Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 24 Mei 2011

Jika Griya Berbisnis Banten

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda


Pertanyaan pertama yang diajukan oleh warga dadya di mana saya meminta dukungan untuk meningkatkan kesucian diri dengan menjadi Sulinggih (pendeta Hindu) adalah apa tujuan yang ingin dicapai? Jawaban saya spontan saja: ingin mengabdi pada umat dan menjadi pelayan umat, mengabdi kepada Bethara Kawitan, mengabdi dalam dunia spiritual dan tentu saja untuk penyucian diri.

Pertanyaan seperti ini ternyata terus muncul pada tahap-tahap berikutnya, ketika menentukan Guru Nabe, ketika diperiksa masalah administrasinya oleh Parisada, ketika Diksa Pariksa yang dilakukan oleh pesemetonan kawitan. Bahkan pertanyaan itu nampaknya menjadi pertanyaan wajib untuk semua orang yang ingin meningkatkan dirinya menjadi Sulinggih lewat upacara Diksa. Jawaban saya -- dan begitu pula jawaban orang lain yang pernah saya dengar -- tetap sama, meski pun dengan berbagai bunga-bunga dan kembang-kembang supaya kelihatan lebih meyakinkan dan mungkin juga lebih seram.

Tapi apakah kenyataannya semua Sulinggih melaksanakan apa yang telah dikatakan sebagai “jawaban atas pertanyaan” itu? Kenapa ada griya yang berbisnis banten, bukankah seorang pendeta tak boleh berjualan, tan wenang adol atuku? Bahkan ada griya yang sudah memposisikan diri sebagai “pabrik banten” dengan mempekerjakan tenaga-tanaga upahan (karyawan).

Fenomena ini tak bisa ditutup-tutupi karena sudah terang benderang. Bahkan beberapa griya sudah menerapkan tabel banten, Untuk upacara ini sekian juta, untuk upacara itu sekian juta. Sampai-sampai ada tabel: daksina linggih harganya sekian ribu, banten prayascita sekian ribu. Mirip super market. Kalau begitu kenapa harus menjadi Sulinggih, kenapa tidak menjadi makelar banten saja?

Di perguruan kami, sangat ketat larangan untuk menjual banten itu. Bahkan dibujuk bagaimana pun oleh umat, tetap tak bisa melayani penjualan banten. Ada cara untuk menyiasati hal itu, yakni dengan menghubungkan umat yang akan melakukan yadnya dengan tukang banten yang memang profesinya menjual banten. Umat yang beryadnya akhirnya berhubungan dengan tukang banten, dan pilihan tukang banten yang dituju diberikan alternatif, bukan cuma satu. Kalau terjadi tawar-menawar, lakukan di sana, bukan tawar-menawar di griya karena griya bukan supermarket banten. Griya adalah tempat memberikan pencerahan kepada umat, tempat bertanya dan menuntun umat dalam kegelapan di bidang agama.

Memang harus diakui, dalam era globalisasi sekarang ini ada proses tertentu yang membuat tak semua orang bisa membuat banten dan mau membuat banten sendiri untuk keperluan ritualnya. Mereka lebih praktis membeli. Tetapi mari tempatkan “sesana kewikon”, janganlah seorang wiku atau sulinggih atau pendeta yang menjual banten, nanti malah upacara yang mestinya kecil dibuat besar supaya bantennya lebih banyak laku.. Begitu seorang sulinggih menjanjikan menjual banten, maka di otaknya sudah ada pikiran tentang berapa keuntungan. Bisa jadi, ia akan berhitung melulu, berapa sekarang harga telur, berapa harga kelapa, berapa harga janur. Kalau itu yang dipikirkan, bagaimana memikirkan kesucian diri, dan kalau dirinya tidak suci bagaimana melaksanakan yadnya yang suci?

Sulinggih adalah pelayan umat. Suatu kali seseorang datang ke sulinggih, minta dibuatkan kajang (perlengkapan pitra yadnya). Ini memang harus dikerjakan sulinggih karena menyangkut kesucian, misalnya, merajah dan sebagainya. Tetapi sulinggih tak berhak menentukan berapa harga kajang itu. Terserah berapa “punia” yang diberikan umat.

Ada contoh menarik dalam hal ini. Seseorang meminta kajang ke sulinggih yang akan muput. Selesai kajang itu, umat memberi uang Rp 50 ribu. Si pemberi merasa uang itu sudah banyak. Sulinggih menerima begitu saja dengan tersenyum, karena memang tugasnya melayani umat. Padahal apa arti uang Rp 50 ribu? Bahan yang dibutuhkan delapan meter kain putih, dua spidol anti air (agar tak melobor jika kena tirtha), dan butuh sehari semalam untuk menggambar dan membuat rerajahan. Umat tak tahu kerepotan dan berapa bahan yang dihabiskan, jadi belum tentu pelit. Namun sang sulinggih tak etis menyebutkan berapa uang yang dihabiskan untuk membuat kajang. Seorang sulinggih yakin, pengorbanannya dalam melayani umat, akan dibalas berlebihan oleh Hyang Widhi, barangkali di kesempatan lain ada umat me-”resi yadnya” lebih banyak.

Suatu kali ada wartawan -- teman lama -- yang bertanya pada saya: kalau tak menjual banten, tak mengejar “proyek muput” dan hanya menunggu yang datang, dari mana memperoleh penghasilan? Jawab saya: “Saya menjadi sulinggih bukan untuk mencari penghasilan, bukan untuk memperoleh kekayaan. Kalau mau penghasilan besar dan kaya, lebih baik menjadi pedagang atau meneruskan karir wartawan dan politik. Untuk apa menjadi sulinggih kalau yang dipikirkan masih materi?” Artinya, menjadi sulinggih bukan untuk mencari pekerjaan baru, bukan untuk job.

Karena itu seorang sulinggih seharusnya punya “tabungan” untuk mengisi hari-harinya melayani umat. Tabungan tak harus materi, bisa berupa anak yang sudah punya pekerjaan mapan dan mendukung sepenuhnya griya yang diasuh sulinggih.

Ya, sulinggih adalah manusia. Seperti halnya pemimpin ada yang korupsi, tokoh agama ada yang berbuat onar, bisa jadi ada sulinggih yang masih memanfaatkan kesulinggihannya untuk menimbun materi. Tapi itu tak banyak, jauh lebih banyak sulinggih yang memegang “sesana kewikon”.

Selanjutnya......

Biaya Ritual di Bali Rp 1,8 Triliun Pertahun Potensi yang Perlu Digarap Masyarakat Bali

I Made Sukarsa

Kegiatan ekonomi karena aktifitas ritual di Bali mencapaiadi sekitar 1,823 triliun pertahun. Nilai ini melebihi dua kali lipat anggaran penerimaan dan belanja satu kabupaten terkaya di Indonesia tahun 2006, yaitu Kabupaten Badung yang mencapai Rp. 800 milliar.
Sejak agama Hindu diakui eksistensinya oleh negara pada tahun 1950-an, dari segi struktur organisasi sering mengalami perubahan, demikian pula dari segi substansi tugas dan isi yang diemban. Perubahan menuju perbaikan merupakan satu langkah yang dinamakan modernisasi. Kondisi kegiatan beragama (Hindu) saat ini sudah saat berbeda dibandingkan dengan 50 tahun lalu apa lagi 100 tahun yang lalu. Cobalah simak beberapa data empiris tentang kegiatan pelaksanaan upacara di Bali yang direkam melalui beberapa penelitian selama 3 tahun terakhir.

Kegiatan upacara yang terdiri dari 5 jenis mulai dari dewa yadnya sampai pada butha yadnya merupakan sisi lain dari pelaksanaan agama di samping memahami tattwa dan melaksanakan etika kehidupan. Walaupun telah berulang kali diterangkan melalui media, bahwa berbuat baik antar sesama tidak kalah pentingnya dengan yadnya-upacara, namun upacara semakin marak dilakukan oleh umat. Di Bali umat melakukan banten saiban setiap hari masing-masing rumah tangga rata-rata 34 tandingan. Rentang jumlah tandingan dari 9 sampai 105 tandingan. Tandingan banten saiban yang paling sedikit ditemukan pada rumah tangga di perkotaan, sedangkan yang paling banyak (105) biasanya dilakukan pada pekarangan bersama (pekarangan wayah/tua). Upacara ini rutin dilakukan sebanyak 108 kali selama setahun (dari wuku Sinta ke Watugunung kembali lagi Sinta ke Watugunung).

Kalau dalam tahun 2003 KK di Bali yang beragama Hindu sebanyak 688.281 KK maka untuk pembuatan canang sari akan memerlukan bunga sebanyak 21.482,65 ton dan busung sebanyak 37. 966, 27 ton setahun. Kebutuhan ini hanya untuk kebutuhan mebanten rutin saja seperti Kajeng Kliwon, Anggar Kasih, Purnama Tilem, Tumpek, Saraswati, Pagerwesi, Galungan dan lain-lain. Jika ditambah lagi untuk upacara yang lain seperti odalan di pura kahyangan tiga, kahyangan jagat, pura geginan, pura panti dam sebagainya, maka kebutuhan ini akan membengkak dua atau bahkan tiga kali lipat.

Jenis perlengkapan upacara yang lain juga membutuhkan bahan yang tidak sedikit. Misalnya untuk membuat daksina diperlukan 13 jenis barang mulai dari kelapa, telor, keluwek sampai dengan tebu dan daun. Rata-rata berat total satu daksina 700 gram, diisi oleh 13 jenis barang di antaranya kelapa seberat 500 gram, telor 57 gram, beras 20 gram, bunga 10 gram, busung 80 gram dan tebu 3 gram. Kebutuhan akan barang ini sangat besar kalau untuk seluruh keperluan upacara di Bali dan tidak mungkin akan dipenuhi sendiri oleh Pulau Bali. Jika dipenuhi oleh daerah lain apakah akan merugikan masyarakat Bali? Apakah juga akan menguntungkan daerah lain? Ada satu teori ekonomi yang mengatakan bahwa usaha perdagangan (jual beli) akan menambah nilai total produksi atau pendapatan dari wilayah itu.

Masalahnya apakah daerah itu (masyarakat Bali) mendapatkan nilai-tambah (value added) yang lebih dari daerah lain? Jika ya, barang keperluan tadi akan berguna jika didatangkan dari daerah lain. Jika satu canangsari seharga Rp.500, sedangkan bahan yang didatangkan dari Jawa hanya busung (15 gram) seharga Rp.75, maka nilai tambah terbanyak akan dinikmati di wilayah Bali. Jadi sah-sah saja jika bahan upacara didatangkan dari daerah lain.

Dari segi serapan tenaga kerja, melakukan yadnya memerlukan alokasi waktu yang cukup banyak. Salah satu contoh pada waktu pengabenan dengan tingkatan madyaning-utama di suatu desa di Tabanan, penulis menemukan jumlah alokasi waktu sebanyak 699 man-days, yang terdiri dari 387 man-days laki-laki dan 312 man-days perempuan. Seperti yang didugasemula hampir setengah dari semua kebutuhan tenaga kerja terserap pada hari H pengabenan.

Kondisi kebutuhan tenaga kerja ini sangat kondisional setempat. Yang menarik penggunaan tenaga kerja pada upacara ini adalah telah terjadi spesialisasi yang cukup mendalam tentang jenis pekerjaan yang dilakukan. Misalnya pekerjaan yang dikelompokkan hardware upacara seperti potong babi, membuat tetaring atau warung, membuat bade, lembu dan lain-lain, dikerjakan oleh laki-laki, sedangkan pekerjaan software, seperti membuat canang, banten, melakukan prosesi upacara dan lain-lain dilakukan oleh kaum perempuan.

Masih dalam wacana modernisasi, menggeser waktu pelaksanaan rangkaian upacara yang menyesuaikan kondisi pekerjaan anggota desa pakraman, apakah hal ini juga dimasukkan dalam modernisasi? Misalnya karena sebagian besar anggota desa pakraman (unsur pawongan) mempunyai pekerjaan dengan jam kerja jam 8 sampai 16, maka persiapan suatu upacara digeser dari jam 10 padi menjadi jam 5 pagi. Lalu dilanjutkan dengan jam 14 siang sampai selesai. Penggeseran ini merupakan upaya desa pakraman untuk mengamankan tercapainya tujuan agar terlaksananya tri hita karana di desa itu dengan baik.

Satu penelitian lebih rinci tentang pelaksanaan tri hita karana ditemukan hasil, bahwa yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan tujuan desa pakraman adalah unsur pawongan. Pengaruh ini mempunyai sifat yang terbalik, di mana jika unsur pawongan bertambah banyak maka menyebabkan tujuan desa pakraman menjadi kurang berhasil. Unsur-unsur pawongan yang diantaranya umur prajuru, kondisi pesangkepan, dan jumlah organisasi. Makin banyak organisasi (sosial-politik) di desa pakraman akan mempunyai efek pencapaian tujuan desa pakraman semakin jauh. Banyak timbul konflik. Sudah tentunya temuan ini perlu dibuktikan dan dikonfirmasi dengan temuan penelitian yang lain. Tiga unsur di atas yang membentuk variabel pawongan berinteraksi satu sama lain dalam mempengaruhi tujuan desa pakraman.

Masing-masing efek tersebut berbeda. Ada yang positif dan ada yang negatif, namun hasil akhir setelah berinteraksi efeknya menjadi negatif. Lalu apakah kehadiran organisasi sosial di desa pakraman yang bertambah banyak dinamakan itu modernisasi?

Pertanyaan lain akan muncul, jika fenomena kegiatan masyarakat Bali (Hindu) terus meningkat dan banyak memerlukan alat upacara, tenaga kerja, barang dan biaya, bagaimana kegiatan ini akan mempengaruhi kehidupan ekonomi Bali? Perlu disadari bahwa jika sekelompok orang melakukan aktivitas upacara dan mengeluarkan biaya untuk itu maka pengeluaran ini merupakan pendapatan bagi kelompok masyarakat yang lain. Seperti anakkembar siam atau dua balon yang berhubungan satu sama lain. Udara yang keluar dari satu balon, merupakan udara yang masuk pada balon yang lain. Pengeluaran untuk upacara ini menimbulkan nilai tambah atau pendapatan bagi kelompok masyarakat lain. Mampukah nilai tambah jatuh ke tangan kelompok masyarakat kita di Bali?

