Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Sabtu, 27 Oktober 2012

Menelusuri Jejak Prabu Brawijaya di Gunung Kidul


Pada 15-17 September 2012 lalu, Tim Redaksi Majalah Raditya diantar langsung oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda melalukan darmayatra ke Jawa Tengah dan seputaran Gunung Kidul-Yogyakarta, untuk menelusuri jejak pelarian Prabu Brawijaya V ketika menjadi buronan kerajaan oleh anaknya sendiri Raden Patah. Prabu Brawijaya V sebelum moksa di Solo tepatnya di Candi Ceto konon melakukan pelarian di sekitar Gunung Kidul. Berikut ini laporannya:

Pantai Ngobaran merupakan salah satu obyek wisata pantai yang ada di Kabupaten Gunung Kidul yang memiliki beragama pesona alam dan budaya. sehinga menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Hamparan pasir putih, gulungan ombak, barisan tebing batu karang yang tinggi, rumput laut (alga), dan deretan pohon pandan laut, menyuguhkan pesona budaya yang penuh nuansa mistis dapat membius pengunjung yang datang. Apalagi ketika air surut, muncul sumber mata air yang cukup besar dan memiliki rasa air yang tawar dan jernih.

Pantai Ngobaran berlokasi di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Pantai ini dikenal sebagai tempat ritual berbagai penganut agama atau kepercayaan. Di kawasan ini terdapat tempat-tempat peribadatan seperti, pura yang berdiri berdampingan dengan musola. Bangunan peribadatan ini semua menghadap ke arah pantai selatan.


Ketika kita mulai memasuki kawasan ini kita sudah digoda oleh monumen yang dibangun oleh orang-orang Jawa penganut Aliran Kejawen. Di monumen itu ada beberapa arca berupa tokoh wayang (tentu dalam versi Jawa) lengkap dengan keterangan dan pesan yang dibawakannya. Misalnya tokoh Yudistira di bawahnya ada tulisan “Budi Pekerti”, tokoh Arjuna dengan tulisan “Tresno”, Ganesha dengan tulisan “ welas asih”, tokoh Semar dengan tulisan “Eling”. Dan banyak lagi.

Pesan-pesan ini dibuat untuk mengingatkan kita atas kesujatian jati diri kepada para leluhur. Karena tertata dengan baik dilengkapi dengan arca tak heran para pengunjung yang datang mengkhususkan berpoto mengabadikan perjalanannya di sini. Ketika masuk lebih ke dalam lagi, di tengah-tengah patung wayang yang bertebaran itu, ada monumen berbentuk stupa yang disebut Ikrar Ksatrya. Ini juga semacam prasasti yang dibuat oleh masyarakat setempat untuk mengenang peristiwa menghilangnya Prabu Brawijaya V di kawasan itu.

Pada prasasti tersebut tertulis :

AKU BERSUMPAH SETYA DAN PATUH: 1. Menghormati, menjunjung tinggi dan menghormati para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri; 2. Menghormati dan menjunjung tinggi ajaran Trimurti ajaran kepercayaan lelulur cikal bakal bangsaku sendiri; 3. Menghormati, menjujung tinggi dan menjaga bumi pertiwi, tanah tumpah darah para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri.

Ikrar Kesatrya ini diahului dengan mantram-mantram Hindu berbahasa Sansekerta.

Menurut cerita masyarakat setempat, Prabu Brawijaya V atau biasa dikenal dengan Bhre Kertabhumi yang merupakan keturunan terakhir Kerajaan Majapahit (1464-1478 M) ini melarikan diri dari istana bersama kedua istrinya, Bondang Surati (istri pertama) dan Dewi Lowati (istri kedua), karena enggan diislamkan oleh putranya sendiri yang bernama Raden Fatah, Raja I Demak. Ibu Raden Patah itu orang Cina yang sudah masuk Islam, sehingga Raden Patah sendiri menjadi penganut Islam yang fanatik.

Dikejar oleh anaknya sendiri, Brawijaya V berkelana malang-melintang ke daerah-daerah pedalaman dan pesisir. Ketika tiba di pantai yang kini bernama Ngobaran itu, mereka menemui jalan buntu. Mereka dihadang oleh laut selatan yang sangat ganas ombaknya sehingga tidak tahu harus berlari ke mana lagi. Akhirnya, Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Sebelum menceburkan diri ke dalam api yang telah disiapkan, ia bertanya kepada kedua istrinya. “Wahai, istriku! Siapa di antara kalian yang paling besar cintanya kepadaku?” Dewi Lowati menjawab, “Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung.” Sedangkan Bondang Surati menjawab, “Cinta saya kepada Tuan, sama seperti kuku ireng, setiap selesai dipotong pasti akan tumbuh lagi.” Begitulah cinta Bondang Surati kepada suaminya, jika cinta itu hilang, maka cinta itu akan tumbuh lagi.

Setelah mendengar jawaban dari kedua istrinya, Brawijaya V langsung menarik tangan Dewi Lowati lalu bercebur ke dalam api yang membara. Pada saat itulah, keduanya tewas dan hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati bercebur ke dalam api karena cinta istri keduanya itu lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Dari peristiwa membakar diri inilah kawasan pantai ini diberi nama Ngobaran. Ngobaran berasal dari kata “kobong” atau “kobaran”, yang berarti terbakar atau membakar diri.

Namun cerita di atas mungkin hanya siasat saja, supaya kelihatan Brawijaya V tidak ada. Padahal Raja ini bersama pengikutnya terus lari ke hutan-hutan dan gunung di selatan Yogyakarta itu.

Karena cerita lain mengatakan, pelarian Brawijaya V sampai di Gunung Lawu dan di situlah beliau moksa. Menurut para sejarawan, versi ini sesuai dengan fakta sejarah. Kenyataan memang menunjukkan bahwa Brawijaya V enggan masuk Islam dan tidak mau berperang melawan putranya sendiri sehingga ia memilih lari dan bukan bertempur. Perjalanan itu meninggalkan banyak jejak di Gunung Kidul sampai Raja ini tiba di Gunung Lawu, sekarang Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Di puncak Gunung Lawu, Brawijaya bersama dua orang abdinya Dipa Manggala dan Wangsa Manggala. Di puncak Gunung Lawu itulah Brawijaya moksa bersama kedua abdinya. Dengan moksanya Brawijaya V, maka sirnalah Kerajaan Majapahit. Runtuhnya Majapahit ini dikenal dengan istilah “candrasangkala” atau Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bumi = 1. Kalimat yang mengandung makna angka (bilangan) ini jika dibaca terbalik menyatakan tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 M.

Jejak-jejak Brawijaya di Gunung Kidul banyak sekali, dan inilah yang dikunjungi oleh Tim Redaksi Raditya bersama Mpu Jaya Prema Ananda selama tiga hari. Di Pantai Ngobaran yang kini menjadi salah satu obyek wisata, berdiri petilasan dan tempat ritual berbagai agama. Penganut Kejawan yang merupakan aliran kepercayaan peninggalan Prabu Brawijaya V sering melakukan ritual di kawasan ini dengan membangun monumen Ikrar Kesatrya itu. Setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon mengadakan ritual di kawasan ini. Di sebelahnya, Hamengku Buwono X membangun petilasan berupa candi yang dijadikan acara ritual memuja Ratu Kidul. Petilasan ini luas, bisa menampung ratusan orang dan baru saja selesai.


Umat Hindu membangun pura yang diberi nama Pura Segara Wukir untuk stana Kanjeng Ratu Kidul. Pura ini sekarang sedang dipugar. Nampak beberapa bahan yang cudah dicetak masih tergeletak siap untuk di pasang. Umat Hindu sekitar masih memanfaatkan pantai ini untuk melasti Hari Raya Nyepi. Pura ini juga dipakai untuk upacara Galungan, selain itu umat rutin setiap bulan purnama dan tilem melakukan persembahyangan. Sayangnya, di sekitar Ngobaran ini umat Hindu hanya ada 6 KK, selebihnya berada jauh yang berjarak puluhan kilometer.

Tepat di depan pura terdapat mushola kecil berlantai pasir yang berukuran kurang lebih 3 x 4 meter. Ada pun di atas bukit yang tinggi dibangun stupa yang merupakan tempat beristirahatnya Prabu Brawijaya.

Pura Ngesthi Beratha Dharma di Gunung Gambar

Pura Ngesthi Beratha Dharma di Gunung Gambar dibangun oleh prajurit yang setia kepada Prabu Brawijaya. Ini sebagai tempat penghormatan kepada para kesatriya yang berperang habis-habisan dalam mempertahankan keyakinannya. Bekas-bekas perlindungan itu masih tetap ada, misalnya, terdapat Goa di atas bukit Gambar sebagai persembunyian raja dari kejaran balatentara Raden Patah.

Gunung Gambar berada di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul. Perjalanan ke pura ini memerlukan perjuangan ekstra karena letaknya yang berada di salah satu punggung gunung. Beberapa tanjakan curam menyebabkan kendaraan besar seperti bus tidak dapat mencapai lokasi ini. Jalan menuju Pura ini merupakan kombinasi jalan aspal dan jalan beton di beberapa bagian. Jarak yang ditempuh untuk mencapai Pura Ngesthi Beratha Dharma kira-kira 6 Km dari Ibukota Kecamatan Ngawen dan dari Pantai Ngobaran berjarak kurang lebih 20 km. Selama perjalanan kita bisa mengamati keadaan alam yang cukup kering dengan rumput tumbuh ala kadarnya. Hamparan pohon jati bisa kita jumpai sesekali, deretan batu cadas sebagai terasering usaha masyarakat untuk membuat lahan pertanian.


Kehidupan penduduk sangat bersahaja, tetapi itidak miskin amat. Rumah penduduk masih banyak yang terbuat dari kayu dan temboknya terbuat dari batu-batu karang sekitar. Namun kemampuan penduduk dalam menghargai desanya cukup luarbiasa. Walau tergolong ekonomi rendah namun mereka pantang untuk melakukan tindakan mengemis atau meminta-minta, apalagi tindak kejahatan.

Penduduk yang beragama Hindu kurang lebih 70 kk, tersebar di lereng bukit. Mereka masih setia menjalankan ritual Hindu dengan budaya Jawa. Kalau pun ada umat Hindu yang pindah agama, itu lantaran perkawinan. Tidak begitu banyak, bahkan yang kembali menjadi Hindu juga ada. Jadi ada pasang surut. Sebelum ada pura, mereka bersembahyang di rumah masing-masing.

Pura Ngasthi Beratha Dharma mulai di bangun secara permanen sekitar tahun 2002. Dengan bangunan Candi Gedong paling kiri dan Panglurah paling kanan. Di tengah-tengah yang merupakan sentral pemujaan dibangun Padmasana. Bangunan suci ini merupakan punia dari Romo Pujo Broto Jati.

Di jeroan pura dilengkapi pendopo yang bersih dan asri karena dilapisi keramik, lalu ada ruang yang diperuntukkan menyimpan alat-alat upakara serta buku-buku bacaan. Piodalannya pada purnama karo. Piodalan menggunakan sarana upakara yang paling sederhana, tapi tidak mengurangi makna. Ada pecaruan juga disesuaikan dengan keadaan setempat.

Pura Ngasthi di Gunung Gambar ini punya dua orang wasi/pamangku yakni Wasi Podo Winarno dan Wasi Darno. Mereka berdua siap melayani kepentingan umat yang pedek tangkil. Umat juga memiliki pasraman untuk pendidikan dan pelatihan agama Hindu kepada masyarakat maupun anak-anak Hindu yakni Pasraman Widyawiata, diasuh oleh Purwati dan Triani dengan jumlah siswa 10 arang.

Sudah tentu umat di Gunung Gambar sangat mendambakan dana punia, baik untuk melengkapi sarana puranya maupun buku-buku agama untuk lebih memahami Hindu. Mereka juga sangat haus dengan pencerahan dalam bentuk ceramah atau dharma wacana. Sayang sekali, mereka tak banyak mendapatkan hal itu. Yang paling sering mengunjungi mereka adalah mahasiswa Hindu dari Yogyakarta yang tergabung dalam KMHDI.
(Laporan Nyoman Arjana, foto I Nyoman Wirya S)

Selanjutnya......

Upacara Bhairawa Bangkit Lagi di Pujungan


Mewacanakan tentang Bhairawa puja atau pemujaan Bhairawa, maka yang pertama kali muncul dalam pikiran kita adalah sebuah bentuk prosesi ritual yang sarat dengan hal-hal yang menyeramkan dan berbau mistis. Mendengar kata Bhairawa tersirat pula seketika dalam pikiran sesuatu yang identik dengan pemujaan kepada sosok makhluk yang menakutkan, lengkap dengan sarana ritual yang ekstrim. Namun setelah mengikuti langsung prosesi ritual Bhairawa yang dilakukan di asram pondok Lamer Pujungan, Sabtu 18 Agustus 2012 lalu, suasananya sungguh mendamaikan.

Bhairawa puja kali ini sengaja mengambil tempat di areal kebun kopi asram pondok Lamer Pujungan yang sepi dan jauh dari keramaian. Pemimpin upacara dalam ritual tersebut, yakni seorang penganut Siva yang taat dan bersahajaGede Gatot Bhinawa Rata yang bergelar diksa Bheru Baba.

Prosesi ritual Bhairawa puja dimulai sekitar pukul 8.00 pagi yang diawali dengan mempersiapkan sarana ritual darah kambing jantan, alkohol, bunga, buah-buahan dan sarana lainnya. Setelah seluruh sarana ritual sudah siap dan para peserta ritual sudah hadir, prosesi ritual pun dimulai dengan men-canting-kan mantram persembahan. Mengawali persembahan, seluruh sarana dan peserta ritual terlebih dahulu disucikan dengan alkohol. Dan selanjutnya mempersembahkan darah, minuman, wewangian, bunga pada Linggam.

Selanjutnya adalah mempersembahkan persembahan lainnya yang diiringi dengan mantram Bhairawa puja sebanyak 18 mantram. Pada saat mantram Bhairawa puja di canting-kan (dilantunkan), seketika kedamian merasuk sukma. Rapalan mantram-mantram yang diucapkan oleh pendeta yang diikuti dengan kata svaha oleh peserta membawa getaran vibrasi positif pada kosmik. Vibrasi yang muncul dari matram ini tentunya dapat menetralisir energi negatif yang selama ini menutupi kosmik. Setelah mantram Bhairawa puja di-canting-kan, prosesi ritual pun diakhiri, dimana para peserta menggunakan darah sisa persembahan sebagai tilak (tanda) di kening masing-masing dan meminum minuman keras dari sisa persembahan.

