bali). Mahasiswa Undip yang bernama I Gede Ardhana Wisnu kelak menjadi suaminya. Hatinya saling bertaut saat menuntut ilmu di kota Semarang.

Saat mereka menikah pada tahun 1976, Ardhana Wisna belum menuntaskan kuliahnya. Sementara Harnity, setelah menamatkan sekolahnya, diterima di sebuah puskesmas di Pemalang. Dengan kata lain, mereka harus lebih sering menahan rindu akibat dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Boleh dikatakan masa bulan madu dilalui dengan banyak tantangan.

Setelah Ardhana Wisnu berhasil menggondol sarjana hukum, Harnity diboyong ke Desa Banjar pada tahun 1978. Di Puskesmas Banjar pula Harnity melanjutkan pengabdiannya. Di Banjar, keluarga anyar itu hanya bertahan dua tahun. Sebab pada 1980 mereka pindah ke RSU Mataram, NTB. “Saat di Mataram, saya terheran-heran. Sebab banyak umat Hindu yang lahir dari keluarga Hindu justru bertanya kepada saya tentang mantram-mantram. Ini pengalaman aneh. Tantangan di sana lebih besar daripada di Bali. Umat non-Hindu banyak mengajukan pertanyaan yang bernada melecehkan seperti kenapa umat Hindu menyembah patung. Kalau kita tidak siap dan tidak mampu menjawab, pasti mereka akan semakin merendahkan kita selaku umat Hindu,” tuturnya menceritakan pengalamannya selama 25 tahun di NTB.

Kini setelah menyandang predikat sebagai sulinggih bukan berarti rintangan telah berakhir. Dirinya merasa tertantang dengan sikap skeptis umat yang berhenti pada ritual. Idealnya, tutur Ida Rsi Istri, antara ritual, etika, dan tattwa berimbang. Jangan ritual yang lebih ditonjolkan, sementara etika dan tattwa dikerdilkan. Cara-cara yang tak imbang itu menimbulkan persoalan pada umat. Umat Hindu merasa terbebani dengan ritual yang demikian banyak. Mestinya umat mendapat tuntunan benar agar agama tidak dirasakan memberatkan mereka. “Agar umat Hindu tidak ada yang loncat pagar sebagai akibat beban berat yang mereka rasakan dalam beragama. Agama seharusnya meringankan mereka. Mereka harus diberikan pembinaan dan pencerahan. Gugun tuwon jangan biarkan mendominasi mereka,” katanya sambil tidak bisa menyembunyikan logat Jawanya. Kata-katanya sungguh patut direnungkan oleh segenap umat Hindu.

Betapa berkarunianya Tuhan terhadap Edy Harnity. Dari seorang muslim menjelma menjadi Hindu yang tercerahkan dan berlanjut menjadi sulinggih. Dia tidak tertarik lagi mendengar pernyataan-pernyataan kitab suci yang bersifat dogmatis. Kebenaran tidak bisa dimonopoli atas nama agama tertentu. Kebenaran agama harus diselaraskan dengan tingkah laku (karma) umatnya. Karmalah yang menentukan apakah seseorang dapat dikatakan orang baik atau orang jahat. Bukan karena seseorang beragama tertentu. (Made Mustika)

Selanjutnya......

Disiplin Adalah Prinsip Kehidupan Manusia

AA Gede Raka

Disiplin dapat diibaratkan dengan prinsip kehidupan pramula bagi setiap makhluk hidup.Disiplin itu seperti tulang punggung bagi semua manusia.Disiplin berarti mengikuti berbagai peraturan dan ketetapan secara mutlak.Aneka peraturan ini mengendalikan kehidupan manusia dan membawanya menuju jalan kebaikan.Jika tidak,manusia akan mengalami kehancuran.

Disiplin tidak dapat diperoleh dari buku-buku atau diajarkan oleh seorang guru.Disiplin harus secara wajar menjadi kebiasaan manusia dalam kehidupannya sehari-hari.Manusia perlu mengikuti disiplin setiap saat dalam hidupnya.Disiplin itu penting bagi setiap komunitas,masyarakat,bangsa, setiap negara,dan juga dalam berpolitik.Tidak ada masyarakat,negara,sistem politik,atau bangsa yang dapat hidup tanpa disiplin.Disiplinlah yang mendatangkan persatuan antara manusia dengan manusia,manusia dengan masyarakat,dan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya.Karena itulah,disiplin adalah ciri khas kehidupan masyarakat.

Perlulah kita mengikuti disiplin dalam berbagai kegiatan.Dalam pertandingan olah raga,wasit memberi tahu para pemain agar mengikuti peraturan-peraturan tertentu.Setiap pemain dan pemimpin regu harus mengikuti peraturan-peraturan ini secara mutlak.Kadang-kadang para pemain demikian asyik dalam pertandingan sehingga mereka lupa dan melakukan beberapa kesalahan.Mungkin mereka tidak menyadari kesalahan yang mereka perbuat.Akan tetapi,wasit yang mewaspadai hal ini akan langsung meniup peluit.Sementara wasit melakukan hal ini,setiap pemain harus berhenti dimana pun mereka berada.Mereka yang meneruskan pertandingan tanpa mengindahkan bunyi peluit berarti mereka melanggar disiplin.

Karena tidak adanya disiplin dalam segala kegiatan,kehidupan manusia menjadi suatu mimpi buruk.Oleh karenanya,disiplin sangat penting dalam kehidupan manusia.Mereka yang menempati kedudukan yang tinggi harus mengikuti disiplin dan tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan.Hanya karena memegang pulpen,mereka tidak boleh menulis apa saja semaunya.Karena lidah tak bertulang,manusia tidak berbicara seenaknya.Kita harus mengikuti batas-batas kepatutan dalam tulisan dan bicara.Satu-satunya cara untuk menjaga kedudukan atau jabatan yaitu mengikuti disiplin dengan baik.

Disiplin juga perlu dalam hal berjalan,duduk,bahkan dalam tertawa.Banyak orang yang tidak mengikuti peraturan dalam berjalan.Mereka berjalan di tengah jalan,bukan di trotoar.Ada orang yang berjalan zig-zag ke kiri dan ke kanan.Mereka berjalan kian kemari sesuka hati.Cara berjalan yang baik adalah berjalan di trotoar tanpa mengganggu lalu lintas yang lain.Kita harus menjaga agar tidak mengganggu atau menyusahkan orang lain.Manusia harus menempuh hidupnya dengan pedoman,”Selalulah menolong,jangan pernah menyakiti atau merugikan.”Kita harus mengikuti disiplin dan hal itu tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri,tetapi juga akan bermanfaat bagi orang lain.

Ketaatan mengikuti disiplin harus dimulai sejak masa anak-anak.Mulailah dari awal,kemudikan kendaraan perlahan-lahan,dan sampailah dengan selamat.Disiplin itu mutlak diperlukan oleh siswa,pemuda, mahasiswa, guru,dosen,pejabat, dan seluruh masyarakat.

Bila kita berjumpa dengan orang-orang yang lebih tua,kita harus tahu bagaimana menyampaikan hormat kepada mereka.Kita harus duduk dalam sikap yang sopan dengan mengingat dalam kehadiran siapa kita duduk.Bahkan dalam masalah-masalah kecil seperti itu,kita harus mengikuti disiplin dengan sepatutnya.

Anak-anak kecil biasa duduk dengan punggung bungkuk seperti busur.Itu cara duduk yang salah.Mereka harus duduk dengan baik dengan tulang punggung lurus.Bila tulang punggung tegak lurus,pikiran-pikiran kita akan langsung mencapai akal budi.Dengan demikian,pikiran dapat segera terpusat.