Suatu penelitian lain yang dilakukan pada tahun 2005, masyarakat Hindu di Bali mengeluarkan pendapatannya untuk keperluan upacara sebanyak Rp. 2.650.000, per rumah tangga per tahun. Jumlah ini hanya 10,54 persen dari pendapatannya. Jumlah anggota rumah tangga rata-rata 4,8 orang. Total pendapatan per kapita setahun Rp.5.244.167. Dari data empiris ini kegiatan upacara yang dilakukan dapat mengakibatkan kegiatan ekonomi di Bali menjadi sekitar Rp.1, 823 triliun pertahun. Nilai ini melebihi dua kali lipat anggaran penerimaan dan belanja satu kabupaten terkaya di Indonesia tahun 2006, yaitu Kabupaten Badung yang mencapai Rp. 800 milliar.

Begitu besar potensi yang diakibatkan oleh kegiatan upacara di Bali. Perlu satu manajemen tersendiri untuk mengaktualisasikan potensi ini agar menjadi kekuatan ekonomi yang dapat menguntungkan masyarakat lokal sebagai pelaku ekonomi yang berbasis keluarga.

Menguntungkan bagi masyarakat berarti sebagian besar kegiatan ini jatuh kepada masyarakat lokal, yang dapat memperkuat sendi-sendi kehidupan yang berbasis pada aktivitas masyarakat itu sendiri. Bukan mustahil kegiatan ekonomi kerakyatan ini akan sangat tangguh dan dapat bertahan lama. Oleh karena itu perlu direncanakan dengan matang dan rancang biru untuk pengembangan ini agar bisa membawa dinamika ekonomi yang lebih dinamis.

Bali yang relatif kecil tidak mempunyai kekayaan alam untuk digali menjadi industri namun mempunyai aktivitas yang unik dapat mendatangkan wisatawan membawa daya beli, perlu dimanfaatkan untuk kepentingan Bali. Bukan membangun Bali untuk kepentingan wisatawan. Dari beberapa fenomena di atas, maka perlu perencanaan yang lebih matang dalam beberapa hal yaitu: pertama, di tingkat desa pakraman prajuru mulai merencanakan bagi krama tentang perencanaan biaya untuk yadnya ini. Misalnya mengajak krama untuk mencicil setiap sangkepan untuk keperluan yadnya yang dilakukan secara bersama-sama. Kedua, prajuru melalui pesangkepan menentukan tingkatan yadnya (nista, madya, dan utama) dengan patokan pada keluarga yang mempunyai pendapatan yang paling rendah. Seperti pada prinsip bejana berhubungan, yaitu berpatokan pada tinggi air pada bejana yang paling rendah. Kecuali terdapat subsidi silang melalui sistem dana punia. Ketiga, di tingkat regional (Bali) perencanaan pembangunan perlu dilakukan untuk mengaktualisasikan potensi kegiatan ritual ini ke dalam bentuk aktivitas ekonomi yang menguntungkan masyarakat.

(Prof. Dr. I Made Sukarsa adalah guru besar ekonomi Unud dan kini menjabat sebagai Rektor Universitas Warmadewa).

Selanjutnya......

Etiskah Berbisnis Banten?

I Nyoman Tika

Oh Tuhan yang Maha mengetahui, yang memberikan rasa dan pengetahuan agung pada hamba untuk menyadari betapa pendahulu hamba arif nan bijaksana. Dalam kisi hati yang sepi dari karya , dalam kekeringan dan kepongahan yang dalam, hamba berdoa, dari vibrasi hati ini, hamba lantunkan dawai-dawai puja hrydayam puspam pada Maha Sri Empu Lutuk, yang telah memberikan wahana memodrekan Sang Hyang Aji Reringgitan dalam wujud banten. Hamba sadar bahwa banten yang diwariskan hingga kami gapai dimasa ini adalah maha karya abadi untuk memuliakan Sang Maha Memberi. Hamba bersujud di bawah kaki mereka yang meneruskan ajaran suci ini, para bawati, tukang banten, para tapini yang dengan perasaan tak pernah lelah mempertahankan budaya pemujaan tanpa pamerih untuk membawa kebahagiaan dan harmonisasi semesta.

Banten adalah wujud dari sajian rasa, itu sebabnya umat Hindu di Bali dan Indonesia tak akan pernah lengkap kalau tidak menggunakan banten dalam setiap persembahyangannya. Suatu tindakan yang terlihat bodoh, namun juga sulit tergantikan dengan cara yang lain. Berbagai teori dan tindakan dilakukan oleh para cendekiawan Hindu modern, dengan alasan praktis, karena diuber oleh abad industri, sehingga sikap untuk menyederhanakan dan mereduksi banten, dengan berbagai tafsir ulang atas berbagai bentuk banten itu, tak pernah mampu menggantikannya di hati umat Hindu.

Di koridor itu, banten tidak tergantikan walaupun mantra telah lancar dan merdu dirapalkan oleh bibir dan hati. Mengapa demikian? Ada ajaran adi luhung yang saya peroleh dari sebuah Gerya, anak lingsir bertutur jernih tentang fenomena ini, bahwa orang Bali akan merasa lengkap bila empat hal mengikuti setiap derap langkah kerjanya, yaitu (1) teori, (2) praktek, (3) bukti, dan (4) rasa.

Ketika seseorang mampu berteori, terasa belum lengkap bila belum bisa praktek apa yang mereka teorikan. Dan merasa belum lengkap jika tak terbukti, dan terakhir merasa berguna kalau bisa dirasakan. Mencari orang yang kaya akan teori mudah, berbeda dengan mencari orang yang bisa mempraktekkan, diyakini akan lebih sulit. Apalagi membuktikan apa yang dipraktekkan, lebih sedikit, dan mungkin amat jarang karya yang dibuktikan itu dapat dirasakan oleh orang lain. Itu sebabnya rasa menjadi ujung perjalanan spiritual manusia Bali, sebut saja yang paling sederhana, canang sari sampai yang tingkat tinggi misalnya banten catur, adalah permainan rasa. Membuat banten adalah sebuah panggilan hati, di sana bercampur antara kecerdasan teoritis, pratek, bukti, dan rasa.

Di ranah inilah manusia Bali tidak puas kalau tidak ada sebuah karya, bukti, dan rasa dari kebaktian mereka. Untuk konsep inilah kita harus buat banten. Banten kemudian berkembang secara perasaan, yang sering kali jauh dari sastra dan sering tidak efisien, karena standar yang diterapkan ganda. Konsep inilah “banten“ menjadi sebuah ajang bisnis, yang bisa jadi sungguh menggiurkan. Celakanya, bisnis banten ini sering dimonopoli oleh segelintir orang, ditunjang oleh keengganan untuk membuat, karena tidak tahu dan juga karena malas. Lalu, berbinis banten etiskah? Apa yang menjadi standar ketika kita mengatakan bisnis itu etis? Jika bila benar dan etis tidak ada masalah untuk melakukannya?

Lalu, banten menjadi sebuah momok bagi sebagian umat Hindu, dituding cikal bakal kerepotan, juga dikatakan pemborosan. Itu semua hadir manakala kita lebih berkembang di zona teoritis, tuna praktek, jarang bisa buktikan karya, wajar kalau kita memasuki wilayah fragmatisme, untuk sekedar membijaksanai diri. Itu sebabnya, ranah banten menjadi sebuah komoditas, karena banyaknya permintaan? Ketika memasuk wilayah bisnis, etiskah bisnis banten itu? Etis atau tidak, berpulang pada konsep standarisasi yang harus dikenakan pada bisnis banten itu sendiri. Konsep standarisasi banten inilah, baik proses maupun yang membuat menjadi tolak ukur standar untuk mengatakan bisnis banten itu etis atau tidak. Alasannya adalah pembuat banten harus memiliki syarat-syarat tertentu? Konsep inilah belum dipahami oleh banyak kalangan di umat Hindu.

Meminjam konsep standarisasi bisnis yang etis dan sempat menjadi isu berkepanjangan di akhir tahun 1960-an sampai tahun 1970-an di Amerika Serikat (Rogene A. Buchholz, Business environment and public policy, implication for management, prentice-hall Inc, 1982 :82-100). Maka pengusaha banten hanya etika bisnis yang akan atau sudah dijadikan peraturan atau undang-undang yang menarik dikenakan bagi mereka para penjual banten, sebagai gambaran bahwa membagi perilaku bisnis yang tidak etis ke dalam lima kelompok objek atau sasaran pengusaha: pembeli dan penjual, kompetitor, pejabat government, assets dan lingkungan (Midian Simanjuntak (Kompas, 16 Sepetember 1989, h.5)

Pembeli dan Penjual Banten
Kalau konsep standar bisnis normal dipakai, maka berbagai perilaku yang dapat dianggap tidak etis terhadap customers (pihak pembeli banten dan penjual banten) adalah sebagai berikut: (1) Diskriminsasi harga (Price discrimination) (2) Penjualan suatu barang yang dikaitkan dengan penjualan barang lain yang sebenarnya tidak termasuk suatu kesatuan (Tying arrangement/contract) (3) Mengenakan persyaratan perjanjian dengan pembeli yang menyatakan, bahwa pembeli tidak akan membeli barang yang serupa dari kompetitor penjual. (Exclusive dealing) (4) Penetapan harga eceran minimm oleh produsen kepada pengecer (Price fixing) atau penetapan harga jual kembali kepada pembelinya (Resale price maintenance) atau produsen membatasi daerah penjualan penyalurnya, sehingga di antara sesama penyalurnya tidak terjadi kompetisi (Territorial restriction), (5) Praktik dagang yang menyesatkan atau menipu pembeli (Deceptive trade practices). Memperhatikan konsep ini maka transaksi jual beli banten belum sampai ke tataran ini. Mereka selalu percaya.

Kompetitor
Pada dasarnya tindakan yang tidak etis terhadap kompetitor dimaksudkan untuk mendapatkan posisi monopoli/monopsoni dengan ciri-ciri: perusahaan dengan monopoli akan mendapatkan keuntungan yang abnormal tinggi dengan harga jual tinggi dibanding dengan adanya kompetitor, kemampuan mendikte pasar yang dilakukan sekelompok atau satu perusahaan, keinginan untuk menguasai pasar dengan fair competition bukan free competition, selain perilaku tidak etis untuk menghancurkan kompetitor seperti:
Pertama, Dumping. Tindakan dumping dimaksudkan untuk merebut pasangsa pasar melalui penjualan dengan harga yang sangat rendah, biasanya di bawah biaya pokok. Perusahaan seperti ini bersedia menderita rugi untuk periode tertentu samapai mendapat pangsa pasar, akibatnya kompetitor lemah akan terdepak dari arena bisnis. Setelah kompetitor hilang barulah meningkatkan harga yang abnormal. Berlangsungnya perang harga (price wars) atau berubah menjadi kompetisi gorok leher (cut throat competition) dalam sautu industri merupakan gejala yang mengandung praktik dumping yang tidak etis ini.

Kedua, Concerted activities by competitors, yaitu aksi bersama dari beberapa perusahaan yang sebanarnya kompetitor. Misalnya pertukaran informasi harga. Perilaku ini semodel dengan group boycott yakni kelompok pembeli/penjual bersepakat untuk menolak untuk menuual kepada atau mebeli dari seseorang atau kelompok orang. Bentuk ekstrim lainnya seperti kartel.

Ketiga, Interlocking directorates. Seseorang menjadi anggota direksi dari dua atau lebih perushaan besar yang merupakan kompetitor, maka besar sekali kemungkinan perusahaan itu secara bersama memilik kemampuan berperilaku seperti monopolis/monopsonis.
Ada juga perilaku tidak etis terhadap pejabat government yaitu dengan penyogokan dan berkolaborasi untuk salah satu kepentingan penjual.
Standar Spiritual Hindu
Satu standar yang perlu diketahui oleh umat Hindu adalah banten adalah wujud persembahan yang suci. Kesuciannya ditentukan oleh peralatan /barangnya suci, pembuat dan proses pembuatannya harus suci sehingga menjadi persembahan sattwa. Penyucian itu dilakukan oleh pendeta Hindu. Penjual banten semestinya telah melalui proses penyucian (mewinten, mediksha, medwijati), sehingga persembahan itu bervibrasi baik
Kesimpulannya bisnis banten tetap etis bila syarat etis dalam bisnis modern terpenuhi ditambah dengan ‘kesucian para pedagang banten. Dan bahan yang digunakan serta proses pembuatannya juga suci, nampaknya begitu? Om nama Siwaya

Selanjutnya......

Memenuhi Kebutuhan Banten Secara Swadesi

I Wayan Miasa

Dalam kegiatan kehidupan masyarakat Bali yang mempraktikkan agama Hindu, maka hampir semua kegiatan mereka selalu diiringi dengan pembuatan banten. Entah apa jenis kegiatan atau kejadian tersebut. Misalnya, kalau ada orang kecelakaan dibuatkan banten penebusan untuk kaanteb oleh pemangku di tempat terjadinya kecelakaan itu. Demikian juga kalau orang Bali membeli motor atau mobil, maka juga diberi upacara prayascita dan upacara lain yang dianggap perlu. Itu baru contoh kecilnya saja, belum lagi upacara-upacara dalam skala besar yang membutuhkan banyak bahan baku untuk membuat banten, yang mana bahan-bahan tersebut sering juga didatangkan dari luar Bali.
Melihat kenyataan yang ada di lapangan, bahwa banyak bahan upacara yang digunakan krama Bali didatangkan dari luar Bali, maka hal ini tentunya sangat berpengaruh pada biaya atau pengeluaran dana untuk pembuatan banten. Artinya, bahan mentahnya saja sudah “impor” belum lagi kalau setelah diolah menjadi banten, tentu wajar harganya bertambah mahal. Misalkan saja, Bali sekarang mendatangkan daun ibung (sejenis palem) dari Sulawesi sebagai pengganti janur. Ibung disukai oleh banyak krama Bali, karena tahan lama, yaitu warna putihnya tidak melayu dalam waktu lama, jadi mirip daun lontar tapi lebih tipis sehingga enak kalau digarap untuk jejaitan.