Setelah prosesi Bhairava puja berakhir, para peserta menuju tempat prosesi ritual havan (pemujaan dewa agni). Sambil menunggu persiapan sarana ritual havan, kami berdialog dengan beberapa orang tentang Bhairawa puja dan ajaran Bhairawa itu sendiri. Rindangnya pohon bodhi disertai dengan udara yang sejuk menyapu kulit semakin menambah kesejukan hati, sehingga dari percakapan kami ada beberapa hal yang kiranya penting untuk diwacanakan tentang Bhairawa puja.

Menurut Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Dhaksa, dari Geriya Agung Batur Sari, Mengwi yang turut menghadiri prosesi tersebut menguraikan, bahwa Hindu terdiri dari beberapa sekte besar diantaranya adalah Saiva, Vaisnavaisme, Pacupata, Ganapatya, Sora, Sogatha, Resi, Bhairawa, Brahmana. Khusus Bhairawa sendiri muncul dari sekte Saiva Tantrayana dimana ciri utamannya adalah mempersembahkan binatang kurban dalam setiap ritualnya dan pengaplikasian ajaran panca makara. Ida Mpu lebih lanjut menuturkan, di Bali sendiri sesungguhnya ajaran Bhairawa sudah dipraktikkan dalam bentuk pengorbanan yang menggunakan binatang kurban (penyambleh), akan tetapi terkadang umat Hindu di Bali tidak berani mengklaim, bahwa itu adalah salah satu bentuk pemujaan Bhairawa. Beliau juga sedikit memberikan penafsiran bahwa tabuh rah itu sendiri adalah bagian dari Bhairawa Puja, sehingga Bhairawa puja ini bukanlah bentuk tradisi pemujaan yang baru, terlebih lagi mendistorsi bentuk tradisi yang sudah ada dan berjalan di Bali.

Melihat sekilas dari prosesi ritual Bhairawa puja, menurut Ida Mpu sendiri memang menggunakan sarana darah, minuman beralkohol, namun terlebih itu merupakan media untuk memanggil Hyang Bhairawa sebagai menifes dari Siva yang diyakini sebagai raja dari para makhluk lebih rendah (setan) untuk turun ke bumi guna menetralisir kekutan negatif yang ada di bumi. Demikian pula memohon beliau agar berkenan memerintahkan para makhluk-makhluk yang rendah supaya jangan mengganggu. Kaitannya dengan panca makara, Ida Mpu memberikan padangan bahwa hendaknya panca makara jangan direfrentasikan secara harfiah, akan tetapi lebih kepada ke dalaman makna di baliknya. Maituna misalnya yang secara harfiah berarti berhubungan badan (sex), tetapi dicermati lebih dalam maituna adalah memiliki maksud bagaimana sadaka hendaknya mampu menyatukan energi Siva dan Sakti yang dilambangkan dengan Lingga dan Yoni. Dari penyatuan itulah, sadaka akan merasakan kenikmatan yang lebih tinggi dari nikmatanya rasa berhubungan badan. Maituna dapat juga diartikan bagaimana hendaknya sadaka dapat hidup di atas bingkai dualitas (rwa bhineda/bineri oposisi), sehingga akan menemukan anandam.


Bhairawa Bima Sakti

Pada kesempatan yang sama, peserta upacara lainnya, Jero mangku Celagi pada usai upacara tersebut menambahkan secara ringkas, bahwa ajaran Bhairawa dilihat dari genealogis historis (sejarah) mula-mula berkembang sangat pesat di India, kemudian meluas ke daratan China yang bernama Heruka Bhairawa. Setelah itu meluas sampai ke Sriwijaya yang bernama Bhairawa Kalacakra. Sedangkan di Bali sendiri Bhairawa hidup dengan sendirinya dengan nama Bhairawa Bhima Sakti. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya jejak-jejak Bhairawa Bhima Sakti berupa relief dan patung-patung. Jero mangku juga menambahkan bahwa Kebo Iwa sendiri adalah penganut Bhairawa Bhima Sakti yang taat.

Berbicara tentang konsep ajaran panca makara, beliau menguraikan bahwa sesugguhnya secara elementer konsep tersebut bertujuan untuk mencapai kelepasan (moksa), kendatipun jalannya memang sedikit ekstrim. Mangku menafsirkan sadaka yang belajar tantra Bahirawa ada beberapa tingkatan yang hendaknya dilalui. Tingkatan pertama, yakni sadaka hendaknya tidak menjalankan aturan-aturan tertentu dengan ketat, misalnya maituana (berhubungan badan) boleh sadaka melakukan sepuasnya asal dengan pasangan yang tepat (hubungan suami istri). Tahapan kedua, yakni sadaka melakukan beberapa pantangan khusus, dan tahapan terakhir adalah melakukan pantangan yang ketat. Memasuki tahapan terakhir inilah panca makara hendaknya dipahami secara mendalam, bukan kulit luarnya, sehingga kebahagiaan yang maha tinggi akan dirasakan oleh sadaka.

Mengenai Bhairawa puja, jero mangku menguraikan bahwasannya memang sarana yang digunakan ekstrim, akan tetapi hal tersebut dirasa wajar dan memang diharuskan begitu, karena dalam prosesi tersebut kita berusaha memanggil Hyang Bhairawa untuk menarik para makhluk-makluk yang mengganggu manusia di bumi. Sebab logikannya adalah tidak mungkin menurunkan Hyang Bhairawa sebagai manifes Siva sebagai rajanya para makhluk-makluk di bawah manusia dengan sarana yang satvik. Bahkan lebih ekstrimnya lagi di Tibet sarana pemujaannya menggunakan tengkorak bhiksu suci yang sudah meninggal sebagai tempat darah, dan menggunakan japa mala dari tulang manusia. Selanjutnya juga Jero Mangku menambahkan, image salama ini Bhairawa puja yang menyeramkan hendaknya diluruskan kembali. Sebab sesugguhnya implikasi dari pemujaan ini adalah mendamaikan dan menetralisir segala kekuatan negatif yang ada di bumi. Menggunakan sarana ritual yang ekstrim adalah sesungguhnya sebagai media di dalam menghubungkan diri dengan Siva agar berkenan memberikan anugrah keseimbangan semesta. Karena itu, para sulinggih dan cendikiawan Hindu bertugas meningkatkan jnana umat agar pemahaman umat tentang Tantra Bhairawa semakin jelas.

Hal itu senada dengan uraian Gatot Bhinawa Rata yang bergelar Bheru Baba. Pemuja Siva yang penuh keramahtamahan ini menguraikan, bahwa Bhairawa puja ini sesungguhnya adalah bentuk upacara untuk memohon kemurahan Bhairawa untuk menyeimbangkan alam makro dan mikro. Tidak dipungkiri dewasa ini energi di alam ini dipenuhi dengan vibrasi yang negatif yang muncul dari manusia itu sendiri atau dari makhluk-makhluk di bawah kita. Dan untuk menetralisir energi tersebut yajna yang pada umumnya dilakukan tidak akan mampu, sehingga Bhairawa puja inilah yang langsung dapat mentralisir vibrasi negatif tersebut. Terbukti Bhairawa puja yang dilakukan selama ini dapat menurunkan hujan di daerah Singaraja yang sempat mengalami kekeringan, dan penyakit rabies yang selama ini menjadi wabah menakutkan semakin sirna. Dengan kata lain Bhairawa puja bukanlah prosesi pemujaan yang menyeramkan dan menakutkan, akan tetapi prosesi ritual yang santih dan mendamaikan.
(Ketut Sandika)

Selanjutnya......

Bhairawa Jalan Mulia Menuju Kebebasan

I Gede Wiratmaja Karang

Setelah abad IX, kehidupan beragama di Bali terdiri dari berbagai sekta, meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha. Sekta Siwa memiliki cabang yang banyak, antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta.

Sekta Bhairawa adalah Sekta yang memuja Siwa sebagai Dewa Utama dalam manivestasinya sebagai Siwa Bhairawa. Sedangkan pemujaan terhadap saktinya disebut Bhairawi dengan Dewi Dhurga atau Dewi Kali sebagai Dewa Utama. Sekta ini juga digolongkan ke dalam Sekta wacamara atau aliran kiri yang mendambakan kekuatan magic yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Sekta Bhairawa terkenal dengan ajaran Pancamakara, yaitu Mada yang diartikan mabuk-mabukan, Mamsa yang diartikan makan daging, Matsya yang diartikan makan ikan, Mudra yang diartikan melakukan gerak-gerik tangan, dan Maituna yang diartikan melakukan hubungan seks. Ajaran pancamakara dari Sekta ini adalah salah satu sisi gelap pandangan umum terhadap Sekta Bhairawa. Padahal ajaran ini begitu agung dan memberikan kebebasan yang sejati bagi bhakta Sekta Bhairawa.

Pelaksanaan ritual dalam Sekta Bhairawa hampir ada kemiripan dengan ritual Budha Bajrayana yang berkembang di Tibet. Sedangkan Budha Mahayana lebih banyak berkembang di dataran Cina, Korea, Jepang demikian juga dengan Budha Teravada lebih banyak berkembang di Birma, Srilangka dan Thailand. Ajaran Bhairawa demikian erat hubunganya dengan ajaran Budha Bajrayana, yaitu aliran Tantrayana dari agama Budha. Baik itu Bhairawa Kala cakra yang berkembang di Jawa dengan Raja Kertanagara sebagai pemuja setia, Bhairawa Haruka dengan Kebo Parud sebagai penyebarnya, atau Bhairawa Bima Sakti di Bali dengan Raja Bali Sri Astasura Ratna Bumi Banten dan seluruh patihnya sebagai penganut utamanya. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan di pura Kebo Edan Pejeng, dan Patung Panghulu, yaitu Patungnya Maha Patih Kerajaan Bali Kebo Iwa di Pura Puseh Blahbatuh.

Bhairawa merupakan perkembangan dari Tantrayana yang lebih menonjolkan Sakta atau Saktiisme, dari Sekta Siwa. Hal ini terbukti dengan obyek persembahan berpusat pada Saktiisme yang dilukiskan sebagai Dewi pemberi kemakmuran, pemberi semangat, tenaga atau power, pemberi hidup dan lain sebagainya. Sehingga Sakti juga disebut Ibu, maksudnya sebagai Ibunya dunia atau dewi pemberi perlindungan terhadap semua ciptaan-Nya. Ibu yang baik, melahirkan, melindungi, memberi hidup, mengasuh, mengajarkan dan menuntun dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, demikianlah kemuliaan Ibu, serta kemuliaan lainnya.

Ajaran Pancamakara, sesuai dengan Kali Mantra dan kitab Maha Nirwana Tantra terdiri dari makan ikan, makan daging, mabuk, melakukan hubungan sexualitas dan meditasi akan menuntun pada jalan moksa di jaman Kaliyuga. Dengan melakukan pancamakara ini akan terbebaskan dari punarbhawa, samsara atau juga disebut kelahiran kembali sehingga moksa. Moksa berasal dari akar akata “muc” yang berarti membebaskan atau melepaskan dengan sempurna. Moksa adalah bersatunya Atma dengan Paramatman. Bagi umat manusia yang telah mencapai moksa akan terbebas dari segala ikatan, baik itu ikatan duniawi, ikatan kelahiran kembali atau punarbawa, bebas dari hukum karma, bebas dari penderitaan, dan akan menjalani keadaan yang disebut “Sat Cit Ananda”. Bila dikaji lebih mendalam ajaran pancamakara demikian agung dan memiliki rahasia yang dalam. Itulah kelebihan dari Bhairawa yang merahasiakan apa sesungguhnya yang tersurat dengan yang tersirat. Ajaran Pancamakara sesunguhnya adalah lima rahasia yang mesti diterjemahkan secara mendalam.

Makna Spiritual Pancamakara

Pertama adalah Matsya bukan bermakna makan ikan sepuas-puasnya. Tetapi tirulah ikan yang menyelam di sungai, danau, lautan yang dalam penuh gelombang, liku-liku sampai jauh untuk mencari ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan merupakan yadnya utama. Karena ilmu pengetahuan yang utama dapat memberikan penerangan pikiran manusia diwaktu kegelapan. Ilmu pengetahuan utama dapat menyebrangkan manusia dari kebodohan sehingga menghasilkan subhakarma.

Kedua adalah Mamsa yang diartikan makan daging sepuas-puasnya. Bagi bhakta Bhairawa mamsa memiliki pengertian berbeda lebih pada pengetahuan ke dalam diri. Persembahan terbaik adalah sebagian atau seluruh tubuh yang dimiliki manusia. Dalam kitab Upanisad juga ada menyebutkan hal ini sehingga ada kesamaan pandangan antara kitab Upanisad dengan Bhairawa. Dalam ajaran Bhairawa mengedepankan pengenalan pada diri sendiri dengan berbagai pertanyaan yang mesti dijawab sendiri. Seperti siapa diri ini, mau kemana, kapan dan oleh siapa serta pertanyaan-pertanyaan yang lainya. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengarahkan manusia pada jalan kebebasan. Karena para bhakta Bhairawa diajarkan menguasai ego dan liarnya pikiran ada kesamaan dengan ajaran Rsi Patanjali.

Ketiga adalah Mada yang diartikan minuman memabukkan. Bhakta Bhairawa memaknai bahwa Mada adalah minumlah sepuas-puasnya ilmu pengetahuan yang didapat, sehingga dapat menguasai diri dengan baik. Teguklah pengetahuan sejati sampai mabuk dengan spiritualitas. Hanya dengan minum ilmu pengetahuan maka penguasaan diri dari indria, ego dan sifat-sifat lainya dapat dikuasai serta di manfaatkan dengan baik dan benar sesuai dengan fungsinya.

Keempat Maituna berarti: berhubungan badan atau melakukan hubungan sex. Bagi bhakta Bhairawa, Maituna bermakna berhubungan dengan ilmu pengetahuan sejati. Dengan melakukan hubungan badan dengan ilmu pengetahuan sejati maka orgasme spiritual akan didapat. Menyatukan atma dengan brahmán itulah yang dimaksud dengan maituna. Karena dibyabhawa jauh lebih nikmat dari pasuabhawa. Pasuabhawa hanya sesaat, yaitu hanya disaat orgasme terjadi. Sedangkan dibyabhawa merupakan orgasme yang berkelanjutan yang berlangsung lama dan terus menerus (multiorgasme).

