Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 25 Juni 2012

Pengajaran Bahasa Sanskerta yang Masih Memprihatinkan

Bahasa Sanskerta adalah bahasa Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu. Ironinya, bahasa ini sangat susah dipelajari, bahkan di India pun sebagai tempat turunnya wahyu Weda, hanyalah kalangan tertentu saja yang dapat memahami dengan benar bahasa ini. Jika demikian, perlukah bahasa Sanskerta dimasyarakatkan?

“Jika kita berbicara masalah agama Hindu, maka bahasa Sansekerta adalah sebuah dasar, icon, serta sebuah hal yang paling fundamental untuk agama Hindu, sebab dimanapun agama Hindu itu berada, maka deskripsi tentang Veda, adalah bahasa Sansekerta. Bagaimana mungkin, kita dapat memahami Veda tanpa memahami bahasanya terlebih dahulu,” demikian kata seorang pakar Bahasa Sansekerta yang dosen di IHDN Denpasar, Drs. I Made Surada, MA.

Ia menambahkan, agama Hindu memiliki esensi yang universal, bukan hanya di Nusantara tetapi di dunia. Maka dengan kata lain, identitas Hindu secara fundamental adalah Sansekerta. Maka untuk memahami hakikat Hindu yang murni, seseorang harus memahami bahasa Sanskerta, sebab bahasa ini adalah ibu segala macam bahasa. I Made Surada yang penulis Kamus Bahasa Sansekerta ini juga menyatakan, bahwa terlebih lagi di Nusantara, khususnya di Bali, untuk memahami agama Hindu, maka seseorang harus memahami tiga bahasa pokok.

Pertama adalah bahasa Sansekerta. Bahasa ini adalah bahasa pokok yang merupakan bahasa yang menjabarkan Veda, mantra, stotra, stava dan puja. Dapat dinyatakan bahasa ini adalah rohnya, adalah jiwanya, kemudian kembali lagi dideskripsikan dalam bahasa Jawa Kuna. Bahasa Jawa Kuna itu sendiri merupakan bahasa yang menginterpretasikan Bahasa Sansekerta yang merupakan rohnya. Leluhur kita terdahulu, tidak akan menjiplak secara murni apa yang datang dari India. Dengan adanya hal seperti itu, maka kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya bahasa Sansekerta sudah dipahami dengan baik, dasar-dasarnya sudah dimengerti dengan sangat baik oleh leluhur kita. Itulah alasan mengapa leluhur kita kembali mengejawantahkan apa yang tersurat dalam kitab-kitab asli yang berbahasa Sansekerta.

Contohnya adalah, dalam kitab Brahmasutra, terdapat sebuah sutra yang berbunyi: janmādyasya yatah, yang secara harfiah berarti Semua ini berasal dari-Nya. Kemudian oleh Mpu Kanwa di tanah Jawa, dirubah menjadi Sangkan Paraning Dumadi. Ini adalah salah satu contoh bahwa leluhur kita mengerti baik secara gramernya, kemudian arti katanya, hingga pola yang menentukan makna secara leksikal dan gramatikal. Tidak akan mungkin seseorang dapat membuat dan mengubah sesuatu tanpa memahami secara baik bentuk asli dari sumber yang otentik tersebut. Sama halnya seperti kitab Sarasamuccaya, dalam kita tersebut, terdapat sloka-sloka yang berbahasa Sanskerta. Tetapi dalam penjabarannya, pendeskripsiannya dan juga dalam penafsirannya, leluhur kita memadukannya dengan bahasa Jawa Kuna.

Bahasa Jawa Kuna sendiri, dapat dinyatakan memiliki serapan bahasa Sansekerta sebanyak 85 persen. Jadi pengaruh Sansekerta terhadap seluruh seluk-beluk teks, interteks, dan juga sosioreligius masyarakat Hindu dimanapun berada, sangatlah besar. Kemudian yang ketiga adalah bahasa Bali. Jadi secara singkatnya, maka dapat dinyatakan bahwa untuk memahami Veda, seseorang harus memahami bahasanya terlebih dahulu, yakni Sansekerta. Kemudian deskripsi nilai Veda itu sendiri dan interpretasinya adalah bahasa Jawa Kuna, sedangkan media untuk menuliskannya adalah aksara Bali, jadi penting mempelajari ketiga bahasa tersebut. Dalam bahasa Sansekerta, Omkara memang sudah ada, tetapi oleh leluhur kita terdahulu, kembali memodofikasinya menjadi bentuk yang berbeda, namun maknanya sama, bahkan lebih hidup dari sebelumnya. Omkara yang tadinya, hanya Om, di tanah Nusantara dapat berubah menjadi aksara Ongkara Adumukha, Ongkara Ngadeg, Ongkara Sungsang, dan sebagainya.

Surada yang merupakan kini tengah menjabat sebagai Ketua Prodi Brahma Vidya, pada Program Pasca-sarjana IHDN Denpasar, ini merupakan jebolan dari Allahabad University India. Pengalamannya menjelajah India, membuat pria yang juga merupakan penekun wirama dan penulis sejumlah buku ini yakin, bahwa untuk memahami Hindu secara komperhensif, maka harus bisa dan paham tentang bahasa Sansekerta. Tapi ia mengatakan, untuk menguasai bahasa Sanskerta, mengandalkan pendidikan bahasa Sansekerta di perguruan tinggi seperti sekarang, maka hasilnya tidak akan optimal.

Menurutnya, untuk menanamkan konsep dasar bahasa Sansekerta yang pokok bahasannya sangat luas dan kompleks, maka kita memerlukan sebuah pembelajaran yang datang dari tingkat mendasar dan dilakukan sedini mungkin. Ia menyarankan, sebaiknya bahasa Sansekerta ini diajarkan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pada tahap awal mungkin bisa diberikan semacam avagraha-nya saja terlebih dahulu. Misalnya dari kelas tiga 4 SD, dan bahasa Sansekerta ini diformat dalam bentuk muatan lokal, layaknya pendidikan bahasa Bali khusus untuk anak-anak Hindu.

Kemudian meningkat pada jenjang pendidikan SMP, maka mulai diajarkan tentang deklinasi dan sebagainya. Jika anak-anak sudah dapat menuliskan abjad yang terdapat dalam huruf Devanagari itu, maka untuk memperdalam tata bahasanya, tidaklah begitu sulit untuk dipelajari. Kemudian ketika anak didik sudah duduk di bangku SMA, maka mulailah kemudian menterjemahkan. Jika pendidikan bahasa Sansekerta ini dilakukan dengan tata cara demikian, maka sudahlah pasti, agama Hindu kita akan menjadi sebuah agama yang kental akan jati diri.

Jika kita hanya mengandalkan pendidikan bahasa Sansekerta yang didapat dari perguruan tinggi semata, maka tidaklah mendapatkan hasil yang optimal. Inilah yang menyebabkan agama Hindu kita secara pendidikan masih terbilang seperti tanaman kapu-kapu. Akarnya menggelantung di atas, tidak turun ke bawah. Maksudnya adalah untuk memberikan pendidikan Hindu dan menggali nilai Veda, maka dasarnya kita harus memahami bahasa Sansekerta terlebih dahulu. Dan bahasa ini sebaiknya diajarkan sejak dini, dengan format demikian.

Jika pemerintah daerah Bali, serius menanggapi sebuah isu hangat yakni “Membangun Bali sebagai sebuah pulau pendidikan Hindu”, maka sebaiknya dicanangkan untuk membentuk sebuah kurikulum muatan lokal Bahasa Sansekerta untuk anak didik Hindu. Jika kita mulai berpikir untuk ke arah sana, maka untuk tenaga pendidik, maka kita tidak akan kekurangan. Jebolan perguruan tinggi Hindu, baik negeri dan swasta, rasanya sudah mampu untuk mengajarkan anak didik dari tingkat SD, baik avagraha dan SMP serta SMU untuk materi deklinasi dan sebagainya.

Setelah duduk di perguruan tinggi, maka di sanalah mulai penelahaan sastra Hindu, yang murni berbahasa Sanskerta, baik Sansekerta Vedic, Sansekerta Klasik dan Sansekerta Archipelago. Peran serta pemerintah yang sudah diberikan mandat otonomi, yang bermuara pada keadaan lokal genius setempat, seharusnya memberikan kekuatan dan angin segar membangun Bali sebagaimana mestinya, sebab Bali mayoritas Hindu, kita harus memiliki basis pemertahanan dari sudut sastra dan sumber tertulis.

Surada menyesalkan, kenapa umat Hindu di Indonesia tidak memiliki SD Hindu, SMP Hindu dan SMA Hindu yang mapan, seperti yang dimiliki oleh umat Islam. Jika kita berpikir untuk memuka sebuah kursus bahasa Sankserta, maka itu sifatnya hanya sementara, maka semestinya melalui jenjang sekolah Hindu formal. Apalagi sebuah kesadaran untuk belajar bahasa ini, yang tegolong sangat luas dari sudut pokok bahasan, memang terkesan membuat orang-orang Hindu enggan belajar. Kembali lagi, hal ini adalah sebuah ksadaran, dan jika kita kembali pada kesadaran untuk membangun Hindu menjadi sebuah agama yang holistik di Bali dan Nusantara, rasanya membangun sebuah kurikulum bahasa Sansekerta untuk anak didik SD, SMP dan SMA, tidaklah begitu sulit untuk dilakukan.

Berbeda halnya dengan pendidikan bahasa sansekerta untuk diperguruan tinggi, yang memang mengkaji secara mendalam, maka disanalah letak pendidik dengan gelar Master dan Doktor diperlukan. Jika hanya untuk memberikan dasar-dasar pokok bahasa Sankserta, maka cukup jebolan dari sarjana saja yang mengajar. Kurikulum inilah yang perlu dibentuk dengan seksama, sebab menurut Drs. I Made Surada, MA, untuk memepelajari Hindu, maka bahasa Sansekerta adalah wajib, dan untuk itulah pendidikan bahasa Sansekerta harus diberikan sedini mungkin.

Agus Budi Adnyana

Selanjutnya......

Membangkitkan Kembali Bahasa Sansekerta dalam kurukulum Agama Hindu

I Nyoman Tika

Perlukah bahasa Sansekerta dimasyarakatkan kembali untuk memperkuat pemahaman Hindu? Jawabannya perlu. Bagaimana caranya? Tentu banyak cara. Salah satu jalan yang paling strategis adalah mata ajaran bahasa Sanskerta dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Agama Hindu, secara bertahap. Sebab selama ini, memang tidak pernah menjadi konsen pendidikan Hindu. Bahasa itu hanya dikaji di sekolah yang mencetak Sarjana agama Hindu, bila tuntutan kurikulum tidak pernah terjadi maka kemampuan pemahaman bahasa Sanskerta pun jarang bisa dimiliki oleh masyarakat luas. Lalu apakah keuntungan bila bahasa Sanskerta bisa dipahami oleh kebanyakan umat Hindu? Sebelumnya, kita harus tahu apa dan bagaimana bahasa Sanskerta itu sesungguhnya?

Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India, sebuah bahasa liturgis, atau bahasa yang selalu digunakan dalam kegiatan peribadatan/sembahyang dalam tradisi Hindu. Di Bali dengan sangat mudah kita temukan bila umat Hindu sembahyang/mebakti yang dipimpin oleh pinandita/Pedande. Artinya bahasa Sanskerta hidup terus selama tradisi kependetaan menggunakannya untuk memimpin doa.

Kekaguman saya akan bahasa Sansekerta bertambah kuat ketika membaca arsip bahan ceramah Sir William Jones, untuk Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, mengatakan “Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunaannya, memiliki struktur yang menakjubkan. Lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan. Sangat eratlah keterkaitan ini, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada."

Bahasa Sanskerta merupakan bahasa yang digunakan dalam kitab suci agama Hindu, Buddhisme, dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa.

Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Sebutan paling arkhaeis adalah bahasa Sansekerta digunakan dalam sebuah masa yang awal atau sesuatu hal yang memiliki ciri khas kuna atau antik. Namun, kekhasan bahasa Sanskerta itulah merupakan wilayah berjarak dengan bahasa rakyat kebanyakan.