Memang dalam dunia perdagangan, arus barang ini ditentukan oleh supply and demand, tetapi setelah menyadari demikian besar kebutuhan bahan baku banten di Bali, maka akan semakin baik kalau kita bisa mencukupinya sendiri. Selain harganya tentu akan lebih murah, juga sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan.Dengan terjadi perputaran ekonomi di lingkangan krama Bali sendiri, maka akan terjadi juga distribusi pendapatan kepada umat. Usahakan dulu memproduksi atau menanam sendiri, kalau sudah tidak bisa mencukupi barulah mencari kekurangannya di luar.

Sebenarnya hal ini sudah dipraktikkan oleh sebagian krama Bali. Masyarakat Desa Sibang misalnya, mereka bertanam berbagai jenis bunga: cempaka, kamboja, pacar, hingga tunjung, termasuk pandan arum untuk kembang rampe. Hampir di setiap pekarangan rumah orang di desa ini ditanami pohon bunga. Produk bunga ini tentu sangat laku di pasaran, karena kebutuhan canang sehari-hari untuk warga Denpasar saja sangat besar.

Contoh bagus itu tentunya patut ditiru oleh desa-desa lain, sehingga peluang ekonomi yang timbul dari kegiatan upacara ini dinikmati oleh krama Bali, bukan sebaliknya malahan menguntungkan krama dari luar. Kalau uang dibelanjakan di Bali, tentu akan semakin memperkokoh perekonomian Bali yang berarti sekaligus dapat terus memelihara tradisi Bali yang “mahal” ini.

Tentu menjadi tidak produktif dan sedikit konyol, kalau kemudian umat Hindu di Bali lebih mengedepankan gengsi saat menggelar ritual. Sebutlah contoh bila ada upacara pernikahan atau upacara Manusa Yadnya lainnya. Dulu, hiasan di pemesuan umah (pintu pekarangan) biasanya cukup dihias dari ambu, janur dan bahan lokal lain. Namun sekarang, masyarakat pun sudah mulai bergaya instan, di mana ornamen semacam itu pun mereka beli, sehingga kelihatan sangat mewah dan semarak bahkan mengalahkan hiasan pura saat piodalan. Intinya, beryadnya itu adalah panggilan hati atas nama agama, tetapi tentunya agama juga mengajarkan kita untuk produktif dan mengalokasikan dana dengan efektif, lebih mengedepankan sifat swadesi atau berusaha untuk berdikari dulu semampunya.

Sebelum kebiasaan konsumtif dan gaya instan kita semakin berkembang, maka hendaknya kita berusaha dulu mengolah kekayaan alam kita secara optimal. Belajar mencontoh pola perjuangan swadesi yang digagas Mahatma Gandhi.

Bali memiliki potensi alam yang lebih dari cukup, seperti Jembrana yang menghasilkan kelapa dengan janur dan selepahan yang melimpah, demikian juga di Tabanan dan daerah lainnya, sementara Karangasem sebagai penghasil salak dan Buleleng dengan produk buah anggurnya. Semua ini jika dimanfaatkan oleh krama Bali sendiri, niscaya pemerataan ekonomi akan terjadi dengan sendirinya.Bila perlu, telor dari daerah Utu, Gunung Sari, Jati Luwih dan dari peternak Bali lainnya kita dahulukan untuk dimanfaatkan. Demikian juga mengenai dupa, karena sekarang sudah banyak krama Bali mau bisnis dupa, maka perlu kita dukung. Sebutlah merk-merk dupa seperti Dewi Bulan, Arjuna Shakti, Dupa kaori, dupa Ayur, dupa Hare Krishna,dan sebagainya yang dikelola krama Bali. Masalahnya adalah, masih saja ada krama Bali yang lebih memilih membeli dupa produk orang luar, entah apa alasannya, meskipun harga sudah sangat kompetitif.

Kembali mengenai berswadesi untuk memenuhi kebutuhan bahan upacara atau banten, maka kemudian tentu kita perlu arif dalam memanfaatkan kekayaan alam kita. Misalnya, karena jumlah penduduk Hindu terus bertambah banyak yang berarti kebutuhan bahan upacara juga terus membengkak. Dengan demikian, supaya alam Bali tetap lestari dan pohon kelapa sempat menumbuhkan daunnya sebelum dipotong untuk bahan banten, maka perlu kiranya pertimbangkan memilih jenis tingkatan upacara supaya bahan banten kita tak cepat habis. Bukankah ada tingkatan upacara kanista, madya dan utama? Tentu tradisi Bali akan tetap lestari, jika alam Bali, tumbuh-tumbuhan asli Bali sebagai penyokong upacara tetap dipelihara bahkan dikembangkan keberadaannya, tidak hanya dieksploitasi habis-habisan. Salah satu contoh, kebutuhan pohon pinang, baik pohonnya, atau bunganya (bangsah) yang digunakan waktu ngaben kini sudah mulai langka. Karena itu, harus ada upaya membudidayakan tanaman ini meskipun nilai ekonomisnya tidak terlalu tinggi, tetapi tanaman ini juga tak mengambil ruang banyak di tegalan. Biasanya tumbuh di pinggir pangkung, tukad bahkan di tempat yang tak memungkinkan tanaman budi daya tumbuh di tempat itu.

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan bahan upacara, kita seharusnya benar-benar melaksanakan ajaran Tri Hita Karana, tidak cukup berterimakasih kepada alam hanya dengan ritual saja. Dengan membuang sampah secara tertib, tidak mencemari lingkungan dan usaha sejenisnya, menanam pohon, semua itu bukti kecintaan kita dalam mewujudkan hubungan harmonis dengan alam.

Dengan cara ini tanaman ataupun tumbuhan yang kita pakai saat upacara agama tetap bisa tumbuh dengan baik, sehingga mudah didapatkan di alam, tidak kelimpungan ke sana ke mari mencari daun pule atau tiying ampel gading saat ngaben misalnya. Sebaliknya, bila kita tidak mau peduli kepada alam serta kita tidak mau menyesuaikan diri dengan tuntutan masa kini, maka bersiaplah menjadi sapi perahan saat upacara digelar. Kalau semuanya diserahkan kepada hukum pasar dan kita hanya bertindak selaku konsumen dan tidak belajar sebagai produsen, maka sudah jelaslah kemerosotan ekonomi yang akan didapat.

Karena itu, umat perlu diajak bersama-sama untuk memanfaatkan lahannya seefektif mungkin, walau luasnya terbatas. Bahkan pekarangan saja bisa ditanamai bunga cempaka atau kamboja yang bisa dijual atau bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Dengan demikian, umat dapat menekan ongkos mahal upacara, akibat bahan mentah yang didatangkan dari luar, karena tentunya akan kena tambahan ongkos angkut, biaya penyusutan, biaya penyimpanan, penambahan biaya di jalur distribusi dan sebagainya.

Apalagi orang Bali mau mengelola sektor informal ini. Menekuni sebagai penjual busung, pedagang buah, pembuat canang dan aksesoris lainnya. Dengan demikian, warga Bali yang bekerja di sektor formal akan membeli banten yang merupakan sektor ekonomi informal. Ini berarti terjadi keseimbangan antara dua sektor ini. Dan ini pula yang disebut paras-paros sarpanaya, salulung sabhayantaka dalam arti sebenar-benarnya di sektor ekonomi. Bertemulah sekala dan niskala dalam harmoni yang indah.

Selanjutnya......

Prospek Cerah Binsis Banten Harga Banten Ngaben Pranawa Rp 15 Juta, Ngaben Ngwangun Rp 60 Juta

Ida Ayu Tary Puspa

Perubahan pola hidup masyarakat dari agraris ke industri telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat Bali. Zaman dulu melaksanakan ritual semakin lama semakin baik karena hubungan kekerabatan maupun sosiologis dengan keluarga maupun masyarakat menjadi sangat berarti. Pada masa itu untuk membuat upakara atau banten dikerjakan dengan anggota masyarakat dengan cara metulung atau ngoopin, namun kini telah terjadi perubahan dengan membeli atau memesannya pada griya atau sarati karena masyarakat menginginkan yang serba praktis dan simpel. Masyarakat cukup menyerahkan uang dan banten apa yang dipesan lengkap dengan yang muput.

Hubungan antara griya (Siwa) dengan masyarakat (sisya) tidak lagi dalam hubungan kelas seperti yang diisyaratkan oleh Marx, tetapi lebih pada pertukaran sosial ekonomi
Menurut Sujana (1999: 55) kini masyarakat Bali semakin ketat dalam memakai dan mengatur waktu karena kegiatan-kegiatannya semakin kompleks dan bentuk ngayah dalam desa adat, tidak lagi beberapa hari, tetapi kini cukup satu atau dua jam saja. Perempuan-perempuan tidak lagi seluruhnya gotong royong membuat sajen, namun cukup membeli saja dari sekelompok warga yang ahli tentang sajen. Pendekatan-pendekatan secara ekonomis semakin mengedepan dalam masyarakat. Ini berarti industri pariwisata telah menciptakan sesuatu ”power of market” dengan perwujudan posisi materi dan uang yang sangat penting.

Upakara sebagai simbol persembahan merupakan produk yang dibuat oleh Raja dengan para Pedanda untuk melanggengkan relasi-relasi kekuasaan terhadap rakyat. Lebih-lebih pada zaman dulu konsep relasi/hubungan antara Pedanda (Siwa) dengan masyarakat (sisya) sangat kuat karena sampai Tirtha Pengentas pun harus memohon pada Pedanda. Hal inilah yang diwariskan sampai sekarang dalam ritual apa pun di Bali akan memakai upakara berupa banten yang selalu dihubungkan dengan alam atas (Dewa) dan alam bawah (Bhuta). Begitu pun dewasa ini karena Bali menjadi Daerah Tujuan Wisata bagi wisatawan domestik dan asing, menyebabkan ritual dengan upakara berupa banten tetap dilanggengkan demi live culture yang dapat dijadikan daya tarik wisata. Salah satu identitas atau ciri khas kebudayaan Bali adalah penggunaan banten sebagai sarana upacara.

Dengan adanya perubahan pola kehidupan, karena faktor budaya instan menginginkan banten yang praktis, hemat, dan cepat yang dapat dibeli pada sulinggih di griya maupun pada sarati (tukang banten). Sebuah evolusi telah terjadi di mana manusia Bali sudah berorientasi ke material yaitu mengabdi pada benda demi mengejar wibawa dan wabah pencitraan dengan hanya melihat kulit luar saja dan kurang memiliki pendalaman rohani.

Dalam melaksanakan upacara , maka akan ada keterlibatan sulinggih, yaitu rohaniawan Hindu yang telah didiksa dan tergolong Dwijati. Pelaksanaan upacara Diksa ini bersifat mengubah sta¬tus yang bersangkutan setelah melalui disiplin hidup yang cukup ketat. Ikatan disiplin pertama-tama yang patut dilaksanakan dikenal dengan istilah Catur Bandana Dharma, artinya empat ikatan disiplin kehidupan kerohanian, seperti.Amari Sasana artinya meninggalkan tugas dan kewajiban semula (saat sebelum mediksa) dan mengganti dengan sasana kawikon, yaitu tugas dan kewajiban serta disiplin kehidupan seorang Pandita. Contohnya Tan wenang adol atuku (tidak boleh jual beli) dan sebagainya.

Dengan memperhatikan Catur Bandana Dharma di atas, apabila telah terjadi jual beli banten, maka pandita Brahmana sudah keluar dari mind set mereka waktu ditahbiskan. Bahkan pandita brahmana telah pula memiliki profesi lain, yaitu sebagai Waisya varna karena telah menjadi saudagar/pedagang.

Keterlibatan sulinggih Istri sebagai Tapini yang menyediakan banten bagi yang membeli dibantu oleh tukang banten (serati) menjadikan bisnis banten cukup menjanjikan dan memiliki prospek yang cerah. Tukang banten pun digaji oleh griya dengan honor harian berkisar Rp 25.000 per hari. Apabila sulinggihnya baik hati, maka kepada mereka pun sering diberikan bonus kalau keuntungan yang diperoleh sulinggih cukup besar dan ada pula yang menerapkan mengajak mereka untuk bertirta yatra bahkan sampai ke Candi Ceto di Jawa.

Penguasa ekonomi telah mampu memainkan perannya untuk memenuhi hasrat manusia Hindu/Bali dalam melaksanakan upacara. Produk upacara menjadi alat komoditi bersama-sama dengan komoditi lainnya yang dibungkus dengan tujuan membantu masyarakat atau umat Hindu yang sedikit memiliki waktu dalam melaksanakan upacara. Dengan menyerahkannya kepada sulinggih dalam sebuah griya tentu dengan konsensus konsumen menyerahkan uang yang ternyata telah dihegemoni sulinggih masalah harga. Sejatinya kalau terjadi jual beli berarti dalam hal ini sulinggih adalah saudagar, tetapi pembeli tidak bebas menentukan pilihannya dalam upacara, padahal pembeli telah menyerahkan sejumlah uang kepada beliau.

Membicarakan ideologi pasar atau selera konsumen, erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Pada masa sekarang, apa pun produk yang dihasilkan, termasuk produk upacara yadnya, keinginan atau ideologi pasar memegang peran penting. Ideologi pasar menurut Atmaja (2005:2003) yang disebutnya ’Agama Pasar’ sebagai salah satu sistem kepercayaan yang mengagungkan pasar sebagai media utama bagi pemenuhan segala kebutuhan manusia. ’Agama pasar’ tujuannya mengalihkan modal budaya, upacara ngaben menjadi modal ekonomi.

Pada era globalisasi ini, modal ekonomi sangat penting karena bersamaan dengan memuncaknya ’Agama Pasar’, maka manusia terjerat pada budaya konsumsi, budaya tontonan (penampilanisme, wajahisme), hedonisme, dan materialisme. Semuanya itu bergantung pada uang karena apa pun yang mereka konsumsi lewat pasar mutlak memerlukan uang (Atmaja, 2005:124).