Tulang punggung kita membungkus saluran energi spiritual.Bila kita menjaga tulang punggung menjadi lurus,maka kundalini shakti (energi spiritual di muulaadhaara cakra di dasar tulang punggung) akan naik melalui sushumna nadi langsung menuju sahasrara cakra (cakra di kepala yang berbentuk bunga teratai dengan 1000 daun bunga).

Apa arti Kundalini Shakti? Orang-orang yang mengetahui yoga akan mengatakan bahwa kundalini shakti terletak di cakra muulaadhaara (di ujung tulang belakang bagian bawah) dalam wujud seperti ular dan naik sedikit demi sedikit sehingga akhirnya mencapai cakra muulaadhaara.

Dalam latihan yoga,ketika melakukan praanaayaamaa,aliran oksigen dihambat.Ini disebut dengan kumbhaka (menahan napas).Bila dalam proses melakukan kumbhaka ini aliran oksigen menuju cakra muulaadhaara dihambat,maka kundalini perlahan-lahan akan naik demi oksigen.Kita harus menjaga agar tulang punggung lurus sehingga kundalini shakti dapat naik dengan lancar.Itulah sebabnya orang berlatih yoga tegak duduknya.Kebiasaan duduk tegak ini menguatkan daya ingat dan meningkatkan kemampuan konsentrasi. Artinya,duduk juga memerlukan disiplin yang besar.

Agar dapat mengikuti disiplin ini dengan baik,diperlukan beberapa pemurnian.Pertama,pemurnian badan.Ini dapat dilakukan cara menyibukkan diri melakukan berbagai perbuatan yang baik untuk memurnikan badan.Chittasya shuddhaya karmah,’perbuatan baik memberikan kemurnian mental’.Kemurnian hati hanya dapat dicapai dengan melakukan berbagai perbuatan yang baik.

Kita harus memurnikan manas dengan pikiran-pikiran yang baik.Bila badan dan pikiran dimurnikan dengan cara ini,akal budi akan selalu murni.

Apakah suara pramula yang timbul dari badan kita?Sooham,sooham,sooham,….Artinya,’Itulah aku’.Dari mana kesadaran aku atau aham ini timbul?Kesadaran aku timbul dari atma.Manas timbul dari aham.Kemampuan bicara timbul dari manas.Oleh karena itu,kesadaran aku (aham) dapat diibaratkan dengan putra atma,manas adalah cucunya,dan kemampuan bicara adalah buyutnya.Dengan demikian,buyut,cucu,dan putra,semuanya termasuk dalam keluarga yang sama.Karenanya,manas kita harus semurni atma.Demikian pula bicara kita murni seperti manas.Ada hubungan yang erat antara aham,manas,kemampuan bicara,dan atma.Penuhilah semua ini dengan perasaan-perasaan yang suci.

Selanjutnya......

Perang Bharatayuda Kesedihan Arjuna

Luh Made Sutarmi

Kekuasaan dan kekerasan tak selamanya bisa berpisah, selalu hadir dalam riak-riak kehidupan manusia. Klimaks kenikmatan kekerasan bisa bertaut dengan yang rohani dan spirit untuk menegakkan kebenaran. Walau itu tidak masuk dalam ranah logika dan nalar manusia. Dunia memang panggung yang penuh paradoksal, itulah yang menyebabkan peradaban menjadi hidup. Dalam alam nyata, tak ada satu elemen pun yang sendirian menguasai ruang. Konflik adalah gema dari kombinasi dan kontradiksi yang tak terduga-duga

Konflik batin melanda Arjuna ketika Abimanyu, putra kesayangannya harus mati terbunuh oleh berbagai senjata lawan. Dia dikeroyok oleh banyak kesatria, dan diawali oleh panah Jayadrata. Di sana Arjuna sedih melaporkan kepada kakek Bisma, bahwa penerus Astina telah gugur dengan sangat mengenaskan.

Arjuna, berkata dengan sedih, “Kakek, Anakku Abimanyu telah gugur dikeroyok oleh semua ksatria Kurawa, aku tidak pernah mengerti mengapa dia harus mendahului diriku kakek?”

Kakek Bisma membuka matanya, “Anakku, Arjuna, hapuskanlah air mataku, aku juga bersedih, Arjuna, Siapa yang mengawali membunuh Abimanyu?”

“Jayadrata, kakek?”

“Oh dewata Agung, kenapa aku harus mendengar berita buruk ini?” Kakek Bisma menggeleng-gelengkan kepala menahan rasa sedih. Hanya kepalanya yang bisa bergerak-gerak, karena tubuhnya terbaring tertusuk ribuan panah.

“Ya, Arjuna, besok bunuhlah Jayadrata, jangan sampai dia dapat menikmati malam hari yang penuh bintang, anakku. Pesanku engkau harus teguh pada kekuatan pikiranmu, engkau harus berkonsentrasi penuh anakku. Jayadrata bukan raja sembarangan, dia membawa rahmat Mahadewa dan sumpah ayahnya. Anakku.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan, kakek?” Kakek Bisma berkata, “Arjuna yang aku kasihi, pesanku adalah hanya bila engkau dapat menenangkan pikiranmu engkau akan mampu mengatasi nafsu, dan hanya setelah engkau berhasil menguasai nafsu engkau akan mampu mengendalikan amarah. Karena itu, langkah pertama untuk menaklukkan nafsu dan amarah ialah dengan membebaskan diri dari proses berpikir ke hal-hal yang lain. Pikiranmu harus terpusat pada Sri Krishna, Tuhan yang kini sebagai kusirmu, Kusir kehidupanmu.”

“Kenapa demikian kakek?” Tanya Arjuna. Kakek Bisma berkata, “Pikiran itu sarat dengan energi dan hidup, bahkan ia dapat lebih kuat daripada zat atau bahan yang terkuat. Engkau mulai berpikir sejak saat lahir. Bahan yang membentuk pikiranmu sangat halus, bahan itu timbul dari makanan yang kau makan. Karena itu, bila engkau hanya makan makanan yang suci engkau akan memperoleh pikiran yang suci. Bila seseorang dipenuhi dengan pikiran yang suci, segala tindakannya akan suci, dan kata-katanya pun akan suci. Pikiran suci itu ibarat pisau atau pedang yang tajam. Engkau dapat menggunakan pikiran yang baik ini untuk mencari pikiran jahat, perasaan jahat, serta perbuatan yang jahat dan kemudian menghancurkannya. Ya aku telah merasakan dalam hidupmu, telah mampu melakukan semua itu.”

Kakek Bisma melanjutkan, “Anakku Arjuna, engkau telah mendapat pencerahan dari Sri Krishna. Engkau juga telah mendapat wejangan bahwa pikiran dan proses pikiran merupakan wujud manas. Jika pikiran diarahkan kepada keduniawian dan hal-hal yang berhubungan dengan itu, maka proses pikiran terarah kepada kekayaan dan harta benda, karena inilah yang mendasari kehidupan dalam dunia yang kasat mata.”

“Kakek, aku berperang adalah untuk menegakkan kebenaran, sesuai amanat Krishna, untuk menumpas kejahatan,” kata Arjuna. Kakek Bisma berkata, “Benar Arjuna, engkau menegakkan kebenaran, sebab nama dan ketenaran duniawi, harta benda dan keluarga, semuanya bersifat sementara. Semua itu bisa hilang bahkan pada waktu engkau masih hidup; bencana dan kemalangan dapat mengakibatkan musnahnya nama dan kemasyhuran, harta dan keluarga. Apalagi, tidak ada satu pun dari semua ini yang akan mempunyai hubungan dengan engkau setelah engkau meninggal. Tetapi sifat yang baik, tingkah laku yang baik, pengetahuan atma, dan semua sifat-sifat yang mulia akan membantu engkau menuju Tuhan dan manunggal dengan Dia.”