Teks Regweda ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua. Weda dari bahasa Sanskerta adalah sebuah turunan dekat bahasa Proto-Indo-Iran, dan masih lumayan mirip (dengan selisih kurang lebih 1.500 tahun) dari bahasa Proto-Indo-Europa, bentuk bahasa yang direkonstruksi dari semua bahasa Indo-Eropa. Bahasa Weda adalah bahasa tertua yang masih diketemukan dari cabang bahasa Indo-Iran dari rumpun bahasa Indo-Eropa. Bahasa ini masih sangat dekat dengan bahasa Avesta, bahasa suci agama Zoroastrianisme. Kekerabatan antara bahasa Sanskerta dengan bahasa-bahasa yang lebih mutakhir dari Eropa seperti bahasa Yunani, bahasa Latin dan bahasa Inggris bisa dilihat dalam kata-kata berikut: Ing. mother /Skt. मतृ matṛ atau Ing. father /Skt. पितृ pitṛ.(Sumber Wikipeida).

Lantas pertanyaan sederhana muncul, Apakah keuntungan saat ini bila bahasa Sanskerta dimasyarakatkan dikalangan umat Hindu? Keuntungannya tentu ada. Sebab membangkitkan peranan bahasa dalam penguatan keyakinan beragama adalah salah satu titik sentrum penguatan sradha, karena di sana ada dimensi penggunaan nalar. Pemahaman penggunaan bahasa Sanskerta itu paling tidak memiliki beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, penguatan bahasa Sanskerta bagi setiap momen beragama akan melahirkan cara berpikir berbeda terhadap kandungan jaran agama Hindu. Selama ini, terjemahan kitab suci Weda diterjemahkan oleh orang Barat, yang nota bena memiliki tujuan berbeda. Lebih banyak mengandung tujuan misionaris bagaimana menanamkan nilai agama lain, atau mengganti budaya Hindu dengan agama lain.

Kedua, seluruh umat Hindu bila mendapatkan pelajaran bahasa Sanskerta, akan menjadi muara pencarian tentang hakekat kebenaran yang bisa dipelajari dan diakses oleh setiap orang, dan juga oleh siapa saja tanpa memandang golongan dan profesi. Artinya sumberdaya umat Hindu terhadap penguasaan Weda akan meningkat.

Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya, drama dan juga teks-teks ilmiah, teknis, falsafi, dan agamis. Saat ini bahasa Sanskerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta.

Ketiga, konsep pengembangan bahasa Sanskereta, itu didasari oleh sebuah keyakinan bahwa perubahan pola pikir harus terjadi di kalangan cendekiawan Hindu, bahwa umat Hindu harus menyediakan sosok generasi yang bisa meneruskan dan melanjutkan agama Hindu dengan budaya nalar yang tinggi. Para cendekiawanan Hindu itu harus berusaha keras membenahi cara berpikir sosok kependetaan/ rohaniawan dan umat Hindu serta menekankan pada pentingnya aspek yadnya, amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi tokoh-tokoh umat yang tidak berjiwa sesuai dharma. Sebab, ilmu yang rusak, dan rohaniawan yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Hindu dan umatnya. Sri Krishna memberi amanah untuk menjaga dharma ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Hindu dengan baik.

Kondisi ini tidak bisa dilakukan dengan serta merta untuk membangun infrastruktur agama Hindu ke depan. Agama Hindu memang tidak bisa dilepaskan dari pemahaman bahasa Sanskerta. Kendalanya adalah bahasa ini sejak berabad abad tidak lagi menjadi konsumsi masyarakat luas, sifat bahasa ini adalah dewa bahasa, bahasa yang secara sifatnya dianggap keramat dan tidak digunakan sebagai bahasa komunikasi oleh rakyat jelata. Karena sifat inilah agama Hindu sering membangun keruntuhan awal, dalam etika penyebarannya. Sering disodok sebagai agama yang jauh dari demokrasi.

Oleh karena itu, yang penting saat ini adalah sifat kita umat Hindu dituntut untuk membangun model penguatan bahasa Sanskerta untuk menyebarkan dan menguatkan agama Hindu dalam struktur masyarakat kita bahasa adalah sebuah alat komunikasi, paling tidak bisa dipelajari oleh masyarakat luas. Sebab selama ini, muncul dapatkah bahasa Sansekerta menjadi bahasa gaul? Entahlah, sulit membawa bahasa ini ke wilayah gaul, atau provan. Bahasa Sanskerta adalah bahasa suci, memang perlu dimasyarakatkan paling tidak di lembaga-lembaga pendidikan Hindu, dan bagian integral dalam pendidikan agama Hindu dari SD sampai PT, perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Pengubahan kurukulum agama Hindu harus segera dirombak, kalau mau kita memperkaya umat Hindu dengan kompetensi berbahasa Sansekerta. Caranya adalah mengadakan workshop kurikulum agama Hindu, yang difasilitasi oleh Departemen Agama RI dan Insan kampus (Perguruan Tinggi). Nampaknya Undiksha Singaraja tidak keberatan untuk menjadi tim fasilitator, sebab kajian Kurikulum Agama Hindu telah dilakukan oleh Pascasarjana Undiksha. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru. Om Nama Siwaya.*****
(I Nyoman Tika, adalah Sekeretaris Program Studi Pend. Sains PPS Undiksha).

Selanjutnya......

Optimalisasi Fungsi Otak Dengan Belajar Bahasa Sanskerta

I Ketut Sandika

Sankaracarya yang agung dalam Sutrabhasya berpandangan, bahwa keinginan manusia adalah sama dengan binatang. Keinginan tersebut adalah makan, tidur dan bersetubuh, selain itu perasaan takut juga hal yang umum pada keduanya. Tetapi yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia diberikan manah (pikiran) dan budhi (kecerdasan intelek) untuk dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Pikiran merupakan anugrah yang luar biasa dari Tuhan kepada manusia, dan pikiran adalah apa yang dikerjakan otak. Jadi, ketika kita mampu mengoptimalkan fungsi otak, maka pikiran yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik juga.

Perspektif teoretis sains menjelaskan bahwa manusia memiliki otak besar yang terdiri dari belahan otak kanan dan kiri. Otak kanan berkaitan dengan Emotional Intelligence seseorang, yakni hal yang bersifat artistik, kreativitas, perasaan, emosi dan yang lainya. Sedangkan belahan otak kiri lebih kepada Intelegence Quotient, yakni berkaitan dengan fungsi akademika, kemampuan tata bahasa, berbicara, baca tulis dan sejenisnya. Menyimak uraian fungsi dari masing-masing otak tersebut, menjadi hal yang penting untuk menyeimbangkan belahan otak kanan dan kiri, karena dua belahan otak tersebut sama-sama penting.

Akhir-kahir ini banyak metode yang berkembang di dalam mengaktifkan fungsi otak tersebut secara optimal. Dan dalam perspektif Veda hal tersebut sudah dipelajari oleh para Rsi yang vipra sejak zaman dulu, hingga saat sekarang. Salah satu dari sekian banyak orang bijak tersebut adalah Rsi Panini. Rsi Panini adalah yang mengembangkan tata bahasa Sanskerta, sehingga bahasa ini menjadi bahasa Veda. Bahasa Sanskerta dengan huruf Devanagari adalah bahasa dan huruf yang digunakan di dalam menuliskan mantram-mantram pustaka suci Veda. Secara fundamental mempelajari bahasa Sanskerta di samping untuk memahami literatur Veda, hal yang terpenting juga untuk diketahui, ketika seseorang secara intens belajar dan membaca bahasa Sanskerta baik dalam bentuk mantram atau sloka ternyata dapat mengoptimalisasikan fungsi otak secara seimbang.

Hal tersebut dapat diketahui dari gambaran kehidupan para Rsi atau Yogi yang medalami Veda. Membaca, melantunkan, menembangkan (mencantingkan) bahasa Sanskerta dalam bentuk mantram atau sloka Veda secara intens menyebabkan daya kecerdasan mereka meningkat dan menembus batasan imanensi, hingga mampu berada pada tatanan trancendensi. Dengan kemampuan itu, para Rsi atau Yogi mampu menembus dimensi waktu yang berbeda dan mengatasi gerak gravitasi bumi, sehingga tidak jarang seorang yogi dapat berada di mana-mana dalam sekejap mata. Demikian juga kesadaran mereka melampui kesadaran manusia pada umumnya. Belajar atau menghafal mantram atau sloka dengan bahasa Sansekerta akan membangkitkan getaran atau bhava ketuhanan dalam diri. Sebenarnya daya kerja otak akan bekerja dengan baik ketika kita selalu mendekatkan diri dengan hal-hal yang rohani, sebab otak sangat mudah menangkap atau mengingat hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan.

Dipandang dari ilmu neurosains cara kerja pikiran tergantung pada cara kerja otak, di mana otak yang terdiri dari banyak struktur sel akan bekerja dengan baik, jika pikiran terkendali demikian juga sebaliknya. Dari sekian banyak bagian dan struktur sel otak tersebut terdapat titik Tuhan yang disebut dengan Go-spot. Titik inilah yang bergetar saat orang berhubungan dengan hal-hal yang berbau rohani. Demikian juga dengan membaca dan menghafal sloka bahasa Sansekerta secara tidak langsung akan membangkitkan getaran titik Tuhan dalam otak, sehingga daya kerja otak mampu bekerja secara optimal. Getaran tersebut juga akan membuat fungsi dari masing-masing belahan otak berfungsi seimbang. Keseimbangan ini akan mempengaruhi kesehatan fisik manusia. Seorang yang memiliki keseimbangan fungsi otak akan menjadi tenang dalam menghadapi situasi dan kondisi apa pun.

Dua struktur sel yang penting dalam otak adalah hippocampus, yang berfungsi untuk merekam dan mengingat, menyediakan ruang, intelektual, konteks verbal yang memberikan arti kepada respons emosi kita. Struktur berikutnya adalah amygdala, struktur ini adalah struktur saraf kecil yang terletak di atas batang otak. Saraf kecil ini memainkan peranan penting dalam kemampuan kita di dalam merasakan emosi dan menciptakan ingatan-ingatan. Dua sel tersebut akan mengalami kelemahan bahkan mati, ketika kita tidak pernah memberikan sentuhan bhava ketuhanan terhadap otak kita. Dan hal itu yang banyak terjadi dewasa ini, akibat tekanan dan tuntutan di dalam pemenuhan material, kita lupa memberikan otak kita sentuhan ketuhanan. Yang terjadi banyak orang yang mengalami depresi yang berujung pada hilangnya kesadaran sejatinya menjadi manusia.

Belajar bahasa Sanskerta maupun menghafal sloka atau mantram dengan bahasa Sanskerta secara tidak langsung memberikan sentuhan bhava kepada otak kita, sehingga dua sel tersebut tetap kuat dan bekerja dengan baik dalam otak. Belajar bahasa Sanskerta akan memberikan penguatan pada susunan sel-sel dalam otak sehingga sel tidak akan mengalami kelemahan. Cuma terkadang kita tidak terlalu sering bersentuhan dengan hal-hal yang berbau rohani, jangankan membaca atau belajar bahasa Sanskerta, membaca mantram saja kita sudah dikatakan belajar jadi pamangku atau sulinggih terlebih lagi ada anggapan “Melajah memantra pasti bisa ngeliak” (belajar mantra pasti bisa ilmu hitam).

Titik Tuhan dalam otak bersifat laten, ia tidak akan mengalami getaran jika tidak ada rangsangan dari luar. Titik Tuhan ini akan mampu menggetarkan seluruh sel otak, jika hal-hal yang rohani datang dari luar, dan sebaliknya akan pasif jika hanya disentuh oleh hal-hal yang bersifat non rohani. Penting juga diperhatikan, di dalam belajar, menghafal apalagi mengidungkan bahasa Sanskerta melalui mantram atau sloka yang perlu diperhatikan adalah chanda atau iramanya harus tepat dan yang paling penting disertai dengan ketulusan hati dan penjiwaan. Jangan sekali belajar Sanskerta mengharapkan kemasyuran, harta dan tahta terlebih surga.