Kelima adalah Mudra yang diartikan gerakan ritmis yang penuh dengan unsur mistis religius. Bagi bhakta Bhairawa Mudra merupakan tingkatan peleburan antara tat dan sat. Peleburan antara atman dan brahmán menyatu, sehingga atman dan brahmán tidak dapat dibedakan, keduanya menyatu dengan sempurna. Pada tingkatan ini tidak ada derita atau suka tanpawali duka, juga disebut mukti atau alam nirwana. Mempelajari mudra harus didasari dengan menjalankan ajaran matsya, mamsa, mada, dan maituna secara serius dan sempurna.

Ajaran pancamakara dapat dikuasai secara sempurna wajiblah memahami ajaran Tri sadhana atau Tri Karana yang terdiri dari: (1) Jnana bhyudraha, yang bermakna dapat memahami segara tattwa atau filsafat kerohanian.(2) Indria yoga marga yang bermakna dapat mengendalikan keterikatan inderia terhadap ikatan duniawi. Dan (3) Tresna dosa kyasa yang bermakna dapat menghilangkan rasa keterikatan pada hal-hal yang bersifat duniawi.

Kelima konsep dasar di atas (pancamakara) merupakan cara untuk mencapai tujuan akhir Bhakta Bhairawa. Yaitu mencapai Brahman dengan kebenaran pengetahuan, sehingga kebebasan dan kebahagiaan sejati dapat terwujud. Sejalan dengan tujuan akhir agama Hindu adalah “Moksartham Jagadhita Ya Ca Itih Dharma”. Jika dimaknai lebih dalam, inti dari tujuan akhir ini ada dua tujuan, yaitu (1) jagadhita merupakan sejahtera di dunia dan (2) moksartham adalah kebahagiaan di akhirat. Yang diaplikasikan ke dalam tujuan hidup manusia. Menurut ajaran agama Hindu ada empat tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusa Artha yaitu dharma, artha, kama dan moksa. Dharma, artha, kama merupakan tujuan untuk mendapatkan kesejahteraan di dunia atau jagadhita. Dan moksa merupakan tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat atau moksartham.

Jaman Kaliyuga atau Kalisangghara ini hanya mempelajari, menjalankan dan memahami secara utuh ajaran Bhairawa akan dapat mencapai kebebasan yang sempurna. Melaksanakan ajaran Bhairawa akan menuntun pada tujuan yang sama dan juga sekaligus memenuhi kebutuhan manusia, yaitu kebebasan yang sempurna, kebebasan yang absolut sehingga tercapai purnammukti. Purnammukti merupakan kebebasan yang tertinggi dicapai oleh Atma, di mana Atma telah bersatu dengan Brahman. Atman bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi sebagai sumbernya, dan pada saat inilah istilah “Brahman Atman Aikyam” yang artinya Atman dan Brahman sesungguhnya tunggal dapat terwujud.

Selanjutnya......

Mitos Bhairawa yang Seram dan Liar

Bhairava berarti menakutkan dan itu adalah sebuah kata sifat diterapkan Shiva dalam aspek menakutkan. Namun di Kashmir Shaivism, tiga huruf dari nama ini diambil dengan cara yang berbeda Bha berarti bharana (pemeliharaan), Ra berarti Rahwana (penarikan) dan va berarti wamana (penciptaan alam).

Dalam puja pengguna Bhairava Upasana, menggambarkan penyembahan Vatuka Bhairava, atau Bhairava sebagai seorang anak kecil, dan memberikan mantra sebagai hrim vatukaya apadudharanaya kuru kuru batukaya hrim. Namun, pekerjaan yang sama memberikan dhyanas, atau gambar meditasi Vatuka Bhairava sebagai terdiri dari tiga Gunas dan juga secara terpisah sebagai Vatuka di sattvik-nya, rajasik dan tamasik. Dalam bentuk sebagai ketiga guna, ia digambarkan sebagai seperti kristal murni, berkilau seperti sinar matahari dari 1.000, bersinar seperti awan badai safir dan mengenakan busana berwarna safir. Dia memiliki tiga mata, delapan lengan, empat lengan dan dua lengan, tergantung pada dominan guna, memiliki mulut, bertaring menganga menakutkan, dan korset dan gelang ular hidup. Dia adalah digambara (telanjang sebagai ruang), Dia adalah pangeran-tuan (Kumaresha), dan sangat kuat.

Di tangan kanannya ia memegang tongkat dengan tengkorak di bagian atas (khatvanga), pedang, tali dan trisula. Tangan kirinya memegang berbentuk jam pasir damaru drum, tengkorak, ia menunjukkan mudra anugerah menganugerahkan dan memegang ular.

The dhyana sattvik menggambarkan Vatuka Bhairava sebagai kristal dan seputih bunga Kunda, mengenakan pakaian surgawi dan sembilan permata, dari penampilan menyala, dihiasi dengan gelang lonceng, memiliki wajah cerah, cantik dan tampan, dengan tiga mata. Dia memiliki dua tangan, salah satunya wields trisula (Shula).

The dhyana rajasik mengatakan dia menyerupai matahari terbit, dengan tiga mata, dengan kaki merah, dalam empat tangannya menunjukkan anugerah tanda menganugerahkan, dan memegang tengkorak. Dalam salah satu tangan kirinya ia memegang trisula dan dengan lainnya menunjukkan mudra (gerakan tangan) takut mengusir. Dia memiliki tenggorokan, biru berhiaskan berlian, di dahinya adalah fragmen (kala) dari bulan sabit dan dia memakai baju merah sebagai bunga banduka.

Yang terakhir, tamasik dhyana, memiliki Vatuka Bhairava sebagai telanjang bulat, berwarna biru, dengan rambut memerah, dengan taring menakutkan, tiga mata, gelang dari gemerincing lonceng, dan dengan delapan lengan.

Bhairawa Simbol Penghancur Belengu dan Mitos
Bhairava (The murka) merupakan salah satu aspek yang lebih menakutkan dari Siwa. Ia sering digambarkan dengan mengerutkan kening, mata marah dan tajam, gigi harimau dan rambut menyala, telanjang bulat kecuali untaian tengkorak dan ular melingkar di lehernya. Dalam empat tangannya ia membawa tali, trisula, drum, dan tengkorak. Ia sering ditampilkan disertai oleh anjing.

Bhairava adalah Shiva paling menakutkan. Dia dapat dipahami sebagai manifestasi tertentu, atau emanasi dari Siwa, atau sebagai Siwa menampilkan dirinya pada tingkat yang sangat tinggi. Dalam beberapa mitos, Siwa menciptakan Bhairava sebagai perpanjangan dari dirinya sendiri, untuk menghukum Brahma. Bhairava adalah perwujudan dari rasa takut, dan dikatakan bahwa mereka yang bertemu dengannya harus menghadapi sumber ketakutan mereka sendiri. Namanya menggambarkan efek dia atas mereka yang melihat-Nya, karena berasal dari kata bhiru, yang berarti menjadi takut - rasa takut yang luar biasa.

Dalam beberapa sumber, Bhairava sendiri dikatakan memiliki delapan manifestasi, termasuk Kala (hitam), Asitanga (dengan kaki hitam), Sanhara (penghancuran), Ruru (anjing), Krodha (kemarahan), Kapala (tengkorak), Rudra (badai) dan Unmatta (mengamuk). Anjing (terutama anjing hitam) sering dianggap sebagai bentuk yang paling tepat pengorbanan untuk Bhairava, dan dia kadang-kadang ditampilkan sebagai memegang kepala manusia, dengan anjing menunggu di satu sisi, untuk menangkap darah dari kepala.

Siklus legenda yang sangat berhubungan dengan dewa ini bercerita tentang pertemuan antara Bhairava dan sekelompok penghuni hutan bijak. Peristiwa yang mengarah ke sana secara singkat dapat diringkas sebagai berikut: Brahma, Sang Pencipta, bernafsu dan tumbuh empat kepala agar dia terus bisa melihat kecantikan Satarupa yang Ia ciptakan dari separo badannya sendiri. Dalam menciptakan keempat kepala, Brahma membagi dunia ke dalam empat arah, karena keinginannya untuk itu yang tidak lagi ada di dalam dirinya sendiri. Dikatakan oleh beberapa sumebr, bahwa keinginan Brahma untuk dewi ciptaanya disebabkan oleh Kama (keinginan) yang lahir darinya.

Malu dengan perhatian dari Brahma, Satarupa terbang di angkasa, dan dengan tiba-tiba kepala yang kelima dari Brahma tumbuh menghadap ke atas, sebagai pusat dari empat kepala lainnya. Brahma mengulurkan tangan kepada Satarupa untuk untuk berkenan tinggal bersama sebagai suami istri. Menyaksikan hal ini, Shiva memenggal kepala kelima Brahma dengan pedangnya (dalam beberapa versi dari mitos Bhairava hanya menggunakan kuku ibu jari kirinya).

Dalam tindakan pembunuhan, Shiva-Bhairava menjadi 'Kapalini' atau tengkorak, nama yang juga mengacu pada sekte tantra tertentu. Tengkorak kepala Brahma yang kelima yang sudah terpenggal ini kemudian menempel terus di tangan Dewa Shiva dan meskipun dirinya dewa, Shiva-Bhairava tetap harus menebus dosanya. Dan untuk melakukannya, Bhairava menjadi peminta-minta, untuk mengembara meminta sedekah dengan menggunakan tengkorak kelima dari Dewa Brahma. Ini kemudian disebut menjadi dasar sumpah Kapalika, yang mengembara dunia, meminta sedekah, hingga tengkorak jatuh dari tangannya.

Sementara itu, saat Ia mengembara melalui hutan besar, Bhairava ditemui sekelompok orang bijak asketis (pertapa yang mengasingkan diri). Orang bijak berlatih di pertapaan dan cenderung memuja api suci ini tidak mengakui Shiva-Bhairava yang muncul sebagai pengemis telanjang, apalagi hanya membawa mangkuk dari tengkorak. Karena ditolak oleh para sadhu ini, Bhairawa melolong dan menari, muncul sebagai orang gila dengan wajah hitam. Tidak hanya ini penampakan mengejutkan mengganggu ritual dari orang bijak, ia juga tertarik wanita mereka.

Selanjutnya, Bhairava meninggalkan hutan didampingi oleh para wanita dari orang bijak. Dia muncul di rumah Wisnu, dimana perjalanannya dilarang oleh Visvaksena, penjaga pintu Wisnu, yang tidak mengakui Bhairava. Para penjaga pintu malang yang dibunuh oleh Bhairava, menggunakan trisula (senjata umumnya terkait dengan Shiva). Bhairava menari membawa mayat Visvaksena dan tengkorak penuh darah sampai ia mencapai kota suci Varanasi (Banaras), setelah itu ia dibebaskan dari sumpah tengkorak, setelah tengkorak di tangannya lepas jatuh berkeping-keping.

Bhairava adalah salah satu tokoh paradoksal mitos India - ia telah melanggar semua belenggu. Dia telah memutuskan salah satu kepala Sang Pencipta, membunuh penjaga pintu Wisnu, pemelihara, ia menari telanjang, disertai oleh perempuan (dan dalam beberapa versi dari mitos, Vishnu), dan ia muncul sebagai sosok horor dan ekstasi.

Hutan Mitos-siklus juga jelas menampilkan aspek liar Siva. Dia menghina orang bijak pertapa di hutan, yang berlatih pertapaan, ia menggoda istri-istri mereka dan, oleh jatuhnya lingam.

"Di gunung ada sebuah hutan yang indah yang disebut hutan Daru, di mana orang bijak banyak tinggal ... Shiva sendiri, dengan asumsi bentuk aneh, datang ke sana untuk menempatkan iman mereka. Benar-benar telanjang, ornamen-satu-satunya adalah abu yang melumuri seluruh tubuhnya. Ia berjalan sambil memegang penisnya kemudian ia memamerkan dengan trik yang paling bejat.. "

".... Kadang-kadang ia menari, kadang-kadang ia menyuarakan jeritan, Dia berkeliaran di sekitar pertapaan-pertapaan seperti seorang pengemis. Meskipun penampilannya yang aneh dan warna kecokelatan, wanita yang paling suci tertarik kepadanya. Mereka membiarkan rambut mereka jatuh terurai dan kemudian berguling-guling jatuh di tanah. Mereka saling menempel satu sama lain dan mereka membuat gerakan nakal padanya, bahkan di hadapan suami mereka.

Orang bijak menangis, ini Shiva yang membawa trisula memiliki tubuh pertanda buruk. Dia tidak memiliki kesopanan. Dia telanjang dan sakit-buatan. Dia tinggal di perusahaan roh jahat dan goblin jahat "-. (Shiva Purana, dikutip dalam Danielou P55-56).

Para Kapalikas adalah sebuah sekte sub-dari Pasupatas. Mereka pergi telanjang, menggunakan tengkorak manusia sebagai mangkuk makanan, bermandikan abu kremasi dari jenazah. Kapalikas percaya bahwa kekuatan magis yang besar dapat ditransfer dengan mengambil ideasi dari Bhairava. Melalui identifikasi dengan dewa, para Kapalikas mengambil kekuasaannya.

(Putrawan, disarikan dari berbagai sumber)

Selanjutnya......

Mantra untuk Bhairawa

Siwa Bhairawa yang bertangan delapan bernama Watuka Bhairawa dan yang bertangan empat disebut Svarnakrsna Bhairawa. Disamping dua bentuk tersebut, Bhairawa juga menampakkan diri menjadi 64 perwujudan Bhairawa lainnya yang sangat hebat.

Ada pun mantra untuk pemujaan Bhairawa adalah sebagai berikut, yang diambil dari Haidakhand Ashram, Denpasar.

