Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Selasa, 16 Maret 2010

Kenapa Ngomongin Balian?

Pembaca Majalah Hindu Raditya yang berbahagia. Kalau edisi Maret ini kami membicarakan masalah balian, anggaplah kami sedang membicarakan masalah lama namun tetap menjadi perdebatan di kalangan umat. Balian yang kami maksudkan di sini lebih pada balian yang profesinya "menghubungkan" alam nyata dengan alam maya. Bukan balian usada (pengobatan) Kenapa masih banyak umat yang percaya pada balian ini? Bagaimana kalau pesan yang disampaikan berupa "kesalahan" atau malah "kutukan", bukankah ini jadi beban? Apakah Tuhan, Hyang Pitara, Leluhur, suka memberikan kutukan atau mencari-cari kesalahan?

Selamat membaca dan Selamat Tahun Baru Saka 1932 semoga kedamaian ada di dalam bumi ini.



Selanjutnya......

Mengapa Terawangan Balian Sering Meleset?

Oleh Gede Agus Budi Adnyana


Dalam lontar Aji palayon dikatakan, bahwa jika hendak pergi kepada seorang balian, maka harus mengedepankan akal sehat. Jika sesuai dengan sastra agama dan logika, barulah dijalankan. Jika tidak, maka tinggalkan saja. Namun jika kita berbicara masalah logika, rasional atau nalar yang mengedepankan akal sehat, dalam tataran niskala, maka hal tersebut bukanlah sebuah hal yang mutlak diperlukan. Sebab dunia niskala berisikan banyak hal-hal di luar nalar namun itu terjadi.

Demikian pula, jangan sekali-kali menelan mentah-mentah apa yang diucapkan oleh seorang balian. Sebab jaman sekarang, tidak sedikit balian yang ngaku-ngaku ririh. Harus diakui, bahwa kehidupan sosioreligius masyarakat Bali sangat erat dengan dunia perdukunan ini. Pawisik dari balian dapat menjadi cikal-bakal berdirinya pura, dapat membuat sebuah palinggih yang sedari dulu tidak ada, sekarang dengan adanya pawisik itu tiba-tiba saja ada palinggih. Bahkan untuk nuwur jero mangku saja, harus menggunakan perantara balian, yang dipercaya mampu berkomunikasi dengan para Bhatara atau makhluk yang niskala.

Mengapa kehidupan masyarakat Bali dalam hal ini dalam ranah agama yang harus sedikit tidaknya melibatkan peran seperti ini? Jawaban untuk pertanyaan ini hanya dapat dijawab, jika kita melihat sisi dualitas hidup manusia yang berpengaruh pada pembentuk badan manusia itu sendiri. Dalam ranah bhairava tantra, ada yang disebut dengan prawerti dan niwerti. Dua sisi kubu ini akan menghasilkan satu energi yang dapat menghidupkan atau mendatangkan sakti.

Namun energi prawerti tidak memiliki kapasitas dalam sakti yang berkaitan dengan kewisesan. Sisi prawerti hanya berpusat pada kumpulan energi-energi potensial yang merupakan asli bawaan setiap makhluk, atau dengan kata lain, energi ini bermuara pada satu kesadaran yang menuntun manusia untuk mengartikan hakikat hubungan Tuhan dengan dirinya sendiri. Inilah yang membawa manusia pada bhakti.

Sedangkan aspek niwerti adalah satu sisi yang membangkitkan kekuatan, kesaktian, kewisesan, yang bermuara pada satu kekuatan supranatural, kekuatan magis, dan melebihi kekuatan normal lainnya. Maka penekun dalam sisi niwerti akan mendapatkan banyak kewisesan yang dapat digunakan oleh dirinya sewaktu-waktu.

Bisa jadi, jika seseorang yang sadar akan hakikat Tuhan-nya, melakukan bhakti, menemui banyak kendala. Kendala ini datang dari sebuah sisi kehidupan yang tidak bisa terlepas dari baik dan buruk, menang atau kalah, dan untung ataupun rugi. Manusia juga dalam menjalankan kegiatan agamanya semuanya ingin berjalan dengan baik, harmonis dan tiada halangan. Namun dunia bukanlah tempat tanpa halangan, bukan tempat tanpa rintangan dan keburukan. Untuk menghindari atau meminimalisir keburukan dalam kegiatan agama, maka peran niwerti diperlukan di sini, sebagai satu cara antisifasi agar halangan dalam menjalankan aktifitas ibadah dapat diminimalkan.
Contoh: Ketika seorang Hindu Bali akan melakukan sebuah upacara ngeresi gana, maka ia sudah pasti mengambil jalan bhakti. Namun dalam prosesi upacara ini, ia ingin agar semua halangan, semua rintangan, keburukan dapat diminimalisir dengan baik, agar yajna yang ia lakukan berhasil dengan baik. Maka ia datang ketempat balian, untuk menanyakan, apakah ada energi buruk di hari pada saat ia akan melangsungkan upacara resi gana? Apakah ada hari baik lainnya, atau apakah hari tersebut buruk? Jika ada keburukan, maka hal apa saja yang diperlukan untuk meminimalisir hal tersebut?

Contoh satu lagi: jika seorang Hindu Bali meninggal dunia, maka kerabatnya akan melaksanakan upacara yang bernaa ngaben. Jika seorang hanya berjalan dalam sisi Prawerti Marga, maka seusai upacara ngaben, ia tidak usah pusing apakah yang diaben mendapatkan tempat atau malah dirajam di neraka. Ia yakin akan hukum karma yang ada di dunia sana dan ia sudah sangat puas melakukan ngaben dengan tuntunan sastra yang benar.