Kakek Bisma melanjutkan, “Arjuna, kemasyhuran yang sejati tidak tergantung pada keindahan badan atau daya tarikmu. Bukan pula karena kekayaan atau kemampuan fisikmu, melainkan sifat-sifatmu yang baik. Berperanglah esok hari, hadapi Jayadrata, gunakan Brahma tattwa sebagai pelindung gaib, perlindungan yang timbul karena kesadaranmu yang selalu berada dalam prinsip ketuhanan, dalam wujud Sri Krishna.”

Arjuna mengangguk penuh hormat, dan mohon diri, untuk meninggalkan kakek Bisma. Sosok tampan itu berjalan menjauh menyelinap dalam gelapnya malam di padang Kuruksetra.
Om Gam Ganapataye namaha.

Selanjutnya......

Purusa-Pradana dan Hindu di Bali

Mas Ruscitadewi

Secara umum manusia dibedakan menjadi dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini merujuk pada kondisi fisik yang memang berbeda, yakni perempuan yang setelah akil balik mengalami menstruasi dan memproduksi sel telur yang kemudian bila berhasil dibuahi akan menjadikan si perempuan hamil, kemudian melahirkan dan berlanjut pada peran menyusui. Sedangkan laki-laki akil balik ditandai dengan munculnya buah jakun yang mempengaruhi pita suaranya, dan produksi sperma yang bisa membuahi rahim perempuan dan membuat si perempuan hamil dan punya anak.

Secara umum kondisi fisik laki-laki dan perempuan memamg berbeda, yang mengakibatkan adanya peran yang berbeda pula. Tetapi di luar dari perbedaan fisik yang mengakibatkan perbedaan peran tersebut, semestinya tidak ada perbedaan peran yang tajam antara laki-laki dan perempuan, sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Perjalanan sejarah manusia memang secara tak langsung membentuk pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Awalnya, pada masa populasi manusia sangat terbatas dan hidup berburu, maka keberadaan perempuan yang hanya bisa mengandung maksimal sekali setahun haruslah dijaga dan dilindungi, karena sangat berpengaruh bagi kelangsungan sebuah suku. Pada masa bercocok tanam, keberadaan perempuan juga masih sangat dihargai karena itu perempuan ditempatkan di rumah yang aman dan terlindung. Penempatan perempuan di rumah membuat para perempuan kreatif dan menemukan sistem bercocok tanam, sistem mengolah makanan maupun sistem anyaman.

Kalaupun pihak laki-laki pergi ke luar rumah untuk berburu hasilnya hanya cukup untuk kelangsungan hidup mereka maupun kelompoknya.

Pergeseran penghargaan terhadap perempuan nampaknya mulai menajam saat kegiatan di luar rumah menjanjikan sesuatu kelebihan di luar kebutuhan untuk hidup. Ketika para lelaki yang bekerja di luar rumah mendapatkan jasa lebih: berupa uang, jabatan, kebanggaan maupun penghargaan, maka jurang perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan makin tajam. Kini ketika banyak perempuan juga berperan di luar rumah, yang berarti juga mendapatkan jasa berupa uang, jabatan, kebanggaan maupun penghargaan, tidak membuat penghargaan antara laki-laki dan perempuan menjadi sehimbang, justru nasib perempuan makin meradang, sementara laki-laki sibuk menendang.

Kondisi ini terlihat jelas pada tata kehidupan masyarakat Bali, yang menempatkan penghargaan yang begitu tinggi pada laki-laki, sedang perempuan hanya makhluk kelas dua yang merasa bangga dengan peran ganda, dan terhibur dengan kesetaraan gender yang hanya sebatas wacana.

Contohnya, keluarga, keluarga besar, desa adat, cendikiawan, baik laki maupun perempuan Bali tanpa merasa risih ketika menyebut setiap laki-laki Bali sebagai purusa pewaris dan penerus keturunan. Padahal kata purusa sendiri bukanlah identik dengan laki-laki. Kata purusa dalam filsafat Sankhya berarti spirit, atau roh atau rohani dan Prakerti berarti material atau kebendaan. Kedua asas inilah yang membemtuk dunia. Jadi memang dunia dibentuk oleh roh dan material, bahkan manusia pun terbentuk dari roh dan material, tetapi tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk menyebut laki-laki sebagai purusa dan perempuan sebagai prakerti atau pradana, karena baik laki maupun perempuan sama-sama terdiri dari material dan roh.

Kalaupun sekarang masyarakat Bali menyebut laki-laki sebagai purusa dan perempuan sebagai prakerti atau pradana, itu berarti telah terjadi pergeseran makna yang sangat jauh. Kalau saja masyarakat Bali, utamanya para cendikiawan memahami secara mendalam konsep purusa dan prakerti dalam filsafat Sankhya, yang keduanya sama penting dan sama berharga, maka adat dan budaya masyarakat Bali tidak akan menonjolkan ideologi patriaki, yang cenderung menempatkan laki-laki sebagai pemimpin.

Masyarakat Bali mayoritas beragama Hindu. Dalam Agama Hindu yang disebut sebagai pemimpin adalah seseorang yang memiliki karakter atau sifat atau bakat kepemimpinan. Terkait dengan sifat/karakter atau bakat kitab suci Hindu menyebutnya sebagai varna. Dimana kata varna yang berasal dari bahasa Sanskerta berasal dari urat kata “Vr” yang artinya pilihan bakat dari seseorang (Titib, 1995: 10). Varna yang memiliki bakat kepemimpinan yang menonjol disebut ksatriya yang berarti memberi perlindungan. Varna ini tidak membedakan antara laki dan perempuan, juga bukan pada faktor keturunan, tetapi lebih pada sifat, bakat dan kemampuan. Sifat, bakat dan kemampuan ini merupakan unsur perpaduan purusa dan prakerti.

Konsep Kepemimpinan dalam Niti Sastra

Niti Sastra menurut Zoetmulder (2006:708) merupakan ilmu atau karya mengenai etika politik. Dengan demikian ruang lingkup Niti Sastra tentu sangat luas mencakup pula etika, moralitas, sopan santun dan sebagainya. Dari pemahaman etimologis tersebut, maka “Niti Sastra” dapat diartikan sebagai keseluruhan sastra yang memberikan ketentuan, bimbingan, arahan bagi umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan agar menjadi lebih teratur, terarah, dan lebih baik. Tentu saja masalah etika, moralitas, sopan santun, dan prilaku lainnya tidak lepas dari perpaduan antara purusa dan prakerti.

Terkait kepemimpinan ini, kitab Atharva Veda: 3.4.1 menjelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut: Wahai pemimpin negara, datanglah dengan cahaya, lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan, hadirlah sebagai pemimpin yang utama, seluruh penjuru mamanggil dan memohon perlindunganmu, raihlah kehormatan dan pujian dalam negara ini.

Di samping sebagai pelindung rakyat, pemimpin juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Ajaran kepemimpinan ini nampak semakin jelas seperti yang termuat dalam (Atharva Veda: 3.4.2), yang berbunyi: Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti kebenaran dan dharma, serta mencukupi kebutuhan rakyatnya, maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas.

Dalam Atharva Veda: 5.19.6 juga dijelaskan, apabila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda, maka negara tersebut akan hancur.