Om Namah Shivaya
Om Sri Bhairavay Namah

1. Bhairavo bhutanathashca bhutatma bhutbhavanah
Ksaitrajnah ksetrapalascha ksetradah ksatriyo virat.

2. Shmashanavasi mansashi kharparashi smarantakrit
Rakhtapah panapah siddhah siddhidah siddhah sevitah.

3. Kankalah kalashamanah kalakasthatanuh kavih,
Trinetro bahunetrasca tatha pingala locanah.

4. Shulapanih khadgapanih kankali dhumralocanah
Abhiruh bhairavinatho bhutapo yoginipatih.

5. Dhanado dhanaharica dhanavan pratibhanavan.
Nagaharo nagapasho vyomakeshahkapalabhrit.

6. Kalah kapalamalica kamaniyah kalanidhih.
Trilocano jvalannetra strishikhi ca trilokapah.

7. Trinetratanayo dimbhah shantah shanajanapriyah
Batuko bahuvesashca khatvangavaradharakah.

8. Bhuta dhyaksah pashupatirbhiksukah paricarakah.
Dhurto digambarah shuro harinah pandulocanah,

9. Prashantah shantidah siddhah shankara-priyabhandhavah
Astamurtirnidhishascha jnanacaksustapomayah.

10. Astadharah sadadharah sarpayuktah shikhisakhah.
Bhudharo bhudharadhisho bhupatirbhudharatmajah.

11. Kankaladhari mundi ca naga yajnopavitavan.
Jrimbhano mohanastambhi marana ksobhanastatha.

12. Shuddhonilanjana prakhyo daityaha mundabhusitah
Balibhugbalibhunnatho balobalaparakramah.

13. Sarvapattarano durgo dustabhuta nisevitah.
Kami kalanidhih kantah kaminivashakridvashi

14. Jagadraksakaro nanto maya mantrausadhimayah.
Sarvasidhiprado vaidyah prabhuvisnu ritivahi

15. Astottarashatam namnnam bhairavasya mahatmanah
Mayate kathitam devi rahasyam sarvakamadam

16. Ya-idam pathate stotram namastashatamuttamam
Na tasya duritam kincin na ca bhutabhayam tatha.

17. Na ca maribhayam tasya graha rajabhayam tatha,
Na shatrubhyo bhayam kincit prapnuyanmanavah kvanchit

18. Patkanam bhayamnaiva ya pathet stotrammutamam
Sarvasiddhi mavapnoti, namastshat kirtanat.

Om bam batukaya apadudharanay kuru kuru batukaya
Bam Om Namah Shivaya

Artinya:

Bhairav Mantra

Om, di satu tanganNya Dia memegang sebuah tengkorak. Dan di tangan yang lain memegang sebuah tongkat dan Dia memakai anting-anting. BadanNya berwarna biru yang sangat gelap dan memakai ular-ular sebagai benang suci. Pada saat Havan, Dia adalah yang membersihkan segala hambatan. Kemenangan pada Tuanku Batuka, pemberi siddhis (kekuatan spiritual) kepada para pemujanya.

Bhairav, penguasa semua makhluk, jiwa dari semua makhluk, yang mengampuni semua makhluk hidup, maha tahu, maha pemberi dan yang melindungi dunia, maha pelindung, yang tertinggi. Dia tinggal di tempat pembakaran mayat, memakan daging dan makan di tengkorak manusia, memusnahkan segala nafsu.

Dia adalah peminum darah dan anggur (wine), seorang siddha (makhluk yang sempurna), pemberi siddhis (kekuatan spiritual), Dia bersatu dengan siddha.

Dia seperti sebuah kerangka manusia, mengalahkan waktu, semua arah ruangan adalah badanNya, dan Dia adalah seorang penyair. Dia memiliki tiga mata, banyak mata dan mataNya berwarna kuning.

Dia memegang sebuah trisula, sebuah pedang, Dia seperti sebuah kerangka manusia dan memiliki mata yang berasap, Dia tidak ada rasa takut, penguasa Bhairava, pelindung seluruh makhluk hidup dan penguasa para yogi.

Dia yang memberikan kekayaan dan Dia juga yang mengambil kekayaan itu. Dia yang terkaya dan Dia sangat pintar. Dia memakai kalung ular-ular dan juga memiliki senjata dari ular, rambutNya seperti langit dan Dia memegang sebuah tengkorak.

Dia seperti kematian itu sendiri, memegang tengkorak, cantik dan ahli seni. Dia memiliki tiga mata yang terbakar, seperti tiga nyala api dan Dia adalah pelindung ketiga dunia.

Dia adalah anak mata ketiga Deva Shiva, Dia seperti rahim kosmik, sangat damai. Dia seperti anak laki-laki dan juga memiliki banyak wujud yang lain, Dia memiliki sebuah senjata yang indah di satu tanganNya.

Dia adalah penguasa semua makhluk hidup, penguasa semua binatang, seorang pengemis dan seorang pelayan. Dia telanjang seperti langit, cerdik, berani, tajam dengan mata berwarna kuning.

Dia penuh kedamaian, pemberi kedamaian, sempurna, saudara kesayangan Shiva. Dia memiliki delapan wujud dan Dia adalah penguasa kemakmuran, Dia memiliki mata ilmu pengetahuan dan wujud tapasya.

Dia mewakili delapan aspek dan enam dasar emosi, Dia dihiasi dengan ular-ular dan Dia adalah teman dari Tuan Kartikeya. Dia adalah penopang bumi, penguasa bumi dan gunung-gunung dan anak Devi Parvati.

Dia memegang tengkorak-tengkorak manusia dan memakai sebuah mala dari kepala-kepala manusia dan ular-ular adalah sebagai benang suciNya. Dia membuat orang-orang tidak sadarkan diri, memikatnya dan kemudian melumpuhkan mereka, membunuh dan menggoyangkan orang-orang.

Dia seorang yang murni, berwarna biru, dan Dia dihiasi dengan potongan-potongan kepala-kepala dari iblis. Dia adalah dewa dari pengorbanan untuk para pemujaNya. Dia seorang anak laki-laki muda, namun seorang petarung dengan kekuatan yang hebat.

Dia yang menghilangkan segala bencana, sangat sulit untuk digapai, roh para iblis melayaniNya. Dia sangat memikat dan cantik, ahli seni. Dia memikat para wanita, namun Dia sendiri bisa mengontrol diri sendiri.

Dia adalah pelindung dunia, tidak terbatas, maya, Dia adalah mantra-mantra dan kekuatan penyembuh, Dia yang memberi siddhi (kekuatan spiritual), Dia adalah seorang dokter dan Dia seperti Tuhan Visnu.

108 stotra (bait-bait) ini dengan nama-nama Bhairava yang Agung, oh Devi yang sangat misterius dan yang memenuhi segala keinginan.

Siapa pun yang mengulang bait-bait dari 108 nama-nama ini, tidak akan tersentuh oleh segala dosa dan tidak akan bisa ditakuti oleh hantu-hantu.

Segala penyakit tidak akan mempengaruhinya, planet-planet yang buruk juga tidak akan mempengaruhinya dan tidak juga akan terpengaruh oleh pemerintahan yang buruk. Dia tidak akan bisa ditakuti oleh musuh dan dilukai oleh siapa pun.

Bagi siapa pun yang membaca bait-bait yang spesial ini, tidak akan tersentuh oleh dosa, dia akan memperoleh kekuatan spiritual dengan mengulang 108 nama-nama ini. Om Bam Batuk, mohon selamatkanlah kami dari segala kesusahan, Bam Batuk, saya bersujud ke hadapan Tuhan Shiva.

Selanjutnya......

BHAIRAWA-BHAIRAWI DAN JEJAK TRADISINYA DI BALI

I Wayan Miasa

Menurut maknanya “bhairawa” berarti menakutkan atau mengerikan. Bhairawa merupakan salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam aspek peleburan dengan perwujudan yang sangat menyeramkan. Bhairawa juga dikenal dalam berbagai bahasa dengan berbagai sebutan, misalnya: Bhairava (Sanskrit), Bheruji (Rajasthan), Vairavar (Tamil) dan bila semua kata tersebut dihubungkan aspek Dewa Siwa, maka makna kata Bhairawa berarti “peleburan”.

Bhairawa sering dilukiskan dengan perwujudan fisik dengan atribut-atribut yang menyeramkan seperti memakai ular sebagai: anting-anting, kalung, gelang tangan, gelang kaki, serta memakai tali suci yang disebut “yajnopavita”. Selain itu ada juga atribut lainnya, seperti memakai kulit harimau sebagai alas tempat duduknya, sabuk dari untaian tengkorak manusia dan sebagai persembahan yang paling cocok untuk Bhairawa adalah “cicing selem”. Dan dalam beberapa hal, Bhairawa sering dilukiskan dengan perwujudan makhluk yang memegang beberapa kepala manusia dan ditunggui oleh anjing di sampingnya.

Asal mula Bhairawa
Seperti telah disebutkan diatas bahwa Bhairawa merupakan perwujudan yang paling menyeramkan dari dewa Siwa sebagai “penghancur” atau “pelebur”. Mengenai kemunculan tentang Bhairawa ini ada beberapa cerita yang berkembang dilingkungan masyarakat pemeluk Hindu.

Menurut cerita masyarakat Hindu di daerah Rajasthan, Tamil Nadu dan Nepal bahwa kemunculan Bhairawa berkaitan erat dengan penghukuman Dewa Brahma. Pada jaman dahulu bercakap-cakaplah Dewa Wisnu dengan Dewa Brahma. Dewa Wisnu bertanya, siapakan Sang Pencipta alam semesta ini. Dengan angkuhnya Dewa Brahma menyuruh Dewa Wisnu untuk menyembah Dewa Brahma, karena Dewa Brahmalah sang pencipta tertinggi di alam semesta ini. Hal inilah yang membuat Dewa Siwa marah sekali dan menghukum Dewa Brahma dengan memenggal salah satu dari lima kepala Dewa Brahma. Sehingga kepala Dewa Brahma masih tersisa empat.

Atas perbuatannya itu, Dewa Siwa dianggap bersalah karena memenggal kepala salah satu kepala Dewa Brahma dan Dewa Siwa pun dikutuk menjadi “gegendong” dengan membawa mangkok dari tengkorak Dewa Brahma dan “Bhairawa” ini disebut “Kapalin” atau gegendong dengan mangkok dari tengkorak. Dan sejak itu sang Bhairawa terus meraung dan menari, dengan bernampilan seperti orang gila dengan wajah hitam. Dia juga terus mengganggu upacara para “sadhu”, juga mengambil istri-istri para “sadhu” tersebut sehingga “lingga” sang Bhairawa dikutuk dan “lingga” ini jatuh dan berubah menjadi pilar api yang membara.

Sang “Kapalin” terus meminta-minta dan menari. Pada suatu saat tibalah Dia di kediaman Dewa Wisnu, dimana kehadiran sang “gegendong” dihalang-halang sang penjaga pintu Dewa Wisnu, yang bernama Visvaksena. Karena menghalangi sang Bhairawa, maka sang penjaga pintu disiksa dengan trisula sampai mati. Kemudian Dewa Wisnu menyambut sang Bhairawa dengan memberikan sang Bhairawa darah dari kepala Dewa Wisnu, sang pemelihara alam semesta. Dan hal tersebut membuat sang Bhairawa senang. Dia terus berjalan, menari serta membawa mayat Visvaksena dan mangkok yang penuh berisi darah dari Dewa Wisnu. Akhirnya sang Bhairawa dengan mangkok dari kepala Dewa Brahma ini mencapai kota suci yang disebut Varanasi atau Benares, dan segera setelah sampai di daerah tersebut sang “Kapalin” dibebaskan dari kutukan Dewa Brahma.

Menurut cerita bahwa Bhairawa memiliki delapan perwujudan, seperti “Kala”(hitam), “Asitanga” (berbibir hitam), “Sanhara” (penghancuran), “Ruru”(cicing borosan), “Krodha”(kemarahan), “Kapala”(tengkorak), “Rudra”(badai), dan “Unmatta”(kekejaman).

Lingga yang Bersinar (Jyotirlingga)
Seperti diceritakan diatas bahwa “lingga” sang Bhairawa dikutuk oleh para “Sadhu”, yang mana “lingga” tersebut jatuh ke bumi yang berubah menjadi “lingga yang bersinar”. Setelah “lingga” sang Bhairawa dikutuk, ia memunculkan “lingga” baru lagi dan sang sadhu mengutuknya lagi. Menyadari bahwa “lingga” yang dikutuk tersebut milik Dewa Siwa maka sang sadhu membujuk Dewa Siwa agar beliau tenang. Dewa Siwa menjawab sebagai berikut:

“Dunia ini tidak akan menemukan kedamaian sampai ditemukan sebuah tempat untuk “lingga”(phallus) beliau ditemukan. Tidak ada tempat yang bisa memegang phallus beliau kecuali Dewi Gunung atau Parwati. Jika sang Dewi mau memegangnya maka semuanya akan tenang”.

Untuk memenuhi keinginan Sang Bhairawa tersebut maka Dewa Brahma langsung menyuruh para sadhu untuk memerciki phallus itu dengan “tirta”, membuat sebuah tempat berbentuk “vagina” (yoni) dan disertai dengan lambang sang Dewi. Selain itu doa-doa dikumandangkan, persembahan dengan diiringi musik, juga mengucapkan “Engkaulah asal sumber alam semesta”. Tenangkanlah Dirimu dan jaga alam semesta ini!

Seiring waktu, Bhairawa berkembang sesuai dengan keadaan daerah masing-masing pengikut Bhairawa tersebut, misalnya “Kapalika” atau Bhairawa dengan mangkok dari tengkorak, yang pada awalnya diberi persembahan berupa “cicing selem” kemudian di beberapa wilayah digambarkan sebagai Bhairawa yang bermandikan abu dari upacara pembakaran mayat, meminta persembahan dengan pengorbanan manusia, dan lain sebagainya.

Orang-orang menyembah “Bhairawa Kapalika”, gegendong dengan mangkok tengkorak karena para pemuja ini percaya bahwa dengan memuja sang Bhairawa ini mereka akan diberikan kekuatan magis yang luar biasa oleh Sang Bhairawa dan para pengikut Kapalika menganggap bahwa Bhairawa adalah Tuhan dari semua dewa (pencipta, pemelihara dan pelebur).

Para pengikut Kapalika memang berpenampilan yang sangat seram, memiliki kekuatan magis dan senang mempersembahkan manusia sebagai korban suci. Prabodha Chandrodaya melukiskan pengikut Kapalikas sebagai berikut:

“Kalung dan perhiasannya dari tulang-tulang manusia, tinggal di abu pembakaran mayat, makan dengan mangkok dari tengkorak manusia, melihat dengan mata mendelik…. Setelah berpuasa mereka minum cairan yang keluar dari kepala brahmana, mempersembahkan otak, paru-paru, daging serta darah segar yang mengalir dari kerongkongan untuk sang Bhairawa.”