Namun orang yang berada dalam tataran niwerti akan bertanya kembali. Apakah kakek saya yang baru diaben mendapatkan tempat, apakah ia tidak sengsara di sana, atau banten apakah yang kurang dan jika ia menderita di alam sana. Apakah yang harus dilakukan agar hukumannya dapat dikurangi? Dengan tujuan itu, maka ia pergi ke tempat balian, untuk meluasang, apakah kakeknya mendapatkan tempat atau tidak. Jika dihukum atau dalam keadaan susah, maka banten apa yang harus dibuat agar hukuman kakek bisa sedikit dikurangi. Dengan bertanya seperti itu, maka sang balian kerauhan dan memberikan solusi atas masalah yang dihadapi.

Jika kita cermati, maka keduanya berdasarkan sebuah bhakti. Yang satu melakukan upacara dengan sastra yang berarti ia bhakti, dan yang satunya lagi melakukan upacara dengan baik, namun karena dorongan kasihnya kepada sang almarhum, maka ia berkeinginan yang terbaik. Dengan demikian, mereka menggunakan jasa balian sebatas rasa kasih mereka.

Namun perlu diperhatikan, bahwa balian adalah manusia. Sehebat apa pun manusia, maka ia pasti melakukan kesalahan. Ada sebuah kisah yang menarik mengapa balian tidak mungkin menerawang sisi niskala dengan tepat seratus persen. Ceritanya begini: Dahulu, ketika manusia diciptakan, maka yang membungkus inti kehidupan (jiwatma) adalah citta, buddhi, ahamkara. Pikiran, kecerdasan atau intelejensi dan juga rasa keakuan yang luar biasa. Sisi rohani dengan pancaran kekuatan supranatural adalah satu cerminan dari aksi intelejensi, sedangkan ketika intelejensi rohani itu sedang bekerja, maka ahamkara atau rasa keakuannya menjadikan semuanya terselubung kembali. Jaring maya sangat sulit ditembus, dan layaknya seseorang melihat lewat sebuah jaring, maka apa pun yang ia lihat pasti kurang jelas, atau paling tidak penglihatan yag dilakukan tidak sejelas mata tanpa halangan jaring.

Demikian juga hanya dengan Balian dengan meneropong hal-hal berbau niskala, tidak akan mungkin mampu melihat seratus persen benar, terlebih lagi balian yang ngaku-ngaku sakti. Apa yang harus diperbuat? Yang perlu dilakukan adalah bahwa sesuatu kegiatan beragama kita jalankan saja dengan petunjuk sastra atau dengan tuntunan sang pandita. Jika menemukan sebuah kejanggalan, maka barulah cari solusinya dengan jalan niskala, namun tetap dengan mengedepankan akal sehat sebagai sebuah filterisasi.

Selanjutnya......

BALIAN: CERMINKAN “AGAMA RAKYAT” DI BALI

Oleh Agung Paramita


Semenjak majunya segala jenis teknologi – informasi yang sudah menebarkan bau dunia modern di Indonesia, semua pulau besar, sampai pulau kecil yang masyarakatnya tergolong berkredo primitif-animistik tak luput terkena imbasnya. Kemajuan dimaksud tidak hanya berdampak pada gaya hidup (life style) masyarakat, melainkan juga berdampak pada pola pikir masyarakat yang cenderung rasional, tentunya yang lebih mengedepankan aspek realistis (dunia nalar) tinimbang ilusif. Budaya (kredo) lama seperti kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat ilusif (klenik) yang ditawarkan oleh beberapa media seperti “Balian” atau Saman semakin lama mengalami kepunahan, bahkan hilang, memang. Namun, kepunahan itu tidaklah berlaku bagi para “Balian” yang ada di Pulau Bali, ia cenderung sering digandrungi sebagai mediasi segala jenis aspek ritualisme, benarkah? Dan mengapa?

Balian atau yang sering disebut sebagai jero dasaran merupakan suatu fenomena keberagamaan ala masyarakat animistik dan dinamistik yang masih mewarnai umat Hindu Bali. Ini tidak hanya terlihat pada masyarakat tradisional, melainkan mulai tampak dalam masyarakat modern. Ketika peran daya nalar manusia sudah mulai tak bisa memenuhi keinginan, ketajaman akal sudah mulai tumpul dalam memecahkan masalah, ketika rasio sudah tidak bisa memuaskan keinginan jasmani dan rohani, maka kecendrungan untuk mendapatkannya hanya ada di dunia magis. Itulah nunasang, matuunan, termasuk dalam menjalankan upacara keagamaan, khusunya aspek ritual. Manusia yang terimbas bau modern kini justru cenderung mengagumi dunia klenik, takut salahang Bhatara, pemastu, yakni tradisi turun-temurun yang tunduk di bawah himbauan dunia imaji, tentunya sangat jauh dari dunia nalar manusia. Segala jenis penyifatan ilusif manusia tersebut merupakan suatu kejadian ada dan tiada, sering terlihat dalam dunia sekarang.