Marx memberi makna bahwa melalui kerja dihasilkan suatu produk dan apa pun yang diproduksi untuk diperjualbelikan. Produk kerja yang dibuat bukan untuk digunakan, tetapi untk diperjualbelikan. Sebagai sebuah komoditas, produk tidak hanya penting untuk berguna, tetapi juga berdaya jual. Nilai dan nilai guna suatu benda adalah sisi kembar dari komoditas yang saling berlawana.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, contoh produk yang dihasilkan sebuah Griya adalah upakara yadnya berupa banten saraswati sekalian melaspas pelinggih dari sebuah instansi pendidikan. Oleh karena memakai Paduraksa sebanyak 30 buah harga banten tersebut adalah Rp 60.000.000,00 . Pedanda menyiapkan upakara sesuai pesanan konsumen, kalau pemesan meminta dibuatkan kajang untuk upacara ngaben, maka akan dibuatkan, mereka nunas banten prayascita juga akan dibuatkan. Semua pesanan akan disampaikan oleh konsumen hanya keputusan tetap ada pada Siwa, upacara yang bagaimana dengan upakaranya yang akan dijalankan oleh si pemesan. Umat Hindu maupun sisyanya yang akan nunas banten akan ditentukan oleh Pedanda termasuk Pedanda istrinya. Seperti prayascita ada yang berlabel Rp 200.000

Untuk melaksanakan upacara ngaben dapat melakukannya dengan membeli dimana paket upacara ngaben pranawa seharga Rp 15.000.000 sedangkan ngaben ngwangun harga Rp 60.000.000. Harga itu adalah di sebuah Griya di Sanur, baik untuk sisya ataupun masyarakat umum. Kalau di Griya yang lain harga ngaben ngwangun ada yang memasang tarif sama, namun ada pula untuk ngaben pranawanya seharga Rp 30.000.000 Hal ini memperlihatkan hubungan Siwa sisya yang kaku karena sisya tidak dengan leluasa dalam melaksanakan upacara yang dilakukan kalau disesuaikan dengan kemampuannya, karena Siwa menerapkan sesuatu ketentuan ini boleh itu tidak boleh. Pada diri sisya ada ketakutan kalau pihaknya yang menentukan Siwanya tidak mau membuatkan banten apalagi akan lunga muput. Ada pula umat nangkil secara rombongan dari penyungsung Pura Dalem di sebuah desa pakraman pada sebuah griya yang akan nunas banten melasti lengkap dengan caru panca rupa. Pendistribusian dilakukan oleh krama tersebut dengan mengambil sendiri bebantenan di Griya itu. Dari griya hanya menata penempatan banten tersebut dan harga banten tersebut Rp 40.000.000.

Kalau dilihat ternyata komodifikasi telah merambah tubuh privat yang bernama agama. Bahkan bisnis banten sangat cerah. Griya yang memiliki sulinggih menerapkan bisnis ini. Griya tidak pernah sepi order, namun terdapat perbedaan harga banten lintas kabupaten. Seperti misalnya untuk di daerah Tabanan agak murah karena bantennya kecil-kecil, termasuk sampyan yang boleh kering, terkadang tidak dilengkapi dengan buah dan jajan pasar pada masing-masing banten, apalalagi tidak disertai dengan gebogan maupun sampyan jerimpen yang banyak menghabiskan busung.

Bahkan kalau menerima order banten pemlaspa,s sampian gantung dan ceniga-nnya pun kecil-kecil dan dihias dengan ornamen dari plastik. Hal ini mirip dengan keadaan di Gianyar. Sedangkan di Denpasar dan Badung banten agak mahal, karena semua serba bungah dan sampyan besar-besar dari busung yang masih segar dilengkapi dengan gebogan, jajan yang serba enak bahkan sampyan gantung yang besarnya seperti sampian penjor dan ceniga pun yang menjuntai panjang lengkap dengan ornamen alami.

Harga banten bervariasi untuk banten ngodalin dengan pulagembal bisa sampai Rp 12 juta, banten mebayuh oton Rp 3,5 juta, banten mesangih Rp 7,5 juta, banten upacara sama wartana Rp 7 juta.

Selanjutnya......

Prospek Cerah Binsis Banten Harga Banten Ngaben Pranawa Rp 15 Juta, Ngaben Ngwangun Rp 60 Juta


Ida Ayu Tary Puspa

Perubahan pola hidup masyarakat dari agraris ke industri telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat Bali. Zaman dulu melaksanakan ritual semakin lama semakin baik karena hubungan kekerabatan maupun sosiologis dengan keluarga maupun masyarakat menjadi sangat berarti. Pada masa itu untuk membuat upakara atau banten dikerjakan dengan anggota masyarakat dengan cara metulung atau ngoopin, namun kini telah terjadi perubahan dengan membeli atau memesannya pada griya atau sarati karena masyarakat menginginkan yang serba praktis dan simpel. Masyarakat cukup menyerahkan uang dan banten apa yang dipesan lengkap dengan yang muput.

Hubungan antara griya (Siwa) dengan masyarakat (sisya) tidak lagi dalam hubungan kelas seperti yang diisyaratkan oleh Marx, tetapi lebih pada pertukaran sosial ekonomi
Menurut Sujana (1999: 55) kini masyarakat Bali semakin ketat dalam memakai dan mengatur waktu karena kegiatan-kegiatannya semakin kompleks dan bentuk ngayah dalam desa adat, tidak lagi beberapa hari, tetapi kini cukup satu atau dua jam saja. Perempuan-perempuan tidak lagi seluruhnya gotong royong membuat sajen, namun cukup membeli saja dari sekelompok warga yang ahli tentang sajen. Pendekatan-pendekatan secara ekonomis semakin mengedepan dalam masyarakat. Ini berarti industri pariwisata telah menciptakan sesuatu ”power of market” dengan perwujudan posisi materi dan uang yang sangat penting.

Upakara sebagai simbol persembahan merupakan produk yang dibuat oleh Raja dengan para Pedanda untuk melanggengkan relasi-relasi kekuasaan terhadap rakyat. Lebih-lebih pada zaman dulu konsep relasi/hubungan antara Pedanda (Siwa) dengan masyarakat (sisya) sangat kuat karena sampai Tirtha Pengentas pun harus memohon pada Pedanda. Hal inilah yang diwariskan sampai sekarang dalam ritual apa pun di Bali akan memakai upakara berupa banten yang selalu dihubungkan dengan alam atas (Dewa) dan alam bawah (Bhuta). Begitu pun dewasa ini karena Bali menjadi Daerah Tujuan Wisata bagi wisatawan domestik dan asing, menyebabkan ritual dengan upakara berupa banten tetap dilanggengkan demi live culture yang dapat dijadikan daya tarik wisata. Salah satu identitas atau ciri khas kebudayaan Bali adalah penggunaan banten sebagai sarana upacara.

Dengan adanya perubahan pola kehidupan, karena faktor budaya instan menginginkan banten yang praktis, hemat, dan cepat yang dapat dibeli pada sulinggih di griya maupun pada sarati (tukang banten). Sebuah evolusi telah terjadi di mana manusia Bali sudah berorientasi ke material yaitu mengabdi pada benda demi mengejar wibawa dan wabah pencitraan dengan hanya melihat kulit luar saja dan kurang memiliki pendalaman rohani.

Dalam melaksanakan upacara , maka akan ada keterlibatan sulinggih, yaitu rohaniawan Hindu yang telah didiksa dan tergolong Dwijati. Pelaksanaan upacara Diksa ini bersifat mengubah sta¬tus yang bersangkutan setelah melalui disiplin hidup yang cukup ketat. Ikatan disiplin pertama-tama yang patut dilaksanakan dikenal dengan istilah Catur Bandana Dharma, artinya empat ikatan disiplin kehidupan kerohanian, seperti.Amari Sasana artinya meninggalkan tugas dan kewajiban semula (saat sebelum mediksa) dan mengganti dengan sasana kawikon, yaitu tugas dan kewajiban serta disiplin kehidupan seorang Pandita. Contohnya Tan wenang adol atuku (tidak boleh jual beli) dan sebagainya.

Dengan memperhatikan Catur Bandana Dharma di atas, apabila telah terjadi jual beli banten, maka pandita Brahmana sudah keluar dari mind set mereka waktu ditahbiskan. Bahkan pandita brahmana telah pula memiliki profesi lain, yaitu sebagai Waisya varna karena telah menjadi saudagar/pedagang.

Keterlibatan sulinggih Istri sebagai Tapini yang menyediakan banten bagi yang membeli dibantu oleh tukang banten (serati) menjadikan bisnis banten cukup menjanjikan dan memiliki prospek yang cerah. Tukang banten pun digaji oleh griya dengan honor harian berkisar Rp 25.000 per hari. Apabila sulinggihnya baik hati, maka kepada mereka pun sering diberikan bonus kalau keuntungan yang diperoleh sulinggih cukup besar dan ada pula yang menerapkan mengajak mereka untuk bertirta yatra bahkan sampai ke Candi Ceto di Jawa.

Penguasa ekonomi telah mampu memainkan perannya untuk memenuhi hasrat manusia Hindu/Bali dalam melaksanakan upacara. Produk upacara menjadi alat komoditi bersama-sama dengan komoditi lainnya yang dibungkus dengan tujuan membantu masyarakat atau umat Hindu yang sedikit memiliki waktu dalam melaksanakan upacara. Dengan menyerahkannya kepada sulinggih dalam sebuah griya tentu dengan konsensus konsumen menyerahkan uang yang ternyata telah dihegemoni sulinggih masalah harga. Sejatinya kalau terjadi jual beli berarti dalam hal ini sulinggih adalah saudagar, tetapi pembeli tidak bebas menentukan pilihannya dalam upacara, padahal pembeli telah menyerahkan sejumlah uang kepada beliau.

Membicarakan ideologi pasar atau selera konsumen, erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Pada masa sekarang, apa pun produk yang dihasilkan, termasuk produk upacara yadnya, keinginan atau ideologi pasar memegang peran penting. Ideologi pasar menurut Atmaja (2005:2003) yang disebutnya ’Agama Pasar’ sebagai salah satu sistem kepercayaan yang mengagungkan pasar sebagai media utama bagi pemenuhan segala kebutuhan manusia. ’Agama pasar’ tujuannya mengalihkan modal budaya, upacara ngaben menjadi modal ekonomi.

Pada era globalisasi ini, modal ekonomi sangat penting karena bersamaan dengan memuncaknya ’Agama Pasar’, maka manusia terjerat pada budaya konsumsi, budaya tontonan (penampilanisme, wajahisme), hedonisme, dan materialisme. Semuanya itu bergantung pada uang karena apa pun yang mereka konsumsi lewat pasar mutlak memerlukan uang (Atmaja, 2005:124).

Marx memberi makna bahwa melalui kerja dihasilkan suatu produk dan apa pun yang diproduksi untuk diperjualbelikan. Produk kerja yang dibuat bukan untuk digunakan, tetapi untk diperjualbelikan. Sebagai sebuah komoditas, produk tidak hanya penting untuk berguna, tetapi juga berdaya jual. Nilai dan nilai guna suatu benda adalah sisi kembar dari komoditas yang saling berlawana.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, contoh produk yang dihasilkan sebuah Griya adalah upakara yadnya berupa banten saraswati sekalian melaspas pelinggih dari sebuah instansi pendidikan. Oleh karena memakai Paduraksa sebanyak 30 buah harga banten tersebut adalah Rp 60.000.000,00 . Pedanda menyiapkan upakara sesuai pesanan konsumen, kalau pemesan meminta dibuatkan kajang untuk upacara ngaben, maka akan dibuatkan, mereka nunas banten prayascita juga akan dibuatkan. Semua pesanan akan disampaikan oleh konsumen hanya keputusan tetap ada pada Siwa, upacara yang bagaimana dengan upakaranya yang akan dijalankan oleh si pemesan. Umat Hindu maupun sisyanya yang akan nunas banten akan ditentukan oleh Pedanda termasuk Pedanda istrinya. Seperti prayascita ada yang berlabel Rp 200.000

Untuk melaksanakan upacara ngaben dapat melakukannya dengan membeli dimana paket upacara ngaben pranawa seharga Rp 15.000.000 sedangkan ngaben ngwangun harga Rp 60.000.000. Harga itu adalah di sebuah Griya di Sanur, baik untuk sisya ataupun masyarakat umum. Kalau di Griya yang lain harga ngaben ngwangun ada yang memasang tarif sama, namun ada pula untuk ngaben pranawanya seharga Rp 30.000.000 Hal ini memperlihatkan hubungan Siwa sisya yang kaku karena sisya tidak dengan leluasa dalam melaksanakan upacara yang dilakukan kalau disesuaikan dengan kemampuannya, karena Siwa menerapkan sesuatu ketentuan ini boleh itu tidak boleh. Pada diri sisya ada ketakutan kalau pihaknya yang menentukan Siwanya tidak mau membuatkan banten apalagi akan lunga muput. Ada pula umat nangkil secara rombongan dari penyungsung Pura Dalem di sebuah desa pakraman pada sebuah griya yang akan nunas banten melasti lengkap dengan caru panca rupa. Pendistribusian dilakukan oleh krama tersebut dengan mengambil sendiri bebantenan di Griya itu. Dari griya hanya menata penempatan banten tersebut dan harga banten tersebut Rp 40.000.000.

Kalau dilihat ternyata komodifikasi telah merambah tubuh privat yang bernama agama. Bahkan bisnis banten sangat cerah. Griya yang memiliki sulinggih menerapkan bisnis ini. Griya tidak pernah sepi order, namun terdapat perbedaan harga banten lintas kabupaten. Seperti misalnya untuk di daerah Tabanan agak murah karena bantennya kecil-kecil, termasuk sampyan yang boleh kering, terkadang tidak dilengkapi dengan buah dan jajan pasar pada masing-masing banten, apalalagi tidak disertai dengan gebogan maupun sampyan jerimpen yang banyak menghabiskan busung.

Bahkan kalau menerima order banten pemlaspa,s sampian gantung dan ceniga-nnya pun kecil-kecil dan dihias dengan ornamen dari plastik. Hal ini mirip dengan keadaan di Gianyar. Sedangkan di Denpasar dan Badung banten agak mahal, karena semua serba bungah dan sampyan besar-besar dari busung yang masih segar dilengkapi dengan gebogan, jajan yang serba enak bahkan sampyan gantung yang besarnya seperti sampian penjor dan ceniga pun yang menjuntai panjang lengkap dengan ornamen alami.