Rg Veda: 4.50.9 juga menjelaskan tentang bagaimana semestinya kepemimpinan seorang pemimpin. Dikatakan bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat, maka rakyat pun akan melindungi pemimpin itu sendiri, ibaratnya singa dan hutan yang saling melindungi, demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya.
Pemimpin yang tidak terkalahkan, melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan Tuhan, sebaliknya rakyat pun akan selalu menghormati, dan melindungi pemimpin tersebut. Ada banyak konsep Kepemimpinan Hindu diantaranya: Sad Warnaning Rajaniti, Catur Kotamaning Nrpati, Tri Upaya Sandi, Pañca Upaya Sandi, Nawa Natya, Pañca Dasa Paramiteng Prabhu, Sad Upaya Guna, Pañca Satya dan lain-lain. Berikut ini rincian dari konsep-konsep kepemimpinan Hindu.

Sad Warnaning Rajaniti

Sad Warnaning Rajaniti atau Sad Sasana adalah enam sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang raja. Konsep ini ditulis Candra Prkash Bhambari dalam buku “Substance of Hindu Politiy”. Ada pun bagian-bagian Sad Warnaning Rajaniti ini adalah:
1. Abhigamika, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu menarik perhatian positif dari rakyatnya.
2. Prajña, artinya seorang raja atau pemimpin harus bijaksana.
3. Utsaha, artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki daya kreatif yang tinggi.
4. Atma Sampad, artinya seorang raja atau pemimpin harus bermoral yang luhur.
5. Sakya samanta, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik.
6. Aksudra Parisatka, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu memimpin sidang para menterinya dan dapat menarik kesimpulan yang bijaksana sehingga diterima oleh semua pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

Catur Kotamaning Nrpati

Catur Kotamaning Nrpati merupakan konsep kepemimpinan Hindu pada jaman Majapahit sebagaimana ditulis oleh M. Yamin dalam buku “Tata Negara Majapahit”. Catur Kotamaning Nrpati adalah empat syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Adapun keempat syarat utama tersebut adalah: Jñana Wisesa Suddha, artinya raja atau pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Dalam hal ini ia harus memahami kitab suci atau ajaran agama (agama agëming aji).
Kaprahitaning Praja, artinya raja atau pemimpin harus menunjukkan belas kasihnya kepada rakyatnya. Raja yang mencintai rakyatnya akan dicintai pula oleh rakyatnya.
Wibawa, artinya seorang raja atau pemimpin harus berwibawa terhadap bawahan dan rakyatnya. Raja yang berwibawa akan disegani oleh rakyat dan bawahannya.

Tri Upaya Sandhi

Di dalam Lontar Raja Pati Gundala disebutkan bahwa seorang raja harus memiliki tiga upaya agar dapat menghubungkan diri dengan rakyatnya. Adapun bagian-bagian Tri Upaya Sandi adalah:
Rupa, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengamati wajah dari para rakyatnya. Dengan begitu ia akan tahu apakah rakyatnya sedang dalam kesusahan atau tidak.
Wangsa, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui susunan masyarakat (stratifikasi sosial) agar dapat menentukan pendekatan apa yang harus digunakan.
Guna, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui tingkat peradaban atau kepandaian dari rakyatnya, sehingga ia bisa mengetahui apa yang diperlukan oleh rakyatnya.

Pañca Upaya Sandhi

Dalam Lontar Siwa Buddha Gama Tattwa disebutkan ada lima tahapan upaya yang harus dilakukan oleh seorang raja dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang menjadi tanggung jawab raja. Ada pun bagian-bagian dari Pañca Upaya Sandi ini adalah:
Maya, artinya seorang pemimpin perlu melakukan upaya dalam mengumpulkan data atau permasalahan yang masih belum jelas duduk perkaranya (maya).
Upeksa, artinya seorang pemimpin harus meneliti dan menganalisis semua data-data tersebut dan mengkodifikasikan secara profesional dan proporsional.
Indra Jala, artinya seorang pemimpin harus bisa mencarikan jalan keluar dalam memecahkan persoalan yang dihadapi sesuai dengan hasil analisisnya tadi.
Wikrama, artinya seorang pemimpin harus melaksanakan semua upaya penyelesaian dengan baik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Logika, artinya seorang pemimpin harus mengedepankan pertimbangan-pertimbangan logis dalam menindak lanjuti penyelesaian permasalahan yang telah ditetapkan.
Ilmu kepemimpinan ideal yang pupuler di Bali dikenal dengan nama Astabrata, yang diambil dari petikan nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-61) yang merupakan ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Bali.

Terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana berbunyi:
Dan ia disuruh untuk menghormatinya, karena Ida Bhatara ada pada dirinya, delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu, itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni, demikian delapan jumlahnya, beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja, itulah sebabnya disebut Asta Brata. Dijelaskan tentang pribadi raja yang delapan itu, yaitu:

1. Indra brata, Sang Hyang Indra usahakan pegang, Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi, inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata, sumbangan-sumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat.
2. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat, ia memukul pencuri sampai mati, demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat, setiap yang merintangi usahakan musnahkan.
3. Bhatara Surya menerangi dengan adil tanpa pilih kasih.
4. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya, perilaku lemah lembut tampak, senyummu manis bagaikan amerta, setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati.
5. Bagaikan anginlah engkau waktu mengamati perangai orang, hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua, dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara, inilah Bayu brata, tersembunyi namun mulia.
6. Nikmatilah hidup dengan nikmat, tidak membatasi makan dan minum, berpakaian dan berhiaslah, yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani.
7. Bhatara Baruna membersihkan dan melebur, dengan memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit, itulah engkau tiru Pasabrata, engkau mengikat orang-orang jahat.
8. Selalu membakar musuh itu perilaku api, kejammu pada musuh itu usahakan, setiap engkau serang cerai berai dan lenyap, demikianlah yang disebut Agnibrata.

Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan seorang pemimpin adalah mensejahterakan rakyatnya. Dari delapan sifat kepemimpinan dalam Asta Brata, tidak semata-mata identik dengan sifat maskulin, hanya Yamabrata dan Baruna yang menunjukan karakter maskulin, sedang enam lainnya lebih mengarah pada karakter feminism. Dalam hal ini karakter maskulin tidak semata-mata dimiliki oleh laki-laki, demikian juga sebaliknya, karakter feminism tidak semata-mata dimiliki oleh perempuan. Sama seperti halnya purusa prakerti/pradana yang terkandung dalam setiap ciptaan termasuk manusia, maka karakter feminism dan maskulin ada dalam setiap orang, tergantung kapan dan dimana kita memanfaatkannya.

Sifat Androgini
Keseimbangan purusa prakerti/pradana atau karakter maskulin dan feminism menjadikan hidup seseorang sehimbang dan berpotensi besar untuk menyehimbangkan masyarakat yang dipimpinnya. Dalam masyarakat modern, orang yang memiliki purusa dan prakerti seimbang atau memiliki karakter feminism dan maskulin yang seimbang disebut Androgini.

Dalam Website Kompas.com yang dimuat Kamis 3 Maret 2011, terkait dengan perempuan dan kepemimpinan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari mengatakan, yang diperlukan bukan hanya nama besar untuk menjadi perempuan calon pemimpin yang ideal 2014 nanti, tetapi harus juga memiliki sifat androgini.
Sifat androgini adalah penggabungan antara sikap maskulin dan feminim. Dalam kepemimpinan Androgini perempuan memiliki kemampuan menyimbangkan kualitas baik secara maskulin maupun feminim.