Kebiasaan meluasang pada saman, cenayang, dan jero dasaran secara tidak langsung menjadi kredo yang tidak bisa punah di tengah gencatan arus jaman, sebaliknya justru kebiasaan itu menjadi sebuah kebutuhan yang setara dengan kebutuhan primer. Sering terjadi ketika masyarakat agraris mengalami permasalahan berat, terutama dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Mandra, seorang petani miskin yang dekat dengan klenik, setiap ada masalah ia tak kunjung datang ke seorang sulinggih, dokter medis, melainkan lebih plong bila datang ke para Balian, jero dasaran. Kali ini Mandra menemukan masalah yang paling berat semasa hidupnya, anaknya sakit keras. Sejenis penyakit maha besar yang nge-trend didengungkan sekarang, yaitu Atresiabilia kalau gak salah, penyakit yang tidak mungkin disembuhkan dengan biaya yang minim, tentu dengan biaya yang berjumlah besar.

Ketidakmungkinan Mandra mendapat biaya yang besar untuk menyembuhkan anaknya membuatnya memilih jalan pintas, irit biaya, sekali komat-kamit langsung sembuh. Tidak berpikir lama lagi Mandra berangkat mengunjungi salah satu balian yang bisa dikatakan kondang di desanya, Pica namanya. “ Ratu jero balian, punapiang mangkin pianak titiang sane banget sayangang tiang, sakitne nenten dados ubadin niki, napi sane ngeranayang sapunike?“ ungkap Mandra setelah bertatap muka dengan balian itu. Dengan muka yang mendadak lebam, balian Pica mulai memejamkan mata, bibirnya komat-kamit mengeluarkan beberapa bait mantra yang sakral, soleh, sambil meminta petunjuk kepada seluruh elemen yang bisa membantunya, tentu makhluk dalam dunia tiada. Tak lama kemudian Pica memberikan solusi kepada Mandra, ia memberitahu agar Mandra membuat sesajen besar di penunggu karang rumah kalau ingin anaknya selamat. Sejenis caru Bhuta Yadnya, caru agung, karena anaknya sedang diganggu oleh beberapa penunggu di rumahnya. Itu semua karena anaknya melakukan kesalahan, dan bukan karena penyakit yang diungkap medis. Artinya penyakit yang diderita anaknya buatan yang gaib, perlu diupacarai dengan yadnya, katanya kepada para bhuta.

Mendengar penjelasan balian, Mandra langsung berangkat pulang dan menyediakan sesajen itu. Berupa caru agung, caru mancawarna, dalam aspek yadnya agama Hindu ini termasuk Bhuta Yadnya, yang dipersembahkan kepada penyeneng karang seperti ungkap Pica. Hal ini menunjukkan betapa balian, jero dasaran, dan para saman di Bali sangat berperan dalam aspek keagamaan di Bali, terutama aspek ritualistik. Segala jenis ritual yang diintruksikan para jero dasaran kepada masyarakat, dianggap seimbang dengan wahyu ilahi, patut dilaksanakan, karena jika tidak, masalah tak kunjung sirna. Kembali menilik kisah Mandra, ternyata anaknya tak kunjung sembuh, karena secara medis anaknya mengalami gangguan hati yang tidak ada hubungannya dengan penyeneng karang, itu karena Mandra tidak memakai wiweka, wikrama (akal sehat), dan terlalu terlarut dalam dunia klenik. Namun, tidak dipungkiri itu merupakan salah satu warisan animisme yang masih mewarnai kehidupan sosial-religi masyarakat Bali, termasuk Mandra.

Menjalankan ajaran agama terkadang lebih didominasi oleh keterangan para saman, bukan teks-teks suci, apalagi para pendeta yang notabene sebagai media utama keberagamaan. Ini cenderung membuat agama Hindu Bali sering dikatakan menganut “agama rakyat”, yang informasi agama dan ritual tidak hanya didapat dalam doktrin agama, melainkan juga didapat oleh para balian, jero dasaran, dan para saman, yang selalu dekat dengan dunia ilusif, pembisik imaji, yang sangat jauh dari nalar manusia. Inilah kenapa manusia Bali masih memikul kepercayaan itu, disakralisasi sebagai salah satu sisi atau aspek keberagamaan masyarakat yang cenderung dekat dengan ritualistik-magis, warisan nenek moyang katanya.

Selanjutnya......

BALIAN: CERMINKAN “AGAMA RAKYAT” DI BALI

Oleh Agung Paramita


Semenjak majunya segala jenis teknologi – informasi yang sudah menebarkan bau dunia modern di Indonesia, semua pulau besar, sampai pulau kecil yang masyarakatnya tergolong berkredo primitif-animistik tak luput terkena imbasnya. Kemajuan dimaksud tidak hanya berdampak pada gaya hidup (life style) masyarakat, melainkan juga berdampak pada pola pikir masyarakat yang cenderung rasional, tentunya yang lebih mengedepankan aspek realistis (dunia nalar) tinimbang ilusif. Budaya (kredo) lama seperti kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat ilusif (klenik) yang ditawarkan oleh beberapa media seperti “Balian” atau Saman semakin lama mengalami kepunahan, bahkan hilang, memang. Namun, kepunahan itu tidaklah berlaku bagi para “Balian” yang ada di Pulau Bali, ia cenderung sering digandrungi sebagai mediasi segala jenis aspek ritualisme, benarkah? Dan mengapa?