Harga banten bervariasi untuk banten ngodalin dengan pulagembal bisa sampai Rp 12 juta, banten mebayuh oton Rp 3,5 juta, banten mesangih Rp 7,5 juta, banten upacara sama wartana Rp 7 juta.

Selanjutnya......

Pendidikan dan Menjadi Guru Sejati

Luh Made Sutarmi

Mereka yang tahu bagaimana cara berpikir tidak membutuhkan guru. Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.
Mahatma Gandhi

“Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah dimiliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Demikian kata-kata bijak terlontar dari bibir Thomas Jefferson, salah sorang Guru Bangsa Amerika. Kabar baiknya adalah rawatlah apa yang sebenarnya Anda miliki dan mungkin akan Ada miliki, sejatinya itu adalah sebuah proses untuk mewujudkan pendidikan dalam diri. Sebab pendidikan adalah sebuah jalan yang kerap dibangun untuk mencapai sasaran. Pendidikan diabaikan,sebab banyak kalangan berharap bahwa tujuan bisa dicapai dengan tanpa jalan. Namun pendidikan sering dijebak untuk diarahkan agar mencapai program mengkultuskan individu di setiap masa. Di sana akan terjadi ruang yang sarat dengan kepentingan.

Ketika Drona mendidik ksatria Astina, tanpa boleh ada elemen lain yang berlabel rakyat jelata di dekatnya, saat itu pendidikan sudah mulai terpasung, pendidikan sudah memasuki rekayasa sang pemimpin. Di dimensi itu akan nampak jelas, paduan antara kekuasaan politik dan kata-kata yang mendukungnya. Namun ada batas dan bahaya. Ketika untuk meneguhkan sebuah kekuasaan sederet kata jadi doktrin, dan doktrin jadi slogan, dan slogan jadi mantra, manusia hidup terasing dari proses bahasa. Itulah kekuatan pendidikan.

Sebab, para murid hanya menghafal. Ia makin tak pasti dengan makna kata yang diucapkannya. Ia juga makin kurang yakin akan tafsir yang datang dari dirinya sendiri, karena makna ditentukan para penguasa. Pada gilirannya, para penguasa juga mengalami keterasingan, karena dalam keseragaman slogan, mereka tak tahu di mana kata-kata sendiri berarti. Inilah wacana dalam spektrum pendidikan yang dikebiri oleh sebuah ideologi baru, yakni fragmatisme.

*****
Resah dan gelisah mencuat juga di Balerung istana,di ruang yang berlabel elit dan intelektual, menghadirkan perdebatan sengit antarpunggawa keraqjaan tentang bagaimana melanggengkan dan menyelamatkan kekuasaan Astina. Segala corak dan kebijakan terselip bagaimana membuat penerus Astina menjadi baik, dan tak hirau apa yang dilakukan para penguasa mereka. Aroma itu terus menyusup di antara para pelaku negeri. Juga berdebar ke nafas punakawan istana , yakni Tuwalen, Merdah dan Condong di rumah mereka.

Tuwalen berkata, “Ah punggawa terus berdebat, semua menjajikan perubahan, transformasi budaya lewat pendidikan, semua itu bak semilir angin selatan yang sejuk namun sering membuat mabuk kepayang.”

Merdah menyaut ketus, “Dari pada tidak ada harapan sama sekali, walaupun janji-janji belum ditepai, tapi kita masih memiliki harapan, dari pada wakil rakyat dan punggawa tidak berjanji semasekali. Nang! Kini pemerintah sudah menepati janjinya di dunia pendidikan. Contohnya adalah sertifikasi guru telah berjalan.”

Tuwalen menimpali, “Benar itu Dah, guru semua senang, semua terlihat meriah, semangat sertifiksi guru membawa angin segar di dunia pendidikan kita?”

“Ya, banyak sekolah di Astina dipadati dengan mobil mewah, guru tidak lagi kere. Untuk sertifikasi, semua guru senang berseminar, walaupun hanya dengan membayar, dan anehnya banyak yang tidak hadir, hanya membutuhkan sertifikat dan bukan ilmu, Bli,” kata Condong dengan mulut manyun.

“Ah... kamu sirik, banget, sih kenapa kamu tidak jadi guru aja?”

“Wong aku tidak sekolahan Bli,” sergah Condong

Merdah bertanya, kenapa para guru kini belum juga puas, Eh sudah sertifikasi, kualitas pendidikan sering naik turun, kurang apa lagi ya? Malem menjawab datar, “Keinginannya tinggi, guru juga manusia, toh. sebab Sepanjang seseorang mengembangkan keinginan untuk buah dari tindakannya, maka orang tersebut tidak akan mempunyai kedamaian dalam hati. Ambillah sebuah kasus. Sebelum perkawinan, hanya ada satu orang dan satu orang; setelah perkawinan, mereka menjadi dua orang. Pasangan tersebut mempunyai anak setelah satu tahun. Awalnya, ia hanya mempunyai dua kaki; setelah perkawinan, mereka mempunyai empat; setelah melahirkan anak mereka mempunyai enam kaki. Seperti itulah, ketika keluarga tumbuh, jumlah kaki juga tumbuh, dan mereka akan mengkhirinya dengan duka cita. Semua itu bukanlah kreasi dari Tuhan. Semua itu adalah hasil dari kelemahan mental seseorang yang terikat pada kehidupan ini,” kata Tuwalen serius.

“Guru sekarang menjadi susah,” kata Tuwalen menambahkan. Sebagai seorang guru (pendidik), bila murid-murid kita berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita akan semakin mudah. Tetapi bila murid kita tidak berasal dari keluarga yang harmonis dan bahagia, maka tugas kita menjadi semakin penting. (Walau lebih mudah mendidik anak-anak yang "sudah baik", tetapi tugas pendidik yang sejati adalah mendidik mereka yang masih "mencari jalannya" ini.

Merdah tersenyum, “Guru itu kini terus mendapat tantangan. Bagaimana Nang, kalau aku menjadi guru agar bisa tenang?”

Tuwalen berkata: Ya. Engkau harus mengubah bahwa semua pengalamanmu ini hanya mengubah dunia sementara saja. Mereka seperti awan yang berlalu. Kalian tidak perlu merasa cemas akan pengalaman-pengalaman tersebut. Kalian sedang bergerak maju. Lanjutkan perjalanan hidupmu dengan keyakinan yang meninggkat terhadap Tuhan. Mengapa kalian harus menatap ke belakang dan merenungkan tentang masa lalu? Itulah yang engkau camkan kalau menjadi guru

Condong menimpali, “Dah , kamu harus siap, anak-anak sekarang senang berkelahi, kamu harus masuk sasana tinju dulu, kalau mau jadi guru.” Merdah, terkekeh. Tuwalen berkata dengan tenang dan lembut, “Mendidik bukanlah sebuah seni atau ketrampilan yang semakin menghilang, masih banyak orang yang mampu melakukannya sampai sekarang. Cuma masalahnya, semakin banyak orang yang kehilangan penghargaan akan peran sangat penting yang satu ini.”

“Nang, kini guru sudah diperhatikan, bagaimana harus disikapi oleh mereka yang menjadi guru, Nang?”

Tuwalen berkata lagi, “Sebagian orang ragu-ragu atas segala sesuatu, tidak hanya tentang pendidikan saja tetapi dalam hidupnya juga. Mereka cemas akan beberapa orang yang tidak lagi hidup. Siapa pun yang dilahirkan pasti akan meninggalkan dunia ini pada waktunya nanti. Tuhanlah satu-satunya yang hadir terus menerus baik dulu, kini, dan yang akan datang, karena Beliau hadir di mana mana. Beliau berada dalam wujud berbeda dan disebut pada waktu yang berbeda sesuai dengan aspirasi dan imajinasi dari para bhaktaNya. Hilangkan imajinasi-imajinasimu itu dan rasakan Tuhan dengan satu prinsip ketuhanan secara terus menerus. Itulah prinsip menjadi guru, yang hadir sebagai bunga puspa hati dalam diri kita.”

Inilah pesan terakhir untukmu kata Tuwalen lagi, “Pada waktu Anda berbicara dengan orang lain, janganlah memikirkan bahwa Anda yang melakukannya. Mohon kekuatan Guru dalam diri Anda, dan Anda akan terkejut bahwa Anda dapat berbicara dengan bijaksana, indah dan penuh kebajikan yang belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Itulah caranya untuk menjadi Guru. Om Gam Ganapataye namaha.

Selanjutnya......

Kesenangan Indra itu Ibarat Anjing Menggigit Tulang

Ni Made Supartini

Pada suatu hari Shankaracharya bersama murid-muridnya berjalan menuju Sungai Gangga. Didapatinya seorang brahmana duduk di bawah sebatang pohon sambil mengulang-ulang peraturan tata bahasa Sansekerta sistem Panini"Dukrun karane,dukrun karane."

Ia berusaha menghafalkan tata bahasa Panini agar dapat menjadi cendekaiawan yang hebat. Ketika ditanya oleh Shankara, brahmana itu menjawab, bahwa ia ingin memperlihatkan kecendekiawanannya di istana raja agar memperoleh imbalan banyak materiil. Shankara bertanya, "Apa yang akan Anda lakukan dengan harta tersebut?" Brahmana itu berkata, bahwa ia akan menikmati segala kesenangan dan kemewahan seumur kehidupannya. Shangkara mengajukan pertanyaan lebih lanjut," Setelah ajal tiba, apa yang akan terjadi terhadap harta Anda? Dapatkah Anda mengingat hal yang sekarang Anda pelajari?"

Sang brahmana tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Kemudian Shangkara berkata, "Oh, orang bodoh, berusahalah memahami prinsip ketuhanan yang selalu ada di dalam dirimu sebelum engkau lahir dalam kelahiran sekarang ini dan setelah ajal tiba."

Tidak ada yang menyertai manusia pada waktu lahir juga tidak ada seorang pun yang akan mengikutinya setelah meninggal. Ia datang seorang diri dan akan kembali demikian pula. Seseorang terbaring di ambang maut.Ia dikelilingi sanak saudaranya yang menangis karena ia hampir meninggal.Ia membuka mata dan berkata, "Mengapa kalian menangis?" Mereka berkata,"Engkau akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Ini membuat kami bersedih." Ia sadar bahwa semua harta yang telah diperolehnya harus ditinggalkan dan ia harus pergi dengan tangan hampa. Pada waktu itulah ia insyaf, betapa sia-sianya usaha untuk mengejar harta meteri.


Hanya orang yang menyelidiki sifatnya yang sejati layak disebut manusia. Kebanyakan orang bertanya kepada orang lain, “Siapakah Anda?", tetapi tidak mengerti,"Siapakah saya?" Ini adalah gejala maya yang merupakan pangkal penyebab segala kesedihan. Sebelum lahir bagaimana seseorang bisa berkerabat dengan orang lain? Setelah meninggal, siapa yang akan mengikuti siapa? Pertalian jasmani itu bersifat sementara. Akhirnya setiap orang harus menempuh jalannya sendiri, tidak ada seorang pun yang akan menyertai orang lain. Manusia menganggap dunia yang bersifat sementara dan cepat berlalu ini sebagai hal yang nyata dan menempuh hidupnya dalam khayal maya. Ia harus berusaha memahami kenyataan dirinya yang sejati dan menghayati kedamaian batin.

Karena tidak menyadari kenyataan bahwa kedamaian itu berada di dalam dirinya, manusia mencari kedamaian di tempat lain.Kita tidak dapat menghayati kedamaian di dunia luar. Ke mana pun seseorang pergi, ia hanya mendapati keresahan dan pergolakan. Kedamaian yang didambakan berada di dalam dirinya sendiri. Prinsip ketuhanan di dalam dirinya sesungguhnya adalah perwujudan kedamaian.Ia melupakan kenyataan ini dan mendambakan kedamaian yang tidak langgeng di dunia luar. Manusia diharapkan berhenti mencari kedamaian di luar dirinya dan harus berpaling ke dalam batin serta berusaha menghayati kedamaian yang merupakan wujud sejatinya.

Apa pun yang dicari di dunia luar, ada di dalam diri.Tidak ada apa pun di dunia luar yang tidak ada di dalam diri. Bila kita membuka mata, kita dapat melihat ribuan kepala. Bila mata dipejamkan, kita tidak melihat siapa pun. Dari pengalaman ini jelaslah bahwa semua yang dilihat dengan matajasmani bersifat sementara. Selama mata jasmani berfungsi, kita dapat melihat dunia. Bila mereka menjadi tidak berfungsi, kita tidak dapat melihat apa-apa. Akan tetapi, ada sesuatu yang dapat dilihat, baik dengan mata terbuka ataupun terpejam.Itulah Tuhan.Tuhan tidak berubah dan abadi. Tuhan tidak dilahirkan atau mati.Sesungguhnya umat manusia adalah perwujudan prinsip ketuhanan tersebut.

Pertama-tama kita harus menyelidiki identitas kita yang sejati adalah kasih. Kasih ada dalam segala nama dan wujud. Kasih itu abadi, tidak mendua, dan penuh kebahagiaan. Manusia bersifat pilih kasih dalam memberikan cinta kasihnya; ia melimpahkannya kepada mereka yang dekat dan disayanginya, tetapi ia bersikap tidak peduli kepada yang lainnya. Selama ia tenggelam dalam perasaan dualistis. Manusia yang merasa dirinya berbeda dari makhluk lain adalah orang yang setengah buta. Manusia harus berusaha menyamakan dirinya dengan orang atau makhluk lain dan menghayati kemanunggalan advaita dharshanam jnanam. Artinya penghayatan kemanunggalan adalah kebijaksanaan tertinggi.

Pahami kebenaran, bahwa semua berada di dalam diri dan ada dalam semuanya.Atma yang bersemayam dalam diri sama dengan atma yang bersemayam dalam makhluk lain, berusahalah melihat kemanunggalan ini dengan pandangan batin dan hayati kebahagiaan jiwa.