Dalam Website Psikologi Modern, 24 January 2011 dikatakan bahwa androgini merupakan sebuah identitas gender manusia. Androgini adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Sandra Bem, seorang psikolog Universitas Stanford pada tahun 1974. Pada tahun 1977, ia mengeluarkan sebuah inventory pengukuran gender yang diberi nama The Bem Sex Role Inventory. Berdasarkan respon dari item-item pada inventory ini, individu diklasifikasikan memiliki salah satu dari orientasi peran gender: maskulin, feminin, androgini, dan undifferentiated.
Menurutnya, individu yang feminin adalah seseorang memiliki angka yang tinggi pada sifat feminin dan memiliki angka rendah dari sifat maskulin, individu yang maskulin adalah seseorang yang memiliki angka yang tinggi pada sifat maskulin dan memiliki angka yang rendah pada sifat feminin. Individu androgini adalah laki-laki atau perempuan yang memiliki angka tinggi pada sifat maskulin dan feminin. Individu undifferentiated memiliki angka yang rendah pada sifat maskulin dan femininnya.

Androgini berasal dari bahasa Yunani yang artinya “andros-” berarti laki-laki dan “gyné -“ berarti perempuan. Androgini adalah istilah dalam identitas gender dimana seseorang tidak termasuk dengan jelas ke dalam peran maskulin dan feminin yang ada di masyarakat.

Sifat Andogini ini mungkin bisa disamakan dengan konsep Ardhanareswari dalam Siwatattwa yang menjadi simbol Tuhan dalam manifestasi sebagai setengah purusa dan pradana. Karena sifat tidak bisa disimbulkan maka kedudukan dan peranan purusa disimbolkan dengan Siwa sedangkan Pradana disimbolkan dengan Dewi Uma. Di dalam proses penciptaan, Siwa memerankan fungsi maskulin sedangkan Dewi Uma memerankan fungsi feminim. Tiada suatu apa pun akan tercipta jika kekuatan purusa dan pradana tidak menyatu. Penyatuan kedua unsur itu diyakini tetap memberikan bayu bagi terciptanya berbagai mahluk dan tumbuhan yang ada. Itu artinya penyatuan purusa dan pradana akan mengantarkan masyarakat pada kesehimbangan, sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh pemimpin yang bijaksana.

Selanjutnya......

Banjar Wadah Mengamalkan Ajaran Asrama Dharma

Ketut Wiana

Banjar adalah paguyuban hidup umat Hindu di bawah Desa Pakraman. Tata kehidupan umat Hindu di banjar diatur oleh suatu Awig-Awig Banjar. Awig-Awig Banjar sebagai pengejawantahan dari Awig-Awig Desa Pakraman. Banjar harus dibedakan dengan Lingkungan yang berada di bawah Desa Dinas atau Kelurahan. Lingkungan yang merupakan lembaga pemerintahan di bawah Kelurahan, Desa Dinas atau Keperbekelan.

Lingkungan atau ada juga disebut Banjar Dinas merupakan lembaga pemerintahan untuk melayani warga negara dengan tidak membeda-bedakan latar belakang agama yang dianut oleh warganya. Lingkungan sebagai bawahan dari Kelurahan atau Keperbekelan bagian pemerintahan terbawah dari NKRI. Sumber penataannya pun dari norma-norma Negara, seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Perda dan seterusnya yang terkait dengan urusan pelayanan masyarakat sebagai warga negara. Ini artinya Lingkungan dengan pimpinanya disebut Kepala Lingkungan atau Kelihan Dinas mengurus pelayanan masyarakat sebagai warga negara. Sedangkan Banjar lembaga keumatan Hindu yang mengurus pelayanan anggota Krama Banjar sebagai umat Hindu sesuai dengan awig-awig dan ajaran Agama Hindu.

Banjar adalah wadah paguyuban hidup umat Hindu untuk mengamalkan ajaran Catur Asrama sebagai konsep hidup untuk meniti tahapan hidup di bumi ini. Tahapan hidup yang diwadahi oleh banjar adalah tahapan hidup Brahmacari Asrama, Grhastha Asrama dan Wana Prastha Asrama. Sedangkan Sanyasi atau Bhiksuka Asrama tidak terwadahi dalam banjar, karena menurut ketentuan Agastia Parwa, Sanyasin Asrama itu tidak dibenarkan lagi hidup bermasyarakat secara formal, seperti ikut mebanjar, karena Sanyasin Asrama itu adalah tahapan hidup melepaskan Atman dari belenggu Tri Sarira. Yang ikut dalam banjar adalah teruna-teruni sebagai Brahmacari Asrama, Krama Ngarep sebagai Grhasta Asrama dan Krama Lingsir sebagai Wanaprastha Asrama.

Banjar seyogianya menciptakan iklim hidup agar tiga Asrama itu dapat mengeksistensikan swadharma-nya sesuai dengan ketentuan ajaran Hindu yang disebut Sadsrama Dharma. Misalnya Swadharma Brahmacari Asrama menurut Agastia Parwa dinyatakan sbb: Brahmacari ngarania sang mangabiasa sang hyang sastra tur sang wruh ring kalingganing Sang Hyang Aksara. Artinya: Brahmacari namanya orang yang menjadikan belajar ilmu pengetahuan itu sebagai kebiasaan hidup dan orang yang paham akan penggunaan aksara atau huruf. Kata aksara dalam bahasa Sansekerta artinya kekal abadi. Ini artinya aksara itu hanya boleh digugnakan untuk menyebarkan Sabda Tuhan yang kekal abadi.

Untuk memajukan teruna teruni sebagai Brahmacari, programnya sebaiknya merupakan penjabaran dari rumusan Brahmacari, seperti yang dinyatakan dalam Agastia Parwa tersebut. Sedangkan Grhasta Asrama dinyatakan dalam Agastia Parwa sbb: Grhastha ngaran sang yatha sakti kayika Dharma. Artinya: Grhastha Asrama namanya mereka yang dengan kemampuan sendiri mengamalkan dharma-nya. Rumusan Grhastha Asrama itu dikembangkan menjadi program-program yang aktual untuk menciptakan iklim hidup, agar para Krama Ngarep sebagai Grhastha Asrama dapat mandiri. Dengan kemandirian Grhastha itu, Brahmacari dan Wanaprastha akan terayomi dengan baik. Karena dalam sistem Catur Asrama, Grhastha itulah sebagai tulang punggung kehidupan Catur Asrama. Wana Prastha Asrama swadharma-nya sebagai penasehat Brahmacari dan Grhastha Asrama, yaitu Sawacana gegenta.

Agar setiap tahapan hidup itu sukses mengamalkan swadharma-nya, pertama-tama yang wajib dikuatkan adalah daya spiritualnya dengan menguatkan sraddha dan bhakti-nya pada Tuhan. Karena itu di setiap banjar di bagian hulu areal pekarangan banjar didirikan tempat pemujaan. Di tempat pemujaan banjar itu, Tuhan dipuja sebagai Bhatara Penyarikan. Tujuan memuja Tuhan sebagai Bhatara Penyarikan, agar umat mendapat tuntunan rohani menapaki tahapan-tahapan hidupnya dari satu Asrama menuju Asrama selanjutnya sampai meninggalkan dunia sekala (nyata) ini menuju dunia niskala (gaib/kedewataan).

Mengapa Tuhan diberi sebutan Bhatara Penyarikan di Pura Balai Banjar. Kata Bhatara dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata “Bhatr” artinya maha pelindung atau pengayom. Penyarikan berasal dari kata Nyarik, artinya tuntas atau tahapan. Dari segi arti kata itu dapat disimpulkan, bahwa pemujaan Tuhan di Pura Balai Banjar itu untuk mohon kekuatan spiritual pada Tuhan, agar umat dapat dengan tuntas menyelesaikan tahapan-tahapan hidup berdasarkan ajaran Catur Asrama itu.
Kalau umat dapat menyelenggarakan hidupnya sesuai dengan swadharma-nya dalam setiap tahapan hidupnya tentunya akan terwujud kehidupan yang bahagia dalam setiap tahapan hidupnya. Pemujaan Tuhan sebagai Bhatara Penyarikan untuk mendudukkan nilai-nilai spiritual sebagai kendali utama dalam menapaki setiap tahapan kehidupan. Kalau setiap tahapan kehidupan dikendalikan oleh daya spiritual, maka tidak ada kenakalan remaja, orang tua maupun usia lanjut yang tak terurus.