Balian atau yang sering disebut sebagai jero dasaran merupakan suatu fenomena keberagamaan ala masyarakat animistik dan dinamistik yang masih mewarnai umat Hindu Bali. Ini tidak hanya terlihat pada masyarakat tradisional, melainkan mulai tampak dalam masyarakat modern. Ketika peran daya nalar manusia sudah mulai tak bisa memenuhi keinginan, ketajaman akal sudah mulai tumpul dalam memecahkan masalah, ketika rasio sudah tidak bisa memuaskan keinginan jasmani dan rohani, maka kecendrungan untuk mendapatkannya hanya ada di dunia magis. Itulah nunasang, matuunan, termasuk dalam menjalankan upacara keagamaan, khusunya aspek ritual. Manusia yang terimbas bau modern kini justru cenderung mengagumi dunia klenik, takut salahang Bhatara, pemastu, yakni tradisi turun-temurun yang tunduk di bawah himbauan dunia imaji, tentunya sangat jauh dari dunia nalar manusia. Segala jenis penyifatan ilusif manusia tersebut merupakan suatu kejadian ada dan tiada, sering terlihat dalam dunia sekarang.

Kebiasaan meluasang pada saman, cenayang, dan jero dasaran secara tidak langsung menjadi kredo yang tidak bisa punah di tengah gencatan arus jaman, sebaliknya justru kebiasaan itu menjadi sebuah kebutuhan yang setara dengan kebutuhan primer. Sering terjadi ketika masyarakat agraris mengalami permasalahan berat, terutama dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Mandra, seorang petani miskin yang dekat dengan klenik, setiap ada masalah ia tak kunjung datang ke seorang sulinggih, dokter medis, melainkan lebih plong bila datang ke para Balian, jero dasaran. Kali ini Mandra menemukan masalah yang paling berat semasa hidupnya, anaknya sakit keras. Sejenis penyakit maha besar yang nge-trend didengungkan sekarang, yaitu Atresiabilia kalau gak salah, penyakit yang tidak mungkin disembuhkan dengan biaya yang minim, tentu dengan biaya yang berjumlah besar.

Ketidakmungkinan Mandra mendapat biaya yang besar untuk menyembuhkan anaknya membuatnya memilih jalan pintas, irit biaya, sekali komat-kamit langsung sembuh. Tidak berpikir lama lagi Mandra berangkat mengunjungi salah satu balian yang bisa dikatakan kondang di desanya, Pica namanya. “ Ratu jero balian, punapiang mangkin pianak titiang sane banget sayangang tiang, sakitne nenten dados ubadin niki, napi sane ngeranayang sapunike?“ ungkap Mandra setelah bertatap muka dengan balian itu. Dengan muka yang mendadak lebam, balian Pica mulai memejamkan mata, bibirnya komat-kamit mengeluarkan beberapa bait mantra yang sakral, soleh, sambil meminta petunjuk kepada seluruh elemen yang bisa membantunya, tentu makhluk dalam dunia tiada. Tak lama kemudian Pica memberikan solusi kepada Mandra, ia memberitahu agar Mandra membuat sesajen besar di penunggu karang rumah kalau ingin anaknya selamat. Sejenis caru Bhuta Yadnya, caru agung, karena anaknya sedang diganggu oleh beberapa penunggu di rumahnya. Itu semua karena anaknya melakukan kesalahan, dan bukan karena penyakit yang diungkap medis. Artinya penyakit yang diderita anaknya buatan yang gaib, perlu diupacarai dengan yadnya, katanya kepada para bhuta.

Mendengar penjelasan balian, Mandra langsung berangkat pulang dan menyediakan sesajen itu. Berupa caru agung, caru mancawarna, dalam aspek yadnya agama Hindu ini termasuk Bhuta Yadnya, yang dipersembahkan kepada penyeneng karang seperti ungkap Pica. Hal ini menunjukkan betapa balian, jero dasaran, dan para saman di Bali sangat berperan dalam aspek keagamaan di Bali, terutama aspek ritualistik. Segala jenis ritual yang diintruksikan para jero dasaran kepada masyarakat, dianggap seimbang dengan wahyu ilahi, patut dilaksanakan, karena jika tidak, masalah tak kunjung sirna. Kembali menilik kisah Mandra, ternyata anaknya tak kunjung sembuh, karena secara medis anaknya mengalami gangguan hati yang tidak ada hubungannya dengan penyeneng karang, itu karena Mandra tidak memakai wiweka, wikrama (akal sehat), dan terlalu terlarut dalam dunia klenik. Namun, tidak dipungkiri itu merupakan salah satu warisan animisme yang masih mewarnai kehidupan sosial-religi masyarakat Bali, termasuk Mandra.

Menjalankan ajaran agama terkadang lebih didominasi oleh keterangan para saman, bukan teks-teks suci, apalagi para pendeta yang notabene sebagai media utama keberagamaan. Ini cenderung membuat agama Hindu Bali sering dikatakan menganut “agama rakyat”, yang informasi agama dan ritual tidak hanya didapat dalam doktrin agama, melainkan juga didapat oleh para balian, jero dasaran, dan para saman, yang selalu dekat dengan dunia ilusif, pembisik imaji, yang sangat jauh dari nalar manusia. Inilah kenapa manusia Bali masih memikul kepercayaan itu, disakralisasi sebagai salah satu sisi atau aspek keberagamaan masyarakat yang cenderung dekat dengan ritualistik-magis, warisan nenek moyang katanya.

Selanjutnya......

Balian: Bermula dari Sidhi Guru Sukracharya

Oleh Ni Luh Putu Eka Marianti.


Balas dendam! Kata-kata itu terlontar dari mulut seorang balian ketika pasangan pasutri hendak meramalkan anaknya untuk mengetahui bagaimana proses kelahirannya dan siapa yang menumitis pada anaknya. Dan anehnya, si balian berkata, dengan mengatasnamakan Bhatara Gunung Agung yang memberikan wewenang kepada leluhurnya untuk melakukan balas dendam atas perlakuan yang telah ditimpakan kepadanya dalam kehidupan terdahulu, dan sekarang menuntut balas perlakuan itu melalui keturunannya. Kata-kata itu membuat sang ibu menjadi takut akan nasib anaknya. Sudah tentu, bagi masyarakat awam akan percaya saja akan semua itu, karena mereka tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya tujuan dari kelahiran tersebut.

