Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 05 April 2011

Gangguan Gaib Saat Ritual

Ritual keagamaan adalah aktifitas dengan nuansa kesucian, paling tidak dengan aktifitas itu manusia berharap merambah ranah-ranah kesucian. Karena itu, secara logika tumbuh anggapan, karena untuk aktifitas suci, maka seyogyanya dalam panggung itu berakumulasi sifat-sifat kebaikan. Tapi, siapa sangka di ajang seperti itu pun unsur kejahatan tetap saja menyusup lewat permainan ilmu hitam. Mengapa?

Saat Arjuna bertapa di Gunung Indrakila untuk memohon senjata-senjata sakti dari para dewa, maka yang datang padanya pertamakali bukanlah dewa yang dipujanya. Bukan Dewa Siwa atau Dewa Indra yang datang menemuinya, melainkan sekumpulan bidadari cantik seksi mengundang selera lelaki, komplit dengan segala bujuk rayu dan kebinalannya. Dengan tampilan merangsang, bidadari itu berusaha membuyarkan hasrat Arjuna untuk memuja dewa pujaannya supaya beralih menikmati “anugerah” lain yang terpapar di hadapannya. Tapi Arjuna teguh hati. Cobaan itu ia lewati. Toh demikian, bukan berarti dengan segala pengorbanan dan disiplin keras dalam tapa, serta merta dewa yang dipuja lantas berbaik hati segera menampakkan diri, tidak! Selanjutmnya justru babi hutan besar dan kuat datang mengamuk hendak menyeruduk Arjuna yang tengah terpekur dalam duduknya.

Ilustrasi Itihasa ini sekadar mengingatkan kita, bahwa tujuan-tujuan baik, entah itu di dunia empiri maupun spiritual tidaklah akan berhasil dengan proses seperti yang kita bayangkan. Mungkin saja sebelum tujuan tercapai akan ada berbagai rintangan yang harus dilewati. Hal ini untuk mengingatkan kembali kepada perhelatan yadnya, baik di masa lampau maupun kini yang sering diganggu oleh “kejahatan.”

Cerita rsi-rsi di zaman dulu yang diganggu oleh para daitya saat melakukan upacara api, seperti yang dialami oleh Rsi Wiswamitra. Ini menyiratkan, bahwa ada pihak-pihak yang “cemburu” bilamana hasrat-hasrat kebaikan, khususnya pemujaan terhadap dewa-dewa dilakukan. Gangguan untuk menggagalkan upacara suci itu dapat berupa daitya, danawa, bidadari cantik, bahkan bisa berwujud manusia biasa. Ingatlah kembali, manakala Rsi Wisrawa saat melakukan pemujaan api di pagi hari, tiba-tiba istrinya, Dewi Kekasi (Sukesi) datang merajuk dan menarik rsi itu untuk menemaninya di ranjang. Rsi Kesrawa gagal mempertahankan sadhana-nya, dan menuruti rengekan sang istri yang muda nan cantik itu. Hasilnya: momentum asmara pagi itulah yang kemudian menjadikan istrinya mengandung dan lahirlah Rahwana, padahal rsi itu tahu persis, kalau pagi hari menjelang matahari terbit merupakan waktu untuk Tuhan, untuk memuja. Ya, tapi itulah, “bidadari” telah menaklukkan imannya.

Dalam narasi-narasi besar susastra Hindu itu, ketika coba kita periksa ke alam faktawi ke tengah-tengah masyarakat Bali (Hindu) sekarang ini, ternyata fenomena gangguan para bhuta-bhuti saat yadnya juga demikian. Paling tidak, ide atau keyakinan, bahwa akan ada ancaman dari kekuatan-kekuatan jahat, entah itu leak, desti, gamang, memedi, kala dan sebagainya, masih bercokol kuat dalam pikiran orang-orang Bali. Kadang-kadang, keyakinan seperti itu tidak berhenti pada suatu mitos, sebab sering terjadi kejadian langka dan aneh, seperti nasi yang ditanak tak kunjung masak atau kebutuhan logistik dirasa selalu tak mencukupi, padahal sudah disediakan dengan ukuran melebihi. Semua fenomena yang menjadikan rasio berhenti mampu menjawab masalah-masalah itu, maka inilah kemudian disebut adanya gangguan dari alam gaib.

Untuk menangkal hal-hal buruk semacam itu, kemudian bagi yang menggelar perhelatan yadnya akan melakukan ritual-ritual khusus untuk mendamaikan bhuta, kala, dengen. Sedangkan untuk gangguan dari manusa sakti (leak), maka solusinya harus dicarikan lawan tanding yang setimpal. Didatangkanlah balian atau mangku untuk ngemit karya. Ada yang menyebut balian ngisi gae dan beberapa istilah tergantung daerahnya.

Jro Mangku I Made Subagia, SH., M.Fil. H., kepada Raditya pada awal Maret 2011 lalu mengatakan, bahwa memang benar fenomena adanya orang-orang usil menggunakan ilmu hitam untuk mengganggu sebuah perhelatan yadnya. Pemangku yang berdomisili di Desa Munggu, Badung ini menyebutkan, dari berbagai kasus yang sering muncul saat yadnya diselenggarakan: nasi tak kunjung matang, daging babi berasan (serupa dengan telur cacing pita, tapi itu bukan telur cacing, melainkan pekerjaan gaib). Ada juga kejadian pada puncak acara, tuan rumah ribut bahkan salah satu anggota kelurganya menangis keras-keras (gelur-gelur). Jika pertandanya demikian, itu artinya butha sungsang sudah beraksi yang kemungkinan kiriman penekun ilmu Ngiwa.

Sebagai praktisi di bidang ilmu gaib, Jro Mangku Subagia menandaskan, bila orang hendak nangun karya, maka mereka pasti meyasa (memusatkan perhatian/fokus) pada acara yang digelarnya sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Nah, demikian juga bagi orang yang berniat jahat, maka jauh-jauh hari sebelum upacara itu mereka sudah menyiapkan diri untuk melakukan “teror” gaib. Misalnya, salah satu modus yang dipakai orang usil itu adalah pada tujuh hari sebelum puncak acara, mereka sudah beraksi dengan menebarkan tanah kuburan (setra) di depan rumah orang yang hendak melakukan yadnya. Atau bagi sebagian orang akan datang menemui balian ngiwa untuk minta sesuatu yang bisa dijadikan sarana membencanai orang yang dituju.

Yang menarik adalah, mengapa orang justru suka melampiaskan niat jahatnya pada ajang keagamaan yang bernilai kesucian. Menurut Mangku Subagia yang kini kuliah S3 di IHDN Denpasar ini, bahwa motif orang-orang usil itu adalah pelampiasan dendam, iri hati, dan iseng. Mantan atlet angkat berat ini menguraikan lebih lanjut, kalau ada orang yang memiliki riwayat dendam kepada orang yang memiliki yadnya (meduwe karya), maka pagelaran yadnya itulah yang dijadikan panggung balas dendam baginya. Tujuannya adalah untuk membuat rasa malu yang besar bagi orang yang dibencinya, bilamana aksi jahatnya sukses. Saat yadnya adalah waktu berkumpulnya banyak orang, di mana banyak undangan hadir. Bayangkan rasa malu yang ditimbulkan bila teror gaib itu berhasil menggagalkan yadnya itu. Itulah mengapa justru yadnya yang diganggu, karena memang bertujuan mempermalukan si penggelar yadnya di depan publik.

Selanjutnya atas nama motif iri hati, bahwa ada kalangan yang iri akan kesuksesan seseorang yang kemudian melampiaskan rasa irinya saat orang yang dibencinya menggelar upacara agama. Tujuannya pun sama, agar orang yng “dicemburuinya” itu jatuh reputasinya.

Terakhir yang melakukan permainan ilmu hitam saat perhelatan yadnya adalah orang yang iseng ingin mencoba ilmu gaibya. “Kalau orang belajar ngeleak pemoroan atau ngiwa, maka nginnya mencoba ilmu terus, ibarat orang baru belajar silat yang tangannya gatal terus ingin berkelahi,” ujar Mangku Subagia beranalogi. Mangku lantas mencontohkan, misalnya ada pemangku atau sulinggih muput karya di suatu tempat di luar desanya atau jauh dari tempat tinggalnya. Nah, sering dalam kasus seperti itu, ada oknum-oknum penganut ilmu hitam yang mencoba sang sulinggih, apakah ilmu gaibnya sudah tinggi hingga berani-berani muput di tempat wilayah lain.

Meskipun praktik ilmu gaib hitam masih ditemui di kalangan masyarakat Bali, terutama saat perhelatan yadnya, namun Mangku Subagia memberi tips, bahwa betapa pun tingginya ilmu leak pemoroan itu yang berhasrat untuk mengganggu yadnya, maka tidak akan mempan sepanjang yang punya gawe bhakti kepada Bhatara Hyang Guru-nya. Untuk itulah Jro Mangku wanti-wanti supaya umat Hindu senantiasa astiti bhakti kepada Hyang Widhi, lebih-lebih menjelang perhelatan yadnya. Hal ini sudah biasa dilakukan oleh umat Hindu Bali, di mana sebelum yadnya digelar akan mapekeling ke berbagai tempat dan munggahang pejati di sanggah Kamulan untuk nunas ica, supaya yadnya yang digelar labda karya. Hal tersebut merupakan hal utama yang harus dilakukan oleh yang menggelar yadnya, sementara kalau nunas ke sulinggih atau ke balian untuk ikut menjaga karya merupakan pendamping saja, tetapi yang utama adalah keyakinan, ketulusan dan keikhlasan dalam beryadnya.

Putrawan

Selanjutnya......

Tukang Terang, Tukang Tenang, Tukang Perang dan Seterusnya

Ida Ayu Tary Puspa

Yadnya adalah yang kita lakukan untuk ucapan terima kasih kepada Beliau karena telah terciptakan ke dunia ini. Kita diciptakan oleh Prajapati dengan yadnya dan bersabda dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu. Demikian Bhagawadgita III.10 menyuratkan. Dalam melaksanakan yadnya yang diwujudkan ke dalam Panca Yadnya dalam sebuah ritual, maka ketahuilah (Atharwa Veda. XII.1.1) bahwa “kebenaran (satya) hukum yang agung, yang kokoh dan (rta), tapa brata, doa dan yadnya, inilah yang menegakkan bumi. Semoga bumi ini, ibu kami sepanjang masa, memberikan tempat yang lega bagi kami.

Melaksanakan yadnya dalam sebuah ritual, maka akan ada pilar-pilar pokoknya, baik itu sang pemilik yadnya, sang pemuput yadnya, dan sang pembuat sarana yadnya. Ketiga komponen itu berperan untuk menyukseskan ritual tersebut. Menyitir sloka Atharwa Veda di atas, maka yang memiliki yadnya tidak dapat hanya menyerahkan yadnya itu sukses pada sang pemuput upacara saja atau kepada tukang banten saja karena banyak hal yang mesti dilakukan oleh sang punya yadnya. Baik itu doa, maupun melakukan tapa brata dilandasi ketulusikhlasan, bahwa yadnya yang dilaksanakan adalah yadnya yang satwika dengan berpegang pada, bahwa yadnya itu dihaturkan sesuai dengan sastranya, oleh mereka yang tidak mengharapkan buahnya dan teguh kepercayaannya, bahwa memang sudah kewajibannya untuk beryadnya, adalah satwika, baik.

Beragama dengan pengamalan ajaran sesuai kitab suci adalah yang patut karena sang punya yadnya percaya dan yakin bahwa ritual yang dilaksanakan sudah dirancang secara matang, mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan dengan melibatkan ketiga pilar tersebut. Akan tetapi ada orang tertentu yang ternyata tidak melaksanakan sebuah ritual dengan mengabaikan kemampuan diri dan keluarga dalam beryadnya, yaitu dengan mengandalkan orang-orang tertentu dengan profesi tertentu untuk terlibat dalam yadnya yang akan digelar. Mencari tukang selamat dari keberhasilan memasak di dapur, agar nasinya dan masakan menjadi matang. Mencari tukang terang, agar tidak terjatuh hujan pada saat ritual digelar, juga mencari tukang tenang yang mampu membuat ritual berjalan hening.

Kalau demikian, ternyata sang pemilik yadnya sudah berkolusi dengan mereka untuk menyelamatkan yadnya yang digelar. Andai saja kita sebagai umat Hindu percaya bahwa yadnya yang digelar akan berhasil dengan dilandasi oleh pelaksanaan yang santun dalam melaksanakannya sebagaimana yang dimuat dalam Rg Veda I.10.2
Yat sanoh sanum aruhad bhury aspata kartvam, tad indro artham cetati yuthena vrsnir ejati

Terjemahannya:
Tuhan yang Maha Esa melindungi mereka yang bhakti, yang meningkatkan diri secara bertahap dengan berbagai aktivitas. Tuhan yang Maha Esa akan hadir dengan berbagai kemahakuasaan-Nya untuk menganugerahkan keberuntungan.

Sloka di atas merupakan hal yang harus dijalankan umat dengan Bhakti Marga sebagai perwujudan cinta kasih yang murni dan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bhakti dengan tingkatan aparabhakti dapat dilakukan dengan pemujaan atau persembahan dan kebhaktian dengan berbagai permohonan itu sangatlah wajar, karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki umat Hindu, tetapi tentu permohonan itu pun adalah permohonan yang wajar. Misalnya, “sarvaprani hitangkara” atau “sukhino bhavantu”.

Kalau ternyata para tukang di sekitar upacara itu mohon sesuatu yang tidak wajar berarti mereka mengingkari akan kebesaran Tuhan dan bersifat mistis. Misalnya musim sedang hujan, tetapi memohon agar tidak turun hujan, maka ini berarti akan menghalangi Dewa Indra untuk memberikan kehidupan, kesuburan, dan kesejukan kepada bumi dengan segala isinya. Kalau ternyata dalam menjalankan tugas untuk memohon agar tidak turun hujan atau memindahkan hujan ke tempat lain, yaitu dengan menyalakan dupa panjang yang tidak boleh padam, maka pawang hujan akan melaksanakan kegiatannya itu dengan ritual. Akan tetapi ternyata taruhannya untuk melaksanakan tugas itu cukup beresiko karena ternyata ada yang pernah mengalami justru kematian yang dihadapi yang kata orang-orang bahwa pawang hujan tersebut kalah mesiat di dunia yang kita tidak ketahui.