Sayang keberadaan tempat pemujaan Bhatara Penyarikan tidak dimaknai sebagaimana konsepnya. Memuja hanya untuk memuja semata. Pemujaan Tuhan dalam berbagai KemahakuasaanNya harus dapat didayagunakan untuk membenahi kekuatan jiwa dalam mengendalikan kehidupan di dunia ini. Tujuan pemujaan Tuhan agar manusia tidak terombang ambing oleh hiruk pikuknya dunia. Justru manusialah yang mengendalikan dinamika kehidupan di dunia ini. Dunia ini adalah sarana kehidupan, bukan tujuan akhir dari hidup ini. Jangan manusia menjadi alatnya dunia. Meskipun manusia bagian yang tidak terpisahkan dari dunia ini, tetapi di antara makhluk hidup ciptaan Tuhan isi dunia ini, manusialah yang punya sabda, bayu dan idep.

Demikianlkah pemujaan Tuhan sebagai Bhatara Penyarikan di Balai Banjar agar manusia selama hidupnya senantiasa tertuntun secara rohani dari Brahmacari, Grhastha, Wanaprastha sampai Sanyasin Asrama.

Selanjutnya......

Mengatasi Trauma Pada Anak-Anak (Pasca Kasus Lampung)

I Gusti Ayu Tri Agustiana

Peristiwa Lampung Selatan, selain menghancurkan secara fisik, juga menimbulkan trauma, baik bagi warga penyerang maupun warga Balinuraga yang diserang. Trauma selalu hadir dalam sejarah kehidupan umat manusia di permukaan bumi ini, sebab keberagaman persoalan muncul silih berganti seolah tidak pernah habis-habisnya, seperti konflik, kekerasan, pertumpahan darah dan lain sebagainya. Belum lagi problematika alamiah seperti bencana alam, gempa bumi, tsunami, meletus gunung api, tanah longsor, banjir, badai topan, dan lain-lain. Keberagaman peristiwa dan pengalaman yang menakutkan tersebut, selain telah memporak-porandakan kondisi fisik lingkungan hidup, juga merusak ketahanan fungsi mental manusia yang mengalaminya, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu yang singkat dan jangka panjang, sehingga terjadi trauma psikologis.

Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan. Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para Psikolog menyatakan, trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negative, dalam istilah psikologi disebut post-traumatic syndrome disorder.

Berikut ada beberapa tahap dalam menangani trauma, yaitu, pertama, Planning, Konsep ini merupakan pemikiran dasar dalam rangka menjalankan tugas secara menyeluruh. Tanpa planning yang tepat, kesulitan akan segera menghadang. Dengan adanya planning, maka segala sesuatu yang dibutuhkan dalam aplikasi kerja akan berjalan dengan baik dan terfokus.

Kedua, action. Setelah perencanaan yang matang, maka langkah kerja selanjutnya adalah aksinya (perbuatan). Dalam aksi, segala hal/masalah yang hendak dianalisis atau dikaji akan menjadi terorganisasi, sistematis dan terintegrasi, sehingga memperjelas metode, pendekatan dan upaya problem solving (pemecahan masalah).

Ketiga, controlling: Konsep ini menjadi penting karena apabila terjadi kekeliruan metode, pendekatan dan konsep sebagaimana yang telah direncanakan dan diaplikasikan dilapangan maka dapat dikontrol, dan memungkinkan konselor untuk mengubah cara-cara lain yang sesuai dengan bobot masalah.

Keempat, evaluation: Kegunaan konsep evaluasi adalah untuk melihat sejauh mana proses perkembangan kesembuhan traumatik yang diderita oleh individu dalam upaya pemberian bantuan, apakah dilanjutkan atau dihentikan (bila dianggap sudah normal).

Tahap tehap tersebut akan memudahkan konselor, guru, dokter, dan sebagainya dalam upaya diagnosis awal (deteksi dini) dimulai bagi penderita traumatik. Kemudian baru dilanjutkan dengan tahap penyembuhan (penanganan). Pada tahap penanganan awal terhadap penderita traumatik, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh konselor, guru, dokter, ulama, tokoh agama Hindu, tokoh adat, diantaranya: Pertama, Direct Techniqe Aplication (a) Pemberian bantuan langsung; chek kesehatan, materi, dan lain-lain. (b) Di sini konselor, guru, dokter, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya, diharapkan harus terlibat langsung mengadakan penanganan korban trauma. (c) Bagaimana proses penyesuaian diri, interaksi, komunikasi dan sikap para petugas akan sangat menentukan berhasil tidaknya pemberian bantuan penyembuhan. Pola kepribadian petugas adalah kunci utama dalam penanganan koran trauma. (d) dengan teknik langsung ini, metode self help group akan menjadi efektif, kohesif dan kreatif, dan sebagainya.

Kedua, FGD Techniqe Aplication: (a) Terapi model ini akan menghasilkan suasana kebersamaan, satu rasa dan satu tujuan kelompok. (b) Akan terbentuk persepsi diri dan persepsi sosial secara baik bagi penderita trauma (c) Akan terbentuk konsep diri secara baik bagi penderita trauma (d) Dengan teknik ini akan memungkinkan dilakukan usaha ke arah pengembangan dan pemberdayaan keterampilan dalam berbagai bentuk; karya wisata, kegiatan perlombaan, life skill, cerita cerita tentang penderitaan Pandawa lima ketika terbuang , sehingga dapat digunakan sebagai terapi terhadap trauma. Merujuk pada model penanganan tersebut, yang lebih para pemberi bantuan terhadap korban trauma mampu menjabarkan empati secara proporsional dan profesional, sehingga penanganan yang dilakukan dapat memberi hasil maksimal.

Kempat, berdialog (a) Tanya pada anak tokoh yang disenangi, kemudian ceritakan kehebatan sang tokoh tersebut. Misal : (si anak suka Bima, ceritakan bahwa Bima itu hebat, kuat dll). (3) Kemudian tanyakan kepada anak, misal: Made kan suka dengan kehebatan si Bima, apakah Made sama hebatnya Bima. Sampai anak menganggukan kepala (karena dalam teori pikiran dengan menganggukan kepala atau mengatakan “iya” maka bawah sadarnya membuka diri untuk kesembuhan). Kemudian lanjutnya, katakan pada anak, “Nah, kalau berani dan hebatnya, maka Made tidak perlu takut dengan kucing (contoh masalah) karena kucing kecil, Made besar, dan harus baik-baik dengan kucing”. Kalau perlu, dapat diberi boneka kucing dan berikan sugesti positif. (4) .Sugesti harus disesuaikan dengan bahasa anak yang singkat, jelas, dan mudah dimengerti/dipahami anak)” . Katakan berulang-ulang/berikan apresiasi atas keberanian, kemajuan/perubahan anak. Dicium dan dipeluk. (lakukan sampai 21 hari atau 40 hari secara konsisten)

Keempat, Teknik EFT (emotional freedom technique). Ketuk ringan dengan kedua jari di bawah tulang mata anak sambil memberikan sugesti kepada anak (diusahakan anak mengikuti perintahnya): ya Tuhan… saya adalah anak pemberani, anak hebat, dan anak pintar (3x). Saya berani dengan kucing, saya sayang dengan kucing… dan lain-lain. (lakukan sampai 21 hari atau 40 hari secara konsisten)

Kelima, memberikan Sugestif positif. Pada saat antara mengantuk dengan dengan tidur, berikan sugesti positif, seperti tentang keberanian, kehebatan, dan kasih sayang orang tua. Misal: Made sudah pintar, berani, kuat seperti Bima dan berani dengan kucing…dan baik dengan kucing… Ayah sayang dengan Made, Ibu juga juga sayang dengan Made …(sampai mengatakan iya ) (lakukan sampai 21 hari atau 40 hari secara konsisten).