Satguru Sankaracarya suatu hari melakukan perjalanan bersama dengan beberapa muridnya. Di pinggiran sungai satguru melihat seorang Rsi belajar tata bahasa Sanskerta dari Panini. Satguru bertanya: “Apa yang engakau lakukan?”, Rsi menjawab: “Saya sedang mempelajari tata bahasa Sanskerta dari Panini untuk saya dapat mengajarkanya pada raja di istana, sehingga saya mendapatkan kemasyuran dan harta, hingga saya menjadi orang terkenal dan akhirnya surga pun saya miliki.” Sankaracarya berkata, “Sungguh bodoh dirimu, itu tidak tidak akan mengantarkanmu pada pencerahan, ucapkanlah bhaja govindam, bhaja govindam.” Penulis mahasiswa IHDN Denpasar, Bangli
Sekjen Vivekananda Spirit Indonesia.

Selanjutnya......

Memasyarakatkan Sanskerta untuk Hindari Pemalsuan Terjemahan Weda

I Wayan Miasa

Berbicara agama tidak bisa terlepas dari pengaruh yang dibawa agama tersebut, misalnya tentang bahasa, kebiasaan, serta tradisinya. Begitu pula di dalam agama kita yang kini lebih dikenal dengan sebutan Hindu, sebuah sebutan yang diberikan oleh bangsa Persia yang mengacu pada suatu budaya di tepian lembah Sindhu.

Tradisi yang dilakukan di lembah Sindhu disebarkan oleh beberapa golongan sesuai dengan “guna karma” masyarakatnya pada jaman tersebut. Misalnya golongan brahmana, ksatria, wesia atau sudra. Dan perkembangan ajaran Sanatana Dharma ini pun sangat bervariasi menurut jamannya, sehingga ajaran Sanatana Dharma (Hindu) ini seperti saling bertentangan. Hal ini bisa dipahami karena ajaran agama Hindu ini tidak mengajarkan agama secara doktrin melainkan berdasarkan Catur Marga dan penyampaian ajarannya bisa lewat sruti maupun smerti dan hal tersebut berpengaruh pada kehidupan pengikut ajaran itu. Seperti yang kita lihat sekarang ini khususnya di luar negeri Bharata Warsa di mana banyak penganut Hindu tidak dipaksa untuk menguasai bahasa Sanskerta yang ditulis dalam huruf Dewa Nagari jika belajar Weda.

Walaupun begitu, pengaruh kosa kata bahasa Sanskerta dalam kehidupan masyarakat kita bisa disaksikan di masyarakat, entah masyarakat tersebut sudah beralih kepercayaan atau tetap melaksanakan ajaran sanatana tersebut. Misalnya saja nama-nama gedung pemerintahan di Indonesia, slogan-slogan angkatan bersenjata, bahkan masih banyak nama-nama pejabat di Indonesia yang masih kena pengaruh Hindu. Bahkan di daerah-daerah Jawa, terutama penduduknya yang masih memegang tradisi masa lalu, diakui atau tidak mereka tetap kena pengaruh bahasa Sanskerta. Misalnya nama Sudarsono, Yudhoyono, Atmanegara, dan lain sebagainya.

Agama Hindu memang agama yang fleksibel dalam menjalankan praktek keagamaannya, di mana yang ditekankan adalah implementasi ajaran agama tersebut. Berbeda dengan agama-agama yang mengedepankan doktrin dimana pemeluknya sejak awal wajib mempelajari bahasa asal muasal agamanya, dan terus didoktrin untuk menghafal ayat-ayat ajaran agamanya. Sehingga sering tampak bahwa penganut Hindu itu tak mengenal bahasa asal agamanya, yaitu Bahasa Sanskerta. Walaupun mereka memiliki banyak kosa kata dari bahasa Sanskerta, tetapi mereka tidak sadar tentang hal itu, karena warga kita tidak mempedulikan hal tersebut, yang penting bagi mereka adalah berbuat atau mengimplentasikan ajaran tersebut dalam kehidupan nyata.

Mungkin jarang ada warga kita yang tahu bahwa kata-kata yang mereka ucapkan di kehidupan sehari-harinya banyak berasal dari bahasa sanskerta. Misalnya yadnya, suka, duka, parwata, giri, wana, amerta, akasa, pertiwi, desa, dan banyak lagi yang lainnya. Kebanyakan dari masyarakat kita beranggapan bahwa kata-kata yang mereka pakai itu adalah bahasa Bali asli. Mereka tak pernah berpikir dari mana asal usul kata tersebut apalagi warga kita memang cepat mengadopsi bahasa luar dan cepat dianggap sebagi bahasa Bali.

Sehubungan dengan kurang populernya pengajaran bahasa Sanskerta dan huruf Dewa Nagari di kalangan Hindu, ini disebabkan oleh beberapa factor. Misalnya karena ada anggapan, bahwa bahasa Sanskerta adalah bahasa dewa dengan konyugasi kata kerja yang sulit. Ada rasa enggan untuk mempelajari bahasa Sanskerta, karena sudah ada bahasa Bali dan toh Tuhan mengerti segala Bahasa, mempelajari bahasa sanskerta tidak memiliki masa depan, dan alasan-alasan lainnya.

Rumpun Bahasa Indo German
Dilihat dari rumpun bahasanya, bahasa Sanskerta termasuk kerabat dari bahasa Indo-German yang mana banyak kosa katanya masih berhubungan. Walaupun kadang terjadi perubahan dalam hal fonetik, pengucapan namun kekerabatan bahasa tersebut masih bisa diidentifikasi. Seperti yang dinyatakan oleh Herr Grimm, seorang peneliti tentang bahasa Indo-German, dan hasil penelitian Herr Grimm dikenal dengan Grimm’s Gesetz atau Rumus Grimm. Ada beberapa bukti yang membuktikan tentang adanya hubungan satu sama lain mengenai bahasa Indo-Eropa tersebut, misalnya:
Sanskerta Jerman Inggris Arti
Bharat Bruder Brother saudara
Matha Mutter Mother Ibu
Pitar Vater Father Ayah
Dwar Tür Door Pintu

Dari beberapa contoh kata tersebut di atas bisa dikatakan, bahwa ada relasi atau hubungan di antara bahasa-bahasa Indo-German tersebut. Dan dalam perkembangannya pengucapan bahasa tersebut disesuaikan dengan lidah sang penuturnya.

Karena rumpun bahasa Indo-German tersebut memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dalam mengkonyugasikan (merubah bentuk kata kerja berdasarkan subyek kata kerja) kata kerjanya, maka hal ini menambah ketidaktertarikan para penganut Hindu untuk mempelajari bahasa Sanskerta tersebut. Hal ini ditambah lagi dengan sulitnya penulisan bahasa Sanskerta ke dalam huruf Dewa Nagari. Jangankan untuk menguasai penulisan bahasa dengan huruf Negari, menulis bahasa Bali memakai huruf Bali saja generasi muda di Bali menemui banyak hambatan.

Bila tidak ada usaha mendorong atau memotivasi generasi muda untuk mengenal bahasa Sanskerta lebih lanjut, maka bahasa Sanskerta tidak akan ada bedanya dengan nasib bahasa Latin, yang mana bahasa tersebut hanya dipelajari oleh beberapa orang saja dan kemudian menjadi bahasa mati.

Sebenarnya penting bagi kita mempelajari bahasa agama, karena dari bahasa itulah tercermin tentang mental dan karakter agama tersebut dan kosa kata dalam agama tersebut juga mereprenstasikan budaya atau keadaan agama tersebut. Misalnya dalam bahasa Sanskerta ada istilah Om Swastiastu, Om Shanti, Shanti, Shanti Om, Namaskar, Namaste, Dandavat, Pranam dan lain sebagainya. Dari ungkapan tersebut tercermin tentang karakater agama Hindu, bahwa hal penting dalam bertegur sapa bagi warganya adalah “Kedamaian atas karunia Tuhan”.

Begitu juga dalam istilah-istilah lainnya yang dipakai dalam beryadnya adalah cerminan prilaku masyarakat pendukung ajaran Weda tersebut. Misalnya ada istilah prasadam yang artinya makanan yang telah diberi karunia. Artinya bahwa dalam hal beragama kita perlu memdalami bahasa yang dipakai dalam mewahyukan agama tersebut, sehingga kita tahu persis mengenai ajaran agama kita. Dari dua contoh kata tersebut bisa dikatakan bahwa bahasa agama mencerminkan keadaan suatu agama. Agama Hindu mengedepankan tata cara tanpa kekerasan (Ahimsa), maka secara otomatis warga Hindu dalam tatanan kehidupannya selalu berusaha menghindari peperangan dalam mengadapi pertentangan.

Pelajari Sanskerta Sejak Dini
Walaupun Hindu itu sangat toleran dan fleksibel dalam hal tatanan beragama, namun penting untuk kita mempelajari bahasa Sanskerta itu karena bahasa tersebut mewakili nafas Hindu. Bagaimana kita bisa paham secara mendalam bila karakter yang mencerminkan pribadi Hindu kita tidak ketahui. Guna memahami ajaran Hindu yang lebih dalam di kehidupan social-religious, maka penguasaan bahasa Sanskerta sangatlah membantu memahami ajaran agama tersebut. Walaupun bahasa Sanskrit merupakan bahasa agama yang sulit namun hendaknya hal itu tidak menjadi penghambat generasi kita untuk mempelajari bahasa agama mereka. Dengan mempelajari Bahasa Sanskerta sejak dini, maka pemeluk Hindu akan memahami agama tersebut secara lebih luas. Dan sudah bisa dipastikan tidak terjadi pengkavlingan Hindu secara kedaerahan dan saling cerca sesama penganut Hindu pasti tidak terjadi.

Kesalahpengertian yang selama ini terjadi dimana ada banyak orang yang mengganggap, bahwa belajar bahasa Sanskerta itu urusan mereka yang mau jadi pemangku atau pendeta harus diubah. Sebagai seorang Hindu, setidaknya kita mengerti bahasa Sanskrit yang berhubungan dengan kehidupan beragama kita. Dengan cara ini pula kita bisa memupuk rasa bangga kepada Hindu.

Walaupun ada kenyataan bahwa belajar bahasa Sanskerta tidak mudah, namun bila kita terus mau belajar, tentu kesulitan serta pandangan tentang bahasa Sanskerta sebagai bahasa yang sulit akan terhapus. Coba lihat saja di Bali, terutama di dunia pariwisata, orang Bali bisa menguasai berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Korea, Jepang, Danish, Spanyol, Jerman, Rusia, Hongaria, Polandia dan lain sebagainya. Kita harus berani memulai mempekernalkan bahasa agama kita sejak dini kepada generasi kita agar mereka nanti tidak merasa asing dengan bahasa agama mereka sendiri. Hal ini juga bermanfaat karena dengan cara itu kita tidak akan mudah diperolok-olok para pengkonversi agama yang sekarang gencar mencampuradukkan istilah keagamaan kita.

Campuradukkan Bahasa untuk Konversi
Kejadian mencampuradukkan istilah agama kita sering terjadi karena generasi kita tidak menguasai bahasa asal agamanya, sehingga dengan mudah penerjemah asing itu mengolok-olok kita. Seperti apa yang dilakukan oleh Max Müller yang dengan seenaknya menerjemahkan Weda, sehingga terjadi kesalahpahaman mengenai Hindu. Misalnya kata “warna” dalam bahasa Sanskrit yang mengacu pada kelompok berdasarkan keahlian dengan gampangnya diterjemahkan “kasta” sehingga lantas ada anggapan, bahwa warga Hindu terkotak-kotak berdasarkan keturunan sesuai dengan pengertian kasta tersebut. Padahal menurut kenyataannya dalam Bhagawad Gita Bab IV.13 dinyatakan bahwa manusia tersebut dikelompokkan berdasarkan “guna”.

Walaupun ada kenyataan bahwa pengajaran tentang bahasa Sanskerta memang hampir tidak ada bagi kebanyakan warga kita, namun kita seharusnya berusaha memperkenalkan kepada generasi muda kita jaman sekarang ini dengan memanfaatkan teknologi modern. Dengan cara itu kita berharap bahwa mereka nantinya berwawasan lebih luas dibandingkan dengan dengan generasi yang gugon tuwon, seperti di kebanyakan orang Bali. Dulu atas nama ajawera, semua hal yang berhubungan dengan agama jarang bisa pelajari oleh kaum muda, karena adanya anggapan bahwa belajar sastra agama sejak dini bisa membawa pengaruh negative. Ini jelas mitos teramat konuyol.