Ada seekor anjing yang mencari makan. Ia menemukan sepotong tulang kering dan mulai menggigitnya.Setelah beberapa waktu, sepotong serpihan tulang itu menusuk gusinya dan darah mulai mengalir. Anjing itu dengan senang menjilati darahnya sendiri dan mengira darah itu merembes keluar dari tulang yang digigitnya.
Demikian pula manusia melupakan kebahagiaan jiwa yang merupakan pembawaannya dan mempunyai pandangan yang keliru mengira, bahwa ia dapat memperoleh kebahagiaan dari dunia luar. Sesungguhnya segala hal yang menurut perkiraannya dialaminya di dunia luar berasal dari dalam dirinya sendiri. Sakit atau senang merupakan hasil imajinasinya sendiri. Ada dikatakan, "Kesenangan merupakan interval di antara dua penderitaan dan begitu sebaliknya." Senang dan sakit itu berada di dalam diri, bukan di luar. Segala hal yang dilihat hanyalah cerminan, kenyataannya yang sejati berada di dalam diri.Karena itulah, maka Vedanta menghimbau manusia” ketahuilah dirimu sendiri.

Selanjutnya......

Shankaracharya Tentang Teori Relativitas dan Advaita

Ramaswami Aiyar


Pada saat ini yang menjadi fondasi dari ilmu pengetahuan dan hidup, angkasa dan waktu yang dianggap sebagai azas dasar dari alam semesta – angkasa, waktu dan sebab-akibat – semuanya ini memiliki bentuk pemahaman baru. Angkasa diangap sebagai fungsi dari waktu, angkasa dianggap tiada terhingga akan tetapi tetap terbatas. Dimensi ke-empat secara matematis bisa dibuktikan memang ada. Semua fenomena adalah nisbi (relative) dan mmerupakan fungsi dari kesadaran.

Tiada sesuatu pun adalah nyata dan hal ini bukanlah hanya pendapat Vedanta saja, akan tetapi Sir James Jeans yang menggaris bawahi bahwasannya pemaparan dari keilmuan modern (modern science) sesungguhnya adalah realisasi dari kenyataan, bahwa semua fenomena dan kejadian-kejadian adalah fungsi dari pikiran saja. Dengan kata lain, angkasa tidaklah ada, karena dirinya sendiri, demikian juga waktu tiadalah ada karena dirinya sendiri. Ajaran mengenai kenisbian (relativitas) yang disampaikan oleh Einstein sesungguhnya sudah disampaikan 2500 tahun yang lalu, bahkan mungkin jauh sebelum itu di dalam rangkaian Upaniisad di mana dikumandangkan, bahwa semuanya hanyalah bayangan (pikiran saja).

Ada Pikiran yang Imanent dari Kesadaran Maha Tinggi yang perwujudan maya-Nya adalah penampakan dan sebab musabab lahiriah. Demikianlah sebagai hasil dari ekperimen laboratorium dan perhitungan matematis, hipotesa dan teori kebendaan yang lama menjadi sirna dan kita kembali kepada Vedanta, menurut siapa yang sesungguhnya ada adalah Kesadaran Maha Tinggi di mana semua pikiran-pikiran, semua fenomena adalah bagian saja dan yang adalah penjumlahan, perwujudan dan integrasi dari alam semesta dan evolusi-nya.

Inilah pernyataan dari ilmu-pengetahuan modern. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan modern – ilmu pengetahuan di mana kita berhutang kepada Einstein dan Niels Bohr telah membawa kita kepada kesimpulan, bahwasannya fondasi-fondasi pada mana hidup, dan fenomena serta masalah hidup didasarkan dan dimengerti telah berubah. Dan bahwa falsafah baru, penilaian baru kepada rangkaian fenomena ini adalah pokok dan karena itulah kita kembali kepada spekulasi-spekulasi yang sangat berani ini yang merupakan karakter dari para Rsi di jaman silam.

Saya akan membawa Anda kepada beberapa agama besar dunia. Di dalam demikian banyak perbedaan Anda akan melihat penekanan atas keunggulan pikiran di atas benda dan fenomena dari benda. Ambilah contoh Kristiani yang dari segi tertentu adalah keimanan yang sederhana, ajarannya bersumber pada bantuan pembebasan hanya oleh Yesus Kristus. Kita tahu bahwa atas dasar keimanan yang langsung dan sederhana kepada Sang Guru, para mistikus Kristiani dan segolongan ahli falsafah yang hidup di sekitar abad ke 3 sampai ke 11. Mereka membina sebuah sistem pemikiran yang kalau dikaji secara hati-hati tidaklah jauh berbeda daripada Vedanta, yang tidak sedikit berasal dari gagasan Plotinus dan Plato, yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Mesir Kuno dan India.

Ambilah contoh Islam. Di sini juga tergantung dari satu atau dua hipotesa atau ajaran keimanan tentang universalitas dan keesaan dari Tuhan dan kepercayaan atas utusan Tuhan, akan tetapi berdasarkan keimanan yang sederhana, langsung, demokratis dan secara mutlak dekat dengan jiwa dan hati nurani orang-orang. Kemudian telah dibangun suatu keimanan sufisme yang apabila diperiksa dengan teliti di dalam karya Jalaluddin Rumi dan Omar Khayyam akan tampak tidak banyak berbeda dengan Vedanta.

Keimanan kita, apabila Anda membaca Vedanta adalah juga keimanan yang mengakui kekuatan besar tertentu, rangkaian dewata tertentu, attribute atau emanasi dari Dewata (Yang Tunggal). Bhakti, sembah, kasih sayang, penghormatan akan membawa kepada pembebasan. Hal itu juga adalah keimanan sederhana, akan tetapi ketika masalah manusia menjadi lebih ruwet dan orang-orang mulai menggali semakin dalam di bawah permukaan, maka mereka merasakan bahwa sintesa yang lebih menyeluruh diperlukan.
Sri Shankara muncul di dalam pikiran saya sebagai gabungan yang unik di dalam diri satu orang dua sifat yang biasanya ditemukan terpisah. Ada beberapa yang naik sampai kepada ketinggian yang paling atas dari pengendalian diri yang bersifat lahiriah dan analisa intelektual; ada beberapa yang menempuh lintasan yang sulit dan mencapai puncaknya, di mana di dalam kelangkaan udara dari pemikiran yang abstrak, mereka bisa berhubungan dengan Yang Tiada Terbatas. Yang lainnya mencapai puncak-puncak melaui cinta, kasih sayang dan keimanan yang tiada batasnya.

Tukaram, Kabir, Ramdas adalah contoh dari pribadi-pribadi yang melalui kasih sayang, kerinduan yang intense dan bhakti (devosi pribadi) akan cita cita mereka (seperti halnya Santo Fransiskus) menuntun mereka untuk membaktikan diri mereka dan segala sesuatu yang mereka hargai kepada cita-cita mereka sendiri atau Ista Devata. Itulah perbedaan di antara apa yang disebut jnana dan bhakti. Tiadalah dianugerahkan kepada setiap orang untuk mempersatukan kedua sifat itu pada keberadaan atau raga yang sama. Sri Shankara mampu memiliki keduanya. Beliau adalah contoh yang langka mengenai persatuan di antara sesuatu yang abstrak dan yang konkrit.

Ketika kita berpikir mengenai Sri Shankara, dengan hal apakah kita mengasosiasikan dirinya? Kita mengasosiasikannya dengan bhasyas (tafsir) agung mengenai Brahma Sutra, rangkaian Upanisad, Bhagavad Gita dan berbagai pandangan pandangan beliau yang berisi analisa yang paling abstrak, penelaahan yang paling teliti dan rinci mengenai benda dan jiwa, yang baik dan yang jahat, dualitas dan keesaan dengan kekuatan analisa dan introspeksi, dengan memanfaatkan fikiran yang kering dan tanpa emosi. Akan tetapi bersamaan dengan itu, orang yang sama juga bertanggung jawab atas Dhaksinamurti Stotra, Saundarya Lahari, Ananda Lahiri serta rangkaian stotra yang penuh rasa dan emosi serta juga atas penggambaran semua perwujudan dari Hyang Vidhi di dalam bahasa yang bersemangat. Dengan lirik yang sempurna penuh dengan cinta dan kasih sayang pribadi seperti juga yang kita temukan di dalam pencurahan rasa dari para mistikus Kristiani dan Islam. Dan juga orang orang besar kita sendiri seperti Tukaram dan Kabir serta juga generasi para penyanyi pengembara yang bahkan sampai saat ini dapat dianggap sebagai keagungan dari kehidupan di India Utara.

Yang di atas saja sudah merupakan sebuah keajaiban, akan tetapi ada satu sisi yang lain yang tidak selalu disadari bahkan oleh mereka yang memahami kehidupan Sri Shankara. Sri Shankara diberirtakan wafat ketika menginjak umur 32 tahun. Kita di dalam jaman ilmu pengetahuan sekarang ini dengan pesawat terbang, mobil dan semua kemudahannya akan merasa sulit untuk melakukan perjalanan dari Chenai (Madras) ke Kashmir akan tetapi belasan abad silam, Rsi Agung Sri Shankara melaksanakan ekspedisi ketika beliau berumur 16 tahun sampai 20 tahun berangkat ke Badrinath dan mendirikan salah satu ashram-nya di sana. Selanjutnya ke Shrinagar, memuja pada sebuah pura dan meninggalkan Chakra-nya, ke Dwaraka pada perbatasan Kathiawar di mana dia membangun ashram-nya yang lain. Menuju ke Puri dan ketempat lain di antara lintasan hutan di Mysore, yang kemudian menjadi Rishyasringa Ashrama, yaitu dikota Shringeri sekarang. Kemudian beliau pergi ke Kanchi dan ke berbagai tempat lainnya.

Beliau bukan melakukan hal itu saja akan tetapi sepanjang perjalanannya beliau memperdebatkan dan beliau menang. Ke mana saja beliau menyampaikan pandangan pandangannya. Bahkan dengan semua pekerjaan berat ini, beliau masih memiliki waktu untuk menulis rangkaian puisi yang paling indah di dalam bahasa Sanskrta, elok di dalam gaya (artikulasi), indah di dalam tamsil (perumpamaan) dan harapan. Beliau juga mampu menelorkan beberapa analisa yang mangasyikkan dan dalam mengenai manifestasi pikiran manusia dan proses mental.

Sebagai tambahan, beliau juga mampu menyampaikan ajaran advaita yang adalah salah satu pemecahan yang terhebat mengenai masalah masalah kehidupan manusia. Apakah ajaran itu diterima atau tidak oleh orang orang, tidak dapat disangkal bahwa pencapaian intelektual dan rohani dari Sri Shankara telah mempengaruhi secara mendalam sejarah dari pemikiran manusia. Dia (ajarannya ini) telah mempengaruhi dan memiliki dampak kuat pada berbagai agama dan kepercayaan, yang walaupun tidak secra keseluruhannya diakui.

(Disarikan oleh Agus S. Mantik dari Sir C.P Ramaswami Aiyar, Selected Speeches and Addresses. Bharatiya Vidya Bhavan).

Selanjutnya......

SANGKAN PARANING DUMADHI

Ida Bagus Peradnyan

Svam lokam na vidus te vai, yatra devo janardanah
ahur dhumra-dhiyo vedam, sakarmakam atad-vidah.

“Orang-orang yang kurang cerdas menganggap upacara ritual Veda sebagai segala-galanya. Mereka tidak mengetahui bahwa tujuan Veda adalah untuk mengerti tentang kampung halamannya sendiri, yakni tempat tinggal Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena tidak tertarik pada rumahnya yang sejati, mereka tersesatkan dan mencari-cari rumah yang lain. (Bhag. 4.29.48).

Sangkan artinya dari mana, paran artinya ke mana, dan dumadhi artinya mengapa ada di sini. Jadi sangkan maraning dumadhi berarti kita datang dari mana dan akan mau ke mana terakhir mengapa kita berada di planet bhumi ini? Pertanyaan ini sangat jarang kita dengarkan di kalangan umat Hindu apalagi jawabannya.

Pada umumnya orang tidak menyadari kepentingannya dalam kehidupan ini yakni pulang kembali (ke karang wayah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang tidak mengetahui tentang kampung halamannya di dunia spiritual. Di sana terdapat banyak planet Vaikuntha, dan planet yang paling tinggi adalah Krsnaloka, atau Goloka Vrandavana. Meskipun peradaban disebut-sebut telah mengalami kemajuan, tidak ada keterangan tentang Vaikunthaloka atau planet-planet spiritual. Dewasa ini mereka yang disebut-sebut manusia beradab yang telah maju berusaha pergi ke planet-planet lain, namun mereka tidak mengetahui bahwa bahkan jika mereka pergi kesusunan planet yang tertinggi Brahmaloka, mereka harus kembali lagi ke planet ini. “Dari planet tertinggi di dunia material sampai planet yang paling rendah, semua adalah tempat-tempat kesengsaraan, tempat kelahiran dan kematian dialami berulang kali. Tetapi orang yang mencapai tempat tinggalKu tidak akan pernah lahir lagi, wahai putra Kunti” (Bg.8.16).

Sekarang usaha yang sesungguhnya hendaknya adalah pulang kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prosesnya disebutkan di dalam Bhagavad-gita: Yanti mad-yajino’pi mam, orang yang tekun dalam bhakti kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa akan pulang kembali kepadaNya. Kehidupan sebagai manusia sangatlah berharga, dan orang hendaknya jangan menyia-nyiakannya dalam penjelajahan sia-sia ke planet lain. Orang hendaknya cukup cakap untuk pulang kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang hendaknya tertarik terhadap keterangan tentang planet-planet spiritual Vaikuntha, dan khususnya planet yang bernama Goloka Vrndavana, dan hendaknya mempelajari seni untuk pergi ke sana melalui cara sederhana, yakni bhakti, yang dimulai dengan mendengarkan (srvanam kirtanam visnoh).

Seorang penyembah murni Tuhan selalu berpikir tentang kaki padma Tuhan (sa vai manah krsna-padaravindayoh). Seorang penyembah murni Tuhan tidak tahan untuk sedetik pun tidak khusuk memikirkan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Senantiasa berpikir tentang Tuhan ini dijelaskan dalam Bhagavad-gita “satata-yuktanam”, selalu tekun dalam pelayanan kepada Tuhan. Bhajatam priti purvakam; inilah bhakti dalam cinta kasih sayang. Oleh karena kepribadian Tuhan Yang Maha Esa membimbing penyembah murni dari dalam hati, penyembah itu diselamatkan dari segala kegiatan duniawi. Bahkan upacara-upacara ritual Veda pun dianggap sebagai kegiatan material sebab kegiatan seperti itu orang hanya diangkat sampai susunan planet lain, tempat tinggal para Dewa. Sangkan paraning dumadhi; kita datang dari dunia spiritual (rohani) kita harus pulang kembali ke kampung halaman sejati Vaikunthaloka dan di bumi ini melakukan persiapan seumur hidup agar tidak mengalami ketersesatan.