Selain pemujaan terhadap Bhairawa, ada pula pemujaan terhadap “shakti” dari bhairawa dan para pengikutnya memuja aspkek feminine dari Bhairawa yang terkenal dengan sebutan “Bhairawi”, sebagai “Ibu Shakti” dan di Bali sering disebut Dewi Durga.

Bhairawa di Nusantara
Menurut sejarahnya, bahwa di Nusantara ini pernah berkembang ajaran Bhairawa terutama pada jaman kerajaan Singosari. Pada saat itu para pengikut Bhairawa melakukan pemujaan terhadap Bhairawa dengan melakukan “Pancamakarapuja”, versi kiri, yaitu dengan melaksanakan panca Ma: Mada, yaitu berupacara dengan mabuk-mabukan; Maudra atau menari hingga jatuh pingsan; Mamsa, yaitu makan daging bangkai, mayat dan minum darah; Matsya, yaitu makan ikan sepuas-puasnya; Maithuna, yaitu berpesta sex secara berlebihan.

Pelaksanaan acara tersebut biasanya dilakukan di Kuburan atau “setra” pada saat tilem atau bulan mati. Pada jaman itu pemujaan terhadap Bhairawa yang dilakukan raja Kertanegara adalah Bhairawa Kalacakra untuk mendapatkan kekuatan atau kesaktian. Hal ini ditujukan untuk melindungi kerajaan dari serangan raja Cina, yaitu Kaisar Khu Bhi Lai Khan yang menganut Bhairawa Heruka. Sedangkan Patih raja Singasari, Kebo Parud menganut Bhairawa Bima guna mengimbangi kekuatan Raja Bali.

Pada jaman tersebut pelaksanaan ajaran Bhairawa lebih banyak bersifat politis untuk mendapatkan kekuasaan, kharisma, kesaktian, agar para penguasa atau para bala pasukan disegani oleh lawannya. Pada jaman raja Dharma Udayana Warmadewa dan Gunapriyadharmapatni merupakan jaman berkembangnya ajaran ini, seperti tentang adanya pemujaan terhadap Bhairawi atau Dewi Durga yang mana pada jaman tersebut pemujaan dilakukan oleh Calon Arang dengan tujuan mendatangkan penyakit di kerajaan Airlangga. Pada jaman tersebut para pengikut Calon Arang melakukan upacara dengan berpesta pora di atas mayat-mayat dengan maksud agar kemauannya dikabulkan oleh Dewi Durga.

Sedangkan di Bali terutama pada masa Kebo Parud, kita bisa melihat perjalanannya sejarahnya di daerah Pejeng. Di sana ditemukan arca Bhairawa setinggi 360cm dengan fostur tubuh yang gagah, berdiri diatas tengkorak manusia. Dilihat dari posisinya, bisa dikatakan bahwa posisi semacam itu merupakan perwujudan Dewa dalam keadaan Krodha atau marah, sehingga orang sering menyebut arca tersebut Siwa Bhairawa.

Selain Arca Siwa Bhairawa, di Bali juga ditemukan arca-arca raksasa yang mirip dengan arca Siwa Bhairawa di pura Kebo Edan. Di pura tersebut terdapat banyak arca yang memiliki atribut-atribut seperti pada arca Siwa Bhairawa. Sehingga bisa dikatakan bahwa Pura Kebo Edan merupakan salah satu bukti peninggalan tentang jejak Bhairawa di Bali pada abad XIII.

Setelah abad XIV perkembangan ajaran Bhairawa semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh karena berkembangnya pola pikir manusia, dan juga banyak ritual-ritual yang dilakukan bertentangan dengan nilai kesopanan manusia, seperti melakukan seks seperti layaknya binatang, makan daging bagaikan harimau, dan lain sebagainya.

Sisa-Sisa Upacara Bhairawa Zaman Kini di Bali
Walaupun praktek persembahan ala Bhairawa telah ditinggalkan pada abad XIII, namun pengaruh persembahan ala Bhairawa masih bisa kita rasakan dalam kehidupan masyarakat Bali saat mereka melakukan yadnya, misalnya dalam upacara mereka masih memakai persembahan daging mentah, ada persembahan darah lewat “sambleh”. Begitu juga mengenai makanan yang dibuat saat berpesta ada persembahan “lawar” yaitu campuran sayur dengan daging ditambah darah mentah dari binatang. Hal semacam ini mirip dengan pemujaan yang dilakukan oleh pengikut Kapalika pada suku bangsa Dravida. Walaupun tradisinya hampir mirip dengan masyarakat kita di Bali, namun suku bangsa Dravida pengikut Bhairawa Kapalika tidak mengakui adanya sistem kasta.

Dan dalam perkembangan selanjutnya Bhairawa dan Bhairawi melahirkan para Bhuta-bhuti, serta makhluk-makhluk yang menyeramkan lainnya. Para Bhuta-bhuti ini merupakan aspek kemarahan atau krodha. Kelompok dari aspek ini adalah makhluk-makhluk yang mencerminkan kemarahan seperti raksasa, yaksa, naga, yatudhana dan pisaca dan golongannya sering disebut krodhawangsa.

Sedangkan menurut Lontar Bumi Kamulan disebutkan sebagai berikut, karena kesalahan sang Dewi Uma maka beliau dikutuk oleh Dewa Siwa dalam wujud lima Bhairawi, yaitu Sri Durga, Raji Durga, Suksmi Durga, Dahri Durga dan Dewi Durga. Dari masing-masing Durga inilah terlahir berbagai jenis makhluk menyeramkan seperti Kalika-kaliki, Bhuta Dengen, Jin, Setan, Bragala-bragali, Bebai, dan sebagainya.

Walaupun para pengikut Bhairawa-Bhairawi melakukan pemujaan dengan cara yang kurang biasa dalam jaman yang beradab ini, tetapi tujuan pemujaan mereka juga untuk mencapai Tuhan. Para pengikut ajaran ini percaya bahwa pada jaman Kaliyuga ini tidak mungkin mengikuti ajaran Weda seperti jaman Kertha, Treatha dan Dwapara yuga. Mereka percaya bahwa inilah jalan yang cocok dengan untuk jaman Kali.

Mengenai cocok atau tidak cocoknya mengenai ajaran tersebut pada jaman ini, kita harus pandai memilih sesuai dengan desa, kala, patra, apakah hal semacam itu diterima di lingkungan jaman modern ini atau tidak agar kita nanti tidak disebut “menyimpang.” Suatu harapan bagi kita semua, mudah-mudahan dalam berspiritualitas kita bisa beradaptasi sesuai dengan keadaan jaman. Om Shanti Manggalam.

Selanjutnya......

Yoga Bhairawi untuk Mencapai Ketenangan Pikiran

Bhairawi adalah Dewi darimana Sabda Ketuhanan tertinggi, nada Om terpancardan meresap ke dalam seluruh ciptaan. Beliau adalah penguasa Kekuatan Sabda Ilahi dan Api Spiritual Tertinggi yang dapat mengeliminasi semua rintangan dalam rangka pembukaan kesadaran diri sejati (the unfolment of true awareness). Bhairawi berhubungan dengan Candi, bentuk paling dahsyat dari semua Dewi. Ia adalah penguasa Dewi Mahatmya atau Durga Saptasati (kumpulan mantra stotra) yang memuat 700 sloka “keramat” penghancur dualisme; raga dwesa (ikatan cinta dan kebencian, rasa gandrung dan antipati, dan lainnya). Tapi Candi juga adalah rahmat ilahi yang menganugerahkan Catur Purusa Artha: dharma, arta, kama, moksa.

Murti atau perwujudan lain dari Bhairawi adalah Dasa Mahisasura Mardini atau 10 bala tentara penghancur raksasa Mahisasura. Raksasa Mahisasura adalah perwujudan the vital passion, khususnya kekuatan hasrat seksual yang membara (representasi topnya kekuatan kontra spiritual).

Dewi Bhairawi juga berhubungan erat dengan Dewi Tripura Sundari. Sementara Sundari dominan aspek beauty-nya, maka Bhairawi dominan aspek terornya. Keduanya eksis menyangga kesempurnaan Tuhan. Dalam jalan Tantra, seorang pendaki spiritual (sadaka) bergerak dari teror menuju beauty. Pada awalnya, kita harus kuat menahan the transforming heat and light of Bhairawi, yakni pengendalian atas pantangan-pantangan semacam mahavrata atau penolakan atas hal-hal yang kurang baik. Ini adalah teror, sebagaimana kebanyakan orang takut menghadapi berbagai pantangan meski mereka tetap menginginkan pencerahan spiritual. Setelah fase teror itu terlewati, barulah kemudian kita menikmati the cool and gentle bliss of Sundari, yakni kebahagiaan yang mantap atau sukacita anandam dan sejuknya santa, kedamaian.

Bhairawi adalah Sakti atau “permaisuri” dari Bhairawa, bentuk Siwa yang dahsyat dan menakutkan. Bhairawa juga dikenal dengan nama Rudra, the howler; Dia yang mengaum. Karena merupakan sakti dari Rudra, Bhairawi juga dikenal dengan nama Rudrani. Siwa Yang Tertinggi dari semuanya mewakili eternal peace atau kedamaian tertinggi. Kedamaian tertinggi itu diperoleh sebagai pahala atas rasa takut yang ditebarkan Rudra, yakni rasa takut untuk hidup bergelimang dosa. Jadi, siapa yang takut oleh murka Rudra akan mencapai Siwa (kedamaian).

Dari seluruh paparan tentang sifat hakikat dan perwujudan Bhairawi, jelas terlihat bahwa Beliau adalah Dewi Kekuatan Yang Paling Mengagumkan, bahkan sebuah bab dalam Yajur Weda yang berisi Gita Rudra dimaksudkan untuk memuja Bhairawi. Kekuatan Bhairawi laksana api yang berkobar, sehingga tidak seharusnya seseorang mencoba-coba dan iseng untuk menggetarkanNya. Kecuali apabila mereka cukup dalam “pemujaan api” dan melempar seluruh gumpalan ego ke dalam api itu yang melekat dalam pikiran dan hati. Hanya dengan demikian rahmat Ibu Bhairawi mengalir bagai air sejuk pegunungan, mengubah panas terik penderitaan hidup menjadi kesejukan dalam anandam dan kedamaian.Atau sebaliknya jika seseorang melakukan pemujaan sambil mengobarkan api kebencian atau kepentingan egoistik lainnya, tidak diragukan lagi mereka itu adalah penerus tradisi Calon Arang.

Bhairawi digambarkan sebagai sosok Dewi yang amat cemerlang, bagaikan ribuan matahari, dengan tiga mata, bermahkota batu permata dengan hiasan bulan pada kepalaNya. Wajahnya diliputi cahaya spiritual seperti lotus nan indah, mencerminkan anandam dengan senyum menebar rahmat. Dia mengenakan busana sutra berwarna merah, dadanya berlumuran darah segar, lehernya dihiasi untaian kalung kepala manusia. Empat tanganNya masing-masing membawa aksamala, pustaka dan membuat gerakan jnanamudra dan waramudra.

Bhairawi duduk di atas mayat atau dalam pose yang lain, Beliau nampak duduk di atas teratai merah. Karakteristik puncak dari Dewi Bhairawi adalah kobaran api (blazing light) karena Bhairawi adalah personifikasi dari light and fire atau mewakili the victory of the light. Dewi Bhairawi tidak membawa senjata karena tubuhNya sendiri adalah kekuatan penghancuran tertinggi. Kobaran apiNya terlalu dahsyat untuk menghancurkan kekuatan apa pun.

Seperti halnya pemujaan terhadap aspek Dewi-Dewi lainnya, penggambaran di atas, hendaknya diselami pada tataran kedalaman maknanya (filosofis). Bentuk pemujaan atau meditasi terhadap Bhairawi berhubungan dengan teknik-teknik rahasia pembangkitan prinsip api semesta pada Muladhara Cakra, diajarkan secara khusus dalam Kundalini atau Laya Yoga.

Cara lain dalam pemujaan Bhairawi adalah melalui meditasi inner light yang realisasinya hanya dialami melalui penglihatan mata ketiga. Dalam pencapaian itu, inner light dan inner sound (nada) berjalan bersama. Metode yang dikembangkan beberapa perguruan spiritual yang mengajarkan “ Jalan Cahaya dan Suara.”

Tapas adalah jalan lain dalam rangka perolehan karunia Ibu Bhairawi. Dikatakan bahwa tanpa concentrated energy (tapas) upaya membangun jalan spiritual akan sia-sia. Oleh sebab itu aspiran spiritual harus dengan teratur menjalani praktek tapa terutama menyangkut sadhana catustaya. Sasaran pokok tapas dalam rangka Yoga Bhairawi adalah mencapai silence the mind. Kualitas ini dicapai melalui persembahan pikiran (dengan semua wrtti citta-nya), ke dalam “api kesadaran” yang berada pada titik pusat keheningan manas (pikiran). Alternatif sadhana yang tujuannya juga sama dapat dilakukan melalui persembahan pikiran ke dalam mantra Bhairawi sendiri.

Bentuk pemujaan eksoteris kepada Bhairawi adalah melalui Homa, Hawana atau Agni Hotra (vedic fire sacrifice). Sedangkan penghayatan internalnya dilakukan melalui sikap mental, bahwa seluruh persembahan dalam agnihotra itu adalah pengorbanan semua hasrat keinginan duniawi, emosi negatif dan kecenderungan egoistis lainnya ke dalam api kundalini di dalam muladhara cakra. Kesadaran mental ini dimaksudkan untuk menarik pikiran dan indriya-indriya yang diwakili oleh kekuatan wak (wicara, gelombang dari pikiran yang berhubungan dengan keinginan) dari pusat suara dalam kerongkongan (pita suara) agar tenggelam dalam dasar tulang belakang (tulang ekor) untuk bersatu dengan light of silence; nada atau Omkaradhwani (manifestasi suara kundalini yang samar).