Atau ternyata ada pula persahabatan yang aneh dengan makhluk halus (gamang) di mana untuk menyelamatkan yadnya yang digelar bantuan yang diminta untuk menenangkan sebuah upacara adalah bantuan dari makhluk halus tersebut. Hal ini kalau dilakukan berarti kita tidak mempercayai bahwa Tuhan mampu memberikan kita keselamatan, asalkan kita menjalankan upacara itu dengan ketulusikhlasan sebagaimana yang termuat dalam Bhagavad gita XVIII. 16 sebagai berikut.
Man mana bhava mad-bhakto mad-yaji mam namaskuru
Mam evaisyasi satyam te pratijanepriyo si me

Terjemahannya
Pusatkanlah pikiranmu kepada-Ku, berbhaktilah kepada-Ku, bersujudlah kepada Aku, engkau akan tiba pada-Ku, Aku berjanji setulusnya padamu, sebab engkau sangat Kukasihi.

Bagi yang tingkat bhaktinya sudah lebih tinggi dalam berbhakti kepada Tuhan, mereka tidak akan meminta dan meminta melainkan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Penyerahan diri itu bukanlah suatu hal yang pasif yang tanpa aktivitas melainkan bahwa dengan bekerja yang tulus akan mendapatkan pahala yang baik pula. Bhakti dengan penyerahan diri yang tulus disebut dengan parabhakti atau bhakti yang luhur.

Selanjutnya......

Beragama Secara Rasionalitas

I Nyoman Tika

Ketika manusia beragama masih didominasi oleh dimensi misteri, warna alam gaib dan mistik, maka agama masih berdiri sebagai sebuah tindakan irasional semata. Fase seperti ini menurut Sigmud Freud manusia masih menganut doktrin agama sebagai delusi, sehingga dalam kaca matanya perlu dibenahi. Freud berharap sangat, bahwa akal harus menjadi diktator dalam kehidupan manusia. Ini adalah sebuah kritik radikal terhadap manusia yang masih menganut pemahaman agama secara irasional. Tesa ini harus dicermati ketika kita hendak membangun budaya beragama ke depan bagi umat Hindu Indonesia. Kenapa demikian?
Jawabannya adalah masih banyak muncul dalam ranah pikiran orang Hindu di Bali, seperti masih meributkan tentang cetik. Cetik bisa dikirim jarak jauh untuk mengacaukan suasana kepada mereka yang memiliki upacara (yadnya). Seseorang sering diduga mengirimkan hujan atau membuat hujan buatan untuk mempersulit, saat upacara besar. Anggapan kebanyakan orang masih diliputi, bahwa ada orang lain yang iri terhadap upacara yang mereka lakukan. Kalau terjadi seperti ini, maka sebelum upacara berlangsung akan ada prosesi yang melibatkan berbagai jenis pawang. Selain itu perlu mempersiapkan secara materi, upacara menjadi bertambah beban, bukan hanya untuk material upakara, tetapi tambahan untuk membawa pawang atau balian gae, yang sering hadir dengan tingkah tidak rasional/ tidak normal, memang benar sebutannya “para normal” mereka yang di luar normal.

Masalahnya adalah kita telah masuk ke dalam dimensi berpikir negatif, rasa percaya pada kebesaran Tuhan yang bisa hadir dalam bentuk hujan, cobaan untuk pengendalian diri menjadi kabur. Lalu cara beragama inikah yang kita akan teruskan? Lalu apa yang harus kita bangun tentang beragama Hindu ke depan.

Tak lain ada beberapa formulasi yang bisa dibangun ketika kita hendak secara sadar mengakui bahwa kompleks kesadaran kolektif umat Hindu harus dibangun secara rasional dan nalar secara berhimbang. Menurut William James (1958) agama sebagai jalan menuju keunggulan manusia. Agama mempunyai peranan sentral dalam menentukan perilaku manusia. Dorongan beragama pada manusia sama menariknya dengan dorongan-dorongan yang lain pada diri manusia. Dalam konsep inilah, bahwa agama harus dibangun dengan tunjangan nalar dengan porsi yang lebih besar. Artinya hidup beragama harus memberikan ruang dimensi nalar berkembang dengan leluasa di batas-batas tertentu. Walaupun demikian dalam mengembangkan nalar manusia dalam lingkup agama dapat disinergikan dengan irasional yang memotivasi dalam mengkontruksi beragama Hindu yang lebih modern.

Ada dua metode untuk melakukan pembedahan ini: pertama, metode dekonstruksi. Dan kedua, eksplorasi arkeologis. Bagi umat Hindu dekonstruksi maupun ekplorasi arkeologis saling berkaitan satu sama lainnya. Kata "dekonstruksi" yang diperkenalkan filsuf post-modernis, Jaques Derrida, kerap disalahartikan. Dekonstruksi tak selalu berkonotasi negatif, seperti destruksi atau penghancuran. Dalam tradisi strukturalisme, pengertian dekonstruksi mengacu pada suatu proses "pemeretelan" sebuah instrumen atau struktur menjadi unit-unit dasar. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana konstruksinya pertama kali. "Operasi" ini pada gilirannya bermaksud membebaskan proses tadi dari suatu "muatan" tertentu. Juga, menghapus kesan aksiomatik yang sengaja diciptakan struktur itu buat dirinya; seakan-akan ia tak pernah terkonstruksi. Ini berlaku pada semua hal, termasuk konsep-konsep masa lalu atau narasi-narasi besar yang telah menghantui kita lewat tradisi. Kita dibuat yakin, bahwa semua itu akan tetap "begini" sepanjang waktu, seakan tak kenal perubahan.

Konsep-konsep seperti sradha dan bhakti, akal, Tuhan, manusia dan susatra Weda harus diterima apa adanya. Padahal, konsep bhakti dan sradha dewasa ini berbeda sama sekali pelaksanaannya dengan yang pernah berlaku pada jaman Mahabarata maupun Ramayana. Kita akan menyibak historisitasnya, konstruksi awalnya, serta persentuhannya dengan realitas. Dan, pada puncaknya, kita akan menjalin relasi baru serta bebas dengan tradisi.

Sementara eksplorasi arkeologis dapat ditelusuri jejaknya dalam pemikiran Michel Foucault, teoritisi andal asal Perancis. Melalui eksplorasi ini, kita akan sampai pada saat-saat dekonstruksi terjadi. Tanpa pelacakan arche-arche awal, sulit rasanya pembongkaran itu berlangsung. Fungsi utama metode ini adalah membantu kita untuk mengungkap momen-momen awal terbentuknya diskursus-diskursus dalam membentuk Budaya Hindu Indonesia dan khususnya di Bali.

Sejatinya, pelacakan arkeologis mirip dengan psikoanalisanya Sigmund Freud. Psikoanalisa berusaha melacak trauma-trauma masa kecil seorang pasien untuk membebaskannya (katarsis) dari gangguan-gangguan psikologis masa kini.

Demikian juga dengan eksplorasi arkeologis. Ia melacak relung-relung terdalam tradisi untuk menguak dan menyoroti proses awal konstruksinya. Tujuannya, agar membebaskan kita dari gambaran mitologis dan ketuhanan tentang tradisi itu. Serta, membekali kita dengan perspektif historis yang nyata.

Apa yang saya paparkan bermuara dari sebuah pertanyaan sederhana: Hindu yang bagaimana yang kita idamkan? Pertanyaan itu sendiri muncul akibat beragamnya visi dan corak pemahaman tentang Hindu yang lagi marak saat ini karena mudahnya mendapatkan informasi. Keragaman ini dipicu oleh fakta, bahwa kebenaran bukan milik satu pihak tertentu. Kebenaran itu bersatu di antara kita. Kebenaran lahir dari rahim ide-ide yang saling bertarung, dan gagasan-gagasan yang saling berbenturan. Dan, hanya nalar komunikatif dialogislah yang menjamin terwujudnya itu semua.

Ketika kita menatap kembali utuk menuju rasionalitas, maka satu pernyataan bahwa mengubah segera pikiran yang buruk menjadi pikiran yang baik. Dan, menggunakan setiap kesempatan untuk mengubah perbuatan yang baik menjadi suatu kebhaktian dengan mengabdikannya kepada Tuhan. Dengan mengubah segala pikiran menjadi pikiran yang mulia dan seluruh pekerjaan menjadi pemujaan kepada Tuhan, kita akan maju dengan sendirinya pada jalan yang suci. Om Nama Siwaya.

Selanjutnya......

Membentengi Yadnya dengan Mantram Gayatri

I Made Titib

Tvam eva mata ca pita tvam eva
Tvam eva bandhus ca sakha tvam eva
Tvam eva vidya dravina tvam eva
Tvam eva mama sarva deva-deva
Guru Stotra 14


Tuhan Engkau adalah Ibu dan Bapak saya,
Tuhan Engkau adalah keluarga dan sahabat kami,
Tuhan Engkaulah yang menganugrahkan pengetahuan dan kekayaan,
Tuhan Engkau adalah dewa dari semua dewa.


Dalam mantram Guru Stotra di atas, Tuhan Yang Maha Esa disebut sebagai Ibu, Bapak, Keluarga, Sahabat, Penganugrah pengetahuan dan kekayaan dan Dewa dari semua dewa, menunjukkan bahwa Yang Maha Esa adalah yang Ultimate, Supreme dan yang absolut yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia. Acintya tan kagrahita dening manah mwang indriya. Penggambaran Tuhan Yang Maha Esa sebagai ibu jagat raya dan segala isinya juga kita temukan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu. Beliau disebut Jagatdatri, dan bahkan yang memberikan makanan kepada semua makhluk hidup, disebut Annapurna.
Salah satu abhiseka Tuhan Yang Maha Esa adalah sebagai Ibu Gayatri. Mengapa disebut sebagai Ibu? Konon karena Ia merupakan Ibu dari semua mantram Veda (The Mother of all Vedic Verses) dan perpaduan dari tiga Dewi Utama dalam agama Hindu, yakni Durga, Laksmi dan Sarasvati. Kata Durga artinya yang sulit di atasi, sulit dibendung dan tidak seorang pun yang mengalahkannya. Kata Laksmi artinya yang menurunkan kesejahteraan, dan kata Sarasvati, merupakan pengetahuan yang mengalir terus menerus. Perpaduan ketiga dewi di atas sungguh sangat luar biasa, oleh karena itu dalam berbagai masalah kehidupan, artinya bila kita menghadapi berbagai masalah, maka sangat tepatlah kita memohon kepada Ibu Gayatri, termasuk dalam berbagai pelaksanaan Yajna atau upacara keagamaan dan kegiatan apa pun lainnya.

Dalam Citradevata, penggambaran dalam seni lukis, Ibu Gayatri dilukiskan sebagai seorang dewi yang memiliki tiga kepala di atas satu badan. Tiga kepala tersebut adalah kepala Dewi Durga, Laksmi dan Sarasvati. Di Bali dalam berbagai mantram Stuti, Stava dan Stotra yang dihimpun oleh C. Hooykaas (1970) ditemukan fungsi mantram sebagai Kavaca dan Pañjara, yakni Ramakavaca dan Rama Pañjara. Maka sejalan dengan mantram Kavaca dan Pañjara tersebut, tidak salah pula bila Gayatri mantram juga berfungsi sebagai Kavaca dan Panjara tersebut, di samping tentu banyak fungsi-fungsi mantram lainnya.

Kavaca berarti baju atau baju zirah yakni kain penutup tubuh untuk keselamatan dalam peperangan atau menghadapi berbagai tantangan hidup, sedang Panjara artinya benteng, yakni benteng yang melindungi diri, keluarga dan rumah kita. Berdoa dan memohon dengan menjadikan Gayatri Mantram sebagai sarana utama, maka doa permohonan tersebut umumnya selalu berhasil, misalnya dalam berbagai pengalaman ketika penulis memberi Dharma Wacana di berbagai tempat, sesaat sebelum Dharma Wacana hujan dan kadang-kadang sangat lebat, tetapi dengan memohon melalui mantram Gayatri, sering hujan tersebut pergi disapu angin yang cukup keras, sehingga langit menjadi terang dan bila malam tampak rembulan tersenyum di atas bangunan suci merestui acara Dharma Wacana di sebuah pura.

Memohon kesemalatan terhadap bayi yang baru lahir, juga dapat dilakukan dengan membisikkan mantram Gayatri pada masing-masing lubang telinga bayi tiga kali berturut-turut, maka bayi-bayi yang mendengarkan mantram Gayatri tersebut umumnya jarang sakit dan tidak rewel bahkan selalu tersenyum ceria. Demikian pula memohon kelahiran anak baik anak laki-laki atau anak perempuan dapat dilaksanakan dengan Gayatri Sadhana.

Dari pengalaman penulis dan juga pengalaman teman-teman guru agama Hindu, pengurus Parisada dan lain-lain ternyata ketika kita menghadapi apa saja, dengan meyakini keagungan-Nya dengan sarana mantram Gayatri sering doa dan permohonan kita dapat terpenuhi seperti diamanatkan dalam Bhagavagita IX.22: “Siapa saja yang senantiasa berbakti kepada Aku, dengan sepenuh hati. Akan Aku berikan apa yang dibutuhkan dan akan Aku lindungi apa yang dimiliki. Demikian dalam melaksanakan berbagai Yajna atau upacara keagamaan jangan lupa memohon dengan sarana mengucapkan mantram Gayatri, maka segala halangan, gangguan dan rintangan akan segera dapat di atasi, dan bila dilakukan sungguh-sungguh sebelum acara dilakukan, maka halangan, rintangan dan gangguan tersebut tidak akan muncul dalam aktivitas ritual tersebut.

Demikian pula sekiranya upacara yadnya itu berhasil maka tidak ada gangguan apa pun yang memasuki arel peyadnyan. Persediaan makanan untuk tamu masih berlimpah ruah, bahkan daging atau sesajen caru tidak diganggu oleh anjing yang masuk ke areal upacara tersebut. Para tamu dan sang yajamana bersama keluarga merasakan kepuasan lahir dan batin serta ketika upacara yadnya selesai dilaksanakan, kehidupan keluarga semakin rukun dan memmperoleh rejeki yang berlimpah serta kedamaian.

Selanjutnya......