Kita bisa belajar banyak dari agama non Hindu dalam hal ini, karena mereka berani memperkenalkan bahasa agamanya dari sejak dini kepada generasi muda mereka. Dengan demikian selain mereka mengerti bahasa daerahnya sendiri, mereka juga mengerti bahasa asal-muasal agama. Berbeda dengan kita, seperti yang penulis lihat dan baca di facebook, dimana warga Hindu sendiri saling caci dengan saudaranya sendiri gara-gara ada ungkapan Hindu India dan Hindu Bali. Kalau saja bahasa Sanskerta diajarkan dari sejak dini di masyarakat kita, tentu tidak ada pandangan Hindu keindia-indiaan dan hindu kebali-balian dan lain sebagainya. Semua akan merasakan adanya persamaan dalam beragama lewat pemahaman bahasanya.

Selanjutnya......

Apakah Kematian Identik dengan Kekotoran?

Agus S. Mantik

Berbagai hal yang sangat prinsip sebenarnya tersangkut masalah yang rumit ini. Ada masalah standard ganda, kemunafikan, kebenaran yang ada dalam susastera dan barangkali yang terpenting adalah tiada berdayanya para pemimpin agama kita untuk memberikan jalan keluar di dalam keadaan jaman yang sudah jauh berubah. Padahal dalam RgVeda dengan jelas dikatakan, bahwa hal-hal yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman seyogyanya ditinggalkan. Sepanjang sejarah berhasilnya agama Hindu untuk survive dalam alur sejarah yang senantiasa berubah ini adalah karena para pemimpin umat senantiasa berpikir dan bertindak dengan benar dalam mencari hal-hal baru yang sesuai dengan keadaan yang senantiasa berubah.

Tidak keseluruhan daripada tradisi itu harus diikuti dengan harga mati (mulo keto karena para pemimpinnya tidak mengadakan pembelajaran). Atau seperti sabda Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, dan Siva di dalam Sivaratri. Beliau-beliau itu bukanlah menemukan sesuatu yang baru, akan tetapi menjelaskan kembali hal-hal yang sudah dilupakan. Jadi jelas ada tradisi (yang baik) yang terlupakan akan tetapi malah ada juga tradisi (yang salah) yang terus dilaksanakan. Kebiasaan ini sampai sekarang pun masih tetap berjalan!

Salah satu hal yang paling sering terjadi yang menimbulkan kejengkelan dan tentu saja keprihatinan adalah upacara pemakaman yang harus sembunyi-sembunyi (mengkeb- mengkeb) kalau di daerah di mana kematian itu terjadi ada ‘upacara besar’ di pura setempat. Pura ini tidak mesti Pura yang ‘disungsung jagat’ (artinya Pura besar) akan tetapi juga karena alasan adanya upacara di pura lokal.

Ada sebuah kejadian di Kabupaten Gianyar, di mana seorang telah meninggal di sebuah grya yang terkenal. Desa Pakraman melarang kremasi dan meminta andaikata harus dikremasi, maka mayat yang bersangkutan tidak boleh diupacarai, dianggap seolah-olah sedang tidur sampai upacara di pura setempat selesai; seolah-olah Betara bisa dikelabui! Karena adanya ketentuan ini, maka grya ini bahkan tidak menyampaikan kabar mengenai kematian ini kepada keluarga yang cukup dekat.

Di berbagai tempat, membawa mayat ke tempat lain untuk dikremasi juga dilarang kalau sedang ada upacara dan hal ini sering menimbulkan ketegangan. Ada banyak cerita mengenai keluarga yang ingin membawa mayat untuk dikremasi di tempat lain akan tetapi warga tidak mengijinkan mengangkut almarhum keluar dari rumah/memanfaatkan jalan umum. Padahal dengan jelas dipastikan, bahwa jalan besar (margi ageng) adalah bhuwana agung yang akan tetap demikian apapun yang melewatinya! Kemunafikan akan terlihat sangat jelas sebab mobil ambulance akan dengan bebasnya mengangkut mayat (dari keimanan lain) baik yang ‘lokal’ maupun yang dari luar daerah. Seolah mayat dari keimanan lain (yang naik ambulance) memperoleh dispensasi untuk lewat tanpa menimbulkan keletehan!

Yang lebih menggenaskan lagi adalah kalau pilihan yang ada hanyalah penguburan. Biasanya upacara pemandian dilakukaan sore hari/sandya dan prosesi penguburan dilakukan di sekitar jam 19, tanpa gong bahkan ada aturan yang tidak membenarkan membawa obor/lampu. Pemakaman ini betul betul nyilib dan di beberapa daerah di luar kota menjadi peristiwa yang menyeramkan.

Prosesi ini sesungguhnya mencoreng citra agama Hindu. Di satu pihak hal ini bertentangan dengan susastera yang mengatakan mengenai srsti (kelahiran), drsti (pemeliharaan) dan laya (kematian). Di dalam Gita dengan jelas dikatakan, bahwa mereka yang dilahirkan sudah pasti mati dan yang mati sudah pasti akan dilahirkan kembali. Atau kalau kita mengikuti pandangan Isa Upanisad yang dengan gamblang menjelaskan, bahwa semua yang ada di alam semesta ini berada di dalam lingkupNya! Dengan demikian kematian juga sudah pasti ada di dalamNya. Dan kalau memperhatikan hal ini maka keimanan lain seperti Kristiani dan Islam dengan jelas dan terang terangan mengusung pandangan ini. Upacara kematian saja mereka laksanakan di rumah Tuhan (di gereja dan masjid).

Kita tidak tahu sejak kapan pandangan mengenai keletehan kematian ini sudah berlangsung. Yang terang pandangan yang sama juga ada di India; mereka yang mencari nafkah berhubungan dengan upacara kematian dianggap chandala, outcast, untouchable. Bersentuhan saja dengan orang orang seperti ini dianggap kotor yang memerlukan pembersihan (lukat). Mereka bahkan disediakan piring makan yang terpisah. Dan keadaan yang memilukan inilah yang membuat Ghandi memperjuangkan nasib mereka dan memanggil mereka dengan sebutan harijan (putraNya Hari, Dewa Wisnu).

Bagaimana meluruskan kembali pandangan yang sesat seperti ini? Bahwasannya kematian adalah bagian dari urutan evolusi yang kesemuanya berada dalam Tuhan? Tentu sajalah hal ini memerlukan pembelajaran. Agama meminta kita untuk percaya karena sradhha adalah fondasi utama dari agama. Akan tetapi di dalam tatanan tattva (falsafah) diperlukan skeptisme, keraguan apakah segala sesuatunya memang sudah harus demikian. Dan hal terakhir ini memerlukan setiap orang dari kita, terutama pemimpin agamanya untuk senantiasa belajar, jijnasa (self inquiry), kata Sri Sankara didalam Brahma Sutra-nya yang membahas dan memberikan tafsir (bhasya) terhadap rangkaian Upanisad Upanisad.

Di dalam tafsir nya mengenai Bhagavad Gita, Prof S Radhakrishnan mengatakan bahwa seyogyanya para pemimpin harus berada di bongkol gunung ketika para pengikutnya masih berada di lembah. Dengan demikian para pemimpin ini akan memiliki pandangan ke depan dan cakrawala yang lebih jauh dan lebih luas daripada para pengikut mereka. Sebab kalau para pemimpin ini sama sama berada di lembah, maka yang bisa mereka perbuat hanyalah meng-eksploitir instink/naluri sederhana dari para pengikutnya dan hal ini berbahaya. Mereka akan menghasut anak buah mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan yang masih bersifat primitive seperti kekerasan dan lain-lain.

Di dalam dua Upansad (Katha dan Maitri Upanisad) hal seperti ini diandaikan bagaikan orang buta yang menuntun orang buta! Akibatnya tentu anda paham: Anda akan terperosok ke selokan! Kesimpulan paling pokok dari hal di atas adalah bahwasannya ritual saja tidaklah cukup. Seyogyanya ada sekelompok pemimpin masyarakat/agama yang dengan sungguh-sungguh belajar memaknai keseluruhan dari agama kita ini. Jadi bukan sekadar hal-hal yang bersifat ritual saja. Dengan terus terang harus dikatakan bahwa upacara di dalam agama kita luar biasa ribetnya. Saya menemukan tidak sedikit anak muda yang berkata demikian dan mengeluh bahwa mereka tidak banyak mengerti mengenai agama mereka sendiri. Anda tidak akan percaya kalau saya mengatakan bahwa saya sudah bertemu dengan beberapa anak-anak muda yang dangan sadar ingin melepaskan agama mereka karena keruwetan ini.

Selanjutnya......

Karma Yoga di Medan Politik

BR. Indra Udayana

Setiap umat Hindu pasti mengenal Karma Yoga. Tetapi mereka memaknainya secara berbeda-beda. Ada yang memaknainya sebagai bekerja di pura atau mengurus ashram. Ada yang memaknainya sebagai bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Semua pemaknaan itu benar asalkan tujuan dan aktivitasnya untuk kepentingan yang melampaui kepentingan dirinya. Jika seseorang bekerja untuk dirinya sendiri, maka itu bukan Karma Yoga.

Karma Yoga juga dipakai untuk perjuangan politik. Mahatma Gandhi adalah salah satu contohnya, tokoh yang menggunakan Karma Yoga dalam perjuangan politik. Pada Karma Yoga Mahatma Gandhi, ada proses-proses yoga yang dilakukan. Yaitu proses pengendalian diri yang disebut dengan dasa vrata. Salah satu dari dasa vrata adalah “ahimsa” yang berarti tidak menyakiti (tanpa kekerasan). Vrata ini adalah dasar perjuangan, untuk mencapai tujuan perjuangan yaitu kemerdekaan negaranya.

Vrata adalah hal yang terpenting dalam perjuangan. Jika seseorang tidak melakukan vrata, dia akan goyah dalam mecapai tujuan hidupnya. Politisi sekarang, jarang yang melakukan vrata untuk mencapai tujuan politiknya, sehingga mereka goyah ketika menghadapi berbagai cobaan. Seperti sogokan dan sebagainya. Kegoyahan ini kemudian membuat mereka tergelincir. Ketergelinciran mereka akan membuat mereka semakin jauh dari tujuan-tujuan politiknya.Oleh karena itu, Mahatma Gandhi senantiasa menekankan vrata pada murid-muridnya, sehingga banyak muridnya yang terkenal dalam perjuangan politik.

Salah satu muridnya berhasil memberikan tanah kepada orang-orang miskin dengan gerakan tanpa kekerasan (ahimsa). Beliau mendatangi tuan-tuan tanah untuk memberikan pengertian bahwa persaudaraan jauh lebih mulia daripada kekayaan. Tuan-tuan tanah banyak yang rela memberikan sebagian tanah-tanah mereka untuk digarap. Hal ini merupakan perjuangan yang luar biasa. Karena itu, setiap penganut Gandhi Movement selalu percaya bahwa kekuatan “ahimsa” adalah kekuatan yang luar biasa. Vrata seperti itu adalah vrata dasar yang harus dilakoni oleh seorang yang menginginkan tujuan-tujuan mulia.

Kader-kader partai politik harus meniru hal ini. Mereka perlu memantapkan kader-kadernya dengan vrata seperti itu, sehingga tujuan-tujuan politik yang berupa kesejahteraan sosial tercapai. Generasi muda pun harus juga memegang teguh vrata. Pengendalian seperti itu adalah fondasi dasar untuk mencapai tujuan hidup. Kegoyahan adalah ciri dari generasi muda. Tetapi vrata-vrata akan memantapkan tujuan-tujuan hidup mereka. Jika tujuan hidup telah mantap, mereka akan menatap masa depan dengan cerah. Jadi fondasi dasar dari Karma Yoga adalah vrata. Setelah vrata barulah kerja-kerja nyata dalam berbagai lapangan kehidupan.