Saran: gunakan semua kelima cara sampai dengan 21 hari atau 40 hari, dengan menyisipkan meditasi duduk hening, bernyanyi (bhajan), pelayanan dan berikan cerita tentang nilai-nilai Hindu, biasanya ada perubahan dalam waktu beberapa hari. Saran untuk orang tua, imajinasikan ketika melakukan Gayatri mantra, atau Om nama siwaya, biasakan mental imajinasi apa yang kita pikirkan dan kita rasakan bahwa anak kita cepat sembuh dalam trauma/phobia (dalam teori pikiran mengatakan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan adalah doa dan doa yang paling cepat terkabul adalah apa yang kita rasakan, kemudian apa yang kita pikirkan). Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

(Penulis adalah Dosen Jurusan PGSD FIP Universitas Pendidikan Ganesha).

Selanjutnya......

Hindu Agama Monotheisme Atau Politheisme?

Ni Made Sitiari

Kesan apa yang langsung muncul di benak orang ketika melihat cara sembahyang orang Hindu? Mudah ditebak. Kesan pertama, pastilah orang Hindu dianggap menyembah patung dan berhala. Bukankah secara kasat mata, jelas-jelas orang Hindu sembahyang di pura dan menghadap Padmasana? Bukankah mereka juga menempatkan patung, gambar dan poster dewa-dewi di altar ruang sembahyangnya. Dalam pandangan orang-orang awam, benda-benda yang kita gunakan itu dianggap sebagai berhala.

Kesan kedua, orang Hindu memuja dan sembahyang kepada banyak Tuhan. Orang umumnya tahu, bahwa orang Hindu sembahyang kepada Tri Murti, yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa yang dikenal sebagai tiga dewa tertinggi. Dan orang Hindu dikatakan menyembah 33.000.0000 (33 juta) dewa. Bahkan ada film dokumenter yang dibuat khusus oleh orang Barat dengan judul Hindu 33 million Gods. Film ini dijadikan referensi penting dalam mempelajari agama dan budaya Hindu di Universitas dan Perguruan Tinggi yang memiliki program perbandingan agama.

Tuhan Menurut Weda:
Hanya Satu, Tapi Punya Banyak Nama

Bagaimana pendapat Anda, kalau cerita berikut benar-benar terjadi? Ada tiga orang yang pada fajar itu sedang menunggu matahari terbit dari lereng gunung Bromo. Entah, bagaimana tiba-tiba mereka memperdebatkan nama benda yang sedang mereka nantikan kemunculannya itu. Orang pertama, warga Desa Tengger, mengatakan bahwa, yang sedang mereka tunggu kemunculannya itu namanya bukan matahari, melainkan Srengenge. Orang kedua, yang kebetulan dari Padang bersikeras, bahwa nama yang benar buakan Srengenge melainkan Mentari. Setelah mendengar itu, orang ketiga, seorang turis dari Inggris, tertawa sambil mengejek kedua temannya. Oh, you are stupid. It is Sun. Bukan Srengenge, bukan pula Mentari”. Perdebatan bertambah sengit, karena mereka masing-masing mengklaim bahwa Matahari hanya ada di daerah mereka. Orang Inggris, ngotot bahwa Sun hanya milik orang Inggris. Orang Padang ngotot, bahwa Mentari hanya milik orang Padang dan orang ketiga, warga Tengger gantian mengejek, “Wah kalian berdua bodoh sekali. Srengenge itu milik warga Tengger, karena tiap pagi dia terbit di balik gunung Bromo. “Buktinya, setiap pagi ratusan orang berkumpul di Tengger sini untuk menyaksikan Srengenge,” begitu ucapannya.

Seperti cerita di atas, kadang penganut agama tertentu terlalu sempit pemahamannya, sehingga menganggap, bahwa Tuhan hanya milik umat mereka. Bahkan mereka beranggapan bahwa Tuhan hanya milik umat mereka. Bahkan mereka beranggapan bahwa Tuhan hanya mempunyai satu nama. Nama itu harus diucapkan dengan lafal tertentu saja, dan dianggap salah kalau dibaca dengan cara yang berbeda.

Weda yang menjadi pedoman umat Hindu mengajarkan, bahwa Tuhan Maha Tidak Terbatas. Karena itu, Tuhan juga punya nama dan sebutan yang jumlahnya tidak terbatas seperti halnya Matahari yang juga disebut mentari, srengenge, surya, sun, bhaskara dan lain-lain. Begitu juga Tuhan punya banyak gelar dan sebutan. Justru kita yang membatasi Tuhan, kalau kita katakan bahwa Tuhan hanya punya satu nama.

Menurut Weda, Tuhan memang tidak punya nama, tetapi manusia memberi nama menurut sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Sri Caitanya, salah satu awatara yang mengajarkan Bhakti yoga, menyatakan bahwa namnam akari bahuda nija sarva shaktis. Tuhan punya berjuta-juta nama, dan dalam nama itu terkandung kekuatan ilahi yang maha hebat. Dalam kitab Weda kita dapat temukan seribu nama Wisnu, berdasarkan sifat dan kehebatan-Nya. Begitu pula dalam Bhagavadgita, yaitu Krisna disebut dengan 27 nama dan gelar yang berbeda. Bahwa ini gambaran, betapa Tuhan Yang Esa itu punya banyak nama.

Jumlah nama Tuhan yang tak terbatas dalam Weda inilah yang kerap membuat orang salah paham, seolah Hindu punya banyak Tuhan. Padahal sebenarnya banyaknya nama ini justru menunjukkan bahwa Weda memiliki informasi yang lengkap dan rinci tentang apa dan siapa Tuhan sesungguhnya.

Selanjutnya......

Remaja dalam Minuman Butha Kala

I Made Pasek Subawa

Perkembangan zaman dewasa ini memang sangat luar biasa, sehingga dapat membuat manusia menjadi “binasa”. Mungkin tanpa disadari pernyataan itu membuat kita berfikir, kenapa perkembangan zaman membuat binasa? Manusia seiring dengan zaman yang terus berkembang dan dibarengi dengan kemajuan intelektual yang semakin kritis serta IPTEK yang semakin canggih, maka tanpa disadari dampak mungkin menjadikan manusia binasa, jika tanpa kesiapan moral dan tata susila yang baik.

Dalam kehidupan beragama ajaran dari kitab suci merupakan penuntun utama dari segala bentuk perbuatan kita. Namun di dalam diri manusia terdapat dualisme yang selalu berdampingan antara sifat yang Daivi Sampad dan Asuri Sampad, Daivi Sampad merupakan sifat-sifat kedewaan yang ada dalam diri manusia sedangkan Asuri Sampad merupakan sifat-sifat keraksasaan yang ada dalam diri manusia. Dalam kepercayaan umat hindu, sifat-sifat raksasa sangat diidentikkan dengan unsur dari bhuta kala, dimana unsur penetralisirnya yang paling sederhana dilakukan oleh orang-rang tua adalah dengan mesegeh yang diisi dengan tetabuhan arak berem dengan harapan tidak ngerebeda. Namun sekarang pergeseran dari butha kala sangat signifikan sekali, dulu butha kala diyakini sebagai sesuatu yang tidak terlihat dengan memiliki kekuatan yang dapat mengganggu aktifitas manusia, di zaman yang modern ini muncul sebuah pertanyaan “apakah masih ada butha kala itu?”. Butha kala itu tetap ada, namun dalam bentuk dan wujud yang berbeda.