Sidhimantra versus Aji Ugig

I Wayan Miasa


Berbicara mengenai kehidupan beragama, ada banyak hal saling bertentangan dalam kehidupan spiritual tersebut. Pertentangan ini atau perbedaan ini sering disebut dengan rwa bhineda. Namun rwa bhineda bukan sekadar dua hal yang berbeda, tetapi lebih dari itu. Kalau perbedaan itu sifatnya saling melengkapi dan bisa berjalan harmonis bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Namun dalam kehidupan beragama itu sering terjadi persaingan untuk menunjukkan kelebihan, kehebatan, ketenaran kedudukan dan lain sebagainya.
Pertentangan yang saling bertolak belakang ini sering menimbulkan hal yang sangat kontradiktif dengan ajaran agama itu sendiri. Hal ini mulai terjadi di zaman Dwapara Yuga atau seperti diceritakan dalam Ramayana, di mana pada saat itu rsi, yogi, pertapa sering diganggu oleh para raksasa saat mereka melakukan tugasnya, agni hotra atau aktivitas religius lainnya. Para raksasa saat itu ingin menggagalkan usaha pemujaan kaum rsi, yogi, pertapa dan yang lainnya karena para raksasa takut akan karunia yang didapat oleh para rsi, yogi tersebut.

Begitu juga di zaman sekarang ini hal semacam itu masih terjadi, namun jenisnya berbeda. Zaman dahulu hal itu terjadi berdasarkan hukum rimba, yang kuat yang menang atau berkuasa. Tetapi hal itu tak berlaku lagi di zaman ini karena adanya hukum yang berlaku. Kalau zaman dulu para raksasa bisa mengobok-obok kunda (tempat agni hotra) dengan mudah tetapi di zaman sekarang bila hal tersebut dilakukan jelas sang pelaku akan berurusan dengan hukum.

Persaingan untuk mendapatkan atau memperoleh keuntungan, penghormatan, kedudukan religius di zaman ini dilakukan dengan cara mistis atau magis, di mana kegiatan tersebut dilakukan dengan cara tak kelihatan atau niskala. Para praktisi atau penekun ilmu atau ajian ini pada awalnya ingin memperoleh ajaran atau ilmu untuk kebaikan. Namun hal itu akan berubah bila dia atau mereka sudah mendapat sidhi (kekuatan niskala untuk melakukan sesuatu) dari proses belajar ilmu tersebut. Zaman dulu para praktisi tersebut ingin menguasai ilmu atau ajian-ajian tertentu guna mempertahankan diri, menolong orang lain dan lain sebagainya. Ada ajian memohon hujan, ajian sesirep, membuat racun (cetik) dan lain sebagainya. Hal ini bisa disaksikan di berbagai daerah menurut keadaan wilayah tersebut. Di daerah tandus, orang akan tertarik mempelajari ajian memohon hujan, di daerah yang curah hujannya tinggi orang akan tertarik menguasai ajian menolak hujan atau nerang, dan lain-lainnya. Motif dari penguasaan ilmu itu di zaman dulu ada demi kebaikan.

Seiring perkembangan zaman di mana persaingan hidup semakin ketat, maka ada beberapa praktisi tersebut menyalahgunakan ajian tersebut untuk hal-hal yang kurang baik atau negative. Misalnya untuk mengganggu upacara, menyakiti orang dan lain sebagainya. Oleh karena penyalahgunaan kemampuan ini, orang tua kita zaman dahulu menabukan kita mempelajari ilmu tersebut dengan istilah ajawera. Namun sayangnya, istilah itu juga berimbas pada kekhawatiran orang untuk mempelajari buku-buku suci mereka, dan hal itu masih terjadi saat ini. Penyalahgunaan ilmu atau ajian dari yang baik (sidhimantra) menjadi aji ugig atau wegig diakibatkan oleh tingkat kesadaran spiritual yang mengajarkan laba, puja dan pratista ditambah lagi dengan sempitnya pemahaman pengertian tentang bhakti.

Para praktisi aji ugig ini akan merasa bangga sekali bila mereka bisa mengganggu atau menggagalkan suatu perhelatan yadnya, baik Manusa Yadnya, odalan atau lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya pandangan yang keliru tentang bhakti. Para penekun aji ugig ini beranggapan, bahwa dengan melakukan hal-hal yang bersifat negative (ngiwa) juga merupakan “bhakti”. Padahal sesungguhnya mereka-mereka tersebut berada dalam kekeliruan. Mereka atau orang seperti itu sebenarnya adalah orang yang ingin mendapatkan sanjungan atau pujian (puja), prasista (kedudukan) sehingga warga kebanyakan akan takut kepada mereka oleh karena kemampuam aji ugig-nya. Bahkan dulu terjadi praktisi-praktisi aji ugig yang merasa seperti “dewa” seperti Kamsa, Harinyakasipu dan yang lainnya.

Mungkin di zaman sekarang orang mencari atau ingin mendapatkan sidhi lebih didasari atas kepentingan pribadi, ekonomi atau atas dasar balas dendam. Seperti disebutkan di atas, di zaman ini orang tak bisa lagi menerapkan hukum rimba. Sehingga jalan yang ditempuh melalui jalan ngiwa atau niskala. Dan kesempatan untuk melakukan tersebut biasanya ada pada acara-acara seremonial seperti pernikahan, odalan. Hal ini terjadi karena kesempatan yang ada lebih terbuka pada saat-saat seperti itu. Apalagi yang berurusan dengan makanan orang yang berniat jahat punya kesempatan besar untuk menebar racun atau cetik di saat seperti itu.

Di Bali orang mengenal banyak gangguan saat mereka mengadakan perhelatan upacara, seperti adanya hujan buatan, gangguan para dedemit yang membuat pemilik upacara koos atau boros, sering terjadi pertengkaran karena saat melakukan upacara, ada juga pasangan mempelai yang tiba-tiba sakit bahkan sampai ada yang meninggal. Kejang-kejang atau membuat hal seperti itu merupakan sidhi yang didapat dari pemujaan-pemujaan kekuatan tertentu. Pemujaan-pemujaan yang ditujukan untuk memperoleh suatu kekuatan sebenarnya akan mengantarkan pelakunya menjauhi kepribadian Tuhan. Kegiatan-kegiatan seperti tersebut di atas sering dilakukan oleh kebanyakan dari kita karena kurang mengerti perbedaan mencari sidhi dengan kegiatan bhakti.

Bagi sebagian orang, pengertian bhakti baru sebatas mencakupkan tangan saat ada odalan atau upacara. Oleh karena itu bukan hal yang aneh bila terjadi penyimpangan dalam kegiatan keagamaan kita. Kegiatan pamer sidhi atau kekuatan magis yang ditujukan untuk mengganggu, mengusik orang, perhelatan keagamaan, merupakan kegiatan asurik. Jadi bisa dikatakan setiap usaha atau kegiatan yang dimaksud untuk kegiatan ini mendapatkan pujian (puja), laba (keuntungan), kedudukan (pratista) namun jalan tersebut tidak berada dalam jalur bhakti, karena sidhi yang mereka kuasai lebih ditujukan kepada kepuasan diri mereka sendiri dan bukan untuk kesejahteraan semua makhluk hidup atau sarwa prani.


Penguasa atau orang yang mendapatkan sidhi lewat jalur asurik akan cenderung mengumbar Sadripu, Saptatimira untuk mendapatkan kesenangan dirinya. Mereka terus mengharapkan penghormatan dari masyarakat. Bila mereka tidak mendapatkan pujian, kedudukan, keuntungan di masyarakat mereka akan cendrung memanfaatkan sidhi-nya untuk mengganggu, mengusik orang. Para pemilik sidhi juga akan mudah dimanfatkan oleh orang-orang yang memiliki permasalahan dengan warga lainnya. Apalagi bila orang yang menguasai sidhi tersebut emosinya tak terkendali. Di pihak lain ada juga penguasa sidhi (Sidhimantra) yang rendah hati, dan mereka ini bersifat penolong atau pelindung. Oleh karena pertentangan atau persaingan inilah terus terjadi perlombaan atau usaha meningkatkan ajian antara penguasa sidhimantra dengan penguasa aji ugig. Para penguasa aji ugig akan terus berusaha mencari celah untuk mengganggu, menyakiti orang lain. Karena ajian ini tidak mengajarkan orang tentang rasa rendah hati, prema, serta kebaikan-kebaikan lainnya. Mereka hanya berpacu meningkatkan kekuatan asura di dalam dirinya.

Bukan hal yang aneh lagi bila terjadi suatu ketimpangan dalam kehidupan sosial masyarakat dimana perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin. Begitu mencolok, maka di sana akan berkembang perilaku-perilaku asura. Masyarakat di mana para warganya banyak menguasai sidhi akan cenderung tidak tertarik dengan kegiatan bhakti, rasa rendah hatinya kurang, senang mencari kesalahan orang lain atau singkat kata, mereka itu senang mencari-cari kesalahan orang. Seperti raksasa, mereka selalu ingin mengganggu kegiatan ritual, upacara pernikahan serta kejahatan-kejahatan lainnya. Karena keberhasilan mereka untuk mengganggu merupakan kepuasan pribadi mereka. Begitu hal itu terjadi, orang-orang akan dibuat oleh mereka itu takut, menghormati mereka, menyanjungnya dan lain sebagainya. Jika kebiasaan itu terus meningkat maka ego mereka pun terus semakin tinggi. Bila suatu ketika orang salah memperlakukannya, mereka akan memanfaatkan kemampuan magisnya.

Hal seperti ini akan terus berkembang bila masyarakatnya tidak bisa membedakan antara pemujaan dalam bhakti dengan pemujaan memperoleh sidhi: selama pemujaan untuk mendapatkan sidhi terjadi, maka selama itulah akan terjadi proses laba, puja, pratista. Selama itu pula akan terjadi ketidakharmonisan dalam kehidupan ritual atau spiritual kita. Untuk menghindari hal tersebut orang hendaknya mengikuti jalan bhakti untuk menumbuhkan rasa rendah hati, prema serta sifat-sifat kebajikan lainnya.

Selanjutnya......

Sambut Tahun Baru Saka 1933 Umat Hindu Karanganyar Melasti di Tlogo Mandirda

Laporan Nyoman Sukadana

Dalam rangkaian peringatan Nyepi, tahun baru Saka 1933, maka umat Hindu wilayah Karanganyar sejak tahun lalu sudah mulai melakukan melasti setingkat kabupaten di mana ditetapkan sebuah tempat yang diyakini memenuhi syarat. Untuk itu maka pada Minggu 20 Februari 2011 dilaksanakan rapat Pengurus PHDI Kabupaten Karanganyar, Jawa tengah di Pura Pemacekan Karangpandan dipimpin Ketua PHDI Karanganyar, Nyoman Suendi. Pengurus PHDI Karanganyar dan perwakilan umat Hindu yang terbanyak etnis Jawa tersebar di kecamatan-kecamatan: Jenawi, Mojogedang, Ngargoyoso, Karangpandan, Karanganyar Kota, Jaten, Kerjo, Matesih, Tawangmangu, Kebak Kramat, Tasik Madu, saat rapat itu sepakat dan diputuskan untuk melasti di Tlogo Mandirda, Dusun Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.
Lokasi Tlogo bisa ambil jalur terminal Karangpandan-Tawangmangu sesudah patung semar. Melasti ini sebagai rangkaian perayaan Nyepi/ tahun baru saka 1933 dilaksanakan pada Minggu 27 Februari 2011 di samping termuat harapan, agar umat bisa banyak yang hadir karena hari libur, juga masih dalam sasih Kasanga.

Dipilihnya Tlogo Mandirda sebagai tempat melasti, karena telaga tersebut mata airnya besar, alamnya bagus, serta ada dukungan kerja-sama dengan Dinas Pariwisata Karanganyar untuk menjadikan tempat tersebut tujuan wisata. Bahkan ada pemikiran di tempat tersebut dibangun Pura Beji. Saat ini jalan-jalan sudah diperbaiki dan diaspal. Ada pemikiran juga, bahwa ke depan kabupaten lain atau minimal ex Keresidenan Surakarta (Surakarta, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Sragen, Wonogiri, dan Karanganyar sendiri) merapat ke Karanganyar mengadakan melasti bersama di bawah koordinasi PHDI karanganyar.

Seperti biasa, setiap aktifitas umat di Karanganyar selalu diliput oleh wartawan Koran dan TV local (TATV) dan nasional. Bahkan seperti sudah langganan, mereka selalu minta diinformasikan jika ada kegiatan yadnya. Hal ini merupakan poin penting yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan umat. Di samping itu Dinas Pariwisata Karanganyar sangat mendukung hal ini karena Karanganyar adalah Kota tujuan wisata.

PROSESI MELASTI
Pagi-pagi sekali pada Minggu, 27 Februari 2011, sekitar jam 06.00 pagi, umat yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan melasti, seperti tempat pemujaan, tempat sesaji, dan sesaji baik berupa sesaji kebiasaan umat Jawa maupun umat etnis Bali, sudah siap melaksanakan tugas. Sarana upakara, seperti banten, sajen sebagai wujud persembahan diusahakan sesederhana mungkin sebatas yang bisa dilakukan umat, sedangkan kekurangannya anti dilengkapi dengan puja mantra Pemangku.

Sajen Jawa yang disiapkan, seperti: cok bakal (sejenis segehan Panca Warna-namun putih semua), juga ada tumpengan, dan segala buah, dipadukan dengan banten umat yang biasa dilakukan di Bali, seperti pareresik (Byakaon, Durmenggala, Prayascita, Pengulapan-pengambean). Bahkan Prayascita sudah dibuat oleh umat Jawa dan terlihat serasi dan harmonis dalam kesederhanaan. Semua ini lebih bersifat menuntun dari tataran bawah sebatas yang mereka mampu lakukan dan paham maknanya.

Belajar dari acara persembahyangan besar-besaran dulu di Candi Ceto dengan dana milyaran dan dilakukan sekelompok umat yang dikhawatirkan hanya prestisius (Rajasika Yadnya) padahal umat di sana kehidupan ekonomi masih banyak di bawah garis normal. Karena itu, perlu ditiru tindakan umat lewat media yang telah membantu ekonomi riil masyarakat dengan bantuan kambing, dan lain-lain. Perlu juga bantuan buku-buku dan dharma wacana/dharmatula, juga hal akte perkawinan terkadang masih ada ganjalan. Jadi ekonomi dan spiritual (yadnya serta Sradha) perlu dilakukan dengan berbarengan dan bijaksana.


Sekitar jam 08.00 umat sudah banyak yang hadir membawa ”Pralingga” dari Pura masing-masing untuk disucikan pada upacara melasti ini. Ada belasan pura di lereng Gunung Lawu yang merupakan wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang merupakan kantong umat Hindu asli suku Jawa. Seperti di Kecamatan Mojogedang ada Pura Amertha Shanti dan Pura Sedaleman, kemudian di Kecamatan Ngargoyoso ada Pura Sumber Sari, Pura Jonggol Shanti Loka, Pura Tunggal Ika, Pura Argha Bhadra Dharma, dan Pura Luda Bhuwana. Di Kecamatan Jenawi ada Pura Lingga Bhuwana dan beberapa pura lainnya. Sementara itu, di Kecamatan Karangpandan terdapat Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan dan Parhyangan Sapta Pandita. Pura di Karanganyar ini dibangun setelah mulai bangkitnya umat Hindu ini, jadi bukan peninggalan sejarah seperti: Candi Ceto dan Candi Sukuh.