Sudah menjadi tradisi umat Hindu di Bali secara turun menurun untuk meramalkan setiap anak yang baru lahir kepada seorang dukun atau balian untuk mengetahui perihal kelahirannya. Pernyataan dukun seperti di atas, membuat saya menjadi heran, apakah mungkin Bhatara memberikan wewenang untuk melakukan balas dendam kepada roh yang akan terlahir ke dunia. Bukankah kita terlahir akibat karma buruk kita dan kita diberikan kesempatan kembali oleh Tuhan untuk memperbaikinya? Dan bagaimanakah pandangan agama lain jika mengetahui hal ini? Mereka pasti dengan mudah menjalankan rencananya yang sedari dulu telah dipersiapkan untuk menkonversi (mengalihkan) Agama Hindu. Dan bahkan mereka telah mengecam Hindu sebagai agama Bumi, bukan agama wahyu. Dan masih banyak lagi pernyataan-peryataan mereka yang melecehkan agama Hindu.

Nah hal tersebut terjadi, tiada lain karena akaibat kesalahan kita sendiri yang melecehkan para Dewa atau Bhatara yang kita yakini sebagai manifestasi Tuhan. Sesungguhnya Tuhan dalam Hindu tidak pernah menyarankan umatnya untuk melakukan tindakan yang dilarang oleh-Nya, melainkan setip tindakan baik yang datangnya dari pikiran, perkataan, maupun perbuatan harus didasarkan atas kesadaran Tuhan. Artinya, setiap tindakan yang kita lakukan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan Yang maha Esa.
Masyarakat haruslah jeli melihat dan mendengar peristiwa seperti tersebut di atas, sebab tak semua yang dibicarakan oleh si dukun itu benar. Terkadang dia merekayasa kejadian, sering memberikan penjelasan yang tak tentu, juga menyimpang dari sastra-sastra Hindu. Bahkan terkadang menambah konflik dalam rumah tangga seseorang. Kejadian ini banyak dialami oleh masyarakat, bahkan keluarga saya sendiri pernah mengalaminya, sehingga kami pun apriori terhadap dukun alias balian. Walaupun tidak semua balian seperti itu.

Sebaiknya jika kita ingin mengetahui kelahiran dari si anak, lebih tepatnya bertanya kepada seorang pendeta, sebab pendeta memiliki kualifikasi yang tepat untuk menjelaskan perihal seperti itu karena beliau telah mendalami ajaran sastra-sastra Hindu yang berpedoman pada kitab suci Weda. Sebenarnya yang perlu kita tanyakan mengenai kelahiran si anak adalah upacara apa yang sepatutnya dilakukan, agar anak dapat tumbuh sehat secara jasmani dan rohani, serta nama yang pantas untuk diberikan kepadanya.
Filterisasi memang harus dilakukan untuk menyikapi hal ini, bukan menelan semua apa yang dinyatakan oleh Pak Balian.

Zaman dahulu, pada masa Tretha Yuga, kita ketahui bahwa peranan balian atau dukun juga sudah ada. Namun dalam kapasitas yang berbeda. Dukun dalam masa tersebut hanya mengidentifikasi masalah melalui sebuah tanda-tanda alam dan ciri-ciri dari manusia yang dibawa sejak lahir. Oleh sebab itu, maka orang di zaman tersebut banyak datang untuk meramalkan nasib anak mereka kelak akan menjadi apa.

Budaya ini terus berkembang dan mendarah daging di India hingga sekarang. Namun ilmu membaca wajah dan membaca masa depan ini sesungguhnya ada karena peran seorang Brahmana yang merupakan guru dari para Daitya, yakni Bhagavan Sukracarya. Beliau mendapatkan hal ini dari putra Bhatara Siwa sendiri, yakni Ganesha. Sukracarya bahkan mampu melihat kehancuran dalam sebuah keadaan yang jelas, dan ia juga diberkati dengan kekuatan Sanjivani, yang mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati.

Peran ini dipelajari oleh banyak Brahmana, dan turun temurun dari generasi mereka lewat banyak cabang garis perguruan. Hingga peran ini diambil alih oleh dukun dan hasilnya sekarang Brahmana di India jarang yang meramal nasib seseorang. Perbedaannya dengan di Bali adalah, jika seorang anak lahir, maka ia akan diramal, apakah ia nanti akan jadi bajingan, seorang yang budiman, saleh, terpelajar atau ia akan jadi anak yang bandel. Tujuan ini adalah untuk mendeteksi sejak dini, jika sang anak diketahui masa depannya akan melenceng dari jalan kebenaran, maka tugas orang tua mengarahkan agar hal itu dapat diminimalisasi.

Semua anak termasuk anak raja hingga anak dari rakyat biasa melakukan tradisi ini. Sri Krishna sendiri diramal oleh Garga Muni, ketika beliau masih bayi, dan sang resi mendapatkan bahwa Krishna akan tumbuh menjadi manusia yang brilian. Rama diramalkan ketika ia sudah lahir oleh Bhagavan Vasistha, dan sang Bhagavan menyatakan bahwa kepribadian Rama setara dengan Dharma. Itulah alasannya mengapa sang anak harus diramal. Rahvana mendapatkan perlakukan yang sama. Ia diramal ketika ia masih bayi oleh ayahnya sendiri Bhagavan Visrava, namun karena perlakukan ibunya bernama Kekasih yang senantiasa memberikan semen cor keburukan pada otak Rahvana, maka darah pendeta sang ayah tak menurun secara optimal lagi.