Semua yoga membasiskan ajarannya pada vrata. Karena itu, Karma Yoga harus dimulai dengan vrata. Setelah melakukan vrata, kosentrasi pada tujuan-tujuan kehidupan. Kosentrasi ini akan mengantarkan seseorang mencapai tujuan hidupnya. Genersi muda sebaiknya mulai latihan melakukan hal ini dengan kesadaran dan disiplin. Sebab mereka nanti yang akan menjadi kader-kader bangsa dalam berbagai lapangan kehidupan, mulai dari politik, ekonomi dan lain sebagainya. Jika generasi muda telah mantap, maka masa depan akan lebih baik.

Karena itu, ajaran ini sebaiknya mulai dilatih generasi muda. Jika orang melakukan latihan ini, maka tidak akan mengenal letih dalam pekerjaan. Sebab pikiran tidak tertuju pada badan, tetapi bertuju pada tujuan. Badan pun akan mengikuti pikiran karena badan telah terkendali melalui latihan vrata. Jadi, Karma Yoga bisa diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk politik. Mahatma Gandhi adalah contoh tokoh yang menerapkan ajaran ini dalam kontek politik. Generasi-generasi selanjutnya didorong untuk mencoba ajaran ini dalam medan fraksis.
Yoga adalah penyatuan sang Jiwa dan Hyang Kuasa, jadi tidak hanya meditasi dan latihan fisik.

Yoga sebenarnya memiliki pengertian luas. Yoga bagi seseorang yang intelektualnya menonjol adalah “Jnana Yoga”. Yoga bagi seorang perasaannya menonjol adalah “Bakti Yoga”. Sedangkan Yoga bagi seorang yang pikirannya dan perasaannya aktif, adalah “Karma Yoga”. Karma yoga adalah bekerja untuk sesuatu cita-cita yang besar, yang melampaui dirinya. Karena seorang karmin, biasanya tidak akan pernah letih.Setiap orang yang bekerja untuk dirinya sendiri, pasti akan mengalami letih. Tetapi seseorang yang bekerja untuk cita-cita yang melampaui dirinya, tidak akan pernah letih. Hal itulah yang disebut dengan Karma Yoga.

Karena itu, pekerjaan yang mengurus ashram, memperbaiki tempat suci, dan memberikan makan kepada orang miskin, belum merupakan Karma yoga. Karma Yoga adalah usaha yang terus menerus untuk menciptakan kebajikan kepada seluruh umat manusia. Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh seorang karmin. Beliau bekerja siang dan malam, tidak mengenal letih. Beliau memperjuangkan sesuatu yang melampaui dirinya, yaitu kemerdekaan India. Pada perjuangan ini, beliau sama sekali tidak menghiraukan kepentingannya sendiri, walaupun setiap orang tidak akan bisa melepaskan diri dari kepentingannya, seperti contohnya makan. “Inilah contoh seorang karmin.”

Seorang karmin, tidaklah sama dengan seseorang yang menginginkan kesempurnaan. Seorang karmin terbuka terhadap kesalahan. Setiap manusia wajar memiliki kesalahan. Kesalahan tersebut tentu harus diperbaiki. Setiap manusia harus bisa berinkarnasi setiap hari, sehingga bisa memperbaiki dirinya setiap hari. Kesalahan masa lalu, harus segera dilupakan. Manusia harus mulai dengan harinya yang baru. Untuk maju bersama-sama dan terus menerus berusaha memurnikan dirinya.

Swami Vivekananda, mengungkapkan bangkit, bangun, kejar cita-citamu sampai berhasil. Hal itu artinya, tidak ada dapat dipungkiri bahwa manusia pernah jatuh. Tetapi yang penting dari kejatuhan, bukan penyesalan. Hal yang sangat terpenting dari kejatuhan adalah kebangkitan kembali. Itulah reinkarnasi manusia. Manusia harus lahir dari kesalahan menuju kebenaran. “Jadi bukan saya tidak percaya dosa. Tetapi lupakanlah itu, bangkitlah dengan kemurnian hatimu.”

Anak-anak muda banyak yang putus asa dalam hidupnya. Hal itu sama sekali tidak benar. Masih banya ada kesempatan. Karma Yoga membuka jalan bagi mereka, untuk bekerja keras lagi bagi kemanusiaan. Karena itu, setiap manusia harus menentukan tujuan hidupnya. Dari tujuan hidup ini, manusia harus bangkit untuk mengejarnya. “Ya tentukan tujuan hidup, gapailah dengan usaha dan doa. Sebagai anak muda memang wajar belum menentukan sikap. Mereka masih mencari-cari tujuan hidup. Proses pengenalan yang lama dengan alam lingkungan, akan menemukan tujuan hidupnya. Proses ini biasanya berjalan di masa Brahmachari. Jika tujuan hidup itu telah ditemukan, kejarlah.

Selanjutnya......

Panca Guru

Jro Mangku Putu Oka Swadiana

Eksistensi hidup manusia di dunia tidak bisa hidup sendiri dan menyendiri, karena harus bersinergi dan berinteraksi dengan yang lain. Hal ini mengingat manusia, di samping sebagai makhluk individu, juga ia adalah sebagai makhluk sosial dan yang lebih penting lagi, bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang merupakan insan yang diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi Wasa. Inilah yang harus dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam segala hal. Dengan demikian orang akan dapat hidup harmonis dan bahagia seperti yang kita inginkan bersama.

Berbicara tentang Catur Guru, ada baiknya kita tinjau dulu dari segi pengertiannya, sehingga, sehingga lebih mudah untuk memahami dan mencermatinya. Catur Guru seperti yang kita ketahui dari arti katanya berarti empat guru atau empat unsur keteladanan atau panutan yang harus dihormati di dalam kehidupan ini. Catur Guru meliputi: Guru Rupaka (Orang tua), Guru Pengajian (Guru di sekolah), Guru Wisesa (Pemerintah) dan Guru Swadhyaya (Ida Sanghyang Widhi). Empat guru inilah yang patut dijadikan panutan dan dihormati di dalam kehidupan ini, karena kita bisa hidup, bisa lahir ke dunia dan bisa hidup teratur dan tertib di masyarakat.

Manusia akan dapat hidup layak dan bahagia apabila ia mampu bersinergi dan berinteraksi dengan unsur-unsur Catur Guru itu. Catur Guru sesungguhnya merupakan disiplin dalam tatanan hidup bermasyarakat. Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut.

Guru Rupaka, yaitu orang tua yang telah melahirkan kita karena manusia tidak akan lahir ke dunia tanpa ada yang melahirkannya. Demikian pula seterusnya ia tidak akan dapat hidup dengan layak apabila tidak ada yang memelihara dan membina. Oleh karena itu, sifat dan sikap bhakti kita kepada orang tua yang melahirkan dan memelihara serta membina kita patut diwujudkan ke dalam bentuk etika dan disiplin hidup.

Guru Pengajian, yaitu guru dalam pengertian sebenarnya sebagai seorang pendidik di sekolah, pesraman, dan lain-lain. Guru Pengajian memberikan bimbingan ilmu pengetahuan, sehingga demikian berjasanya Guru Pengajian bagi setiap orang. Peran Guru Pengajian untuk memberikan pendidikan dan mencerdaskan bangsa, agar terhindar dari kebodohan hingga mampu meraih derajat kehidupan lebih baik dan berguna bagi keluarga, bangsa dan negara. Karena itu sungguh tak ternilai jasa-jasa para guru yang mengajar di sekolah dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Ungkapan pun diarahkan kepadanya sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Hal ini pula yang dijadikan dasar bahwa setiap orang harus bhakti dan hormat kepada guru-guru atau kaum pengajar sepanjang masa.

Guru Wisesa, yaitu pemerintah adalah guru dalam masyarakat yang memberi tuntunan atau pengayoman dalam kehidupan masyarakat dan negara untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat adil dan makmur. Guru Wisesa wajib memberikan tuntunan dan menjamin serta terpenuhinya kebutuhan material dan spiritual secara seimbang dan merata sebagaimana tercantum dalam undang-undang dasar 1945 yang dijabarkan lebih lanjut dalam pembangunan nasional.

Guru Swadyaya, adalah Tuhan sebagai Guru maha utama. Selain menciptakan alam beserta isinya, Tuhan juga menurunkan berbagai agama dan ajaran suci ke dunia untuk membimbing umat manusia. Segala sesuatu yang ada di alam ini, termasuk ilmu pengetahuan sesungguhnya hanya satulah sumbernya, yaitu Tuhan. Untuk memperoleh bimbingan dari Guru Swadyaya, maka setiap umat manusia wajib bhakti dan tunduk hati kepada Tuhan, mengikuti sabda-sabda suci beliau, sehingga kita mendapat rahmat dan bimbingan dariNya.

Demikianlah seperti uraian di atas yang disebut dengan Catur Guru, sedangkan yang dimaksud dengan Panca Guru adalah apa yang disebut dengan “Dulur Barep” atau anak sulung (Tertua). Seperti apa yang disampaikan oleh seorang tokoh pedalangan Jawa dari Desa Klisik, Kecamatan Gandusari, Blitar, Jawa Timur. Dalang Sukrisno satu guru yang harus dihormati juga adalah “Dulur Barep” atau anak sulung yang memberikan bimbingan kepada adik-adiknya. Jadi yang menghormati “Dulur Barep” ini adalah adik-adiknya saja, sedangkan bagi seorang anak sulung atau anak tunggal, tentu ia tidak memiliki guru kelima atau “Dulur Barep” ini.

Kata orang tua, “Hormatilahkakakmu, kalau jelek-jeleknya jangan diikuti, tapi tirulah kebaikannya.” Sang adik tidak boleh melawan kata-kata kakaknya, seperti Yudhistira dalam keluarga Pandawa yang selalu dihormati oleh adik-adiknya. Karena itu, menjadi anak sulung juga mengemban tugas berat, karena harus mampu menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Selanjutnya......

Hindu dan Umat Manusia di Masa Depan

Ngurah Parsua

Umat manusia di masa depan tidaklah berlebihan, bila dikatakan ditentukan oleh apa terjadi dan diperbuat sekarang. Hindu dianut oleh sebagian umat manusia di dunia. Bila dikatakan secara sederhana, Hindu ikut menentukan umat manusia di masa depan, bersama keyakinan dan faham lainnya. Bukan saja karena jumlahnya cukup signifikan, juga pesannya yang positif, sangat mengarahkan penganutnya, menjadi manusia mencintai perdamaian.

Sutan Takdir Alisyahbana mengakui hal itu. Sehingga Takdir membuat semacam ‘’Pusat Seni’’ bertempat, di Toya Bungkah, di kaki gunung dan di tepi danau Batur yang permai. Diharapkan dari tempat itu, dapat menyebar ke seluruh dunia. Nuansa kebudayaan ekspresif Bali yang halus dan kaya dengan pesan perdamian. Tempat itu memang disinggahi wisatawan dari seluruh dunia. Kegiatan dilakukan di tempat pusat seni itu, meliputi; seminar, pameran, pertunjukan berbagai seni, dan sejenis itu. Memang datang dan singgah untuk menginap, wisatawan berasal dari berbagai belahan dunia.

Hindu memang kaya dengan filosofis, seni dan budaya serta amanat-amanat penuh makna. Misalnya, seperti, tat wam asi; bila diterjemahkan dan ditafsirkan secara bebas, kurang lebih, maknanya: ‘’Engkau adalah aku’’. Sebelum kita menjatuhkan kebencian kepada seseorang, sebaiknya, terlebih dahulu berempati, bagaimana kalau kita berposisi seperti dia? (Dalam kesalahan, berdosa, miskin, lemah dan sejenis itu). Pertimbangan empati seperti itu, perlu diperhatikan. Bermaksud mengurangi rasa ‘’ego’’, musuh terbesar manusia justru bercokol di dalam diri manusia. Itulah yang konon dikatakan ego. Rasa keakuan yang sering membawa bencana, kepada diri manusia itu sendiri. Ini diajarkan pula oleh Hindu.

Sehingga dengan demikian, memberi hukuman hendaklah, tidak berdasarkan pada kebencian. Tat twam asi, pesan yang memberi kesan: ’’Jangan membenci dan jangan menyebarkan kebencian’’. Sebaliknya, shanti adalah kunci hidup diajarkan Hindu. Shanti bermakna damai dan damai.