Perwakilan umat ini yang berjumlah sekitar 3000 orang (umat Hindu etnis Jawa lebih dari 2000 orang) serta Pinandita sekitar 20 orang, siap melakukan pemujaan bersama. Pemujaan melasti dipimpin Jero Mangku I Made Murti (Pemangku Pura Bhuawana agung Saraswati Kampus UNS, juga Wakil satu Bidang tata Agama PHDI Kra), Pinandita Marto (dari Pura Lingga Bhuwana - Jenawi), Jero Mangku Nyoman Sukadana (Pemangku Pura Pemacekan), dibantu sekitar 20 orang Pinandita lainnya.

Puja Pinandita dimulai sekitar jam 09.00 dengan permohonan ke hadapan Hyang Widhi untuk memperoleh tirta amerta pryascita bhuwana agung dan bhuwana alit, sehingga memperoleh kesucian menyongsong tahun baru saka 1933. Setelah semua pemujaan dan persembahan selesai, maka dilakukan larung ke Tlogo sebagai wujud memohon kesucian.

Dalam tradisi Weda, maka konsep Nyegara-Gunung merupakan upacara yang penting di mana Gunung melambangkan purusa (bapak) dan segara (laut, telaga, mata air) melambangkan pradhana (ibu), di mana secara keseharian ibu adalah tempat kita menuangkan segala permasalahan, sehingga kita menjadi tenang dan lega. Prosesi yadnya diakhiri dengan ”ksama swamam” dari pinandita, bahwa pemujaan sudah selesai.

Acara berikutnya adalah sambutan-sambutan yang dipandu oleh Cipto Martono, S.Ag., seorang tokoh umat, dengan sambutan pertama dari Ketua PHDI Karanganyar, I Nyoman Suendi dilanjutkan Darmawacana oleh Sumarno,S.Ag. guru agama Hindu di sekolah Karanganyar kota sekitar. Selesai acara seremonial dilanjutkan persembahyangan bersama dengan Puja Tri Sandhya dipimpin Pinandita Atmo Sentono dari Pura Bhineka Tunggal Ika dan Puja Kramaning sembah dipimpin Jero Mangku I Made Murti, diakhiri dengan nunas wangsuhpada (tirta suci) dilakukan semua pinandita yang hadir. Melasti telah selesai, dan Pralingga dari pura di sekitar Karanganyar sudah diarak untuk kalinggihang di masing-masing pura dan siap menyambut Tahun baru Saka 1933, dengan tenang dan damai. Om Ksama sampurna ya namah swaha.

Selanjutnya......

DHARMA SHANTI NYEPI SMA NEGERI 3 PALU BERLANGSUNG BERSAMAAN DENGAN PERINGATAN MAULID NABI

Laporan Niwayan Pariatni

Hari Minggu pagi, 13 Maret 2011 nampak pemandangan yang berbeda ketika melintas disepanjang jalan tepat di depan lingkungan SMA Negeri 3 Palu. Dari kejauhan tampak jelas sepasang penjor menghiasi pintu gerbang utama. Demikian juga, pagar ayu dan pagar bagus lengkap dengan balutan busana sembahyang adat Bali dengan senyum mengembang dan cakupan tangan di dada menyambut setiap undangan yang hadir.
Tetapi setelah memasuki halaman depan sekolah tepatnya di sudut barat terlihat pemandangan yang kontras. Dari sebuah Mushollah terlihat muslimah dan muslimat dengan pakaian yang khas, melalui alat pengeras suara terdengar khotbah seorang Ustad. Saat langkah kaki berlanjut menuju ruang lobi, kembali panitia berseragam atasan kebaya dan koko berwarna putih dengan cekatan mengantar para undangan menuju Aula lantai dua tempat kegiatan Dharma Shanti berlangsung. Di sini kemudian baru diperoleh kejelasan, ternyata selain acara Dharmashanti, dalam waktu bersamaan juga dilangsungkan peringatan Maulid Nabi yang dihadiri oleh siswa dan guru-guru beserta staf yang beragama Islam.

Pembina Agama Hindu SMA Negeri 3 Palu, Drs. Ida Bagus Widja Kusuma dalam sambutannya mengatakan, bahwa Dharma Shanti Nyepi adalah merupakan program rutin setiap tahunnya dan merupakan salah satu bentuk kegiatan bidang kerohanian yang begitu banyak dan sering dilaksanakn baik sebagai program inti maupun ekstra kurikuler. “Kami sangat berterimakasih atas perhatian Bapak Kepala Sekolah atas terselenggaranya acara ini,” ujar Widja Kusuma. Dukungan berupa fasilitas sekolah dan dana serta motivasi dari segenap komponen SMA N 3 menjadikan event besar ini dapat terwujud. Guru-guru Pembina Seksi Kerohanian Hindu di antaranya Ibu Wayan Mendi,S.Pd, Ni ketut Ketis, S.Pd.M.PKim dan Putu Sukarsa, yang begitu sabar mengarahkan anak-anak didiknya. “Kami haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya,” sambung Widja Kusuma.

Ketua PHDI Kota Palu, Ir.Nyoman Dwinda yang hadir pada acara itu sangat mengapresiasi terselenggaranya Dharma Shanti ini. Meski sebagai hal yang biasa, namun ia menilai Dharmashanti di tempat ini adalah suatu yang luar biasa, sangat spesial karena siswa Hindu-nya yang relatif banyak, namun selalu mengedepankan kebersamaan dan tanggung jawab. Segala bentuk kegiatan kerohanian yang terorganisir menjadikan SMA N 3 Palu memiliki nilai plus di mata masyarakat. Semoga kondisi seperti ini tidak menjadi suatu ritual semu yang dilakukan hanya atas dasar keterpaksaan dan rasa takut terhadap guru terkait nilai, melainkan praktek kerohanian ini dapat diimplementasikan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Terkait tidak adanya guru divinitif Agama Hindu di sekolah ini, Kepala Badan Statistik Kabupaten Donggala ini mengajak pihak sekolah bersama-sama PHDI Kota Palu yang ia pimpin untuk mengusulkan kepada Pemerintah Kota, agar melalui pengangkatan CPNS mendatang dapat dibuka formasi guru Agama Hindu dan diangkat sebagai guru tetap di lingkungan SMA N 3 Palu.

Acara Dharma Shanti dimulai sejak pukul 08.30 dengan persembahyangan bersama dilanjutkan pembukaan dengan persembahan tarian pembukaan Sekarjagad dan Pembacaan sloka Suci Weda. Hikmah Nyepi yang dibacakan oleh Ir.Made Suditayasa lebih banyak menekankan makna filosofis dari suatu perayaan yang lahir dari sebuah tonggak sejarah. Di mana setiap peradaban menghendaki adanya hidup damai harmonis dan penuh kasih saying, sebagaimana tema yang diusung, yakni, “Melalui Hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 (2011 Masehi) kita tanamkan Kasih Sayang dalam tali persaudaraan intern dan antarumat beragama demi tercapainya kedamaian hidup di dunia.

Kepala sekolah yang sedianya memberi sambutan dalam acara ini ternyata berhalangan hadir dan diwakilkan oleh wakasek bidang Humas. Atas nama Kepala Sekolah, Dra. H.Misran dalam sambutannya menguraikan, bahwa kegiatan keagamaan sangat mendapat apresiasi dari pimpinan sekolah. sebagai contoh sejak lama siswa Hindu telah memiliki satu ruangan khusus (bukan dipinjamkan sementara) untuk melaksanakan kegiatan ibadah pada siang hari ketika siswa yang beragama Islam melaksanakan Sholat maka siswa Hindu dan Kristiani juga wajib menuju ruangan suci untuk beribadah. Demikian halnya ketika Sholat Jumat berjemaah, maka semua siswa wajib beribadah di ruangannya masing-masing dan kembali ke rumah secara bersama-sama. Dengan demikian tidak ada siswa yang berkeliaran.

Ini adalah implementasi dari toleransi ala SMA 3. Toleransi bukan berarti beribadah bersama-sama di tempat yang sama.”Atas pertimbangan itulah hari ini Dharma Shanti dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan dengan Maulid Nabi Muhamad Saw, namun di tempat yang berbeda,” sebut Misran. Efektifitas kegiatan kerohanian memberi dampak positif, mengingat di seluruh penjuru sekolah yang diliputi vibrasi spiritual, maka segala bentuk kekuatan negative yang kasat tidak bisa menembus dan mengganggu anak-anak, karena pengawasan Tuhan jauh melebihi segala-galanya.

Para undangan saat acara istirahat sambil menikmati hidangan yang disiapkan juga disuguhkan hiburan berupa tari baris. Vocal Group binaan Tjokorda Agung Jaya Semara ketika pentas sangat menghibur dan menginspirasi. Beberapa lagu yang ditampilkan di antarnya Bintang Cemerlang, Ku Ingin Kau Bertahta, dari album Golden Youth diiringi petikan gitar dan melodi yang begitu indah. Acara diakhiri dengan pemberian ucapan selamat, berjabat tangan dari para tamu undangan

Selanjutnya......

Siap Kerahkan Personel untuk Wujudkan Pura Jagadnatha sebagai Kawasan Hijau dan Seni

Laporan Niwayan Pariatni

Sebagai wujud rasa syukur atas telah dilaluinya perayaan Nyepi tahun Baru Saka 1933 dengan lancar dan aman, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Kapolda Sulteng), Brigjen Pol. Drs. Dewa Parsana, M.Si menggelar open house bagi seluruh lapisan masyarakat di rumah dinasnya di Jalan Suprapto, kawasan Bumi Sagu. Acara ini diselenggarakan pada Senin, 7 Maret 2011, di mana sejak pukul 10 pagi tamu mulai berdatangan, baik masyarakat umum, unsur pemerintah daerah, para pewarta, baik media cetak maupun elektronik. Juga hadir masyarakat dan banyak tamu lainnya turut mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1933.

Keluarga besar Polda Sulteng datang secara bergantian per unit satuan kerja diantar jemput dengan menggunakan kendaraan Bus Polda Sulteng. Di ruang terbuka dengan dekorasi bernuansa khas Bali, para tamu disuguhi aneka hidangan dan alunan musik Bali sesekali diperdengarkan, sehingga menambah suasana kekeluargaan. Dengan senyum ramah, Dewa Parsana didampingi anak-anak dan istri tercinta, Kompol Nyoman Hendriati Parsana menyempatkan diri menyapa dan menemani tamu yang hadir. Bahkan secara khusus ia berbincang-bincang santai bersama Raditya.

Parsana yang belum lama dilantik sebagai Kapolda dari jabatan sebelumnya sebagai Wakapolda Sulteng, hari itu didampingi oleh Wakapolda Sulteng. Pada kesempatan tersebut ia berucap, bahwa sebentar lagi rakyat Sulteng akan menjalani pesta demokrasi, yaitu Pemilukada untuk memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur periode 2011-2016. “Kami berharap dalam perhelatan besar tersebut seluruh lapisan masyarakat bisa menahan diri dan turut menciptakan kondisi yang kodusif, sehingga memberi rasa aman dan nyaman terhadap masyarakat. Atas dasar itu juga, acara open house ini kami kondisikan agar para kandidat yang akan bertarung 6 April 2011 mendatang bisa duduk bersama di tempat ini,” sebutnya pada kata sambutan pembuka open house itu.

Ternyata benar, hari itu semua kandidat berkenan datang dalam suasana santai, bahkan ada yang turut bernyanyi menyumbangkan suara indahnya diiringi alunan musik. “Kebersamaan seperti inilah kami nantikan dan atas dukungan segenap potensi rakyat, aparat keamanan dan pemerintah kita dapat mewujudkan Pemilukada damai, “ tegas Dewa Parsana.

Dalam open house kali ini umat Hindu diundang khusus pada sore hari dengan pertimbangan waktu untuk masimakrama lebih panjang dan lebih santai. “Kami sengaja meminta kesediaan tokoh-tokoh umat, pemuda dan mahasiswa untuk duduk bersama berdiskusi masalah keumatan mengingat hampir satu tahun bertugas dan cukup sering bertatap muka dengan umat, tetapi belum pernah ada waktu secara khusus di mana tokoh umat diundang untuk membicarakan masalah serius tentang keumatan,” paparnya. Singkatnya, belum ada komunikasi yang efektif antara tokoh umat dengan dirinya, sehingga kontribusinya terhadap umat juga belum maksimal. Namun demikian, kata Parsana lagi, kita masih memiliki kesempatan dan melalui kesempatan itu para tokoh umat, pemuda dan elemen umat lainnya diajak untuk bersama-sama memikirkan skala prioritas apa yang harus dilakukan.

Dalam simakrama tersebut kembali disebutkan, bahwa dirinya telah berkali-kali diundang oleh Pemerintah Daerah untuk mempresentasikan master plan tata ruang kota Palu, khususnya. Konsep yang ditawarkan kepada Pemda mendapat sambutan baik, di antaranya pengembangan pariwisata bernuansa religius, konsep pengamanan terpadu mengadopsi model pengamanan tradisionil di Bali yang di Sulawesi Tengah diterjemahkan dengan program kembali ke desa/kelurahan.

Inilah kesempatan baik yang harus umat Hindu ambil dalam waktu sesegera mungkin, setidaknya bisa mulai dari lingkungan pura dan akses jalan menuju pura dari dua arah, yakni sepanjang Jalan Jabalnur di depan kampus Universitas Muhamaddiyah dan arah bundaran STQ, perlu penanganan tenaga terampil. Kapolda mengisyaratkan agar panitia kecil yang telah dibentuk bergerak cepat rumuskan dan sosialisasikan kepada umat, inventarisir segala kebutuhan sehingga bisa dipikirkan segala kebutuhan materialnya untuk mewujudkan Pura Jagadnatha sebagai kawasan hijau indah dan seni. “Satu hal yang perlu digaris bawahi, jangan pernah ada yang beranggapan ada proyek bernilai rupiah di sini. Semuanya akan dikerjakan secara ngayah alias proyek keikhlasan sebagai investasi menuju kebahagiaan tertinggi. Bahkan jika banjar yang dikerahkan tenaganya belum mencukupi, kami siap menerjunkan anggota kepolisian untuk membantu,” janji Parsana.