Bhairawi mantra terdiri dari tiga suku kata: Hsraim Hsk Lrimhssrauh. Mantra ini mengandung kekuatan untuk menemukan atau membongkar semua kecenderungan negatif dalam pikiran. Mantra ini juga diyakini sebagai mantra yang memberi pengaruh sangat kuat “mengebor” sampai ke dalam psikis kita, kemudian menampilkan semua energi negatif yang ditemukan itu serta menghancurkannya ke dalam kobaran api spirit mantra. Bagaikan nyala obor, pengaruh mantra ini menuju ke sudut yang tersembunyi dari pikiran kita dan mengeluarkan semua rahasia kegelapan yang ada di dalamnya.

Menurut para praktisi Tantra Yoga, penggunaan mantra ini hendaknya dilakukan secara hati-hati, penuh kewaspadaan serta di bawah pengarahan seorang Guru yang betul-betul menguasainya. HS adalah suara desisan yang menyebabkan bangkitnya inner power (tenaga dalam) atau kundalini fire energy yang amat dahsyat dan bahkan sangat berbahaya. HSR adalah suara kobaran api yang tajam.

Bhairawa (aspek Siwa yang murka) atau gabungan dari Brahma, Wisnu dan Siwa adalah dewata penguasa mantra ini. Semua mantra yang berisi swaha juga dimaksudkan untuk memperoleh anugerah Bhairawi agar mantra tersebut mendapat the power of supreme word. Swaha adalah seruan terhadap sakti Agni (divine fire) dan otomatis berhubungan dengan Bhairawi yang mewakili agni (api), widyut (cahaya) dan Surya (matahari).
(Sumber: Kadek Yuhiantara dan Chandika Sila Ulati Dewi, Rahasya Pemujaan Sakti Durga Bhairawi).

Selanjutnya......

MIRAS DAN PEMUJAAN BHIRAWA -BHAIRAWI

I Nyoman Tika

Kita kembali perlu mengungkap pemujaan Bhairawa dan Bhairawi dalam konteks beragama Hindu. Alasannya (1) Miras (minuman keras) kerap hadir dengan tragedi mengerikan di Bali. (2) Ada semacam ambigu dalam sistem nilai di umat Hindu, bahwa arak dan berem, dibutuhkan untuk upacara tetabuhan disatu pihak, dan mabuk-mabukkan dilarang oleh agama Hindu dipihak lain (3) Generasi muda telah terpapar dengan budaya luar, yang semakin marak, dan sengaja dibangun untuk membuat wisatawan datang dan betah ke Bali, (4) tokoh agama Hindu dengan majelis umatnya (PHDI) belum banyak mengambil peran dalam memfiltrasi budaya asing yang merongrong dan bertentangan dengan nilai-nilai agama Hindu.

Di bingkai itu, Bali tak akan pernah steril dari kasus penyelewengan miras, baik secara fisik, sebagai peminum yang mabuk berhujung maut, maupun sindikasi yang tak segan dilakukan oleh para pejabat dan petugas, sehingga keracunan moral oleh miras seakan terus membuat mabuk juga dalam dimensi duniawi, yang kerap membutakan mata bhatin. Lalu, apakah umat Hindu yang duduk di birokrasi dapat memerankan diri sebagai pengabdi yang berpegangan dalam bentuk Bhakti Yoga?

Kalau sudah kalap dan korupsi, sulit mengamalkan ajaran Bhakti Yoga, sebab ajaran ini perlunya pengendalian pikiran dalam segala keadaan, memaparkan ketegasan, tekad yang teguh untuk hanya mengamalkan ajaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari, dan juga mengajarkan santrupti, yaitu selalu merasa senang dalam semua situasi.

Arti yang lebih dalam ialah, bahwa seorang umat (bhaktas) tidak boleh terpengaruh atau mementingkan hal-hal duniawi. Gunakan waktu dan tenaganya untuk mengendalikan keresahan pikiran dan membina keteguhan hati. Santrupti adalah kebahagiaan sejati yang berasal dari keseimbangan batin, tidak terpengaruh baik oleh kemenangan atau kekalahan, keuntungan atau kerugian, kegembiraan atau kesedihan. Oleh karena itu, pengabdian atau santrupti adalah perasaan kasih dan kepuasan batin yang mantap, bukannya hal yang selalu berubah bersama waktu. Anjurannya, adalah terimalah apa yang terjadi, apa pun yang dialami, sebagai karunia Tuhan untuk dinikmati dengan puas dan anggaplah hal itu sebagai anugerah kasih yang diberikan demi kebaikan kepada kita. Sikap yang sama terhadap semua orang dan segala sesuatu disebut santrupti atau kebahagian sejati.

Dalam pikiran sempit, arak oplosan, dianggap dapat membawa santrupi dalam kehidupan yang semakin sesak, namun sejatinya arak oplosan lebih sering membebaskan roh dengan badan. Ketika wiweka tak pernah hadir maka, buta kala yang semestinya diberikan tetabuhan di luar diri, akhirnya masuk kedalam diri. Manusi menjelma menjadi “buta kala beneran”.

Ketika menjadi buta kala, manusia yang mengkonsumsi arak sampai mabuk dan mati. Orang-orang bersedih, bukan karena aura dan jiwa yang melayang dengan sia-sia dari tubuh generasi warga bangsa. Namun kita bersedih untuk sebuah iktihar yang tak pernah selesai dan buntu. Kondisi ini seakan mengesahkan bahwa kita semua hidup di negara dengan problem kekacauan transparansi yang bersifat endemik, sehingga mirip bak kapal tanpa nakhoda.
Sebuah iktihar yang dirindukan itu adalah sebuah kondisi kehidupan masyarakat yang lebih baik, dengan tatanan sosial yang harmoni, berpegangan pada nilai luhur agama yang adi luhung, tetapi negara gagal membuat warganya menikmati rekayasa kultur untuk maju bersama, karena dikomandani mereka yang jaus kekuasaan, mereka yang ada di puncak kekuasaan untuk bisa menari dengan sebuah tarian penggelapan semata, lupa pada tugas mensejahterakan rakyatnya. Yang hadir adalah para penguasa korup seperti lintah pengisap darah yang bertopeng atas nama abdi negara. Kepatalan ini memang kerap kita mengkaitkan apakah ada yang keliru dalam pemujaan dengan tetabuhan ini. Upacara ini adalah bagian dari tradisi Tantrayana, dan dari mana mulainya sehingga sampai ke Bali?

Menurut catatan sejarah, Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, saat diserang oleh tentara Kerajaan Kediri (1292) sedang pesta makan minum sampai mabuk. Kenyataannya adalah bahwa pada saat serbuan tentara Kediri tersebut Kertanegara bersama dengan para patihnya, para Mahãwrddhamantri dan para pendeta-pendeta terkemukannya sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana.

Faham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara-cara khusus. Bhairawa berkembang hingga ke Cina, Tibet, dan Indonesia. Di Nusantara masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan terdapat pada prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan Tibet. Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan purbakala yaitu: Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas Sumatra barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara – Raja Singasari Jawa Timur, serta oleh Adityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit, dan Bhairawa Bima di Bali yang arcanya kini ada di Kebo Edan – Bedulu Gianyar.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa dalam upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana, yaitu cara yang dilakukan oleh umat Hindu/Budha untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup, karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah meninggal, sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut dengan Upacara ritual Pancamakarapuja. Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 hal, yaitu (1) Mada atau mabuk-mabukan, (2) Maudra atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan, (3) Mamsa atau makan daging mayat dan minum darah, (4) Matsya atau makan ikan gembung beracun, (5) Maithuna atau bersetubuh secara berlebihan. Namun semua ini perlu ditafsirkan ulang, sebab mabuk-mabukkan yang dimaksud bukan oleh minuman, tetapi mabuk ketuhanan.

Untuk mengungkapkan perkembangan Tantrayana di Bali, maka uraian tidak bisa lepas dari hubungan Bali dengan Jawa Timur, yang dimulai dengan perkawinan Raja Dharma Udayana Warmadewa di Bali dengan seorang putri raja Jawa Timur yang bernama Sri Gunapriyadharmapatni. Beliau adalah putri Makutawangsawardhana, sedangkan Makutawangsawardhana adalah cucu raja Sindok. Pada masa pemerintahan Raja Sindok di Jawa Timur Tantrayana telah berkembang. Pada waktu itu telah disusun kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah agama Budha Tantra. Kemungkinan, bahwa Sri Gunapriyadharmapatni atau Mahendradhatta pun telah terpengaruh oleh aliran itu di tempat asalnya di Jawa timur, sebab di Bali jaman pemerintahan raja Dharma Udayana Warmadewa dan Gunapriyadharmapatni merupakan jaman hidup suburnya perkembangan ilmu-ilmu gaib.

Cerita Calon Arang yang sangat terkenal di Bali dihubungkan dengan kehidupan Mahendradhatta. Di dalam Lontar Calon arang ada diuraikan bagaimana memuja Hyang Bhairawi atau Dewi Durga untuk mendatangkan wabah penyakit di dalam negeri Kerajaan Airlangga. Calon arang dan muridnya menari-nari di atas mayat-mayat yang telah dihidupkan kembali untuk persembahan Dewi Durga sebagai korban agar semua kehendaknya bisa dikabulkan. Cara-cara seperti itu adalah hal yang biasa di dalam Tantrayana.

Permaisuri Mahendradhatta mangkat lebih dahulu dari raja Udayana dan didharmakan di Burwan, Kutri, Gianyar. Di tempat itu beliau diwujudkan dalam bentuk arca besar Durgamahisasuramardhini. Arca itu merupakan Bhatari Durga yang sedang membunuh asura (setan) yang berada pada badan seekor kerbau besar). Arca itu menguatkan dugaan orang bahwa Mahendradhatta sebagai penganut ajaran-ajaran ilmu gaib dan Dewi Durgalah yang menganugerahi kesaktian. Kendatipun dalam cerita calon arang banyak keadaan yang bercampur baur dan keliru, tapi mungkin ada dasar-dasarnya yang benar bahwa Mahendradhatta dilukiskan sebagai Calon Arang. Dengan demikian maka kemungkinan pada sekitar abad X Tantrayana telah berkembang di Bali.

Miras dan pemangku kebijakan
Para pemangku kebijakan publik tak pernah peka akan teriakan rakyat, tetapi yang dengar adalah bagaimana mereka bisa dipilih kembali, kegiatan apa yang dilakukan agar kantung suara tetap membengkak. Potensi generasi muda sebagai penerus kebudayaan, tak pernah mendapat tempat untuk dipikirkan secara sistimatis. Padahal generasi muda itu termasuk kelompok pada fase perkembangan yang hendak mendulang jati diri manusia yang sedang mencari identitas, serta mudah meniru perilaku yang baru.. Tujuannya jelas, agar eksistensinya dihargai.

Dalam bingkai itu, alam Bali terus diperkosa, secara fisik maupun non materialnya, namun filtrasi budaya luar yang masuk ke Bali, sejatinya tak pernah difiltrasi. Pemerintah membiarkan itu terjadi secara alamiah, sehingga gangguan dan benturan budaya sungguh terjadi sangat keras, tapi bukan ditataran fisik, namun dalam dunia pikiran orang Bali. benturan budaya kelompok happies yang keluar-masuk bar, diskotik dan kafe yang sarat dengan ritual minum keras dan mabuk-mabukan, menjadi contoh dan model generasi muda Bali, ini tak pernah terpikirkan akibatnya, dan generasi muda Bali seakan telah menyerap budaya modern yang dibawa para touris asing.

Ketimpangan antara tuntutan kenyataan dengan kesadaran intelek ini melahirkan dimensi kekacauan pada kognitif anak muda, meminjam konsepsi Maggic Hum (2002) sebagai parsialitas kesadaran. Rekayasa pemikiran dibangun dalam premis-premis fragmatis, dan teladan-teladan yang tidak memberikan ruang untuk mereka berprestasi. Dalam kaidah itu, membenarkan kerusakan generasi muda bukan karena mereka ingin merusak dirinya, namun karena mereka tidak dipersiapkan untuk mengetahui sesuatu di luar kesadarannya, mereka mengalami gangguan semacam aerophagia (gemetar) yang serius pada kesadaran mereka.

(Penulis, Sekretaris Program Studi Pendidikan IPA, PPs Undiksha, Alumnus Doktor ITB)

Selanjutnya......

TRADISI WEDA MENGUATKAN JATI DIRI

Oleh Ketut Wiana

Perdebatan Bali sentris atau India sentris seyogianya tidak terjadi apa bila pemahaman akan konsep penerapan ajaran Hindu itu dipahami secara mendalam dan tuntas. Tujuan Weda disabdakanTuhan bukan untuk menghilangkan identitas ciptaanNya. Weda disabdakan justru untuk menguatkan dan mengeksistensikan identitas jati diri semua ciptaanNya untuk memberi makna atas kehadiranya di bumi ini.

Keberadaan alam dan manusia di bumi ini berbeda-beda, baik kwantitas maupun kwalitasnya. Manusia yang kembar saja tidak ada yang persis sama, apalagi manusia dalam kehidupannya bersama dalam suatu sistem sosial tertentu. Mereka yang satu suku atau satu ras saja tidak ada yang selalu sama dalam segala hal.

Penerapan ajaran suci Weda di muka bumi ini bukan untuk membuat manusia dan masyarakat menjadi seragam dimana Weda dianut. Bukan pula untuk menghilangkan perbedaan yang merupakan kodrat alami ciptaan Tuhan. Penerapan Weda tidak dengan menihilkan apa yang ada di muka bumi ini.Weda disabdakan justru untuk meningkatkan aspek purity atau kemurnian dari apa yang tercipta. Tanah, air,udara, panas dan ether terlindungi tak tercemar kemurnianya.

Dengan demikian kelima unsur alam utama itu dapat berfungsi dan bereksistensi untuk berkontribusi sesuai dengan posisinya menurut Rta atau hukum alam ciptaan Tuhan. Demikian juga Weda diamalkan oleh manusia justru untuk menguatkan eksistensi diri manusia itu sesuai dengan swadharma-nya masing-masing.Weda menjadikan Brahmacari, Grhasta, Wanapratsha dan Sanyasin semakin eksis sesuai dengan swadharma atau sesana-nya masing-masing. Demikian juga Brahmana menjadi Brahmana yang sista atau ahli. Ksatriya,Waisya dan Sudra Varna-pun mejadi semakin eksis sesuai dengan dharma-nya masing-masing.