Di Bali kasusnya lebih nyeleneh lagi. Seorang anak yang baru lahir di bawa ke Balian, lengkap dengan banten. Sang balian menanyakan, kapan sang anak lahir, lalu selanjutnya ia kerauhan. Sang balian kemudian bukannya menyatakan atau mengatakan tentang masa depan sang anak, melainkan yang dibahas adalah anak ini memiliki utang di Pura Prajapati pada kehidupannya dahulu, anak ini lari dari pengawasan Bhatara Yama, dan ia jatuh ke Bumi. Anak ini lari dari tempatnya menerima sanksi dan turun ke Bumi. Yah, seperti narapidana yang lolos dari pengawasan LP. Aduh, parah sekali, dan yang lebih malang lagi, ada seorang balian yang menyatakan, bahwa anak yang baru lahir ini adalah tumitisan sang Ibu dari suaminya, dan ketika besar nanti akan menuntut balas. Wah, kok jadi ribut seperti ini sih. Masa gara-gara balian yang nggak jelas kejuntrungannya, satu keluarga jadi bentrok.

Di Desa Beng, Gianyar, pernah ada kejadian satu dadia saling musuh dan saling puikin gara-gara menanyakan kepada balian, dan jawaban balian adalah yang menjadi musuhnya adalah keluarganya sendiri. Saya apriori terhadap balian karena alasan itu, namun tidak jarang juga banyak balian yang memang benar-benar menjalankan sesana-nya dengan baik, sehingga pewisik yang didapat juga dapat dipercaya. Lalu apa yang harus dilakukan? Cukup ikuti saja perintah sastra, jika sang anak lahir, upacarai saja sesuai dengan petunjuk sastra, jangan menanyakan mengapa ia lahir, terus apa ada yang membunuh dia pada masa lalunya, dan apakah banten tebusan untuk hal itu.

Selanjutnya......

PERDALAM AJARAN AGAMA DENGAN ANUDARSANAM

Oleh Ida Ayu Tary Puspa

Agama dilandasi oleh kepercayaan dan keyakinan terhadap azas yang tertinggi yaitu Tuhan yang mengadakan kita ini beserta segala mahluk hidup yang lain.


Dalam sebuah dialektika untuk merepresentasikan kehidupan terkadang kita meragukan sesuatu. Sebagaimana halnya Arjuna dalam Bhagawadgita diliputi oleh keragu-raguan dalam berperang melawan saudara sendiri yaitu Korawa. Akan tetapi setelah dijelaskan dan diyakinkan oleh Kresna akan hakikat sebuah kebenaran akhirnya dengan hati lapang dan tuntunan Brahman Arjuna dapat melakukan tugasnya dengan baik demi tegaknya Dharma di muka bumi ini.

Sebagai orang yang beragama kita jangan pernah meragukan Tuhan sebab kalau direnungkan lebih dalam kita tidak akan pernah dapat menjawab bagaimana terbentuknya buana agung dan buana alit ini. Tak jarang kita terkesima, takjub, dan tak habis pikir akan keindahan alam ini yang tidak terlepas dari campur tangan Tuhan dalam penciptaannya (the magic finger of God). Itulah kesejatian yang sejati. Akan tetapi dalam menjalankan kehidupan ini begitu banyak orang yang menyangsikan akan dirinya sendiri dengan segala liku kehidupannya. Suatu saat orang pasti pernah sakit. Hal ini merupakan bagian dari klesa ( kelemahan atau penderitaan) yaitu vyadhi sebagaimana yang termuat dalam Bhagawad Gita adhyaya XIII sloka 8. Tidak jarang orang justru mencari alternatif atau kompensasi dari sakit yang dia derita dengan mencari orang pintar dalam hidup yang instan untuk mengobati penyakitnya bukannya mencari seorang dokter atau orang suci. Apa yang akan terjadi kalau orang itu lebih mempercayai apa kata seorang balian ketimbang mempercayai dokter atau orang suci. Fenomena inilah yang melanda masyarakat Bali dalam menghadapi berbagai kehidupan termasuk dalam menjalankan agama Hindu yang dianutnya. Kalau bertanya atau nunasang ke balian seringkali terjadi justru kesalahan-kesalahan yang akan ditimpakan kepada sebuah keluarga yang mepinunas tersebut. Bisa saja dikatakan yang menyebabkan sakit adalah keluarga dekat dalam satu rumah (istilah balian mengatakan bahwa layah sing joh tongosne teken gigine). Dampak yang ditimbulkan kalau hal itu dipercayai adalah semakin tumbuh sikap curiga dan tidak mempercayai keutuhan dengan keluarga. Hal ini pernah dialami oleh sebuah keluarga sampai membawa blakas karena balian mengatakan bahwa yang membuat dia sakit adalah ibu kandungnya sendiri. Sang ibu yang merasa tidak pernah melakukan hal itu apalagi terhadap anak kandungnya sendiri mengambil blakas juga dengan mencari balian yang menuduh dirinya berbuat seperti itu. Wah bisa dibayangkan kalau saja tidak dilerai oleh warga tentu akan terjadi pertumpahan darah. Yang lebih membuat kita tercengang adalah orang yang sudah diaben dikatakan oleh seorang balian mesti diulang ngaben lagi karena kekurangan banten. Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda dalam bukunya Pitra Pakerti (2004:6) bahwa upacara pembakaran jenazah (sawa) dan upacara pengabenan hanya boleh dilakukan satu kali saja terhadap orang yang meninggal..