Suasana ruang masimakrama berubah menjadi acara rapat terbatas meski harus membagi waktu dengan tamu lainnya, hingga sore hari, Dewa Parsana senantiasa meluangkan waktunya memberi arahan kepada peserta diskusi. Sayangnya dari banyak tokoh umat di kota Palu yang diundang untuk membahas hal yang sangat penting, namun hanya sedikit yang bisa datang.

Selanjutnya......

Brigjen Pol (Purn) Drs. I Njoman Gede Suweta, MH. Banyak Kepentingan Ekonomi Berbaju Adat

“Jurnal” konflik bernuansa adat di Bali makin hari semakin tebal, sehingga untuk menyebutnya satu persatu secara runut dan detail terasa akan melelahkan sekaligus membosankan. Lelah, karena kisah klasik konflik ini tak kunjung surut yang berarti tiadanya mekanisme penyelesaian dari konflik adat di Bali, meskipun sudah ada Perda No 3 Tahun 2002 Tentang Desa Pakraman dan adanya Majelis Desa Pakraman yang diharapkan banyak berperan meminimalisir kasus-kasus semacam ini, tapi dalam praktiknya masih jauh dari harapan.
Kemudian, peristiwa-peristiwa konflik mengatasnamakan adat (karena sering motif murninya bukan adat) menjadi bosan untuk mendengarnya dikarenakan Bali yang sudah memasuki zaman modern, paling tidak dalam hal tantangan hidup dan perubahan iklim kehidupan, tetapi mentalitas warganya masih saja berkutat pada zaman Bali kuna, cara pandang peradaban masa lampau dan tiadanya tanda-tanda yang menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap nilai-nilai modernitas, sebagi zaman menghendakinya.

Toh demikian, wacana untuk membahas kasus-kasus adat (paling tidak diklaim atas nama adat) seperti ini rasanya masih terus perlu digulirkan, dengan harapan terjadi evolusi pemikiran dari masyarakat Bali, sehingga pelan-pelan akan tumbuh pencerahan baru baginya.

Untuk itu, Raditya sengaja mewawancara mantan Wakapolda Bali, Brigjen Pol (Purn) Drs. I Njoman Gede Suweta, MH., pada Sabtu 12 Maret 2011 di Kantor Bantuan Hukum Dewata Lestari yang berlokasi di Jalan Mahendradatta, Denpasar. Dia yang dulu juga sempat maju sebagai calon Wakil Gubernur Bali berpasangan dengan Cok. Budi Suryawan ternyata mengaku memang menaruh interest terhadap masalah-masalah adat yang terjadi di Bali.

“Ada sinyalemen, kalau banyak awig-awig desa pakraman justru tidak sejalan dengan dresta di desa tersebut. Padahal logikanya, dresta yang berlaku adalah sistem nilai yang boleh dianalogikan sebagai Konstitusi atau sumber dari segala sumber hukum adat, yang dalam hal ini adalah awig-awig. Sedangkan awig-awig itu boleh dianalogikan sebagai undang-undang. Jadi, karena awig-awig banyak menyimpang dari drestam naka mucullah banyak konflik bernuansa adat,” jelas Njoman Gede Suweta menyebut salah satu penyebab mengapa konflik adat di Bali tak kunjung memudar.

Mengapa sampai muncul awig-awig yang menyimpang dari dresta? Suweta menilai hal ini bisa terjadi, karena kekurangmampuan elite atau tim perumus awig-awig untuk membahasakan dresta ke dalam awig-awig yang tertulis. Akhirnya, banyak awig-awig itu berisi pasal-pasal yang memuat agenda baru dari para penyusunnya, dan tidak semata-mata ejawantah dari dresta, baik itu loka dresta, kuna dresta maupun sastra dresta.

Sebenarnya, menurut Ketua Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) daerah Bali ini, “kecelakaan” seperti ini tidak saja menimpa ranah desa adat di Bali, tetapi juga dalam hal penyusunan undang-undang di Republik ini. Suweta berani menyebut demikian, karena bukti telanjang telah terpapar, di mana banyak terjadi judicial review terhadap produk perundang-undangan dan banyak penggugat menang dalam judicial review itu, karena terbukti undang-undang tersebut bertentangan dengan roh konstitusi, yaitu UUD 1945.

Yang menarik dalam praktik desa adat ini kemudian adalah, di mana banyak tokoh-tokoh adat justru memutlakkan awig-awig sebagai pedoman penyelenggaran desa. “Akhirnya seperti praktik hukum positif saja, semuanya atas nama hitam di atas putih, sementara banyak kearifan yang sudah dipraktikkan turun-temurun di desa itu dalam bentuk dresta yang acuanhya moral justru diabaikan. Kini berbaliklah keadaan, yaitu awig-awig menjadi pedoman tertinggi dan dresta dipandang sebelah mata,” urainya. Ia mencontohkan kasus kesepekang. Menurutnya, kesepekang itu artinya dikucilkan atau disisihkan dari pergaulan desa sebagai bentuk hukuman moral atas ketidakpatuhan oknum warga. Misalnya, warga lain enggan bertegur sapa dengan oknum itu, karena yang bersangkutan bandel atau mau menang sendiri. Pokoknya masyarakat desa acuh padanya. Nah, hal ini lama-kelamaan membuat oknum itu merasa tak nyaman, karena banyak orang di sekitarnya, para tetangga tak ada bertegur sapa. Biasanya selanjutnya yang bersangkutan minta maaf di paruman desa dan berjanji tak mengulangi “kenakalannya” dan warga desa menerimanya kembali sebagai warga desa adat. Berbeda situasinya sekarang,di mana kasus kesepekang sering diikuti hukuman material, misalnya denda uang, beras, bahkan ada yang diusir dari tempat tinggalnya, padahal rumah yang ditempatinya adalah hak pribadinya yang dilindungi hukum negara.

Menurutnya, dresta yang tidak tertulis tidak selalu lebih lemah dan lebih buruk dari awig-awig atau produk aturan tertulis lainnya. Buktinya, hingga kini Inggris masih menggunakan sistem norma tak tertulis, yaitu tradisi istana kerajaan di dalam mengatur kebijakan negaranya di samping memang ada Konstitusi tertulis di sana. Dalam hal-hal tertentu, Ratu boleh mengambil langkah-langkah tertentu berdasarkan tradisi yang tak tertulis, bilamana diperlukan.

Karena desa pakraman memutlakkan awig-awig, berikutnya muncullah kelompok elite desa yang memonopoli kebenaran. Bila ada orang yang ingin memonopoli kebenaran atas nama versinya, maka jelas konflik akan muncul.

Konflik Ekonomi Berbaju Adat
Sebagai mantan perwira tinggi kepolisian yang pernah bertugas di Bali, maka Njoman Gede Suweta banyak mengetahui isi “jeroan” berbagai kasus adat yang muncul. Tak diragukan lagi, ia berkesimpulan berdasarkan pengalamannya menangani berbagai kasus adat, bahwa sering terjadi, di mana konflik adat itu sebenarnya hanyalah konflik ekonomi yang kemudian sembunyi di balik lembaga adat. Sebutlah ribut masalah tapal batas desa, masalah pemekaran desa pakraman dan penolakan pembangunan sarana pariwisata atas nama adat. Ini membuktikan desa pakraman dengan mudah ditarik ke sana-ke mari untuk kepentingan lain, yang bukan menjadi domain desa pakraman itu sesungguhnya.

Akhirnya, dalam pandanganhya telah terjadi kesenjangan wacana di lingkungan ranah desa pakraman yang konon berspiritkan agama Hindu dan nilai-nilai luhur adat Bali. Slogan Mpu Tantular dalam karyanya Kakawin Sutasoma yang mengamanatkan, “Bhineka Tunggal ika Tan Hana Dharma Mangrwa” hanya tinggal omongan, tetapi pelaksanaannya justru terjadi usaha penyeragaman seluruh desa pakraman di Bali. Buktinya adalah diberlakukannya Perda No. 3 Tahun 2002 Tentang Desa Pakraman, di mana di dalamnya diatur bagaimana sayarat-syarat desa pakraman. Padahal dari zaman lampau desa pakraman di Bali telah lama eksis tanpa aturan itu, dan kini dengan aturan tersebut keadaan bukannya bertambah baik.

Terakhir, ada unsur campur tangan birokrasi yang terlalu dalam ke wilayah desa pakraman yang makin merunyamkan persoalan. Misalnya, masyarakat Bali sudah memiliki subak yang eksis berabad-abad dan dikenal, bahkan “dijual” ke dunia luar atas nama pariwisata. Namun, pemerintah bukannya membina dan menyokong subak ini supaya semakin kuat, tetapi pemerintah membentuk Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) atau juga Simantri (Sistem Pertanian Terpadu Mandiri) yang mana program-programnya adalah bidang pertanian yang sesungguhnya sudah dikerjakan oleh warga subak. Lalu buat apa membentuk lembaga baru dengan isi sama, bukankah sebaiknya memperkuat keberadaan subak itu. “Ini siapa yang gila?” celetuknya.

Jadi, kembali menyorot konflik adat, pihaknya mengajak untuk mencari solusi bersama dengan pertama-tama setiap kasus dengan proporsional. Lihat dulu permasalahannya, sehingga jangan digeneralisasi. Setelah itu barulah rumuskansolusinya berdasarkan nilai-nilai lokal yang berlaku di daerah itu, jangan melibatkan pihak-pihak yang tak berkompeten menangani adat. Misalnya dulu saat konflik desa Ngis dan Macang karena rebutan sumber air suci, lantas untuk memastikan desa mana yang memiliki wilayah itu, kemudian diturunkanlah Jawatan Topografi Kodam IX Udayana untuk membuat peta kewilayahan di sana. “Aduh, ini kan tidak tepat, sebab batas suatu desa pakraman tidak selalu identik dengan zone wilayah, karena banyak desa pakraman kramanya tinggal di desa lain, dalam istilah Bali-nya wilayah desa saling seluk. Nah, bagaimana membakukan batas wilayah desa adat semacam itu. Jadi harus kembali kepada nilai-nilai lokal yang telah digunakan sebelumnya, jangan main menang-menangan dan mempraktiikan formalitas saja,” harapnya menyudahi obrolan dengan Raditya yang ringan, santai dan menyegarkan.

Selanjutnya......

Misi Penyederhanaan Upakara Berjalan Terus Setelah LPUH, Kini Hadir YPUH

Laporan Made Mustika

Setelah sekian lama organisasi LPUH (Lembaga Peduli Umat Hindu) Singaraja berdiri dan mengabdi kepada masyarakat, akhirnya kini berdiri organisasi sejenis. Namanya pun mirip. Organisasi baru itu bernama Yayasan Pengayom Umat Hindu atau disingkat YPUH. Pengurus kedua organisasi itu pun relatif sama. Demikian pula dengan program-prgoramnya. Program LPUH maupun YPUH adalah membantu umat dalam hal tattwa dan penyederhanaan upakara-upacara. Sebuah pengabdian mulia.

LPUH diresmikan pada September 2008 oleh Wakil Bupati Buleleng Drs. Made Arga Pynatih, sementara YPUH diresmikan oleh Bupati Buleleng pada 9 Maret 2011. Malah tempat peresmiannya juga sama, yaitu di wantilan Pura Agung Jagatnatha Singaraja. Ketua LPUH, Jro Mangku Nyoman Mangku Wijaya yang sekaligus merangkap sebagai Ketua YPUH ketika dimintai komentarnya soal dualisme organisasi tersebut mengatakan, dua organisasi itu ibarat kakak beradik. Meski LPUH lahir lebih awal, namun dalam analog kakak beradik itu justru LPUH sebagai adik, sementara YPUH sebagai kakak. Mengapa demikian? “Sebab YPUH bersifat nasional, karena telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan LPUH hanya didaftarkan di notaris lokal,” demikian dia menyebut alasannya.

Lantas ke depan organisasi mana yang akan dijalankan dalam melayani umat? “Tentu YPUH,” ujarnya lebih lanjut. Sekalipun demikian buru-buru Jro Sedana mengatakan LPUH tidak dibubarkan. LPUH tetap eksis. Yang menjadi pertanyaan lebih lanjut, bagaimana nasib LPUH selanjutnya? Mungkinkah ia dibiarkan mati pelan-pelan? Entahlah.

YPUH didirikan untuk merespon harapan umat dan tantangan zaman, terutama terkait masalah tattwa (teologi) dan upakara. Demikian antara lain dikemukakan ketua panitia peresmian Dr. Gde Made Metra, ketika memberikan laporannya. Kata-kata itu juga tercetus ketika LPUH diresmikan 2,5 tahun yang lalu. Dengan seremonial itu diharapkan segala keragu-raguan umat menjadi sirna. Sebab legalitas hukum YPUH jelas serta peresmiannya dilakukan oleh Bupati Buleleng Drs. Putu Bagiada, MM. Putu Bagiada bahkan duduk dalam pengurus di YPUH sebagai anggota Dewan Pembina bersama-sama dengan Dewa Nyoman Sukrawan (saat ini Ketua DPRD Buleleng). Ketua Dewan Pembina YPUH dijabat oleh Prof. Drs. Ketut Rindjin. Sejumlah intelektual Buleleng menduduki posisi penting dalam organisasi tersebut.

Selesai laporan ketua, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama diberikan oleh Ketua YPUH. Berikutnya oleh Ketua PHDI Buleleng, dan terakhir oleh Bupati. Dalam sambutannya, Jro Mangku Nyoman Sedana Wijaya menguraikan bahwa lembaga yang dipimpinnya sudah banyak membantu umat terutama dalam penyederhanaan upacara kematian (ngaben sederhana), tidak hanya di Buleleng, namun sampai Bangli, Karangasem, dan Tabanan. “Yayasan ini didirikan untuk memberikan pengayoman dan fasilitas bagi umat Hindu,” tegasnya. Sehingga biaya ngaben jadi irit dan tidak membebani umat. Jika ngaben sederhana yang dibuat secara swadaya menelan sekitar Rp 10 juta (bahkan lebih), maka “tarif” organisasinya cukup Rp 3 juta saja. Selama ini sudah 17 pengabenan sederhana dikerjakan oleh pihak yayasan.

Agaknya klaim Jro Mangku Sedana itu adalah mengenai kiprah LPUH selama 2,5 tahun berjalan, bukan untuk YPUH. Sebab YPUH baru hari itu diresmikan. Kekeliruan seperti itu terulang kembali ketika Ketua PHDI Buleleng, Drs. Putu Wilasa menyampaikan sambutannya. Lidah Wilasa sempat kepeleset. Wilasa ada mengatakan semoga LPUH yang baru diresmikan itu dapat menjadi mitra Parisada. Perbedaannya memang satu huruf depannya, yakni L dan Y. Tapi salah ucap itu memberikan perbedaan arti yang sangat signifikan. Agaknya kepeleset lidah Wilasa itu membuktikan nama LPUH sudah bergema di masyarakat. Mengapa kemudian harus berganti nama?