Selanjutnya......

Brahmacari dan Pentingnya Pengekangan Nafsu

I Ketut Nerta, Banyuwangi

Dalam masyarakat Hindu terdapat suatu periode atau masa yang disebut Brahmacari, yaitu suatu masa untuk menuntut ilmu pengetahuan. Jadi masa Brahmacari itu adalah masa menempuh pendidikan. Pendidikan yang diterima Brahmacari sebagai sisya (siswa) selama proses belajar dalam pasraman meliputi dua aspek ilmu, yaitu Jnana dan Widya. Kedua-duanya memiliki arti ilmu pengetahuan, cuma Jnana memiliki makna yang lebih khusus, sedangkan widya memiliki pengertian sebagai ilmu pengetahuan pada umumnya. Dalam bahasa Sankskerta Jnana artinya pengetahuan yang benar, bijaksana dan juga berarti kesadaran (L. Mardi Warsito 1995, 131). Sedangkan kata widya dalam bahasa Sankskerta berarti ilmu pengetahuan (L. Mardi Warsito, 1995, 148).

Usia belajar menurut sistem pendidikan Brahmacari adalah sampai diwisuda, walaupun menurut ajaran Hindu hidup mencari kebenaran itu berjalan seumur hidup. Tetapi sebagai bekal untuk mengisi hidup selanjutnya, masa Brahmacari dipandang sebagai batas waktu untuk belajar mempersiapkan diri memasuki masa-masa berikutnya. Agar selama hidup manusia itu terdapat waktu untuk melaksanakan dharma, maka masa untuk mempelajari dharma atau masa Brahmacari adalah pada batas usia seperempat bagian pertama dari sepanjang umur hidup manusia.

Brahmacari berarti tingkah laku dalam mencari kebenaran (dharma). Dalam mencari kebenaran tersebut, lewat pendidikan Brahmacari. Proses pendidikan Brahmacari diawali dengan sumpah. Sumpah dalam agama Hindu adalah kekuatan mengendalikan nafsu untuk mencapai kebenaran. Dewasa ini sumpah dilakukan setiap orang mengawali memangku jabatan baru (sumpah jabatan). Sumpah itu dilakukan untuk memperoleh kekuatan psikologisnya, yaitu kekuatan untuk berpikir, berkata dan berbuat yang benar.

Dalam sistem pendidikan Brahmacari yang sangat diutamakan adalah kontrol terhadap pikiran, karena proses pendidikan menurut sistem Brahmacari bukanlah sekadar mengasah kepintaran rasio, melainkan mengukuhkan nilai-nilai budaya dan agama. Bukan semata-mata menegakkan peradaban hasil pemikiran manusia untuk menciptakan benda-benda materi yang mewah dan canggih, melainkan mengembangkan keterampilan, meluaskan cakrawala pemikiran secara proporsional yang berspektif mengantar ilmu pengetahuan ke arah nilai-nilai kebajikan ilahi dan manusiawi.

Pendidikan berpikir itu memang sangat penting, namun lebih penting lagi landasan untuk berpikir itu. Kemampuan berpikir tanpa dilandasi sentuhan kebajikan hati nurani akan membawa hegemoni berpikir meluncur kepada pemujaan ilmu atau sains. Dan mengagungkan ilmu sains akan melahirkan kesombongan ilmu pada gilirannya akan membuahkan tirani ilmu sains, hal ini perlu dicegah.

Dalam sistem pendidikan Brahmacari para siswa disadarkan, bahwa akan segala dosa menurut agama Hindu adalah egois mementingkan diri sendiri (nresangsya). Untuk memerangi dan mencabut akar egois ini perlu penuntun hidup ini adalah agama (dharma), bukan ilmu atau sains. Dalam mencari dan memperlakukan ilmu atau sains itu agamalah penuntunnya.

Dalam situasi dan kondisi dewasa ini di tengah-tengah lajunya kemajuan ilmu pengetahuan, sains teknologi dan seni, yang penting ditekankan kepada anak-anak muda kita adalah kontrol terhadap posisi kepemilikan barang-barang mewah dan hawa nafsu seks. Kontrol yang berhasil terhadap sikap kepemilikan dapat menjauhkan din dan sifat konsumtif yang rakus. Demikian juga kontrol terhadap hawa nafsu seks di kalangan anak-anak muda patut ditekankan secara bijaksana. Hal ini sangat diperhatikan dalam sistem pendidikan Brahmacari, dan dilakukan dengan penuh disiplin.

Kontrol atau membersihkan panca indra secara sadar dilakukan dengan jalan mengucapkan nama-nama suci Tuhan, doa, meditasi, sembahyang dan puasa. Siswa diajak, diperkenalkan, dilatih dan diaktifkan menghayati kualitas, karakter suci dan sifat-sifat Tuhan. Kualitas sifat Tuhan inilah yang diutamakan dan ditanamkan dalam sistem pendidikan Brahmacari. Yang dicari sepanjang pendidikan Brahmacari berlangsung, sepanjang hidup manusia adalah dharma, karena sifatnya langgeng (sanatana). Menurut sistem pendidikan Brahmacari, ini bisa dicapai lewat kesadaran, dan kesadaran pada gilirannya dapat dicapai lewat kontrol nafsu, amarah, loba dan hawa nafsu seks.

Dewasa ini pangkal segala keresahan, kerusuhan, ketakutan, kecemasan, tekanan batin, putus asa, frustasi dan sebagainya, adalah nafsu, posisi kepemilikan, dan nafsu seks. Apabila kesadaran dapat dicapai maka berhasillah pendidikan. Keberhasilan pendidikan membawa pula keberhasilan pembangunan bangsa dan pendidikan karakter bangsa (nation character building).

Dalam hidup ini, manusia dikodratkan untuk mengejar dharma (kebajikan), artha (kekayaan, arta benda), dan kama (kesenangan). Tetapi oleh seorang Brahmacari yang dikejar adalah keseimbangan, keselarasan, keserasian ketiga-tiga ini yaitu, dharma, arta dan kama. Dalam mengejar arta dan kama, dharmalah sebagai landasan pengendalinya, karena dharmalah yang termulia dan tertinggi. Inilah sistem pendidikan Brahmacari.

Selanjutnya......

Gubernur Berharap Masyarakat Bali Tidak “Bodoh”

Laporan Made Mustika

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menekankan, agar masyarakat Bali cerdas dalam mengartikulasikan segala bentuk kepentingannya. Jangan terus-menerus bersikap diam. Kalau saatnya ngotot, maka bicaralah. Terhadap dinamika yang terjadi hari ini, harus dapat ditelaah apa yang terjadi dalam jangka panjang. Kalau ada kekecewaan jangan dipendam. Kalau kekecewaan dipendam, dapat menimbulkan efek negatif terhadap fisik maupun mental. Perang puputan bukanlah teladan yang baik. Tindakan puputan itu adalah ekspresi keputusasaan dalam menghadapi masalah. Demikian ditegaskan gubernur saat memberikan sambutan sebelum membuka secara resmi seminar yang bertajuk ketahanan masyarakat Bali dan Perda RTRWP (perda kawasan suci) Bali di kampus IHDN Denpasar, Sabtu, 16 April 2011.

Lebih jauh ditegaskan agar masyarakat Bali tidak “bodoh”. Lebih-lebih dalam menghadapi era globalisasi yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lewat. Gubernur menghubungkan ketidakcerdasan masyarakat Bali dengan maraknya kehadiran vila-vila “liar” yang kehadirannya bagai jamur di musim hujan. Orang Barat menyewa tanah orang Bali dengan harga relatif murah dalam jangka waktu lama. Setelah dibanguni vila, selanjutnya akomodasi eksklusif itu disewakan di antara orang asing sendiri dengan harga yang mahal. “Orang asing yang menyewa tanah dan kemudian membangun vila itu bukanlah memiliki uang banyak,” tutur mantan Kapolda Bali tersebut.

Lalu bagaimana mereka bias menyewa tanah dan membangun vila? Mereka pakai otak. Setelah rencana pendirian vila dibuat gambarnya, lalu dibawa ke bank untuk memperoleh kredit. Hasil penyewaan vila dipakai untuk mencicil utangnya di bank. Itu salah satu kecerdikan orang Barat. Sementara orang Bali hanya puas menjadi pecalang/satpam atau petugas cleaning service di vila yang dibangun oleh orang Barat itu maupun di hotel-hotel lain. Dengan demikian orang Bali kebanyakan menjadi pekerja kelas pembantu di pulaunya sendiri.

Setelah selesai memberikan sambutan, gubernur lalu pergi meninggalkan ruang seminar. Seminar tersebut menghadirkan lima narasumber. Dua di antaranya adalah Ida Peranda Sebali Tianyar Arimbawa dan Ketut Wiana. Selebihnya perwakilan dari Polda Bali, Kodam Udayana, dan dari Unud Denpasar. Namun pembicaraan para narasumber datar-datar saja. Kurang tajam membahas masalah ketahanan masyarakat Bali maupun kreteria-kreteria kawasan suci. Beruntung ketika selesai presentasi, banyak masukan yang disampaikan oleh para peserta.

Salah seorang peserta mengingatkan seminar itu akan sia-sia kalau akar permasalahannya tidak ditangkap dengan jelas. Peserta itu mengingatkan, sekalipun setiap hari dua kali diadakan seminar semacam itu, masyarakat Bali akan tetap kalah di pulaunya sendiri. Tidak hanya terhadap orang Barat, tapi juga terhadap pendatang dari dalam negeri. Komposisi penduduk Bali makin tahun cendrung menurun umat Hindunya. Bahkan di desa/kelurahan tertentu, yang dulunya Hindu dominan, belakangan ini umat Hindunya menjadi minoritas. Semua itu karena serbuan pendatang yang memiliki etos kerja lebih baik serta tidak ada rintangan agama dan budaya. Mereka bisa bekerja full time sepanjang hari selama tujuh hari dalam seminggu. Boleh dikatakan mereka lebih profesional.

Sementara pelaku usaha kecil dan menengah Bali (baca: Hindu) dalam sebulan bisa libur 10 hari atau bahkan lebih dari itu. Sehingga kota-kota di Bali dikuasai oleh pedagang kaki lima (PKL) dari luar daerah. Keunggulan pendatang itulah yang menyebabkan komposisi penduduk Bali berubah drastris belakangan ini. Bali menjadi tujuan wisatawan domestik dan mancanegara, namun orang Bali lebih banyak menjadi penonton dan berpangku tangan. Akibatnya terjadi pemiskinan di kawasan wisata paling elit sekalipun seperti di Kecamatan Ubud, karena mereka tak punya akses untuk mengais dolar dari industri pariwisata. Terpaksa mereka meninggalkan Bali memilih transmigrasi ke pulau lain. Peserta lain mengibaratkan kondisi itu sebagai ayam mati di lumbung padi. “Masayarkat Hindu jadi rendah etos kerjanya karena sebagian besar tenaga dan pikirannya tercurah pada ritual. Lalu apakah sistem religi itu sudah benar atau memungkinkan diubah sesuai tantangan? Kalau tidak, jangan terkejut kalau orang Bali bakal terus terjepit,” tegas peserta itu.

Selanjutnya......

Perayaan Nyepi di Jayapura Melasti, Tawur Agung dan Catur Brata Berjalan Khidmat

El. Musrini

Hari Raya Nyepi adalah salah satu Hari Raya Agama Hindu yang diperingati setiap satu tahun sekali, hari raya yang datangnya sasih melalui perhitungan Solar lunar sistem, yaitu sesuai peredaran bulan dan matahari setiap tanggal 1 bulan Waisaka. Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 yang untuk tahun 2011 ini jatuh pada hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2011. Dalam merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1933 di Kota Jayapura khususnya dan Provinsi Papua umumnya diawali dengan berbagai kegiatan, baik sekala maupun niskala. Secara sekala umat Hindu membersihkan tempat ibadah serta peralatan peribadatan yang digunakan dalam persembahyangan dalam setiap saat, dan bila di rumah membersihkan rumah dan lain-lain. Namun membersihkan secara niskala dengan cara melasti, mekiyis atau melis. Pembersihan sekala maupun Pembersihan niskala tujuannya adalah agar dapat melaksanakan Perayaan Nyepi dengan hati yang bersih.

Tema hari Nyepi tahun Saka 1933 adalah ”Dengan Melaksanakan Catur Brata Nyepi Kita Wujudkan Kehidupan Yang Harmonis, Damai dan Sejahtera.” Tema tersebut tidak bisa lepas dari keadaan yang ada di wilayah kita, di mana kondisi bangsa kita saat ini di daerah tertentu terjadi ketidakharmonisan di antara pemeluk agama, ketidak percayaan dengan anggota kelompok yang lain, dan juga adanya bencana alam Merapi dan Bromo.

Dalam Perayaan Nyepi kali ini, hendaknya kita jadikan momentum agar kita selalu menjalin dan meningkatkan hubungan, yaitu pertama meningkatkan hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan meningkatkan sradha dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, meningkatkan hubungan antara manusia dengan manusia dengan menjaga dan meningkatkan hubungan yang harmonis, menjalin komunikasi yang baik dengan sesama kita. Ketiga, hubungan antara manusia dengan alam dengan tetap menjaga dan memelihara dan menjaga lingkungan alam disekitar kita dan dialam ini.

Kegiatan menyambut Hari Raya Nyepi tahun Saka 1933 di Kota Jayapura yang diputuskan oleh Panitia Hari-Hari Besar Agama Hindu Kota Jayapura yang diketuai oleh I Wayan Suka dan umat Hindu adalah, kegiatan donor darah yang dilaksanakan tanggal 20 Februari 2011 oleh umat Hindu Kota Jayapura dan menghasilkan 74 kantong darah yang disumbangkan pada PMI Jayapura. Selanjutnya, anjangsana dengan memberikan sumbangan (tali kasih) berupa perlengkapan mandi, gula dan mie instan di Panti Werdha di Sentani.