Atau seseorang hidupnya tidak tenteram karena kurang membangun pelinggih. Kenapa umat mempercayai hal yang seperti itu yang belum tentu kebenarannya bisa dibuktikan dari ajaran agama maupun sastra?. Ingat bahwa balian sering maalih-alihan karena dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dan bisa pula terjadi tawar menawar. Misalnya seperti fenomena yang dilakukan seseorang setelah melaksanakan upacara ngaben adalah dengan mendatangai balian apakah orang yang diaben sudah mendapat tempat atau belum. balian akan mengatakan bahwa bekal yang dibawa orang yang diaben itu kurang, dia minta bekal uang besarnya Rp 100.000 sedangkan yang nunasang itu hanya membawa uang Rp 50.000, apa mau yah tidak apa berikan saja kata sang balian. Hal itu adalah sebuah kejadian lucu sebenarnya karena yang mendapatkan uang itu adalah baliannya sendiri. Berangkat dari hal-hal seperti itu sudah sepantasnya umat Hindu terutama yang di Bali dalam melakoni kehidupan baik itu suka maupun duka adalah dengan mau mempelajari ajaran agamanya secara baik dan menetapkan sebuah pilihan kepada kitab suci maupun orang suci.

Kita harus mengatur hidup kita agar terhindar dari penyakit dengan menerapkan pola hidup sehat. Asupan gizi yang baik dan hindari pikiran buruk karena tak jarang sakit itu muncul berpangkal dari pikiran yang buruk. Mulailah dengan mengucapkan gayatri mantram dengan japamala artinya doa-doa yang diucapkan dengan lirih dengan karangan bunga atau genitri sehingga pikuran berada dalam radius vibrasi kesucian nama Tuhan.. Duka yang dialami seseorang seperti gelisah, duka cita dalam kenyataannya tidak semua orang dapat menghadapi cobaan hidup karena itu manusia hendaknya dapat menyeimbangkan antara suka dan duka seperti yang termuat dalam butir Bhagawad Gita “sukham duhkham sama diram” artinya merenunglah secara mendalam (anudarsanam) supaya dapat mengurangi duka yang mendalam.

Berkonsultasilah kepada orang suci karena sumber hukum kita dalam menjalankan agama adalah Sruti, Smerti, Sila (prilaku orang-orang suci), Acara, dan Atmanastuti Tentu orang suci tersebut yang mampu sebagai Acarya dengan memberi pencerahan terhadap umat, agar kedudukan orang suci dengan balian memiliki skor 1:0 tidak sebaliknya seperti sekarang fenomena umat Hindu yang lebih mempercayai balian daripada orang suci dengan skor 0:1. Ini adalah sebuah tantangan ke depan bagi fenomena keberagamaan umat Hindu di Bali.

Secara bijak idealnya perbuatan dalam hidup ini harus dilandasi prama (parama, yang utama, tertinggi, paling baik) dan bhakti (penghormatan, kesetriaan) sebab bentuk pelaksanaan ajaran agama bukan hanya berwujud upacara untuk memuja Tuhan. Selain berbakti kepada Tuhan yang seyogyanya dilakukan adalah berbuat kebajikan kepada sesama manusia dan alam lingkungan. Dengan melakukan prama dan bhakti hidup manusia akan meingkat sebab dalam pengertian yang lebih luas, prama artinya menggalang cinta kasih dengan sesama manusia dan mahluk hidup lainnya sedangkan bhakti adalah pemujaan kepada Tuhan dengan penuh keiklasan dan penyerahan diri. Dengan demikian semoga kita menyadari bahwa kiita dilahirkan adalah sebagai mahluk yang mulia karena dapat membebaskan dirinya dari sengsara (Sarasamuscaya II.4).

Selanjutnya......

BEBAYUHAN MPU LEGER

Laporan I Gede Windia Berata


Dalam mengimplementasikan ajaran agamanya umat Hindu senantiasa berlandaskan pada 3 (Tiga) kerangka dasar agama Hindu, mulai dari memahami filosofis agama Tattwa, penunjukkan tingkah laku Etika serta melakukan pendekatan kehadapan Ida Hyang Widi Wasa dengan melaksanakan Upacara agama agar terwujud suatu keharmonisan dan keselarasan.

Upaya untuk mewujudkan keharmonisan selanjutnya dilakukan dengan menata tata ruang mulai dari penataan tempat ibadah untuk melakukan pendekatan kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa (Parahyangan), mengatur tata letak tempat tinggal (Pawongan) dan penataan telajakan (Palemahan) sebagai upaya untuk menciptakan suasana hening, damai dan tenteram sehingga dapat memberikan fibrasi positif pada umat dalam melaksanakan kewajiban berkaitan dengan swadharma agama dan swadharma negara.

Untuk menyikapi kondisi dimaksud, sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan agar tercipta keselarasan hidup, mulai dengan melakukan Pengenalan terhadap diri sendiri, melatih tingkat kepasrahan serta melakukan latihan Tapa, Yoga dan Samadhi agar dapat lebih meyakini akan ke Maha KuasaanNYA. Namun dapat juga dilakukan dengan melaksanakan Upacara Agama yang berlandaskan pada Sastra Agama untuk mensinergikan sifat Satwam, Rajas dan Tamas pada diri melalui Upacara Bebayuhan.