Weda memang turun disabdakan di India, namun demikian tidak ada suatu keharusan umat Hindu di luar India harus seperti di India. Abad ke 4 M, Weda dianut di Kalimantan. Kemudian Hindu dianut di Jawa, terus ke Bali dan menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara bahkan sampai keluar Nusantara. Proses penyebaran Hindu di berbagai wilayah tidak meng-India-kan wilayah tersebut. Kalimantan dibangun menjadi Kalimantan yang semakin bernialai plus. Di Kalimantan ada peninggalan Yupa Yadnya dan ada Upacara Tiwah bagi Suku Kaharingan di Kalimantan seperti Upacara Atiwa Tiwa dalam Pitra Yadnya di Bali.

Selanjutnya di Jawa, agama Hindu mengangkat berbagai potensi Jawa, sehingga Jawa yang bernilai lebih.Dari Jawa Barat sampai Jawa Timur terbentang berbagai bangunan spiritual Hindu, seperti candi-candi tempat pemujaan Hindu, karya Sastra Hindu seperti majunya kesusastraan Jawa Kuno merekam berbagai nilai-nilai suci Weda ke dalam Kesusutraan Jawa Kuno.

Demikian juga setelah agama Hindu dianut di Bali, berbagai potensi Bali dieksistensikan oleh Agama Hindu, sehingga adat istiadat Hindu pun di Bali menjadi adat istiadat yang adi luhung. Hal ini sangat jelas terekam dalam berbagai kepustakaan dan arsitektur spiritual Hindu di Bali. Ini artinya, Kalimantan, Jawa, Bali dan daerah lainya tidak di-India-kan. Bali justru lebih di Bali-kan oleh agama Hindu. Kalau ada hal-hal yang positif di mana pun asalnya, tentunya sah-sah saja diambil untuk menguatkan dan memperkaya adat istiadat Hindu setempat, asal tidak menyimpang dari Tattwa-nya, Weda kitab suci Hindu.

Karena itu wacana India sentris maupun Bali sentis tidak perlu membuat umat Hindu saling mencurigai. Adanya akulturisasi kebudayaan termasuk kebudayaan yang dijiwai oleh Agama Hindu tidak perlu dirisaukan dan dibuat berdikotomis. Apalagi dalam jaman kemajuan teknologi komunikasi. Meskipun demikian lembaga yang mengurusi bidang keagamaan ini tetap berkewajiban untuk mendorong terciptanya iklim berbudaya dan beradat istiadat Hindu yang damai dan toleran. Dengan demikian Hindu akan meng-India-kan India, menjadi India yang lebih baik, Jawa menjadi Jawa yang semakin baik, Bali menjadi Bali yang semakin baik dan mulia.

Artinya, Hindu akan menjadikan alam dan masyarakatnya semakin mampu berkontribusi pada kehidupan ini dimanapun Hindu itu dianut. Seperti kehidupan manusia dalam masyarakat akan hidup untuk saling membantu. Tetapi bantuan itu tidak menghilang kan identitas masing-masing. Justru saling memperkuat identitas masing-masing daerah termasuk masyarakatnya. Brahmana berkontribusi pada Ksatriya agar para Ksatriya itu menjadi semakin mampu melaksankan swadharma-nya sebagai Ksatriya. Demikian juga terhadap Catur Varna yang lainya. Demikian juga hubungan unsur-unsur antara Catur Asrama hidup saling memperkuat identitas masing-masing Asrama sesuai dengan swadharma-nya. Brahmacari Asrama diperkuat oleh Grhastha Asrama demikian juga Asrama yang lainya saling memperkuat berdasarkan konsep Hindu.

Penerapan inti sari Weda agar sukses atau disebut Dharma siddhiyarta dalam Manawa Dharmasastra VII.10 harus diterapkan dengan lima dasar pertimbangan. Lima pertimbangan itu adalah Iksha, Sakti, Desa dan Kala, mengemas Tattwa Weda yang Sanatana Dharma itu. Iksha adalah pandangan masyarakat setempat, di mana Weda dianut. Sakti artinya kemampuan, Desa artinya norma suci yang berlaku di daerah setempat dan Kala artinya waktu. Di setiap daerah memiliki Iksha, Sakti, Desa dan Kala yang berbeda-beda dengan mengemas Tattwa Weda yang sama. Weda itu diterapkan dengan kemasan luar yang berbeda-beda. Karena itu Hindu dimanapun berada, maka kemasan luarnya akan berbeda-beda, tetapi intinya tattwa-nya sama.

Dari pedoman Sloka Manawa Dharmasastra tersebutlah kita bisa pahami, bahwa dalam pemahaman Hindu tidak perlu ada istilah meng-India-kan Bali atau sebaliknya mem-Bali-kan India, demikian seterusnya. Justru Hindu menjaga keraneka ragaman tersebut, karena bahasa Weda adalah Bahasa Sansekerta atau disebut Dewa Wak artinya sabda suci dari Tuhan. Tidaklah tepat setiap yang menggunakan bahasa Sansekerta disebut keindia-indiaan atau setiap yang menggunakan bahasa Bali disebut kebali-balian. Janganlah kita menghabiskan waktu, pikiran dan tenaga untuk hal-hal yang kurang tepat, padahal banyak hal yang semestinya kita kerjakan untuk membangun umat Hindu dengan keyakinan Hindu mewujudan hal-hal yang berguna, seperti membangun kesehatan, kesejahtraan dan memperhatikan kesejahteraan alam lingkungan kita dengan dorongan ajaran Hindu.

Selanjutnya......

DAWAI CINTA SANG PANDU DEWA NATA

Luh Made Sutarmi

Dalam desiran angin selatan yang sejuk itu, Pandu Dewa Nata berdiri dalam keremangan pagi, seberkas cahaya datang menghampiri dirinya. Dalam benaknya yang gelisah dia menyesali diri, bahwa kehidupannya harus berhadapan dengan sebuah dilema antara dua fase Grehasta dan Brahmacari. Grehasta, karena dia telah memiliki dua istri, yakni Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Nasib telah berkata lain, pangeran yang gagah perkasa dari Keturunan Kuru ini, yang telah mengalami kutukan, yang menjadikannya tidak bisa berhubungan suami istri, dia harus berdiri diwilayah Brahmacari.

Dalam kegelapan hati itu, ada cahaya yang datang memberikan pencerahan yang dalam dan berbisik penuh makna “ Pandu Dewa Nata, cinta mungkin akan membuatmu terluka, tapi ia membuatmu semakin dewasa. Jadilah pribadi yang selalu memaafkan, terutama hatimu. Kebencian hanya merugikan diri sendiri, tersenyumlah ketika disakiti. Hati tanpa benci membentuk jiwa yang tegar dan damai. Alasan kenapa seseorang tak pernah meraih cita-citanya adalah karena dia tak mendefinisikannya, tak mempelajarinya, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa cita-citanya itu dapat dicapai.

Pandu, yang tampan terkesima dengan pesan itu, lalu berkata, aku memiliki tiga yang sangat berarti, istri, kerajaan dan hidup ini apa yang harus aku lakukan terhadap ketiganya? Cahaya berkata dengan penuh kelembutan “ Jaga dan peliharalah: cinta yang dalam, kesederhanaan, ketidakberanian memenangkan dunia. Dengan cinta yang dalam, seseorang akan jadi pemberani. Dengan kesederhanaan, seseorang akan menjadi dermawan. Dengan ketidakberanian memenangkan dunia, seseorang akan menjadi pemimpin dunia.”

“Terima kasih cahaya, engkau datang di saat yang tepat, yakni ketika jiwaku penuh dengan keraguan, hatiku mulai tenang dan bermakna, menangkap sesuatu dengan penuh antusias yang tinggi. Lalu, dari mana aku mulai melakukan sesuatu dalam hidup yang serba menjepit dan menantang ini? Tanya Pandu lagi.“

“Pandu, pangeran yang tampan, Keturunan bangsa Kuru, yang pemberani, engkau harus melakukan sesuatu yang Anda pikir tak akan bisa Anda lakukan. Keyakinan merupakan suatu pengetahuan di dalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti. Orang yang terlalu sibuk sangat jarang bisa mengubah pendapatnya. Pesanku padamu, tolong resapi dengan penuh takzim,” kata cahaya serius, “ rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang Anda miliki, bukan pula berasal dari siapa diri Anda, atau apa yang Anda kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran Anda.”

Pandu berkata, “Aku selalu bahagia bila engkau bisa datang setiap aku butuhkan, aku selalu bermeditasi agar aku bisa seperti dirimu, aku kini melihat cahaya, aku berada dalam cahaya dan akhirnya aku berharap bisa menjadi cahaya itu sendiri. Bagaimana pendapatmu?”

Cahaya tersenyum dan berkata dengan penuh kewibawaan, “Hidup adalah menebarkan kinerja kebaikkan, ibarat menanam benih. Jika engkau menanam benih tanpa terlebih dahulu menyiangi dan mempersiapkan ladang sebaik-baiknya, engkau tidak akan memperoleh hasil yang baik. Demikian pula dalam ladang hatimu, jika semua sifat buruk yang bersifat mementingkan diri sendiri tidak dibuang terlebih dahulu, engkau tidak akan memperoleh hasil yang baik. Ujaran suci yang termuat dalam kitab suci menyebutkn, bahwa rumput liar harus dibuang terlebih dahulu. Rumput liar di hati manusia itu adalah keterikatan dan penyamaan diri dengan badan kasar. Sekarang pun engkau mungkin membayangkan, bahwa engkau mencintai Tuhan, tetapi, sekedar memiliki pikiran semacam ini tidak akan memberikan hasil yang berguna bagimu. Sama seperti menanam benih di tanah yang tandus dan tidak dipersiapkan dengan matang, maka benih itu tumbuh merana dan bisa saja mati. Yang terpenting ialah engkau harus mengetahui apakah Tuhan mencintaimu. Walau engkau mencintai Tuhan, jika Tuhan tidak mencintaimu, pengabdianmu tidak akan berarti.”

Cahaya tersenyum kemudian memberikan nasehat tambahan. “Jika kita mencintai seseorang. Berusahalah untuk tampil apa adanya karena cinta sejati selalu dapat menerima kelebihan dan kekurangan. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Inilah yang engkau perlu rasakan. Kini engkau memiliki dua istri yang sangat mencintai dirimu, namun engkau harus bersikap adil dan penuh pengertian pada mereka berdua, di sanalah dawai cintamu berdentang.”

Pandu berkata, “Aku saat ini belum bisa memberikan kebahagian kepada kedua istri, karena aku kena sanksi, apa yang harus aku lakukan, Oh Cahaya?”

Cahaya berkata lagi, “Pandu yang tampan, kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan setetes kebencian di dalam hati, pasti akan membuahkan penderitaan. Tapi setetes cinta di dalam relung hati akan membuahkan kebahagiaan sejati.Tak ada yang sempurna, berhentilah mencarinya.

Ingatlah pesanku yang terakhir, Jika seseorang mengerti dan mencintai kamu apa adanya, kamu dan dia pantas bersama. Cinta yang belum matang berkata: Aku cinta kamu karena aku butuh kamu. Cinta yang sudah matang berkata: Aku butuh kamu karena aku cinta kamu. Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih, kalahkan kejahatan dengan kebajikan, kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, kalahkan kesombongan dengan kejujuran. Cinta tak harus saling berdekatan secara badaniah setiap saat, namun memiliki hati yang yang dekat, itu jauh lebih sempurna.” Om Gam ganapataye namaha****

Selanjutnya......

Dampak Pergerakan Planet Menurut Jyotisa Sastra

I Ketut Sandika

Dampak modernitas mengenjawantah dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat dunia. Dampak tersebut tidak saja berimplikasi positif bagi manusia, akan tetapi dampak tersebut membawa pula manusia pada tatanan kehidupan manusia yang berkencendrungan hedonis, komsumerisme, individualistis, komsumtif dan sejenisnya.

Lantas apakah zaman yang salah, sedangkan kita mengetahui bahwa alam bekerja dengan segala keteraturannya mengikuti aturan yang ditentukan oleh Hyang Kuasa. Lalu, apakah moderintas itu menjadi biang kerok dari kecendrungan pola hidup manusia yang buruk. Dan apakah kita harus menghambat perkembangan zaman dengan kembali bernostalgia untuk hidup di masa lampau? Tidak ada yang menyalahkan alam, terlebih menyalahkan perkembangan arus zaman yang sudah menjadi keniscayaan mengikuti pola perkembangan pikiran manusia itu sendiri.

Sesungguhnya manusia hendakya mengarahkan dirinya ke internal diri. Berusaha membuka pintu diri dan menengok sejenak ke dalam diri guna mengetahui apa yang telah kita lakukan selama ini. Semua berawal dari dalam diri manusia itu sendiri. Demikian pula, sama halnya menengok sejenak apa yang kita lakukan dari hal yang kecil dan kelihatannya sepele, akan tetapi memiliki pengaruh yang signifikan dalam berkehidupan. Contohnya adalah ala-ayuning padewasan (baik buruknya hari), sudahkah kita rule tersebut dalam berkehidupan? Yang ada saat ini padewasan dianggap suatu mitos belaka, dan hanya dijadikan sebuah simbol di balik rumitnya perhitungan waktu, sehingga mudah untuk ditawar-tawar. Yang menggelitik saya adalah ketika seorang ayah nunas (meminta) padewasan pernikahan (pawiwahan) sang anak kepada sang sulinggih (pendeta Hindu) lantaran sang anak akan segera berangkat bekerja ke luar negeri. Seharusnya sang sulinggih yang memberikan hari yang baik, namun terbalik sang ayah mengajukan hari dan berusaha agar sang sulinggih berkenan merestui hari itu melakukan upacara. Sebab terbentur akan waktu keberangkatan kerja sang anak ke luar negeri. Saya berguman dalam hati “lho kok padewasan dapat dinego ya?”.

Ala-ayuning padewasan yang selama ini dijadikan pijakan masyarakat Hindu di dalam melakukan segala aktifitas bersumber pada kitab jyotisa dalam Veda yang beremanasi menjadi lontar-lontar wariga yang dipedomani oleh masyarakat Hindu Bali hampir dalam segala bentuk aktifitas kegiatan, terlebih melaksanakan aktifitas keagamaan. Jyotisa sastra (astronomi Hindu) mengkhususkan dirinya pada ajaran tentang perbintangan menurut Hindu. Kitab ini salah satu bagian dari Sadvedangga (enam batang tubuh dari Veda). Ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata orang bijak Hindu zaman dahulu sudah memetakan konsep perhitungan waktu dengan baik, dan para Rsi Hindu sangat meyakini bahwa pergeseran sekaligus pergerakan planet-planet, gugusan bintang-bintang dan semua yang berada di susunan tata surya memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan manusia di bumi. Asronomi modern kemungkinan tidak dapat menjamah hal itu, tetapi jyotisa mampu memberikan peta yang jelas tentang pengaruh disposisi planet terhadap kehidupan di bumi.