Pada Tanggal 4 Maret 2011 dilaksanakan melasti bertempat di Tanjung Ria Base G, Jayapura. Tujuan dari pada melasti adalah menghaturkan puja bhakti ke hadapan Sang Hyang Baruna dengan menghaturkan banten. Berikutnya, nunas dan mohon tirtha amrtha saking telenging samudra mohon Anugerah serta menyucikan bhuwana agung (Alam semesta) dan bhuwana alit (Badan manusia). Kekotoran dan kepapaan bhuwana Alit dilebur dengan menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan dengan memercikan tirta panglukatan dan tirta wangsuhpada. Sedangkan penyucian bhuwana agung diwujudkan dengan penyucian arca, pratima-pratima, nyasa atau pralingga sebagai sthana dari Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Kuasa.

Acara berikutnya, tanggal 4 Maret 2011, juga tepat pukul 12.00 WIT dilanjutkan dengan melaksanakan Tawur Agung Kesanga di Jaba Pura dan di Jaba Tengah Pura. Makna Tawur Agung adalah menyucikan dan menyeimbangkan alam semesta dengan menetralisir kekuatan-kekuatan alam dan mengembalikan apa-apa yang pernah diambil dari alam, dengan menghaturkan dan menaburkan bija dan tirtha tawur ke alam.

Kemudian dilanjutkan dengan Persembahyangan Piodalan Alit bersama, dan keesokan harinya, yaitu tanggal 5 Maret pukul 06.00 hingga tanggal 6 Maret 2011 pukul 06.00 melaksanakan Catur Brata Penyepian. Sudah kita ketahui bersama bahwasanya Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya yang dirayakan tidak dengan suatu kemewahan, namun Hari Raya Nyepi dirayakan dengan suatu keadaan yang sepi dan sunyi, sebab dengan kesunyian itu, maka seseorang akan mencapai kesatuan atman dengan Paramaatman, jiwa pribadi akan bersatu dengan jiwa alam semesta.

Setelah perayaan Nyepi selanjutnya diadakan Dharmashanti pada tanggal 19 Maret 2011. Dalam Dharmashanti Hari Raya Nyepi tahun Baru Saka 1933 diisi Hikmah Nyepi oleh Pinandita Gusti Made Sunartha, S.Ag.MM. Dalam kesempatan Dharmashanti, Ketua PHDI Kota Jayapura, I Komang Alit Wardhana, SE.MM menyerahkan sumbangan kepada umat Hindu yang berada di Benyom Jaya Kabupaten Jayapura berupa beras, gula dan mie yang diterima oleh Ketua PHDI Kabupaten Jayapura, Bapak Rahmat.

Tema Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1933, mengajak kepada umat manusia khususnya umat Hindu hendaknya senantiasa menjaga kerukunan, baik kerukunan intern umat Hindu sendiri maupun kerukunan dengan Saudara yang lain, agar tercipta suasana yang damai. Kedamaian tersebut akan tercipta bila masing-masing menyadari akan dirinya. Manusia yang adalah merupakan makhluk yang paling sempurna di antara makhluk hidup yang lain yang dikaruniai wiweka, dapat berpikir dan dapat membedakan yang benar dan yang salah. Manusia dapat menentukan dirinya sendiri apa dan bagaima dalam hidup dan kehidupannya.

Dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian tanggal 5 Maret 2011 yang lalu diharapkan umat Hindu dapat instropeksi diri apa dan bagaimana dalam hidup dan kehidupanditahun lalu, yaitu dalam tahun Saka 1932. Kalau di tahun Saka 1932 yang lalu telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan dharma di tahun 1933 Saka ini kita perbaiki diri kita dengan bekerja di jalan dharma, dengan lebih meningkatkan sradha dan bhakti kita.

Dengan dharma, manusia dapat mencapai kebahagiaan sejati, sebab dharma adalah penuntun umat manusia, dharma adalah penyangga alam ini , dan dengan dharma akan dapat melebur dosa dan nestapa. Manfaatkan kesempatan menjadi manusia dengan berjalan diatas dharma, dan jangan disia-siakan kesempatan lahir menjadi manusia ini sebab ini sangat sulit dicapai, laksana meniti tangga menuju sorga, hidup ini hanya sebentar, tidak berbeda dengan kilatnya petir. Gunakan hidup melakukan dharma sadhana, memusnahkan penderitaan , sorga pahalanya, demikian sloka yang tertulis dalam kitab Sarasamuscaya.

Pelaksanaan Catur Brata Penyepian tersebut tujuan utamanya adalah untuk menyepikan keinginan yang sifatnya material, dan berupaya untuk meningkatkan spiritual dengan jalan bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Catur Brata Penyepian tersebut dengan berupaya untuk meningkatkan kesadaran diri bahwa, sang diri yang terdiri dari badan jasmani dan Atma.

Karena ada sebagian kecil Percikan Tuhan dalam diri ini, maka hendaknya manusia senantiasa tetap menjaga kesucian dalam hidup. Atman yang ada didalam diri manusia yang individual dapat diibaratkan sebagai penumpang kereta, kereta dimaksud adalah badan jasmani, dan kecerdasan adalah kusirnya, pikiran adalah alat (tali kemudi) untuk mengemudikan, indra-indra adalah kuda. Seperti itulah Sang Roh menikmati atau menderita berhubungan dengan pikiran dan indera-indera. Atma/Roh yang digelapkan oleh maya dengan sifat-sifat alamnya yang disebut Triguna, yaitu satwam, rajas dan tamas.

Triguna terdapat pada setiap diri manusia hanya saja dalam intensitas yang berbeda. Dalam kitab Tattwajanan sloka 7, 8, dan 9 dikatakan, bila satwam yang dominan dalam diri manusia, maka sifat kedewataan yang ada, ia akan menjadi orang yang bijaksana, tahu akan apa yang disebut patut dan apa yang disebut tidak patut. Seperti, tahu caranya bertingkah laku, meskipun ia bertenaga, tiadalah ia kasar, tidak berkata asal berkata, bersikap hormat, kelihatan lurus hati. Ia menaruh kasih sayang kepada yang menderita, menghibur orang yang hina dina, jarang bersedih hati, setia dan bhakti, lembut kata-katanya, luhur budinya, tidak serakah, manis wajahnya, dengan penuh kasih sayang pada sesama, menghindari permusuhan dan hal-hal yang baik yang melingkupi hidupnya.

Dan bila sifat rajas yang dominan, maka hidupnya cenderung mengikuti keinginan yang sifatnya negatif. Suka memfitnah, suka iri pada orang lain pikirannya bergerak cepat, goncang, tergesa-gesa, panas hati, congkak, cepat tersinggung. Bersifat keras, usil, cepat timbul kekerasannya, kurang menaruh kasih sayang, sering mengagungkan diri pandai, angkuh amat pemarah, egois, loba, tamak, suka membuat jengkel hati orang lain dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Sedangkan bila dalam diri manusia sifat tamas yang dominan, maka manusia tersebut pemalas, bodoh dan acuh takacuh terhadap lingkungan sekitar. Tak puas-puasnya makan, bersifat dingin, mengantuk, kuat tidur, amat iri hati, berkeinginan keras dan masih banyak yang tidak terpuji yang suka dilakukannya.

Dan dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian kita berusaha untuk menyemayamkan sifat satwam dalam diri kita, agar pikiran senantiasa mengarah ke-kedewataan, senantiasa bhakti terhadap Sang Hyang Widhi Wasa. Akan tetapi karena manusia telah ditutupi oleh maya yang menyebabkan ia selalu berpikir dalam prinsip ”aku” dan ”milikku” (keakuan), maka manusia selalu mengalami penderitaan, kesedihan bila dalam hidupnya menemui hal-hal yang tidak disenangi. Namun sebaliknya kalau menemui hal yang menyenangkan maka dia akan merasa bahagia. Hal ini terjadi silih berganti.

Selanjutnya......

Dharmashanti Nyepi di Kota Palu Umat Hindu Dukung Palu sebagai City for All

Laporan Ni Wayan Pariatni

Umat Hindu Kota Palu nampak berbahagia dan berbondong – bondong menuju Gedung Milana Graha Sabha, Pura Agung Wanakertha Jagadnatha Sulawesi Tengah di puncak Jabal Nur Kota Palu tempat di mana terselenggaranya Dharmashanti Nyepi tahun Baru Saka 1933 yang bertepatan dengan malam Minggu 26 Maret 2011. Tidak kurang dari seribu umat Hindu Kota Palu menghadiri acara tersebut. Selain itu dihadiri pula oleh para undangan tokoh agama- agama sahabat, FKUB, Walikota Palu, Kapolda Sulawesi Tengah, Kapolres Donggala dan kota Palu, Lurah Talise, Kementrian Agama Kota Palu dan masih banyak lagi undangan lainnya.

Acara diawali dengan persembahyangan bersama dengan manggala upacara, Pinandita Drs. Ida Bagus Wijakusuma. Pembacaan Sloka suci Weda dan tarian penyambutan Puspanjali persembahan dari Sanggar Seni Puspa Nusantara di bawah asuhan Tjokorda Agung Djaya Semara, SE. adalah acara berikutnya.

Ketua Panitia pelaksana, dr. Putu Melaya, M. Ph melaporkan, beberapa kegiatan pendukung yang telah terlaksana di awali dengan jalan santai yang dilepas langsung oleh Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen. Pol. Drs.Dewa Made Parsana. Juga pertandingan olahraga kategori anak-anak, pemuda dan dewasa umum. Demikian juga lomba busana sembahyang tingkat anak-anak dan aksi sosial berupa donor darah, sumbangan sembako untuk masyarakat di sekitar lokasi melasti serta kebersihan lingkungan sepanjang jalan menuju pura. Lebih lanjut Putu Melaya mengatakan, suksesnya rangkaian acara Dharmashanti ini tidak terlepas dari dukungan moral umat Hindu Kota Palu serta dukungan materil berupa dana dari para sponsor. Di antaranya dari keluarga Dewa Parsana, Kapolres Donggala, para pengusaha muda dan masih banyak lagi donator yang tidak dapat disebutkan secara keseluruhan. Meskipun dana yang terhimpun oleh Panitia melampaui dari yang dibutuhkan, namun Panitia berkomitmen agar Dharmashanti dilaksanakan dalam nuansa kesederhanaan dengan harapan kelebihan dana yang tersisa dari Dharmashanti ini sepenuhnya akan disumbangkan kepada pengempon pura untuk kelanjutan pembangunan gedung Milana Graha Sabha yang telah lama dirintis oleh pendahulu dan saat kini pembangunannya hampir rampung.

Untuk mendalami hikmah Nyepi, maka acara diisi pencerahan oleh dr. Dewa Nyoman Dony Apriadi, M.Si yang intinya menekankan, bahwa perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1933 merupakan tonggak sejarah lahirnya perdamaian dan kasih sayang yang dilandaskan pada Satya (Kebenaran), Dharma (kebajikan), Shanti (kedamaian), Prema (kasih sayang) dan Ahimsa (Tanpa kekerasan).

Sesuai dengan Tema yang diusung pada kesempatan Dharmashanti kali ini, “Dengan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933/2011 Masehi kita tingkatkan kebersamaan dalam kebhinekaan untuk mewujudkan Kota Palu sebagai City For All,” Ketua PHDI Kota Palu Ir. Nyoman Dwinda dalam sambutannya menegaskan, bahwa Umat Hindu Kota Palu senantiasa terus berupaya menyukseskan visi pemerintah menjadikan kota Palu sebagai City For All atau kota untuk semua dengan menerapkan konsep Trihitakarana dalam kehidupan sehari-hari. Kaitannya dengan itu, salah satu program pemerintah yang saat ini sedang digalakkan adalah mewujudkan Kota Palu yang bersih dan hijau (Palu Green and clean). Di samping itu Dwinda juga mengajak kepada seluruh Umat Kota Palu agar turut menjaga keamanan berkaitan dengan digelarnya pesta demokrasi pemilukada.

Senada dengan itu, Kementrian Agama Kota Palu dalam sambutannya tak henti-hentinya mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan di bawah naungan tatwamasi, sehingga terwujud keharmonisan dalam kerangka Tri Hita Karana. Pemerintah menghimbau, agar para pemuka agama mengarahkan umatnya untuk kembali kepada kitab sucinya, karena apabila semua umat memahami ajaran agamanya dengan baik dan benar maka akan tercipta kedamaian di muka bumi ini.

Pada sesi terakhir, walikota Palu dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Kota, Drs. Arifin H. Lolo, M.Si menyampaikan rasa syukurnya. “Momen mesimakrama ini telah mempertemukan kita sekalian guna lebih mempererat rasa persaudaraan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat kota Palu. Pemerintah berharap tradisi membangun disiplin diri sebagai modal utama membangun Bangsa hendaknya terus menerus diasah dan digelorakan, sehingga mampu menjadi kepribadian yang tangguh dalam mengisi pembangunan didaerah ini,” ujarnya.

Didasarkan atas semangat Tri Hita Karana, nilai-nilai Dharmashanti tetap relevan untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, masa kini dan masa akan datang karena mengandung nilai-nilai universal yang dapat dipedomani dalam upaya meningkatkan wawasan kemanusiaan sebagai bangsa yang majemuk. Sebagaimana pendahulu kita mencanangkan sesanti “Bhineka Tunggal Ika” yang bermakna memahami keberagaman masyarakat sekaligus menyadari kebersamaan dalam satu ikatan kesatuan.

Dharmashanti dimeriahkan oleh aneka hiburan seperti peragaan busana oleh anak-anak PAUD Widyalaya, persembahan tari Pamonte yang dikolaborasi dengan gamelan Bali oleh WHDI Kota Palu dan vocal group dari pemuda pemudi Hindu yang diorganisir oleh seksi kerohanian Hindu SMA Negeri 3 Palu. Panitia juga mengumumkan hasil pemenang lomba dan pertandingan sekaligus penyerahan hadiah bagi para pemenang.
Hingga memasuki tengah malam umat semakin banyak berdatangan untuk menyaksikan pertunjukan bondres yang dilanjutkan pementasan Calon Arang yang secara khusus didatangkan dari Pererenan Munggu- Tolai yang berakhir hingga pukul 03.30 dini hari.

Selanjutnya......