Namun di luar yang satu itu, sambutan PHDI terasa banyak mencerahkan. Masalah tradisi, katanya, memang sangat sulit dibongkar. Sebab itu menyangkut kebiasaan turun-temurun. Kebiasaan itu bermetamorfosa menjadi keyakinan. Namun bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Persoalannya akan gampang kalau umat mau cerdas dan mau membaca kitab sucinya, atau paling tidak membaca buku-buku agama. “Terus terang saja masalah kita adalah pada teologi yang lemah,” kata Wilasa blak-blakan.

Mungkin banyak orang yang tahu persoalan itu, namun tidak banyak yang menyadari. Sehingga upaya koreksi menemui kendala besar. Malah acap kali penyederhanaan ritual ditentang oleh sebagian umat. Kendala menjadi lebih besar seiring dengan kesalahpahaman masyarakat dalam menerjemahkan Ajeg Bali. Banyak umat yang beranggapan Ajeg Bali berarti membuat ritual sebesar-besarnya.

Sementara Bupati Putu Bagiada dalam kesempatan itu mengatakan, YPUH agar benar-benar berperan dalam masyarakat. Juga dipesankan, agar terjalin kerja sama yang bagus antara yayasan dengan PHDI. Sebab, PHDI adalah majelis tertinggi umat Hindu. “Berikan umat pencerahan-pencerahan,” katanya merespon sambutan Ketua PHDI yang menyatakan bahwa teologi umat Hindu amat lemah.

Terkait itu, YPUH memang mencanangkan program dharmawacana/dharmatula setiap Jumat. Semoga umat Hindu dapat memanfaatkan kehadiran LPUH dan YPUH. Soalnya dua organisasi itu nyaris kembar identik. Mudah-mudahan tidak menimbulkan kebingungan.

Selanjutnya......

Sad Kahyangan di Dalam Perda RTRW Bali

Oleh Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Perda RTRW Bali 2009 yang banyak menimbulkan kontroversi di masyarakat, mencantumkan masalah Sad Kahyangan. Seperti sudah diketahui, dalam Perda itu Sad Kahyangan memiliki kawasan suci sekurang kurangnya apeneleng agung setara 5.000 (lima ribu) meter dari sisi luar tembok penyengker pura. Kawasan tempat suci di sekitar Pura Dang Kahyangan dengan radius sekurangkurangnya apeneleng alit setara dengan 2.000 (dua ribu) meter dari sisi luar tembok penyengker pura.
Tulisan ini tidak menyoroti masalah kesucian, hanya soal apa Sad Kahyangan itu. Dalam Perda ini disebutkan, penetapan status Pura-pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan dilakukan oleh Gubernur setelah mendapat rekomendasi dari PHDI Bali dan MUDP (Pasal 50 ayat 3). Dalam Pasal 83 Perda RTRW ini dirinci jumlah Pura Sad Kahyangan, yakni ada 10 buah. Pura Dang Kahyangan ada 252 buah tapi tidak dirinci. Nah, dasar penetapan Pura Sad Kahyangan itu disebutkan dalam Perda, didasarkan pada konsepsi Rwa Bhineda, Tri Guna, Catur Lokapala, Sad Winayaka/Padma Bhuana. Kesepuluh pura itu adalah:
1. Pura Lempuyang Luhur (Puncak Gunung Lempuyang di Kabupaten Karangasem).
2. Pura Andakasa (Puncak Gunung Andakasa di Kabupaten Karangasem).
3. Pura Batukaru (lereng gunung Batukaru di Kabupaten Tabanan).
4. Pura Batur (tepi kawah Gunung Batur di Kabupaten Bangli).
5. Pura Goa Lawah (di Kabupaten Klungkung).
6. Pura Luhur Uluwatu (Bukit Pecatu di Kabupaten Badung).
7. Pura Pucak Mangu (di Kabupaten Badung).
8. Pura Agung Besakih (lereng Gunung Agung di Kabupaten Karangasem).
9. Pura Pusering Jagat (Pejeng di Kabupaten Gianyar).
10. Pura Kentel Gumi (di Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung).

Pertanyaannya, dari mana Perda ini mendapat rincian Sad Kahyangan terdiri dari 10 pura itu? Padahal dalam Bhisama PHDI Pusat 1994, yang selalu disebut-sebut sebagai dasar acuan dalam menentukan kawasan suci, tak ada mengatur Sad Kahyangan berdasarkan konsep Rwa Bhineda, Tri Guna, Catur Lokapala, Sad Winayaka/Padma Bhuana. Juga tak dirinci Sad Kahyangan itu berjumlah 10 pura. Kalau mengacu ke pasal 50 ayat 3 logikanya masukan konsep itu dari PHDI Bali dan MUDP. Lalu kapan rekomendasi itu diberikan dan apa dasar rekomendasi PHDI Bali atau keputusan MUDP (Majelis Utama Desa Pekraman) Bali? Apakah PHJDI Bali maupun MUDP Bali tak tahu apa itu Sad Kahyangan?

Penggolongan Sad Kahyangan sudah ditetapkan dalam Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu. Seminar ini dihadiri para sulinggih dan pemuka agama Hindu dan hasil keputusan itu sudah dibukukan. Dalam keputusan seminar ini disebutkan, Kahyangan Jagat itu terdiri dari Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. Kahyangan Jagat yang digolongkan Sad Kahyangan mempunyai landasan dasar sebagai berikut:
1. Landasan filosofis: Konsep Sad Winayaka menurut lontar Dewa Purana Bangsul.
2. Landasan Historis: sudah ada sebelum kedatangan Gajah Mada ke Bali tahun 1343 Masehi.

Berdasarkan landasan ini Sad Kahyangan itu adalah Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu, Pura Batukaru, Pura Pusering Jagat. Karena dasar dari landasan itu ada enam pura, makanya disebut Sad Kahyangan. Jadi, sad itu berarti enam, bukan sekedar nama tanpa arti.

Pura Andakasa, Pura Puncak Mangu, Pura Batur, dan Pura Kentel Gumi, tidak masuk dalam landasan dasar di atas, karena itu bukan Sad Kahyangan menurut hasil Seminar Kesatuan Tafir itu. Pura Andakasa dan Puncak Mangu berada dalam konsep Padma Bhuwana maupun Catur Lokapala. Sedangkan Pura Batur masuk dalam konsep Rwa Bhineda sebagai Pradhana dari Besakih yang berstatus Purusha.

Kahyangan Jagat itu menganut banyak konsep, yakni konsep Rwa Bhineda, Catur Lokapala, Sad Winayaka, Padma bhuawa. Sedangkan Sad Kahyangan memakai konsep Sad Winayaka ditambah landasan historis tadi, hanya ada enam pura, karena itu diberi nama Sad Kahyangan.

Ini biar jelas, karena masyarakat kian kritis, nanti anak-anak bertanya: katanya sad itu artinya enam, dalam perda ini kok sad kahyangan menjadi sepuluh kahyangan, kenapa tak disebut Dasa Kahyangan. Lagi pula kita menghormati Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir. Kecuali memang diubah oleh keputusan Seminar Kesatuan Tafsir yang baru, lembaga yang sama kuatnya.

Perda adalah produk hukum, jadi harus jelas landasan hukumnya. Kalau yang dimaksudkan Perda ini memang 10 pura yang kawasan sucinya apeneleng agung, ya, sebut saja 10 pura itu, kalau diberi nama bisa saja Dasa Pura. Yang jelas, jangan sekali-sekali memakai istilah Sad Kahyangan untuk rincian 10 pura itu. Karena Perda tak perlu direvisi (belum lima tahun usianya), dalam Peraturan Gubernur hal itu bisa dikoreksi. Tentu ada dua alternatif koreksian: jika yang dimaksudkan memang Sad Kahyangan, keluarkan empat pura itu (Pura Andakasa, Pura Puncak Mangu, Pura Batur, dan Pura Kentel Gumi), jika maksudnya 10 pura, hapus istilah Sad Kahyangan. Mari kota konsekwen dengan aturan dan keputusan yang ada.

Selanjutnya......

Duryodana Dan Hidup Saling Memangsa

Luh Made Sutarmi

Ketika Duryodana membisikan sesuatu pesan tentang kekuasaan harus dibangun supaya kuat dengan dukungan dana dari masyarakat ke telinga ayahnya, maka episode baru muncul di kerajaan Astina. Episode itu adalah eksploitasi terhadap rakyat menjadi trend baru di kalangan pejabat kerajaan. Untuk menarik dana itu, pemerintah membiarkan penerimaan pegawai negeri kerajaan menggunakan uang. Sehingga rakyat yang kemampuannya pas-pasan dalam bidang intelektual, sekolahnya asal-asalan bisa menjadi pegawai dengan mudah kalau sudah punya uang. Ilmu dan kompetensi tertentu tidak perlu yang penting bisa membayar, dan tahu siapa calo yang harus di kasi uang. Hanya kompetensi itu yang dibutuhkan saat ini.
Tumor jalan pintas, mengalalkan segala cara berskalasi dengan cepat, dihati masyarakat luas. Prestasi serta intelegensi menjadi tidak penting, sekolah dan kuliah dengan seperangkat kompetensi tidak perlu, karena semua bisa dibeli dengan uang, satu kemampuan yang dintuntut adalah mencari informasi berapa uang yang harus dikumpulkan agar layak menjadi pegawai kerajaan. Birokrasi sarat dengan pasar, jual beli jabatan. Kerajaan masuk kewilayah “ prostitusi jabatan” dan celakanya pejabat kerajaan, perlement dan birokrasi semua berstatus baru sebagai “mucikari” pengangkatan pegawai negeri kerajaan. Terminologi baru, muncul bahwa peradaban birokrasi kerajaan perlu dipupuk dengan pupuk sintetis berlabel TSP (Tombok, Suap dan pelicin) agar bisa subur

Inilah awal dari kehancuran peradaban,Orang tidak takut berbuat dosa, inilah fase dimana pemerintah kerjaan pematik kehancuran. Oleh sebab itu, Drestarasta dengan pembisik Duryodana, hidup di negara seperti itu, tak ada yang bisa dibanggakan selain hidup susah. Sadar atau tidak, birokrasi membuat tatanan peradaban rusak parah, hal ini disebabkan keluasan korupsi begitu ganas, sehingga menghancurkan etika hidup bersama. Kejernihan, kecerdasan, dan kepekaan terhadap hidup bersama menguap.

Kebijakan publik yang menentukan hidup warga tak menyentuh realitas hidup yang menjerit dari kemiskinan, menyisakan wajah-wajah kosong karena air mata telah terkuras. Berita tentang ibu bakar diri bersama anak-anaknya karena tak ada lagi yang bisa dimakan, ayah gantung diri karena lama menganggur, busung lapar, dan PRT yang sekarat disiksa majikan menunjukkan kegagalan menyelamatkan warga kerajaan dari penderitaan mereka, sekaligus melucuti kemanusiaan mereka yang miskin dan dimiskinkan.

Duryodana membuat kasus-kasus penjarahan uang triliunan yang terus dilindungi demi kepentingan politik sesaat serta penjarahan sumber daya alam atas nama ”pembangunan”, yang sebenarnya tidak lebih dari proyek dan pemburuan rente, adalah kejahatan besar yang tak pernah dianggap sebagai kejahatan. Kondisi ini membuat rakyat gerah, sesak dan menjerit.

*****
Sore yang cerah itu, ada hal yang berbeda di rumah Widura , karena rakyat banyak melaporkan segala sesuatu kepada Widura. Hanya kepada Widura mereka berani mengadu, Widura paham posisinya sebagai penasehat kerajaan Astina harus bisa mengambil peran banyak untuk menyerap informasi dari masyarakat luas.

Lantas, seorang kakek tua datang khusus diperistirahatannya, “Ampun tuan yang mulia, engkau orang bijak, perkenankanlah hamba datang menemui mu, untuk bertanya? Kata orang tua yang kurus itu.

Silahkan masuk, ada apa gerangan engkau datang menemuimu sore hari ini, kata Widura menimpali.

Orang Tua yang ringkih dengan berpakaian kumal itu, masuk pelan-pelan keruang penerima tamu, dengan sopan orang tua itu berkata pelan namun penuh keteraturan bahasa. “ Yang mulia, engkau adalah salah-satu yang hamba percaya sebagai penyangga peradaban Astina, engkau adalah penasehat raja. Hamba tidak mengerti, mengapa secara bersamaa, orang tak malu mendapat prestasi akademis secara curang, menjarah bantuan kemanusiaan, dan mengutil dana program-program kemiskinan, apa penyebabnya yang mulia , dimanakah moralitas yang menjadi ciri orang bijaksana itu di negeri ini?

Widura tersenyum, dan berkata, Engkau orang tua, kebijaksanaan itu telah memudar dikalangan pejabat, dan justru engkau lah orang yang lebih bijak itu, bukan para penguasa yang membuat rakyat sengsara yang bijak. Para punggwa dan pegawai telah diliputi oleh nafsu keserahkahan akan dunia materi. Dan, materi yang dicita-citakan diperoleh bukan dengan jalan dharma, catur purusa harta tak pernah mendapat ruang di para pejabat saat ini.
Perlu engkau ketahui, bahwa mereka berpikir dengan materi segalanya dapat diraih, mereka salah sangka bahwa dengan uang semua bisa dibeli, kenyataannya tidak. Moralitas mereka telah menguap, janji dan sumpah yang mereka ucapkan ketika awal memangku jabatan telah dilanggar, walau ketika disumpah pakai pendeta, semua itu dianggap sampah, sumpah dan janji itu hanya semacam seremonial semata.

Lelaki tua tu berkata lagi. “ seorang pejabat adalah mereka yang telah melalui proses pendidikan yang panjang, dan mereka telah mempelajari sastra bahwa nafsu itu tidak pernah dapat dipuaskan, apa yang sebenarnya hilang yang mulia?

Widura berkata , semua orang membaca, memikirkan tentang cara mengatasi nafsu keserahkahan, namun mereka hanya berhenti ketika berpikir dan memahami, dan tidak sampai laku. Oleh karena itu engkau harus pahami bahwa hanya bila engkau dapat menenangkan pikiranmu engkau akan mampu mengatasi nafsu, dan hanya setelah engkau berhasil menguasai nafsu engkau akan mampu mengendalikan amarah. Karena itu, langkah pertama untuk menaklukkan nafsu dan amarah ialah dengan membebaskan diri dari proses berpikir. Hal ini berlaku bagi semua orang.