Jyotisa sastra secara elementer memberikan petunjuk kepada kita untuk melihat letak planet dan kecendrungan dari sifat planet dan bintang sesuai dengan waktu yang sudah lampau atau yang akan datang. Letak planet sekarang tidak akan sama dengan letak planet 50 tahun berikutnya, dan hal itu hanya dapat diketahui dengan bantuan jyotisa sastra. Dan jyotisa akan mengetahui pula efek yang ditimbulkan dari lokasi planet berada terhadap prilaku kita di bumi. Melalui penyelidikan yang dalam melalui kemekaran intuisi spiritual, para Rsi menemukan sebuah temuan yang penting bahwa di alam ini, nasib manusia mengalami perubahan dengan cara yang sama seperti bagaimana planet-planet bergerak. Hal sama juga bagi pelaku kegiatan yajna vedik sangat penting melihat transit planet-planet, sehingga pada akhirnya yajna karma vedik dapat berjalan dengan baik. Tidak hanya hari dan waktu, akan tetapi tempat dimana yajna itu dilangsungkan, semuanya ada spesifikasi rinci. Jika sebuah yajna dilangsungkan dengan mengikuti aturan tersebut, maka yajna akan memberikan implikasi yang baik.

Hal itu dewasa ini sedikit dilupakan, yang mana ritual yajna hanya lebih menonjolkan sisi ego yang terkadang melupakan aturan dalam jyotisa sastra, lontar wariga, terlebih tidak memperhatikan ala-ayuning dewasa, sehingga dapat dilihat efek yang ditimbulkan dari yajna tersebut. Yajna yang dilakukan bukannya membawa kedamaian kesejahteraan bersama (lokam samgraha), namun terbalik membawa disharmonisasi. Pergerakan planet sesungguhnya dapat kita ketahui dari akibat baik dan buruk yang terlihat di bumi berupa fenomena alam. Pergerakan planet yang sedemikain rupa sesuai dengan keteraturan rtam berkonstalasi terhadap segala perubahan yang terjadi di bumi, adanya siang-malam, perubahan cuaca atau musim, sasih dan yang lainnya. Pergerakan planet tersebut tidak saja berpengaruh terhadap perubahan itu, akan tetapi pergerakan planet dapat memberikan pengaruh pula terhadap sisi psikologis manusia yang merujuk pada basis kelahiran manusia. Hal tersebut mengejawantah dalam masyarakat Hindu dan Hindu di Bali khususnya dalam sebuah tradisi nenungan untuk mengetahui hari kelahiran seseorang (otonan) berdasarkan wewaran, sasih dan sejenisnya untuk dibuatkan ritual (mebayuh).

Kisah Bhaskaracarya
Menurut jyotisa sastra, pergerakan planet dapat memberikan ramalan terhadap seseorang selama hidup di bumi. Sebagai sebuah ilustrasi, menarik sekali mengetengahkan sebuah cerita yang diceritakan oleh Sri Chndrasekarendra Saraswati sebagai berikut; 800 tahun yang lalu ada seorang ahli astrologi dan astronomi bernama Bhaskaracarya. Karena kehebatan pengetahuan yang ia miliki di dalam menghitung pergerakan planet, ia mengetahui putrinya Lelavati akan meninggal nantinya setelah menikah. Olehnya, ia menghitung dan mencarikan posisi planet yang tepat untuk menentukan hari baik untuk menikahkan anaknya. Maka dibuatlah dengan perhitungan tepat jam pasir yang nantinya akan menunjukkan secara tepat posisi planet yang baik untuk pernikahan Lelavati. Setelah perhitungan dimulai dengan menempatkan jam pasir dengan posisi yang ditentukan, jam pasir pun bekerja. Pasir bergerak dan mengucur ke bawah mengikuti lubang yang telah ditentukan. Suatu ketika Lelavaati mendekati jam pasir, dan tidak disadari perhiasan di hidungnya jatuh dan masuk ke dalam jam pasir serta menutupi lubang jam pasir. Pasir yang mengucur sedikit dan perhitungan jam pasir tidak menjadi tepat, seperti yang sediannya dapat menunjukan posisi planet, dan Bhaskaracarya tidak menyadari hal itu. Akhirnya anaknya dinikahkan pada hari yang salah karena hari baik tersebut sudah lewat, pada akhirnya sang anak meninggal.

Narasi cerita di atas menjadi penting untuk direnungkan bahwa dalam jyotisa sastra pergerakan planet dapat memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan manusia. Menjadi renungan untuk menengok sejenak ke dalam diri sudahkan kita memperhatikan apa yang diungkap dalam jyotisa sastra tersebut sebagai sebuah pedoman kehidupan? Jawabannya kembali ke dalam diri masing-masing.

Selanjutnya......

Agama Diharapkan Menuntun Kehidupan Politik

Ngurah Parsua

Di dalam bangun kerangka kehidupan manusia, paling tidak ada dua instrumen utama, menjadi sumber enersi dan jalan manusia, untuk menjadi tumpuan perjungannya. Baik perjuangan tujuan hidup perseorangan, kelompok, komunitas, lembaga dan organisasi massa, maupun lainnya. Konsep kesejahteraan lahir bathin di dalam agama Hindu disebutkan dengan idiom, ‘’Moksartam Jagaddhita’. Ini dimaksudkan sebagai tujuan utama kehidupan, baik menyangkut rohani maupun jasmani yang berdasarkan dharma.

Agama dan politik berpengaruh, apabila disadari dan diperankan dengan sadar, disiplin dijalankan olah manusia tersebut. Seperti kesejahtraan rohani membawa kesejukan hati, yang menyebar ke dalam masyarakat, sehingga akan mendorong suasana kedamaian. Dalam suasana damai, kesejahteraan materi menjadi lebih mudah terpenuhi.

Rasa damai membuat orang bekerja dan berusaha dengan nyaman. Mendorong terwujudnya kesejahtraan materi semakin meluas dan berkwalitas. Suasana ini bukan mustahil mendorong dan lebih mendekatkan pada terwujudnya, moksartam jagaddhitam.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1989:694). Politik (ilmu); pengetahuan tentang ketatanegaraan; dan tindakan (kebijaksanaan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara, kebijaksanaan tentang bertindak (didalam menghadapi atau penanganan suatu masalah). Sedangkan agama, kepercayaan kepada Tuhan (dewa, dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dari kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu; islam;-kristen;-budha;…(1989:9).

Secara holistik, manusia memiliki sifat multidemensional. Instrumen agama dan kemampuan politik, memberi warna kehidupan sangat kental. Keduanya itu sangat dekat menyangkut kemampuan manusia, menghadapi tantangan dan rintangan hidup. Politik meskipun dalam normatifnya, sebagai suatu tindakan pemecahan masalah, yang mengandung kebijaksanaan, kecerdasan, intelektualitas, dalam bertindak menghadapi rintangan menuju cita-citanya. Pada kenyataannya, relative sangat mungkin tindakan politik, menimbulkan kekerasan bahkan berekses, mempersulit tercapainya tujuan. Karenanya hal ini bisa pula, akan menimbulkan tambahan masalah, sehingga menjadi lebih kompleks.

Agama diharapkan mampu meredam perilaku kekerasan yang memperkeruh suasana. Diharapkan manusia menyadari dan menggiring politik mentaati aturan yang tentu tidak akan menyimpang dari kesusilaan dan peri kemanusiaan. Misalnya, agama Hindu mengajarkan antara lain, dharma dan karma pala. Dharma (kewajiban, tugas hidup: kebajikan, menurut kamus balai pustaka, 1989:187). Menurut Hindu, kurang lebih, bila dikatakan secara singkat, kebenaran bertindak menurut moral agama, dasar Negara, ketentuan etika masyarakat berkehidupan sehari-hari, profesi dan segala kebenarannya. Karma pala, segala perbuatan baik dan buruk akan memperoleh balasan sesuai dengan hukum alam (rta) yang ditegakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun hukum itu berjalan sangat misterius dan tidak nampak. Tapi pasti berlaku dengan diam-diam tanpa diketahui pelaku dan manusia di sekitarnya. Perbuatan baik dan buruk itu membawa manusia pada kelahiran; nasib, baik dan buruk, pula pada kehidupan, sekarang maupun mendatang di dunia.

Penulis beranggapan, semua agama pasti mengajarkan kedamaian, kemanusiaan dan kesusilaan yang halus. Menghindari kebohongan dan tindakan teror. Agama menjadi pelurus, penunjuk jalan untuk sampai ke tujuan dengan cara-cara apa yang disepakati, sebagai kebenaran bersama di dalam seluruh masyarakat suatu bangsa.

Ada berpendapat, bahwa pengertian politik dalam arti luas adalah cara atau sarana, strategi, untuk mencapai tujuan hidup. Ada juga orang bertindak menjauhi politik praktis, dalam arti partisan; dianggap manusia lebih mudah kehilangan kendali (berkaca dari pengalamannya). Peranan agama (kepercayaannya) adalah tempat bercermin, tatkala lehilangan kendali. Politik bisa jadi perebutan kekuasaan yang berlaku keras tapi dibungkus oleh kehalusan: kepura-puraan yang penuh menjanjikan. Ada pendapat, politik tidak lain semacam strategi memenangkan ideologi, tentu melalui perjuangan, baik dalam bentuk organisasi maupun di luar itu. Politik perangkat untuk merebut kekuasaan, baik secara legal maupun illegal.

Apakah budaya politik bangsa Indonesia sekarang, sudah ideal ? Sejalan dengan falsafah dan Dasar Negara? Dimana ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, demokrasi, persatuan, keadilan sosial dan ekonomi yang beradab, telah menjadi kharakter budaya bangsa? Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama dan mengakui ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Siapakah yang paling bertanggung jawab, terhadap pembudayaan karakter politik seperti ini?

Masyarakat Indonesia nampaknya, (relative) masih mempunyai sifat primordial, memilih pemimpin bukan berdasarkan (rasionalitas) kualitas kepemimpinan, tetapi lebih cenderung memakai ‘’tradisi’’ yang berdasarkan hubungan emosi. Budaya politik dan agama, sebenarnya perlu menjadi syrat yang harus dipenuhi, sebagai sumber daya manusia. Peranan agama di sini sebagai pengerem, prilaku yang cenderung menuju kekerasan. Seyogianya dengan cerdas, tidak memaksakan agama sebagai ‘’tameng’’ untuk memenangkan politik yang diimplementasikan.

Apakah budaya politik yang kita miliki sekarang sudah ideal? Mencerminkan falsafah dasar Negara Pncasila? Dimana ke-Tuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama. Berarti politik yang diimplementasikan adalah politik yang diterima dan dibenarkan oleh semua agama di Indoenesia. Sekali lagi bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama dan mengakui adanya ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Dr. Alfian, dalam bukunya berjudul,’’Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia’’. Menyatakan: ’’Mempunyai sikap dan tingkah laku politik perorangan disini, tidaklah dimaksudkan untuk masing-masing anggota masyarakat melintasi batas kepada mereka yang mempunyai pengaruh, yang berarti masyarakat ikut memegang kekuasaan, kaum cendekiawan, pemuka agama dan adat, tokoh pemuda dan mahasiswa, tokoh meliter dan birokrat, pentolan pers, pentolan buruh dan pengusaha. Mereka kadang-kadang juga disebut sebagai golongan strategis, (1980:137).’’

Dalam hal ini, masyarakat elite (relative) masih mempunyai peranan lebih tinggi dari pada golongan masyarakat biasa. Apabila diamati dengan seksama, perbedaan antara pola tingkah laku dan sikap politik, golongan elite strategis dengan proses perkembangan politik, cendrung mempertahankan kemapanan dimana situasinya menguntungkan mereka.

Bila menghendaki perubahan, berkehendak mengubah pola sikap politik, maka golongan elite berperenan sangat menentukan sebagai teladan dan adanya kemauan bersunguh-sungguh. Artinya perubahan pola sikap politik, kemauan dan itikad para elite sangat menentukan. Di pihak lain dilemanya, para elite politik merasa diuntungkan oleh keadaan. Situasi sekarang, kenyataannya semakin banyak terbongkarnya korupsi termasuk korupsi berjamaah. Hal ini memberi isyarat kalau para elite harus meluruskan politik ke arah jujur, adil, bersih dan bertanggung jawab.

Bagaimanapun perubahan situasi ini memerlukan politik. Tentunya politik yang mengedepankan moral agama. Santun, keras tidak pandang bulu, adil dan jauh dari sikap-sikap berpihak kepada hubungan emosi. Politik terkait dengan kecerdasan manusia, bisa mengandung kecerdasan intelektual, bisa berupa kecurangan dan kebohongan. Segala cara bisa dihalalkan, karena itu sisi ini, sebaiknya diterangi oleh moral agama. Politik memerlukan petunjuk jalan, agar terhindar dari kekerasan yang membuahkan kekejaman dan penipuan yang menyengsarakan rakyat. Agama diharapkan mampu memberi kearifan bagi unsur politik. Bukan lagi sekedar mencapai tujuan, tanpa memperhitungkan baik-buruk, efek dari tindakan politik yang menghalalkan segala cara.

Agama sebagai salah satu instrumen kehidupan manusia seharusnya harmonis dengan politik sebagai instrumen pula. Keduanya saling menopang, membentuk pemikiran manusia bersama instrumen lainnya membawa ke arah tercapainya cita-cita bangsa. Hal ini bisa hanya merupakan mitos dan sebaliknya menjadi kenyataan bila dilaksanakan sungguh-singguh. Agama berfungsi apabila telah dilaksanakan dengan nyata, bukan sekedar diagungkan dan dibangga-banggakan. Politik berhak dibimbing agama dengan kesantunan, bukan berpura-pura santun. Keharmonisan antara politik dan agama, saling mengambil peran demi menuju terwujudnya sebuah cita-cita. Bila keduanya berperanan dengan nyata, dalam tindakan selaras, semoga cita-cita bangsa itu tercapai.

Selanjutnya......