Seiring dengan hal itu, tanpa kekerasan, ‘’Ahimsa’’ tidak melakukan kekerasan adalah jalan untuk mencapai tujuan hidup. Hindari kekerasan, bunuh-membunuh, sehingga sering diperdengarkan kata-kata: ‘’Kita semua adalah bersaudara.’’ Di dalam doa, ada juga yang memanjatkan doa, kepada Betara Swadiaya.’’ Semoga semua hidup berbahagia’’. Jelas sekali, penulis kira tak ada menyebutkan rasa benci kepada siapa pun. Perintah untuk memerangi keyakinan lain, suku, ras, etnis, bangsa bahkan kepada orang atheis pun. Tidak diperintahkan untuk memusuhi dan membencinya. Semua adalah ciptaan-Nya. Sebaliknya bukan berarti harus lemah menghadapi ancaman, tantangan dan rintangan.

Hindu menyadari bahwa, dunia tak mungkin harus dihuni oleh satu keyakinan yang seragam. Di bawah satu ego yang maha dahsyat. Karena itu, Hindu memahami betul arti Bhineka Tunggal Ika, beserta isinya, secara luas dan mencapai kepada sejarah dan filosofisnya. Dipesankan, untuk sangat toleran kepada faham lain yang hidup di dunia, selama secara moral dan etika kehidupan berperikemanusiaan dan berbangsa, dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan kata yang paling dahsyat, rasionil dan merupakan kenyataan sebenarnya adalah makna kata Shanti (damai). Apabila semua tindakan manusia bertindak berdasarkan kasih, maka tujuan hidup shanti sangat dekat. Hidup di dunia bagaikan hidup di sorga, damai dan sejahtra. Tuhan menciptakan kehidupan untuk mencapai hal seperti itu. Hindu telah memikirkan hal itu, sehingga kata kunci pesannya antara lain: Tat twam asi, ahimsa, toleransi dan shanti.’

Di dalam buku berjudul, ’’The future of humanity’’ (Two Dialogues between J. Krishnamurti/David Bohm, 2003), David Bhom menyatakan: ’’Apakah masa depan umat manusia?’’ Pertanyaan ini sekarang menjadi perhatian vital setiap orang, oleh karena sains dan teknologi modern, jelas terlihat membuka kemungkinan-kemungkinan yang hebat untuk penghancuran. Dalam hal ini, penyebabnya kemungkinan adalah mentalitas umat manusia, pada umumnya sekarang, mewarisi pikiran yang kacau.

Bahkan dikatakan, ‘’Tidak pernah berubah secara mendasar’’. Mungkin keadaan ini telah berlangsung, jauh sebelum saat sekarang. Maka perlu ada pengkajian mendalam sampai ke akar kesulitan. Diharapkan dari sini manusia berbelok arah, dari jalan dianggap sangat berbahaya, seperti keberadaan yang sekarang.

Menurut J. Krishnamurti, waktu psikologis, atau ‘proses menjadi’ adalah sumber dari arus destruktif yang membahayakan masa depan umat manusia. Namun, mempermasalahkan waktu secara ini, berarti mempermasalahkan pula memadai-tidaknya pengetahuan dan pikiran sebagai cara, untuk menggarap masalah-masalah ini. Jika pengetahuan dan pikiran tidak memadai, apakah yang sesungguhnya dibutuhkan? Pada gilirannya, ini membawa masalah apakah bathin itu dibatasi oleh otak manusia, dengan segala pengetahuan yang telah dikumpulkan selama berabad-abad. Pengetahuan ini, yang pada saat ini, mengkondisikan kita secara mendalam, telah menghasilkan sebagai buahnya suatu program yang bersifat merusak-diri-sendiri, yang di dalamnya terlihat otak terperangkap tanpa berdaya.

Jika batin dibatasi oleh otak yang berada dalam keadaan seperti itu, maka masa depan umat manusia sungguh mengkhawatirkan. Namun Krisnhamurti tidak menganggap keterbatasan ini, sebagai tidak dapat dihindarkan. Alih-alih ia menekankan bahwa bathin pada dasarnya bebas dari bias yang inheren, di dalam otak yang terkondisi, dan bahwa melalui pencerahan yang muncul dengan perhatian-tanpa-arah-dan-tanpa-pusat yang sebenarnya, bathin dapat mengubah sel-sel otak dan melenyapkan pengkondisian yang destruktif. Jika ini benar, maka sangat penting adanya perhatian, terhadap apa yang penulis paparkan tentang kekayaan ajaran rohani dan perilaku Hindu, menuju kepada perdamaian. Di mana umat manusia di masa depan, tidak seperti bayangan saat ini. Pikiran yang salah satunya berwajah destruktif, menghancurkan manusia itu sendiri.

David Bohm menyatakan, ‘’Pada titik ini, ada manfaat dikemukakan bahwa penelitian modern mengenai otak dan sistem syaraf. Sesungguhnya telah memberikan cukup banyak dukungan kepada, pernyataan Krisnhamurti bahwa pencerahan dapat mengubah sel-sel otak. Misalnya, sekarang telah diketahui bahwa ada zat-zat penting di dalam tubuh, hormon-hormon dan neurotrnasmitters, secara mendasar mempengaruhi seluruh fungsi otak dan sistem saraf. Zat-zat ini beresponsi dari saat ke saat terhadap apa yang diketahui orang yang bersangkutan, terhadap semua ini. Telah dapat ditegakkan dengan kuat, bahwa dengan cara ini, sel-sel otak dan fungsinya dipengaruhi secara mendalam, oleh pengetahuan dan suasana hati (passion). Diduga mengubah sel-sel otak. Lebih lanjut dinyatakan oleh David Bohm, ‘’Dengan demikian, adalah mungkin bahwa pencerahan yang tentunya muncul dalam keadaan energi mental dan suasana hati kuat, dapat mengubah sel-sel otak secara lebih mendalam lagi. (Masa Depan Umat Manusia, Dialog antara J.Krisnhanmurti dan David Bhom, 2003: X).

Pikiran yang terbatas, disertai sel-sel otak yang belum mampu bebas dari keterikatan, bisa mngancam umat manusia di masa depan. Kemajuan ilmu dan teknologi tanpa disertai kehalusan bathin akan mudah melahirkan tindakan destruktif. Tanpa pemikiran didasari oleh kemanusiaan yang beradab dan kesadaran bertanggung jawab, umat manusia, di masa datang mengkhawatirkan.
Menyadari dengan hal itu, Vivekananda yang namanya melambung, ketika berpidato di Parlemen Agama-Agama Sedunia di Chicago, Amerika Serikat 27 September 1893. Salah satu anjurannya, agar orang Barat belajar spiritual ke Timur (India) dan orang timur belajar teknologi ke Barat. Kedua hal itu, saling melengkapi hidup, untuk meningkatkan umat manusia secara berproses ke masa depan. Tetapi isi pidatonya yang menggetarkan adalah seruannya, tentang harmoni, damai dan kasih sayang antara umat beragama dari seluruh agama yang ada di dunia.
Vivekananda dalam pengembaraannya di belahan bumi bagian Barat, Eropah, dan Amerika Serikat, selalu ditemani sekretaris pribadinya, orang Ingris Mr. H.H. Goodwin yang mencatat apa-apa yang disampaikannya. Vivekananda sepanjang pengembaraannya tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada dunia Barat yang penuh dinamika, suka membantunya dengan tulus dan ramah. Tidak sedikit orang-orang Barat datang ke India untuk mencari pengalaman atau bermaksud mendalami demi profesinya sebagai jurnalistik, akhirnya terpikat dan menjadi guru-guru spiritual andal di tanah kelahirannya. Bahkan relatif ada yang sampai, mendirikan tempat perguruan spiritual. Amerika serikat diharapkan menjadi pelopor kebangkitan toleransi agama-agama yang ada, termasuk agama Hindu dan memang Chicago, California, Los Angeles, San Fransisco, memberi tempat bagi peguyubannya yang berkembang.

Vivekananda, menyatakan kebanggaannya, sebagai orang Hindu di mana bangsanya telah melindungi mereka yang dihukum, atau melarikan diri dari agama dan bangsa lain yang menekannya, di dunia ini. ‘’Aku sungguh bangga menyatakan bahwa kami telah menghimpun di bumi kami, sisa-sisa termurni dari bangsa Israel yang datang ke India selatan dan tinggal bersama kami tepat pada masa di mana Kuil Suci mereka dihancurkan oleh Tirani Romawi. Aku bangga menjadi penganut agama yang telah memberi perlindungan dan masih terus membantu sisa-sisa bangsa Zoroastra yang agung.’’ (Percik Pemikiran Swami Vivekananda, 1993: 16, Oleh: Nyoman S. Pendit).

Hindu telah ikut memberi warna keberadaan umat manusia saat ini. Sebaliknya, perlu meningkatkan diri dan pasti tak akan terlupakan, bahwa Hindu berperanan positif di dalam membangun umat manusia di masa depan.

(Penulis Budayawan tinggal di kota Denpasar, Bali).

Selanjutnya......

Rasa Sakit Saat Pertama Latihan Yoga Asanas


I Gede Sukra Darmayasa

Ajaran yoga saat ini sudah mulai dilirik dan ditekuni oleh sebagian besar masyarakat, mereka sudah mulai menyadari betapa besar manfaat dari yoga itu sendiri. Sesungguhnya yoga merupakan ajaran yang sangat mudah dan praktis untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan ajaran yoga bila kita telusuri lebih mendalam sangatlah kompleks dan lengkap, karena tidak hanya memberi manfaat secara fisik saja, namun dengan benar-benar menekuni yoga kita akan bisa mendapatkan suatu manfaat, baik secara jasmani maupun rohani. Namun bila mempelajari yoga hanya sekedar atau hanya iseng-iseng saja sudah tentu kita tidak akan bisa mendapatkan manfaat yang maksimal, baik secara jasmani maupun rohani.


Untuk itu bagi mereka yang ingin belajar yoga jangan hanya setengah-setengah dan juga jangan terlalu berambisi untuk mendapatkan suatu hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi bagi mereka yang memang benar-benar ingin menekuni yoga lakukanlah dengan sungguh-sungguh, penuh semangat serta harus latihan secara berkelanjutan. Dengan demikian kita akan bisa mendapatkan manfaat dari latihan yoga dengan maksimal secara tidak langsung tanpa kita inginkan atau dipikirkan sebelumya.

Perlu juga diketahui, bagi mereka yang ingin menekuni dan latihan yoga asanas ketika pertama kali latihan enak pasti akan merasakan sakit pada beberapa bagian tubuh, baik leher, lengan, perut, kaki dan pada bagian tubuh lainnya. Hal ini merupakan suatu yang wajar ketika kita melakukan sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dan hal yang serupa pasti dirasakan ketika melakukan gerakan olah tubuh lainnya. Namun ketika kita sudah sering melakukannya pasti rasa sakit itu tidak akan kita rasakan lagi, begitu pula bagi mereka yang sudah sering latihan yoga asanas rasa sakit setelah latihan pasti tidak merasakan sakit tapi sebaliknya tubuh kita akan terasa lebih sehat. Untuk itu bagi mereka yang merasakan suatu sakit pada bagian tubuhnya ketika pertama kali latihan jangan langsung menyerah dan tidak latihan lagi, karena hal ini merupakan suatu proses pelenturan organ tubuh.

Dewasa ini sering saya mendengar dan mengamati ada beberapa teman yang tidak mau melanjutkan berlatih yoga karena baru pertama kali latihan badanya sakit. Dia mengatakan, bahwa tujuan berlatih yoga adalah untuk mendapatkan kesehatan bukan sebaliknya malahan sakit. Karena pengalaman sakit itu, ia tidak mau berlatih yoga asanas lagi karena ia beranggapan bahwa latihan yoga hanya menyebabkan tubuh sakit saja. Padahal saya sudah mencoba menjelaskan rasa sakit yang kita rasakan ketika pertama kali latihan yoga itu hal yang biasa dialami oleh setiap orang ketika pertama kali latihan, namun bila sudah sering latihan rasa sakit itu tidak akan terasa lagi namun ia tidak percaya dengan penjelasan saya itu. Dan ketika berlatih yoga seharusnya secara berkelanjutan tidak hanya latihan sekali atau dua kali tidak lagi melanjutkan latihan hal ini sangatlah keliru. Karena ajaran yoga tidak bisa dipelajari secara instan melainkan bila ingin benar-benar belajar yoga perlu proses dan waktu yang cukup lama agar bisa melakukan gerakan yoga asanas dengan baik.