Widura menambahkan, ketika pejabat tidak menjadi panutan dalam pengendalian diri terhadap nafsu, maka rakyat yang ada di luar sistem birokrasi akan melakukan tindakan serupa dengan caranya dan memaksa pengusaha yang mau menerapkan etika bisnis melakukan usaha agar proyeknya jalan.

Orang tua itu mengangguk , lalu berkata, padaka tidak hanya rakyat, semua corong media massa pun, saat ini menciptakan standar-standar ”kesuksesan” instan lewat berbagai carnya, yakni mendorong orang menjadi budak syahwatnya dan pupuk bagi kekuasaan (modal) para tuan.

Engkau benar kata Widura lagi, “ banyak tindakan koruptif tidak dipahami sebagai pembusukan seiring dengan lenyapnya keangkuhan luhur manusia. Etika dan moral tinggal sebagai khotbah yang gemanya sayup dari atas bukit ditelan deru angin. Hidup terjalin atas prinsip saling memangsa, bukan lagi perjuangan bersama saat semua orang memberikan yang terbaik bagi kualitas hidup bersama dan menjunjung tinggi martabat kehidupan. Oleh karena itu pesanku padamu adalah bahwa Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar untuk memajukan peradaban demi bangsa dan negara

Orang tua itu mengangguk setuju , dan berucap lirih: cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. Om Gam ganapataye namaha****

Selanjutnya......

Revisi Awig-awig, Bhisama, Piteket yang Menghambat Orang Bali untuk Maju

A.A. Bagus Sudira

Generasi tua Bali masih fokus kepada urusan ritual, adat, budaya dan urusan non ekonomi lainnya. Akibatnya, mencari uang menjadi sangat sulit. Karena semua jenis pekerjaan telah diborong oleh penduduk pendatang yamg lebih lebih pintar, lebih ulet, lebih inovatif/kreatif, lebih giat. Bahkan mereka mau melakukan pekerjaan dengan bayaran yang lebih rendah dibandingkan orang Bali. Jadi masyarakat Balinya kalah bersaing dari berbagai segi.
Padahal kini permintaan kebutuhan rumah tangganya terus meningkat. Seperti, anak minta sekolah, motor, HP, olah raga, dan kebutuhan lain. Karena stres dituntut berbagai kebutuhan lantas terpaksa dijual tanah warisan yang ada. Warisan mereka pun dibeli oleh para pendatang itu, sehingga makin lama makin sedikit tanah milik masyarakat Bali. Sebaliknya tanah milik pendatang makin lama makin banyak. Jika cara ini berlanjut terus, maka kira-kira dalam waktu 50 tahun lagi pasti tanah Bali ini akan habis terjual. Selanjutnya ngungsi ke Sulawesi, Kalimanta atau Irian.

Tampaknya, masyarakat Bali lebih senang mengarak ogoh-ogoh ramai-ramai, berpartisipasi pada PKB, sembahyang sekeluarga ke Jagatnatha, kerja bakti ke Banjar, ngayah ke pura, dan lain-lainnya. Untuk hal itu masyarakat Bali tetap semangat. Walaupun untuk itu, mereka akan keluar uang. Minimal Rp 50 ribu sekeluarga pada hari itu. Karena jika tidak ikut bisa “dihukum Banjar”. Awig-awig banjar mengharuskan masyarakat taat aturan yang ada. Walaupun akibatnya mereka tidak bisa berdagang, kerja ke kantor, mencari uang. Lalu mereka pakai baju adat - tumplek ke jalanan, ke lapangan, ke banjar, ke pura, dan lain-lain. Walaupun hujan.

Sementara pada pentas yang lain di suatu sudut, penduduk pendatang banting tulang mencari uang, mengejar rezeki saat itu. Dan menguras rezeki yang ada di Bali. Ini membuatnya sukses dan makmur hidupnya di Bali. Dan mengundang lebih banyak lagi keluarganya ke Bali yang membuat jumlah mereka melebihi jumlah masyarakat Bali aslinya. Ini kemudian berakibat, jika hari raya Islam datang, maka tak heran jalanan di Bali kosong. Beli kebutuhan hidup sehari-hari susah. Pembantu pulang, ibu rumah tangga kelimpungan. Bayi/Balita terpaksa dititipkan ke penitipan anak.

Saat ini “generasi tua” Bali menghadapi keadaan yg sangat komplek dan gawat. Di dalam rumah tangganya sendiri menghadapi tuntutan kebutuhan hidup anak-istri yg meningkat. Sementara itu di keluarga besar – urusan adat dan ritual dan warisan terus ribet. Warisan sudah dibagi, tapi kontribusinya kepada upakara yadnya yg harus dilaksanakan (negen yadnya) tetap tidak ada. Tapi, jika warisan tidak dibagi timbul iri dan dengki di antara saudara. Yang membuat timbul saling santet dan teluh, berantem, bahkan sampai bunuh-bunuhan segala. Hancur lebur ikatan persaudaraan yang mengakibatkan banyak masyarakat Bali akhirnya mencari “saudara” dari Jawa, Lombok, Kalimantan atau daerah lainnya.

Sumber masalahnya terjadi, karena cara menjalani kehidupan ini sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya. Masyarakat Bali (khususnya generasi mudanya) harus mengubah cara menjalani kehidupan ini. Utamakan pendidikan dan pengetahuan serta praktek untuk mencari uang. Generasi bali harus merebut peluang untuk menjadi pengusaha hotel, buka rumah makan, kerja di kantoran sebagai PNS dan Swasta, agen pelayaran kapal pesiar, franchise dan lain-lain. Tentukan keinginan dan cita-cita kemudian kejar dengan penuh semangat. Jadi dengan mengubah paradigma hidup dan merespon perkembangan zaman, hidup kita bisa survive.

Untuk itu revisi awig-awig kuno yang menghambat kinerja, karir dan bisnis masyarakat. Revisi juga ajaran agama, ritual, upacara yang berpedoman pada adat dan budaya, sejarah purba yang tidak sesuai dengan zamannya. Evaluasi semua piteket atau bhisama yang tidak mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi dan lain-lain yang ternyata membuat generasi tua kalah bersaing.

Sayangnya entah karena apa masih banyak generasi tua dan malah generasi muda yang tetap ingin mempertahankan sistem kuno ini yang kemudian menimbulkan perbedaan persepsi tajam di antara generasi muda dengan generasi tua. Demikian juga antara satu banjar dengan banjar lainnya.

Karena ribut untuk hal-hal yang tidak perlu, akhirnya habislah waktu, energi, biaya, pemikiran – yang seharusnya dipakai untuk urusan yang lebih produktif dan bermanfaat. Di tengah situasi demikian, sayangnya para wikan, penglingsir, pejabat, bahkan aparat keamanan lamban membereskan masalah-masalah itu. Banyak konflik menggantung tak menentu, bagai api dalam sekam yang setiap saat bisa meledak.

Masyarakat Bali tidak punya waktu lagi untuk mencari uang atau meningkatkan karir dirinya di Bali ini. Bahkan banyak generasi muda Bali yang rarud dari kampung halamannya ke Jakarta atau daerah lainnya. Dan generasi tuanya yang notabene pemilik pulau Bali ini, tidak sempat menyelamatkan dan melestarikan alam Balinya. Hutan digundulin, kayunya dicolong, gunung dibongkar, tanah urugnya dijual, laut diurug untuk hotel, villa, sungai dicemari dengan limbah beracun, remajanya dicekoki narkoba, dan sebagainya. Kemana para orang tua, guru sekolah, mangku, peranda, aparat kepolisiannya atau pecalangnya?. Ini jenis kejahatan yangg terorganisir canggih, sudah mengakar yang akan menghancurkan pulau Bali dan masyarakat Bali sekalian.

Mereka yg merantau itu ternyata lebih sukses dari pada generasi muda Bali yang ada di Bali. Contoh, Jro Wacik (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata) Sudirta (Pengacara, anggota DPD), Ade Rai (Pebisnis dan olahragawan), Gede Prama (pewarta kejernihan). Bahkan Komjen Made Mangku Pastika (Gubernur Bali), K.Sarjana (pengusaha perminyakan/ gas yang milyuner di Jakarta), dan tokoh Bali lainnya yang banyak sukses di rantau. Mengapa demikian?

Sebaliknya generasi muda Bali yang maju di Bali belum bisa disebutkan setingkat dengan itu.
Melihat kenyataan itu, dapat dipastikan bahwa terjadi penghambatan dan pengikisan usaha kemajuan bagi generasi muda Bali. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena lingkungan rumah tangga, karena lingkungan adat, budaya dan agama yang padat mengikat, karena awig-awig banjar yang ketat. Juga, karena filosofi hidup kuno Bali yang berorientasi kekeluargaan, termasuk adanya tekanan dari Pemda Bali untuk meningkatkan kebudayaan Bali.

Untuk menanggulangi hal itu, perlu dilakukan revisi atas segala aturan, awig-awig, bhisama, adat-budaya, ritual-upacara, RTRW, dan lainnya supaya disesuaikan dengan kemajuan zaman. Dengan demikian ada ruang, bantuan dan fasilitas bagi masyarakat Bali untuk mencari uang dan meningkatkan karirnya. Ada waktu untuk menghadiri seminar-seminar, jualan di pasar, bekerja di kantoran, bisnis di sistem perdagangan, mengurus keluarga, membimbing anak-anak, bersosialisasi (simakrama) dengan kerabat dan warga banjar, juga ada waktu untuk mencari relasi bisnis, meningkatkan kepribadian, melestarikan alam, menjaga keamanan Bali, dan lain-lain.

Masih banyak yang harus dikerjakan dan jangan saling ledek. Seperti bangsa Melayu (Malaysia) misalnya. Dulunya hanyalah masyarakat petani yang kurang maju, tetapi Mahathir Muhamad melakukan “gerakan Bangkit Melayu” yang direncanakan secara ilmiah dan sistematis untu mempersiapkan bangsanya menjadi maju. Bahkan banyak tenaga guru, dosen, ahli-ahli teknik didatangkan dari Indonesia.

Tapi kesuksesan seperti itu bisa tercapai, jika direspon oleh generasi mudanya, oleh anak-cucu generasi muda kita. Untuk mewujudkan hal ini diperlukan restorasi lahir-bathin. Pembelokan paradigma ke arah positif, terbuka, objektif rasional dan ekonomis. Dan memulai dengan “wawasan baru”. Mulai saat ini kita didik anak-cucu kita menjadi orang-orang yang berpendidikan maju. Kita beri pengertian, bahwa lebih penting pendidikan (untuk mencari uang) dari pada kekayaan orang tua, atau nama baik keluarga. Karena hanya dengan pendidikan yang tinggi itu, anak-anak akan bisa maju dan merebut peluang di zaman yang penuh dengan kompetisi sengit semacam ini. Jangan sampai orang Bali kalah di “kandang” hanya gara-gara sibuk dengan urusan adat, budaya, dan mitos-mitos kosong yang tak sesuai dengan jiwa zaman.

Selanjutnya......

Dengan Veda dari Manawa Menuju Madawa

I Ketut Sandika

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berperanan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Karena SDM yang berkualitas akan berimplikasi pada kemajuan suatu bangsa. Apalagi hidup di zaman moderenitas yang mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian pesatnya, hal tersebut mesti dapat diimbangi pula dengan peningkatan SDM yang berkualitas tentunya melalui proses pendidikan. Dengan kata lain sistem pendidikan yang baik akan berwujud pada peningkatan SDM yang baik pula. Dan, dalam hal ini manusia dikatakan memiliki suberdaya yang baik sekaligus berkualitas adalah manusia yang memiliki kecerdasan (kemampuan) holistik, bukan manusia dengan mengandalkan satu aspek kecerdasan saja.

Bertitik tolak dari hal tersebut, pendidikanlah memegang peranan penting untuk membangun SDM dengan kecerdasan holistik. Menilik dari keberadaan dunia pendidikan di Indonesia, bolehlah berbangga hati karena dunia pendidikan Indonesia telah banyak melahirkan orang-orang dengan gelar yang tinggi. Logikanya, orang yang berpendidikan tinggi tentunya akan membawa bangsa pada kemajuan dan kedamaian. Karena secara rasionalistis, bahwasannya dengan pendidikan tinggi, orang akan memiliki karakter yang tinggi (baik) pula. Tetapi realita menjawab terbalik, banyak orang dengan gelar tinggi justru terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak bermoral. Sebut saja kasus Gayus yang disinyalir melibatkan pejabat-pejabat tinggi, maupun kasus lainya. Dan, notabene pelakunya adalah orang-orang dengan gelar tinggi dan celakanya lagi pelakunya adalah pejabat negara yang seharusnya mengayomi rakyat, tetapi sebaliknya malah merampok rakyatnya sendiri. Dari hal tersebut mencerminkan bahwa pendidikan Indonesia telah gagal di dalam membangun karakter moralitas masyarakat dan perlu dipertanyakan, apakah sistem pendidikan Indonesia masih relevan diterapkan dewasa ini?

Tidak dipungkiri memang, pendidikan di Indonesia memiliki berbagai kelemahan. Salah satu dari berbagai kelemahan tersebut adalah pendidikan kita masih meniru pola pendidikan sistem ala Barat. Di mana sistem pendidikan hanya berorientasi pada peningkatan kecerdasan intelektual saja, tetapi tidak memperhatikan kecerdasan spiritual. Sat Guru Satya Narayana dalam wacananya menyebutkan: “Pendidikan saat ini hanya berorientasi untuk mengembangkan kepandaian dan keterampilan dengan sedikit menitikberatkan pada kualitas yang baik. Apalah artinya semua pendidikan yang ada di dunia, jika seseorang tidak memiliki karakter yang baik, ibarat mata air yang makin lama makin kering. Tidak ada gunanya, jika pendidikan berkembang disertai dengan nafsu yang berlebihan. Inilah yang membuat manusia menjadi pahlawan dalam kata-kata tetapi tidak pernah berbuat apa-apa”.