Dalam ajaran agama Hindu, penetralisir dari butha kala yang berupa arak berem sudah beralih fungsi menjadi minuman bagi para remaja yang ingin mabuk-mabukan, lantas, apakah bisa dibilang yang menjadi “butha kala di zaman modern ini adalah para remaja?” Sering kita jumpai minuman ini selalu ada dan sudah menjadi kebiasaan ketika ada upacara dan kegiatan-kegiatan yang mengundang banyak orang. Apalagi jika malam Minggu, bisa dijumpai di trotoar jalan besar banyak para remaja yang mabuk-mabukan dan melakukan aksi sepeda motor yang mengganggu pengendara lainnya. Apakah butha kala sudah beralih fungsi sekarang, mungkin sudah bosan dengan segehan dan caru, sekarang butha kala malah mabuk-mabukan di tengah jalan. Jika sudah seperti itu apa penetralisir bagi butha kala itu?

Ini menjadi sebuah PR besar bagi orang tua, pemerintah, serta pihak-pihak terkait untuk dapat menekan dan menanggulangi hal ini. Kekhawatiran yang mendalam seperti yang pernah diberitakan di media-media elektronik ataupun koran, banyak kematian yang dikarenakan minum-minuman keras. Salah satunya arak yang dicampur dengan bahan kimia lainnya, sehingga dapat membuat lebih cepat mabuk, tetapi efek yang dihasilkan dari hal itu sangat fatal sekali yang membuat citra buruk bagi perkembangan remaja dewasa ini.

Remaja dalam Kebingungan oleh Butha Kala

Masa transisi dari manusia bisa dikatakan adalah masa remaja, karena masa ini yang akan membentuk karakter serta kepribadian dari manusia yang nantinya akan dibawa sampai dewasa. Di zaman yang modern ini segala kebutuhan yang diperlukan sangtalah mudah didapatkan, sehingga membentuk pribadi yang konsumtif dan pragmatis yang hanya bisa menghabiskan dan ingin serba praktis saja. Keadaan ini jelaslah membentuk sebuah kesenjangan antara yang miskin dan kaya. Yang kaya pastilah bisa mencukupinya dengan uang, namun yang miskin apakah yang bisa dilakukan?

Di sinilah muncul sebuah kebingungan dan rasa minder dari seorang remaja yang sedang ingin rasanya mencoba hal-hal baru dalam kehidupan, tetapi karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung maka keinginan itu menjadi berubah. Rasa ingin mencoba yang terlalu besar ini dapat mendorong diri manusia terutama remaja yang masih labil untuk mengambil jalan pintas dengan minum arak, minuman murah meriah yang mudah didapat di pengepul. Di sinilah peran dari butha kala sebagai pemuas keinginan dan penggoda iman beraksi, namun dampak bagi kesehatan kita, pada akhirnya akan menyusahkan keluarga dan berbagai pihak.

Selain rasa minder yang disebabkan oleh keadaan ekonomi, tidak dipunkiri bahwa pelarian mencari “minuman butha kala” diakibatkan karena frustasi putus dengan pacar, keadaan diri yang belum siap dan belum bisa menerima hubungan yang begitu lama telah terjalin kemudian kandas di tengah jalan membuat pikiran menjadi tegang dan stress yang mendalam. Sejenak mungkin bisa untuk tidak ingat kembali, tetapi rasa yang begitu mendalam membuat pikiran itu kembali lagi yang membangkitkan kenangan-kenangan yang pernah dilalui. Dengan adanya “minuman butha kala” yaitu arak, menjadi pas dan lengkaplah pendamping dalam kesendirian dan keterpurukan. Apakah terus seperti ini?

Mabuk-mabukkan, selain menghabiskan uang maka lebih jauh merugikan diri sendiri? Inilah sebuah fenomena yang terjadi pada para remaja kita. Selain karena putus dengan pacar, hal lain yang membuat remaja mencari “minuman butha kala” adalah ingin terlihat “keren”. Asumsi mereka, bahwa dengan minum arak, dan konvoi di jalanan merupakan sebuah kenikmatan serta rasa yang ingin memperlihatkan diri bahwa “saya sudah dewasa”, “saya merasa paling kuat”, “saya merasa paling berani” dan lain sebagainya. Pengaruh minuman keras bagi kontrol diri yang tidak dapat diarahkan lagi ini dengan “merasa diri paling” adalah salah satu bentuk emosi negatif yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan konflik. Tidak hanya konflik dengan orang lain, tetapi dengan sesama teman yang diajak minum pun bisa pecah menjadi keributan.

Dengan demikian, mabuk-mabukkan bukanlah jalan keluar dalam menyelesaikan sebuah masalah dan sebagai ajang coba-coba. Dengan kemajuan intelektual dalam dunia pendidikan, hendaknya lebih biijaksana. Kehidupan remaja yang masih labil mentalnya sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk menunjang jenjang kehidupan selanjutnya.

Masa Mencari Jati Diri

Dalam ajaran agama Hindu, jenjang atau tahapan dalam kehidupan disebut dengan catur asrama, yang salah satunya membahas tentang masa brahmacari, yaitu masa dimana menuntut ilmu pengetahuan. Masa ini digunakan untuk memenuhi diri yang nantinya akan bisa digunakan untuk kehidupan berumah tangga, dalam pencarian jati diri inilah merupakan masa yang rawan bagi para remaja yang labil. Salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, maka akan berdampak besar bagi kehidupan nantinya. Dalam keadaan seperti ini, yang mempunyai pengaruh dan peranan penting adalah teman, lingkungan pergaulan, orang tua, dan peran dari guru di sekolah. Semua komponen tersebut akan tetap ada dan mempunyai pengaruh dalam pembentukan jati diri dari para remaja.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan; ”dimana kita berada, seperti itulah kita nantinya”. Dengan pernyataan seperti itu, dapat diasumsikan bahwa bila kita berada dalam lingkungan pencuri dan teman-teman kita adalah pencuri, maka secara tidak langsung pastilah kita akan diajarkan untuk mencuri. Jadi jati diri itu terbentuk sebagian besar dipengaruhi oleh teman dan lingkungan pergaulan, karena manusia juga merupakan makhluk yang berinteraksi sosial dengan sesamanya dalam kehidupan, sehingga tidak dapat terlepas dari kontak dan hubungan dengan orang lain.

Tantangan bagi remaja yang masih labil adalah bagaimana bisa mengendalikan diri dari pengaruh negatif teman dan lingkungan pergaulan, sehingga “minuman dari butha kala” itu tidak membuat kala yang ada dalam diri kita menjadi bangkit dan mengendalikan indria. Penanaman budi pekerti dan ajaran agama yang baik dari orang tua dan guru-guru di sekolah sangat berperan dalam hal ini. Tetapi semua usaha itu merupakan sebuah pengantar bagi seorang yang masih remaja, pada akhirnya yang menentukan adalah dirinya sendiri, dengan kesadaran yang ada dalam diri. Kesadaran inilah yang perlu dibangkitkan dengan banyak belajar dan melatih diri agar apa yang menjadi tujuan dan cita-cita dapat diraih dengan senyum dan kegembiraan tanpa dipengaruhi oleh minuman keras.

Selanjutnya......