Bagi mereka yang ingin menekuni yoga perlu suatu keuletan dan kesungguhan hati serta tidak mudah menyerah ketika berlatih yoga. Bila ketiga prinsip ini sudah dimiliki niscaya kita akan bisa menekuni yoga dengan baik serta mendapatkan suatu manfaat yang maksimal dari latihan yoga itu sendiri. Ketiga prinsip ini perlu ditanamkan dalam diri dan diterapkan ketika melakukan suatu kegiatan atau aktifitas apa saja dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai suatu kesuksesan dari aktifitas yang dilakukan. Mereka yang sudah benar-benar menekuni ajaran yoga pasti akan merasakan suatu hal yang berbeda dalam hidup bila dibandingkan sebelum menekuni yoga. Hal ini bisa dibuktikan oleh setiap orang dan oleh siapa saja sesuai dengan karma wasananya sendiri, ajaran yoga sudah diterapkan dan dipraktekkan oleh para yogi dan para maharsi dari jaman dahulu. Dan ajaran yoga tidak akan pernah hilang walaupun jaman sudah semakin maju, karena ajaran yoga bisa diterima dan diterapkan di setiap jaman dalam kehidupan ini. Sudah terbukti saat ini dijaman modern, maju dan IPTEK sudah semakin berkembang orang di luar negeri sudah bisa jalan-jalan ke luar angkasa. Namun ajaran yoga masih tetap eksis dan masih bisa diterima dan diterapkan di tengah semakin majunya pengetahuan orang-orang saat ini.

Jadi sangat bersyukurlah bagi mereka yang sudah benar-benar menekuni ajaran yoga saat ini, karena ajaran yoga akan bisa dipraktikkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun jaman sudah semakin maju dan modern. Untuk yang baru pertama kali latihan yoga asanas jangan menyerah apalagi sampai takut latihan kembali baru tubuh terasa sakit ketika pertama kali latihan yoga asanas. Perlu diketahui rasa sakit itu hanya sementara karena bila sudah sering latihan rasa sakit itu tidak akan terasa lagi, melainkan setelah latihan tubuh kita akan bisa lebih sehat. Mari kita berlatih yoga untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, bahagia dan damai. Semoga kita semua bisa selalu hidup dalam kasih Tuhan. Om Satya, Dharma, Shanti.

Selanjutnya......

Mencari Solusi Entaskan Permasalahan di Karangasem


Para perantau asal Kabupaten Karangasem yang terhimpun dalam wadah Sekar (Semeton Karangasem) melangsungkan kegiatan darmasanthi dan dharmatula pada Jumat, 4 Me1 2012 lalu bertempat di Hotel inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar. Acara yang dimulai sejak pagi ini selain untuk mengikuti Dharma Santhi usai perayaan Nyepi, juga untuk menjaring berbagai ide dan pemikiran untuk kemajuan pembangunan di Karangasem.



Ketua Forum Sekar, Prof. Dr. Nyoman Suparta pada kesempatan itu mengatakan, acara dharmasanti ini merupakan acara rutin yang diselenggarakan Forum Sekar pada tiap tahunnya, namun tempat pelaksanaannya yang selalu berbeda beda. “Pada kesempatan ini kami Forum Sekar, yaitu Semeton Karangasem melaksanakan dua acara sekaligus, yaitu darmasanthi dan dharmatula. Acara ini dimaksudkan untuk memetik hikmah dari perayaan Nyepi, sehingga ada hal-hal yang baik diingatkan oleh pendharmawacana sebagai introspeksi diri atau mulat sarira kemudian dharma tula dimaksudkan secara khusus membahas masalah-masalah yang ada di Karangasem,” jelas Nyoman Suparta. Ia menambahkan, bahwa semeton Karangasem seringkali berkumpul untuk mencari solusi-solusi di dalam merumuskan pemecahan masalah-masalah yang ada di karangasem. Untuk nantinya pemikiran-pemikiran itu disumbangkan ke Pemkab Karangasem maupun bagi masyarakat Karangasem secara menyeluruh.

Menurut Prof. Suparta, pertemuan ini sifatnya independen dan tidak pilih kasih, artinya forum ini tidak terlibat dalam kegiatan partai. “Karena kita bukan simpatisan partai tertentu, jadi siapa pun yang menjadi bupati Karangasem, baik si A atau si B, maka kami wajib untuk memberi masukan karena masukan ini penting dalam mewujudkan pembangunan dan mengentaskan kemiskinan,” tambahnya. Oleh karena itulah, kemudian nampak acara diskusi pada hari itu dikemas sedemikian rupa dengan terbuka untuk mengesampingkan adanya kesan sesuatu yang rahasia atau ditutup-tutupi. Diskusi ini sengaja dibuka dengan model rembug, sehingga cepat membangkitkan semangat dalam memberikan sumbang sih pemikiran. Menurut rencana, untuk selanjutnya apa yang diputuskan dalam pertemuan ini akan dijadikan laporan dalam bentuk sebuah buku yang akan diserahkan kepada Bupati Karangasem.

Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg, SH., yang hadir dalam kesempatan itu di sela-sela acara mengatakan, bahwa Forum Sekar sangat penting artinya bagi masyarakat Karangasem, karena Sekar sudah menjadi mitra pemerintah, apalagi saat ini beberapa pengurus Sekar merupakan Tim Ahli dari Pemkab Karangasem,“ sebut Geredeg. Sejumlah tokoh Karangasem yang nampak hadir pada acara tersebut di antaranya, Prof. Dr Made Sukarsa yang juga Rektor Warmadewa, Rai D Mantra (Walikota Denpasar), Dr. I Gusti Ngurah Sudiana (Ketua PHDI Bali), Bagus Sudibya (Pengusaha Pariwisata), Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa (Guru Besar Undiknas), dan anggota Sekar lainnya yang bersal dari berbagai profesi.

Menurut Prof. Nyoman Suparta, darmasanthi ini adalah khusus pertemuan para tokoh-tokoh karangasem dan setelah ini nanti rencananya juga akan digelar pertemuan antarmassa Karangasem. Konteksnya pertemuan ini dalam kaitannya dengan agama Hindu adalah bagaimana momen baik ini sebagai kesempatan menyampaikan dharma, sehingga melalui momen dharmasanthi dan dharmatula dapat ditemukan manfaat baik, bagaimana cara berpikir yang baik dan dengan demikian dapat mewujudkan sesuatu yang baik.

Menurut koordinator acara, yaitu Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa mengatakan, acara dharmasanti sebenarnya acara yang spesial bagi umat Hindu. Menurutnya, memang kesannya perayaan ini di adakan berselang jauh dari perayaan Nyepi, akan tetapi yang namanya perayaan tidak ada istilah terlambat untuk merayakannya, karena di Bali tiap saat ada perayaan yang bermanfaat bagi Bali dan seluruhnya karena perayaan itu adalah hari suci. Menurutnya yang terpenting adalah proses kontemplasi dengan warga Sekar yang ada di rantau berlangsung lancar. Kemudian yang kedua bagaimana momen ini bertujuan memberikan kontribusi bagi Karangasem dan pemerintah khususnya dalam rangka mencarikan solusi bagi perbaikan masyarakat Karangasem dan mewujudkan pembangunan daerah, khususnya pembangunan Karangasem, sehingga terwujud mental spiritual yang baik.

Mengenai keberadaan Forum Sekar menurutnya adalah, bagaimana supaya forum ini benar-benar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, sehingga untuk itu para anggota Sekar dimanapun tempatnya perlu proaktip dalam melakukan kajian-kajian mengenai fenomena yang tengah terjadi di masyarakat Karangasem khususnya. Yang terpenting adalah bagaimana momen ini bisa dimanfaatkan oleh Sekar supaya bisa memberikan solusi, bagaimana mengantisipasi masalah-masalah pemuda yang terjadi di Karangasem supaya dapat diantisipasi sedini mungkin.

Menurut Dasi Astawa, strategi Sekar ini adalah ikut berpartisipasi membangun Karangasem dari aspek luar, supaya benar-benar dapat diketahui dari luar. Kiprah Sekar semestinya tidak saja diketahui oleh kalangan internal saja, melainkan pentingnya kinerja Sekar bisa diketahui oleh masyarakat Karangasem secara luas. Untuk mencapai hal ini, maka caranya adalah dengan ikut mengentaskan kemiskinan, terutama dalam konteks gagasan, karena gagasan sangat mahal sekali nilainya. Termasuk dalam bidang pendidikan.

Dasi Astawa juga menyinggung masalah desa pakraman. Menurutnya setiap desa pakraman memiliki wilayahnya masing-masing dan mempunyai otoritas sendiri-sendiri. Dengan demikian dipersilakan mereka berkembang sesuai potensi dan kekhasan desa masing-masing. “Desa pakraman itu merupakan suatu kearipan lokal yang termahal dan terbaik,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu ia juga memaparkan berbagai kalangan yang hadir pada acara ini yang berasal dari segala aspek lapisan masyarakat, mulai dari akademisi, profesional, pengusaha, buruh, tani semuanya hadir, termasuk penggiat sosial kebudayaan. “Saya rasa inilah sebagai bentuk partisipasi kebhinekaan bagi warga Karangasem dan wilayahnya yang terjadi dalam forum ini. Dan ini bentuk motivasi solidaritas sosial, di mana kegiatan sosial itu tidak hanya dilakukan dengan fasilitas dan finansial saja, melainkan dalam bentuk aksi kegiatan seperti ini,” imbuhnya.

Ia berharap, momen dharmasanti dan dharmatula ini sebagai momen pencerahan dan sekaligus di sisi lain momen ini diharap dapat memberi sulusi dalam konteks pembangunan sumber daya manusianya. Acara ini juga menurutnya tidak bisa dilepaskan dengan spirit Hindu. Karena dalam konteks Hindu, setiap kegiatan adalah merupakan suatu proses aspek pencerahan. Dan dalam Hindu pentingnya pembangunan mental spiritual tidak saja dilakukan melalui upakara dan upacara, karena kehidupan ini penuh dengan persaingan global maka umat Hindu juga perlu mengisi dirinya dengan kegiatan pembangunan dan debat. “Karena Hindu di Bali erat kaitannya dengan situasi pembangunan dan mendambakan lingkungan yang sangat harmonis dan adaptif, maka untuk mewujudkan maksud kebaikan tersebut ke depan, tentulah umat Hindu harus berbuat banyak. Salah satunya berkarya melalui Forum Sekar,” pungkas Guru Besar Undiknas ini.
(Suamba)



Selanjutnya......