Berbeda dengan pendidikan ala Veda, di mana sistem pendidikan Veda adalah sebuah sistem pendidikan yang menanamkan pentingnya peningkatan kecerdasan spiritual, tetapi tidak melupakan kecerdasan yang bersifat intelektual. Selain itu pendidikan dalam Veda memiliki tujuan esensial adalah mendidik manusia (Manawa) untuk dapat menumbuhkan sifat-sifat (karakter) kedewataan (madawa) dalam dirinya. Seorang sisya (murid), jika mampu menumbuhkan sifat-sifat kedewataan (daiwi sampad) dalam dirinya dan mengendalikan sifat keraksasan (asuri sampad) dalam dirinya, dengan seketika akan memiliki kecerdasan spiritual dan bukan hal yang tidak mungkin akan berimplikasi pula pada bangkitnya kecerdasan intelektual. Pendidikan Veda akan memberikan penyadaran bagi para sisya (murid) untuk menyadari hakikat sang diri sejati dan bagaimana cara melepaskan diri dari kerudung maya.

Tradisi pendidikan Veda pada umumnya berlangsung di gurukula-gurukula (pasraman), yang mana acharya (guru) tinggal bersama dengan para sisya (murid). Hubungan yang begitu erat terjalin antara acharya dengan sisya, kemudian sisya dengan tulus bhakti melayani guru layaknya dewa dapat kita temukan dalam pendidikan Veda. Karena pola pendidikan Veda menegaskan, bahwa guru adalah perwujudan dari Tuhan itu sendiri “Acharya Dewa Bhawa” (Taitriya Upanisad). Berbeda dengan pendidikan dewasa ini, guru diacuhkan oleh siswanya dan celakanya lagi banyak siswa memaki-maki guru lantaran tidak suka sama pelanjaran yang diajarkan. Hubungan antara guru dengan murid dalam pendidikan Veda sangat harmonis karena dengan harmonisnya hubungan tersebut aliran transformasi pengetahuan dari sang guru kepada muridnya akan berjalan dengan baik, sehingga sang murid akan mudah memahami pengetahuan dari sang guru. Dan, sang murid diharapkan pula tunduk hati menerima apa yang diajarkan oleh sang guru tanpa adanya keraguan.

Proses pendidikan Veda bukan bersifat klasikal seperti sekarang, tetapi murid (sisya) duduk di bawah dekat kaki guru (acharya) untuk mendengarkan ajaran-ajaran suci dari sang guru (Upanisad). Guru akan menyampaikan secara lisan pengetahuan suci, kemudian dengan perenungan yang dalam ke dalam diri sang murid mencari kebenaran di balik segala pengetahuan tersebut. Dari perenungan secara intens tentang pengetahuan dari Guru dan diimbangi dengan sadhana spiritual baik itu Gayatri Shadana dan Sandhya Upasana maka dengan sendirinya karakter ke-dewataan akan tumbuh dalam diri sang murid. Betapa pentinganya menumbuhkan karakter kedewataan dalam diri, maka kajian nilai-nilai pendidikan Veda dipandang perlu dikembangkan di dalam sistem pendidikan dewasa ini yang tiada lain untuk meningkatkan kualitas manusia dari Manawa menuju madawa. Karena pada hakikatnya tujuan pendidikan adalah membentuk manusia bijaksana dan memiliki karakter ke-dewataan untuk kedamian dunia, bukan membentuk orang pintar, tetapi membuat dunia kacau.
Om Gam Ganaphataye.

Selanjutnya......

Paradigma Pendidikan Berbasis Tri Hita Karana

Oleh Putu Sudira

Ajeg Bali yang selama ini menjadi perbincangan masyarakat tanpa pengembangan kualitas dasar dan kualitas fungsional manusia Bali adalah mustahil. Kualitas dasar meliputi daya fisik/angga sarira, prana idep, prana sabda, dan prana bayu. Kualitas fungsional meliputi penguasaan para widya atau pengetahuan tentang kerohanian dan apara widya atau pengetahuan tentang keduniawiaan. Dalam praksis ideologi Tri Hita Karana (THK), manusia THK merupakan prana atau kekuatan Bali menuju ajeg Bali.

Manusia Bali berkesadaran THK merupakan modal utama keajegan Bali. Bali akan ajeg jika manusianya terdidik, tumbuh, dan berkembang berkesadaran THK. Untuk itu diperlukan paradigma pendidikan berbasis THK di tengah-tengah kebutuhan inovasi dan pengembangan kualitas pendidikan di era global platinum yang dituntut mampu: (1) menggerakkan manusia Bali untuk berpikir kritis, bertanggung jawab dalam mengelola modal budaya Bali, tradisi, lingkungan, informasi dan pengetahuan; (2) mematangkan emosi, mental, dan moral manusia Bali untuk bekerjasama satu sama lain, tidak mecongkrah rebutan balung tanpa isi, mengelola dan memecahkan permasalahan hidup sekala-niskala; (3) memilih dan menggunakan teknologi (baru) secara interaktif, efektif, efisien, dan bertanggung jawab; (4) menumbuhkan kualitas diri individu manusia Bali secara utuh; (5) membangun budaya dan jiwa wirausaha, budaya berkarya, budaya belajar, dan budaya melayani secara produktif; (6) bersifat kontekstual sesuai dengan desa, kala, dan patra (tempat, waktu, kondisi riil di lapangan).

Pendidikan berbasis THK tidak sekadar dipahami secara sederhana hanya sebagai pendidikan dalam kerangka transmisi pengetahuan dan keterampilan dengan angka-angka raport melalui pola asuh guru di sekolah dan tempat les, melainkan sebagai pendidikan dalam rangka memproduksi kebudayaan, proses inkulturasi dan akulturasi memperadabkan generasi baru manusia THK yang berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Pendidikan dituntut proaktif dan tanggap terhadap perubahan-perubahan ekonomi, politik, sosial, budaya, seni, mengadopsi strategi jangka panjang, dan membumikan budaya masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Praksis THK dalam inovasi dan pengembangan kualitas pendidikan di Bali diharapkan dapat membentuk manusia Bali menjadi sehat jasmani, tenang rohani, profesional, maju, aman, damai, sejahtera (Bali Mandara). THK merupakan kearifan lokal (indigenous wisdom) Bali bersifat ideologis sistemik dengan pemikiran mendasar dan rasional, eksis dalam tata kehidupan masyarakat Bali, dapat memberi sumbangan konsep inovasi dan pengembangan pendidikan berkualitas, relevan, berdaya saing, terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap mengakar pada budaya lokal Bali.

Mengapa pendidikan di Bali harus dikembangkan dengan paradigma berbasis THK? Di mana letak kekuatan THK dalam inovasi dan pengembangan mutu dan relevansi pendidikan? Tri Hita Karana artinya tiga penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan yang bersumber dari keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara: (1) manusia dengan Tuhan (parhyangan); (2) manusia dengan sesamanya (pawongan); (3) manusia dengan alam lingkungannya (palemahan). Harmonis berarti melakukan hal-hal yang mengandung kebaikan, kesucian yang dimulai dari pikiran, terucap dalam perkataan dan terlihat dalam tindakan/perbuatan (Raka Santeri, Kompas: 5 Desember 2007).

Ideologi THK lahir kosep “Cucupu Manik” atau konsep “isi dan wadah” dan konsep dalam Widhi Tatwa yang menyatakan bahwa zat Hyang Widhi meresap (wyapi) memasuki segenap alam semesta/makrokosmos (bhuwana agung), termasuk meresap juga ke dalam mikrokosmos bhuwana alit (diri manusia). Manunggalnya zat resapan Hyang Widhi Wasa dengan badan wadag kedua bhuwana itu, menimbulkan unsur baru pada masing-masing bhuwana tersebut, yakni apa yang disebut dengan prana (kekuatan) berupa bayu, sabda,dan idep. Ketiga unsur ini yaitu: (1) Zat Hyang Widhi; (2) prana (tenaga/kekuatan); dan (3) sarira (badan wadag) disebut sebagai THK, yaitu tiga penyebab kebahagiaan. Pengejawantahan THK dalam bhuwana alit atau diri manusia adalah: (1) atman atau zat Hyang Widhi Wasa yang meresap dalam diri manusia merupakan jiwa yang menyebabkan manusia hidup; (2) prana atau tenaga adalah kekuatan dalam bentuk sabda-bayu-idep sebagai daya yang timbul karena menyatunya Atma dengan sarira atau badan wadag; (3) sarira atau badan wadag manusia terbentuk dari lima unsur yang disebut dengan panca mahabhuta.

Konsep cucupu manik sebagai konsep pertalian harmonis seimbang antara isi dan wadah, dimana bhuwana alit adalah isi (manik) sedangkan bhuwana agung adalah wadahnya (cucupu). Masyarakat Bali merealisasikan menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) keharmonisan manusia dengan Tuhan yang disebut dengan parhyangan; (2) keharmonisan antar sesama manusia yang disebut dengan pawongan; dan (3) keharmonisan manusia dengan alam lingkungan yang disebut dengan palemahan. Ketiga dimensi keharmonisan ini yaitu parhyangan, pawongan, dan palemahan (3Pa) adalah sintesis pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama, berkesinambungan yang dikenal dengan ideologi THK.

Ideologi THK memiliki unsur jiwa, raga/angga sarira, dan tenaga/prana yang dalam wadah buatan direalisasikan dalam “3Pa” yaitu: parhyangan, pawongan, dan palemahan merupakan sesuatu yang integral sistemik, memiliki keterkaitan satu sama lain dalam sebuah kemanunggalan untuk mencapai kebahagiaan. Dalam diri manusia jiwa/atman adalah unsur parhyangan, prana (sabda, bayu, idep) adalah unsur pawongan, dan badan/tubuh berfungsi sebagai palemahan. Ideologi THK membangun kesadaran mikro, bahwa setiap manusia memiliki tiga modal dasar untuk hidup bahagia, yaitu : (1) atman/jiwa; (2) prana/kekuatan sabda-bayu-idep; dan (3) angga sarira/badan wadag. Hilang atau melemahnya salah satu unsur THK dalam diri manusia maka kebahagiaan itu akan hilang juga. Angga sarira/badan tanpa atman/jiwa adalah jenazah, atman/jiwa tanpa angga sarira/badan adalah roh/hantu, atman/jiwa dengan angga sarira/badan tanpa prana atau kekuatan sabda-bayu-idep sama dengan manusia sakit tanpa potensi.

Pendidikan berbasis THK dapat melahirkan manusia yang memiliki kemampuan mengelola hidup dengan baik dan benar. Tanpa membangun karakter yang luhur pendidikan itu akan menimbulkan dosa sosial. Kalau sekolah menyelenggarakan pendidikan untuk mengajar peserta didik hanya untuk mencari nafkah, maka pendidikan itu tidak akan membawa perbaikan hidup dalam masyarakat. Menyadari hal ini pendidikan harus diselenggarakan dengan nilai tambah moralitas dan kebudayaan Bali berlandaskan THK.

Internalisasi ideologi THK di sekolah sangat kuat terlihat dalam penataan dan pemanfaatan bangunan fasilitas gedung dan pura sekolah, penataan lingkungan areal sekolah, dan adanya unsur manusia atau warga sekolah. Semua sekolah di Bali dilengkapi dengan parhyangan berupa pura sekolah yang dibangun di bagian utama mandala sebagai lokasi hulu dari sekolah. Unsur palemahan sebagai unsur ketiga dalam konsep THK juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan di sekolah. Penataan kerindangan, keindahan dan kenyamanan sekolah dengan berbagai tanaman sangat mendukung program pemerintah yang disebut dengan green school. Penghijaun dan penanaman tanaman hias memiliki nilai fungsi yang sangat tinggi. Selain sebagai penghasil oksigen segar, tananam ternyata menjadi obyek belajar yang sangat bagus bagi siswa. Tanaman yang rindang dan indah dapat membuat manusia warga sekolah menjadi sehat badannya dan tenang rohaninya. Oleh karena digunakan sebagai obyek belajar, maka terikat perilaku memelihara dan merawat. Tanaman dan benda-benda seperti patung di sekolah sering digunakan sebagai obyek belajar. Akibatnya siswa memiliki budaya konservasi untuk merawat dan melestarikan lingkungan alam sekolah.

Pendidikan berbasis THK seharusnya menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab mensejahterakan diri dan lingkungan, memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya kekuatan sabda-bayu-idep siswa, yaitu kekuatan untuk menggunakan modal pikiran/idep, modal berkomunikasi/sabda, modal gerak/bayu. Ketiga modal kekuatan ini sabda-bayu-idep terus dikembangkan dan direfleksikan menjadi skill dan kompetensi melalui berbagai pelatihan alat gerak dan alat indria dalam tubuh. Pengembangan kecerdasan kinestetis, kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial-ekologis, kecerdasan emosional-spiritual, kecerdasan seni-budaya, kecerdasan teknologi, kecerdasan politik, dan kecerdasan ekonomika merupakan sesuatu yang sangat penting maknanya di atas pengembangan kecerdasan belajar (learning intelligent).

Dalam wadah rumah tangga atau keluarga sanggah/pemerajan adalah parhyangan yang berfungsi sebagai jiwa keluarga, sedangkan anggota keluarga adalah pawongan sebagai kekuatan/prana rumah tangga, dan karang atau areal rumah adalah palemahan. Di sanggah/pemerajan Tuhan dipuja sebagai Bhatara Guru yang memiliki kekuasaan menuntun semua anggota keluarga menjadi cerdas, terampil, arif, dan bijaksana. Kebahagiaan di dalam rumah tangga adalah perwujudan harmonisasi antar anggota keluarga (kakek/nenek, ibu, bapak, anak/cucu), antara anggota keluarga dengan sanggah/pemerajan, dan antara anggota keluarga dengan lingkungan dan bangunan rumah. Rumah menurut masyarakat Bali tidak sekadar sebagai tempat istirahat (house) tetapi sebuah home lingkungan terkondisi penuh nilai budaya tempat berlangsungnya proses pendidikan, pengembangan, dan pembudayaan kompetensi.

Dalam wadah desa pakraman, kahyangan tiga, yaitu Pura Desa sebagai tempat pemujaan Bhatara Brahma, Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Bhatara Wisnu, dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Bhatara Siwa, adalah parhyangan yang merupakan jiwa dari warga desa pakraman. Segenap warga desa pakraman adalah pawongan dan batas-batas wilayah desa pakraman dengan keseluruhan bangunan dan alam yang tumbuh adalah palemahan. Pemujaan kahyangan tiga dilandasi penguatan ajaran Tri Kona dan Tri Guna mengarahkan warga desa pakraman untuk selalu aktif kreatif sekala-niskala mengembangkan gagasan-gagasan, melakukan program aksi yang bermanfaat bagi kebahagiaan warga desa pakraman (jana hita-jagat hita), membangun alam lestari (butha hita). Desa pakraman memberikan penguatan identitas jati diri.

(Dr. Putu Sudira, MP. Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta; lahir di Desa Nagasepaha Buleleng).

Selanjutnya......