YPUH Tak Bermaksud Melawan Tradisi

Laporan Made Mustika Seiring dengan perjalanan waktu, keberadaan Yayasan Peduli Umat Hindu (YPUH) Singaraja semakin diterima luas oleh masyarakat sekitarnya. Kini semakin banyak umat Hindu yang memanfaatkan jasa lembaga tersebut. Awal Mei lalu, misalnya, sebuah keluarga di Singaraja kehilangan salah satu keluarganya. Karena ingin praktis dan hemat, maka mayat yang hendak diaben itu langsung digeser ke yayasan dari rumah mereka di Kelurahan Kaliuntu. Padahal keluarga tersebut boleh dikatakan orang yang relatif sukses, baik di swasta maupun di pemerintahan. “Dengan bantuan YPUH ini keluarga kami banyak diringankan. Kami menerima para tetangga dan kerabat lain yang mau menyampaikan bela sungkawa ya di sini. Sehingga semua berjalan dalam kesederhanaan tapi lebih fokus,” kata Gusti Ngurah Agung, SE, 45 tahun, kepada Raditya di Sekretariat YPUH, Jl. Kalimantan, Singaraja, Minggu 6 Mei 2012. Sekretariat yayasan tersesbut terletak di pinggir pantai, sehingga deburan ombak pun terdengar saat wawancara. Jumat sebelumnya, kakak laki-laki Ngurah Agung yang bernama I Gusti Ngurah Mayun (52) menghembuskan nafas terakhirnya karena komplikasi tekanan darah tinggi. Mereka berkeluarga tujuh orang dan menetap tersebar di beberapa kota besar. Ada yang di Denpasar dan ada pula yang di Jakarta. Setelah mereka berembuk, akhirnya disetujui untuk miminta bantuan pada YPUH. Jadi, praktis mayat yang diaben itu diinapkan di sekretariat yayasan selama tiga hari, sebab baru hari Senin 7 Mei ada dewasa ayu untuk pengabenan. I Gusti Bagus Markota, kerabat keluarga duka, yang juga mantan Sekretaris DPRD Buleleng, sangat setuju dan mendukung keberadaan YPUH. Dia menegaskan, keberadaan YPUH adalah jawaban atas masalah umat Hindu hari ini dan masa yang akan datang. Sebab, generasi muda ke depan pasti dituntut untuk bekerja seprofesional mungkin. Mereka tidak mungkin akan sering-sering minta libur seandainya ditempatkan di luar Bali. Jika orang Bali profesional di bidangnya masing-masing, maka umat Hindu di Indonesia akan berkembang pesat. “Selama ini umat Hindu dihantui oleh ketakutan yang menyebabkan mereka ragu berkarir di luar daerah,” kata Markota. Dalam dua bulan terakhir ini memang nampak beberapa kali YPUH membantu umat Hindu menyelenggarakan pengabenan. Tak hanya mengulurkan tangan untuk umat Hindu yang ada di Buleleng saja, tapi untuk seluruh wilayah Indonesia. Ada juga keluarga dari Denpasar yang keluarganya meninggal di Lombok, akhirnya diupacarai di Singaraja. Tentu saja keluarga dari Denpasar itu yang datang ke Singaraja. Sebelumnya juga pernah membantu warga di Tabanan, di Bangli, di Karangasem, dll. Jika harus muput upacara di luar daerah, maka pengurus YPUH yang akan datang ke rumah keluarga duka. “Jangankan untuk umat Hindu, kami juga siap membantu umat lain jika mereka memerlukan bantuan kami,” kata Ketua YPUH Jro Mangku Sedana Wijaya. Kelebihan YPUH, selain memiliki sekretariat yang memungkinkan dipinjam oleh keluarga duka selama menunggu hari baik (dewasa), yang paling pokok adalah ritualnya sederhana. Sesederhana yang bisa dibayangkan orang. Pokoknya hemat waktu, tenaga, dan biaya. Seumpama upacara yang dikerjakan sendiri menghabiskan Rp 25 juta, oleh YPUH dikemas sedemikian rupa menjadi sekitar Rp 4 juta. Dalam hal ngaben dianjurkan tidak ada lagi melakukan ritual ngelinggihang. Cukup sampai upacara nganyut di laut. “Tapi kami fleksibel sekali. Kalau umat belum siap menerima tawaran dari yayasan, kami masih memfasilitasi untuk upacara sesuai kemauan sang yadnyamana,” tandas Pak Jro, sapaan akrab Jro Mangku Sedana Wijaya. Sesepuh YPUH Dr. Gede Made Metera menjelaskan, mengapa konsep ngelinggihang boleh dikatakan dihilangkan di YPUH, sebab paradigma Hindu memang mengajarkan demikian. Setiap roh setelah meninggal diharapkan bersatu dengan Paramatma atau Brahman (Tuhan). “Kalau kita mengharapkan setiap roh manunggal dengan Brahman, mengapa kita tarik kembali dan seolah-olah distanakan di sanggah kemulan atau paibon? Perkara kita mau menyembah leluhur, itu bisa dilakukan melalui rong tiga. Kita perlu melakukan reinterpretasi terhadap ajaran agama dan tradisi yang sedang berjalan,” kata dosen Kopertis di Unipas Singaraja itu. Metera menegaskan, YPUH tidaklah bermaksud melawan atau menyalahkan maupun meninggalkan tradisi. Sepanjang tradisi itu dapat diikuti oleh pendudukungnya, silakan jalan terus. Hendaknya kita menghargai pluralisme dalam Hindu. Jika ada teman yang berbeda sikap dan pilihan, selama perbedaan itu dalam bingkai Hindu, hendaknya diterima dengan lapang dada dan besar hati. Contohnya, kalau ada umat yang tak mampu lagi mengikuti tradisi yang telah digariskan, maka janganlah bersikap memaksa dan bermusuhan bila mereka datang untuk meminta bantuan YPUH. Berdasarkan pengalaman selama ini, kata Metera melanjutkan, umat yang meminta bantuan ke YPUH ternyata bukan mereka yang dikatagorikan keluarga tidak mampu alias miskin. Terbukti mereka yang menggunakan jasa YPUH/LPUH berlatar-belakang kelas sosial tinggi. Seperti dari keluarga dokter spesialis, pengusaha dan eksportis sukses, mantan rektor, dsb. Metera sendiri bukan hanya menganjurkan atau sebatas berwacana saja. Ketika orang tuanya meninggal dua tahun lalu, dia juga mengundang LPUH ke rumahnya di Tabanan. Singkatnya, kebanyakan yang memanfaatkan jasa yayasan tersebut berasal dari keluarga terpandang dan mampu. Mengapa demikian? Menurut Metera, belakangan banyak umat gelisah dengan tradisi setelah mereka memahami tatwa Hindu secara lebih baik. Namun ketika kegelisahan itu tidak dapat diakomodir oleh adat, maka mereka akhirnya melirik YPUH. Kepada para tokoh adat dan agama di Bali, fenomena demikian itu hendaknya disikapi dengan arif. Kalau ada yang butuh penjelasan mengapa YPUH menampung dan mau membantu orang-orang “bermasalah” itu, Metera siap berdialog secara terbuka, di mana pun bila diperlukan. Dia melanjutkan, sesungguhnya Hindu itu akan lebih baik didekati dengan logika cerdas, sehingga generasi muda dapat menerima melalui nalar sehat. Setiap ritual harus ada penjelasanya yang dapat diterima akal sehat. Kalau pandangannya itu dapat diterima oleh umat Hindu kebanyakan, maka Hindu akan berkembang lebih maju dari keadaan sekarang. Orang Bali yang berkarir di luar daerah tak perlu harus pulang untuk memuja leluhur. Apalagi untuk memuja para Dewa dan Hyang Widhi. Karena akan memungkinkan memuja leluhur, Dewa-dewa, dan Tuhan, di mana pun kita tinggal. “Selama ini orang Bali kalau sudah pensiun harus pulang ke Bali karena terlalu kuat terikat dengan tradisi. Bahkan ada yang pulang sebelum masa pensiun itu tiba,” tegasnya. Prinsipnya, Metera mendesak kepada para tokoh agar mampu mengemas tradisi sedemikian rupa sehingga menjadi lebih sederhana. Agar tak menyebabkan umat Hindu terbelenggu atau harus hidup dan mati di Bali. Pikirkanlah masa depan generasi Hindu mendatang agar mereka tidak terbelenggu gara-gara tradisi yang kita wariskan. Dalam hal ngaben misalnya, bukanlah upakara yang menentukan tempat baik/buruk sang atman. Melainkan karma, atau lebih tepatnya karma wasana. Sementara itu Ketua PHDI Buleleng, Putu Wilasa mengungkapkan, dirinya menyambut positif pikiran Gede Metera tersebut. Wilasa pun mengaku telah mensosialisasikan masalah kesederhanaan banten ke desa-desa. Namun demikian perubahan yang diharapkan belum muncul dalam waktu dekat. Karena umat masih memproses informasi itu sampai akhirnya mereka mengerti dan mau melaksanakan. Kendala terbesar yang dihadapi adalah kemalasan umat dalam mempelajari tatwa. Kebanyakan umat berpegangan dan mengandalkan pada tradisi yang ada. Hal itu terjadi, menurut Wilasa, karena umat Hindu lebih tertarik pada simbol (niasa) daripada mendalami filsafat agama (tatwa). Selama demikian keadaannya, maka di Bali akan terus-menerus terjadi tarik-menarik antara yang mempertahankan tradisi dengan kelompok reformis yang menghendaki adanya pembaharuan. Kelompok reformis berpandangan bahwa generasi muda Hindu ke depan tidak boleh “terpasung” karena tradisi. Beruntunglah kini hadir lembaga keagamaan yang memiliki visi jauh ke depan untuk menjawab segala tantangan yang ada. Jika ada umat Hindu bermasalah soal ritual, datanglah ke Singaraja. Astungkara permasalahan akan dapat diselesaikan. Desa adat Buleleng pun siap mengizinkan setranya untuk kepentingan umat. Desa adat Buleleng juga berkomitmen untuk membantu meringankan beban umat Hindu, siapapun mereka dan dari manapun mereka berasal.

Selanjutnya......

Diksa Hare Krishna di Radha Rasesvara Ashram

Pada tanggal 24 april 2012 lalu, diadakan upacara inisiasi terhadap 29 umat Hindu yang ingin belajar Weda (Bhagavadgita), dalam garis parampara Gaudhiyamatha, ISCKON-Hare Krishna. Acara ini dilangsungkan di Ashram Sri Sri Radha Raseswara, yang terletak di Desa Sibang Gede, kecamatan Abiansemal, Badung. Sebelum warga ini melaksanakan upacara insiasi, ada beberapa persyaratan yang mereka harus penuhi. Misalnya harus hidup dengan pola vegetarian, tidak mengkonsumsi hal-hal yang membuat kita ketergantungan, tidak berjudi, tidak selingkuh, serta telah berjapa Maha Mantra Hare Krishna sekurang-kurangnya enam belas putaran sehari. Walaupun persyaratan tersebut terasa berat, namun tampaknya hal itu tidak menjadi hambatan bagi warga kita yang tertarik untuk mempelajari Weda kelima atau apa yang disebut dengan Pancama Weda. Menurut salah seorang peserta yang mengikuti upacara inisiasi ini menjelaskan, bahwa setelah dia mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan di pesraman tersebut, kebiasaan buruknya seperti senang mabuk-mabukan, jalan ke kafe semakin hari semakin berkurang dan akhirnya berhenti melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama itu. Upacara inisiasi yang dilakukan di pesraman Sri Sri Radha Raseswara dipimpin oleh Seorang guru kerohanian yang bernama His Holiness Caitanya Candra Das dan disaksikan oleh beberapa pengurus ashram yang sangat berperan dalam mewujudkan Ashram ini pada tahun 1999. Di antaranya, Prabhu Narasinga Caitanya, Prabhu Brajendra, Prabhu Sundarananda dan yang lainnya. Menurut para peserta inisiasi ini, mereka mengungkapkan tentang manfaat dari mempelajari Bhagawad Gita ini bahwa dengan mendalami ajaran ini mereka lebih mengerti tentang dasar-dasar beragama Hindu, baik mengenai landasan persembahan, pemujaan dan lain sebagainya. Beberapa dari mereka, seperti Ketut Nurasa yang sekarang mendapat nama Inisiasi Nanda Dulal, Kadek Nuada (Nawina Krisna), Ketut Wahyu (Ujwala Mani) dan yang lainnya mengungkapkan, bahwa ajaran ini benar-benar bisa merubah kebiasaan mereka yang dulunya mereka sering mabuk-mabukan, hura-hura dan lain sebaginya. Namun setelah ikut memdalami ajaran Bhagawad Gita, mereka bisa mengontrol kebiasaan yang melanggar norma agama tersebut. Semoga saja warga kita yang telah mendapatkan inisiasi semakin bersemangat untuk mengajegkan ajaran sanatana dharma ini dan semoga semakin banyak ada pencerah-pencerah Hindu yang pada nantinya bisa mengajegkan Hindu. Mudah-mudahan warga kita yang baru saja mendapat nama rohani ini bisa memberi contoh kepada warga lainnya dalam mengerem pengaruh negative yang ada sekarang ini, seperti banyaknya terjadi penyalahgunaan narkoba, perjudian, perselingkuhan dan lain sebagainya. Kita semua berharap bahwa dengan mendalami ajaran Bhagawad Gita itu terlahir generasi yang bisa menyeimbangkan pelaksanaan tattwa, etika dan upacara dalam kehidupan kita beragama. (miasa)

Selanjutnya......