Sehingga pada tanggal 6 Februari 2010 Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Kecamatan Gianyar berupaya memfasilitasi pelaksanaannya dengan melibatkan umat yang diberkati kelebihan dana, pengetahuan (Sebagai Pendahrma Wacana), tenaga/ketrampilan (Para Undagi), peralatan (Gong dan kelengkapan lainnya), potensi seni (Wayang, Topeng, Wirama dan Penabuh) serta kemampuan untuk membuat sarana upacara oleh Para Sharati melalui ketulusan niat dengan konsep Ngayah atau melakukan Saewa/Pelayanan sebagai perwujudan Sradha dan Bhakti Kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa / Tuhan beserta manifestasiNYA. Dan hal ini merupakan program kerja MGPSSR Kecamatan Gianyar
Peserta bayuh oton sapuh leger sebanyak 195 orang terdiri dari umat Hindu yang berasal dari wilayah Kabupaten Gianyar, Klungkung dan Bangli. Dengan anggaran biaya sebesar Rp. 20.000.000,- yang bersumber dari yadnya peserta yang sifatnya tidak mengikat dan dana punia dari umat sedharma.

Dilakukan Upacara Bayuh Weton Sapu Leger adalah untuk membatu umat sedharma yang belum mampu melaksanakan upacara secara perorangan. Upacara bebayuhan memiliki makna untuk menetralisir berbagai pengaruh yang kurang baik pada diri manusia dan dalam pelaksanaannya, upacara ini sering dikaitkan dengan waktu/hari kelahiran seseorang.

Bayuh memiliki sepadan kata bayuh yang dalam bahasa Bali berarti sejuk sehingga bayuh dimaksudkan untuk menyejukkan diri manusia dari hal-hal yang bersifat kurang baik atau panas terkait dengan waktu kelahiran seseorang. Sedangkan kata ruwatan berasal dari kata ruwat yang berarti menyucikan. Sehingga untuk upacara bebayuhan dilaksanakan juga penglukatan yang berfungsi sebagai upaya pembersihan diri secara spiritual.

Dengan demikian pelaksanaan upacara bayuh atau ruwatan memiliki makna penyucian atau pembersihan, terlebih bagi seseorang yang lahir pada Wuku Wayang sering dianggap sebagai anak Sukerta yang akan menjadi santapan Bhatara Kala dan untuk menetralisir hal dimaksud, seseorang yang terlahir pada wuku Wayang harus dilukat dengan Penglukatan/Bebayuhan Weton Sapu Leger.

Sebelumnya upacara dilakukan di rumah masing-masing yakni pada tanggal 31 Januari 2010 sampai dengan tanggal 5 Pebruari 2010 namun untuk sarana upacara tertentu disediakan oleh panitia penyelenggara. Sedangkan Hari Sabtu, 6 Pebruari 2010 seluruh peserta Upacara Bayuh Weton Sapu Leger secara bersama-sama mengikuti pelaksanaan upacara mulai pukul 14.00 Wita sampai selesainya Upacara, dengan memakai pakaian adat madya dan membawa busana pengganti berwarna putih kuning. Bertempat di Jalan Tukad Melangit Belakang Kantor PDAM Kabupaten Gianyar. Sebagai Wiku Tapini adalah Ida Pandita Mpu Nabe Istri Griya Pemacekan, Siangan. Sebagai Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Purwanatha, Griya Pemacekan, Siangan dan sebagai pemuput dalam pelaksanaan upacara ini: Ida Pandita Mpu Nabe Purwanatha, Griya Pemacekan, Siangan, Gianyar, Ida Pandita Mpu Catur Dharma Daksa Natha, Griya Sebatu, Tegallang, Ida Pandita Mpu Jaya Dangka Sukerta,, Griya Giri Kencana, Sumampan, Sukawati

Sebagai Pemuput upacara adalah Ida Pandita Mpu yang memiliki kualifikasi sebagai berikut: Amengku Dalang Brahmana ( Panditta sebagai Dalang yang disebut Ida Mpu Leger), Mampu menguasai Tattwa atau Dharma Pewayangan, Menguasai beberapa mantram penglukatan seperti “ Agni Nglayang, Asta Pungku, Dangacharya, Penglukatan Penyapuh Leger serta mantram penglukatan lainnya, Menguasai gagelaran sebagai seorang Panditta (Sulinggih sebagai Siwa, Sadda Siwa, dan Parama Siwa)

Selanjutnya......

Membangun Vasudaiva Kutumbakam Pada diri Anak dengan Agniotra

Laporan Nyoman Tika


Udara senja hari berdesir sejuk menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika memasuki asrama SMP Guru Kula Bangli, yang letaknya dikaki bukit di Desa Kubu Bangli. Sebuah sekolah yang dibangun dengan nafas Hindu oleh Bupati Bangli I Nengah Arnawa itu, seakan bercerita banyak hal tentang sebuah pendidikan Hindu yang sering dilupakan oleh pejabat Hindu di Indonesia ini. Kesan bahwa sekolah ini sebagai penyangga kebudayaan Hindu modern sungguh nampak dalam tatanan pola sederhana para penguninya, yang kebanyakan para tunas-tunas bagsa yang didik dengan budaya sradha dan bakti.

Disuatu senja dilaksanakan upacara agnihotra, Nampak anak-anak asram dengn sigap melakukan persiapan. Mereka membawa beberapa peralatan upacara, mereka tampak dengan sigap melayani para tamu, yang sengaja diundang oleh Bupati Bangli. Mereka melayani dengan tulus dan bakti. Di koridor itu, penulis yang diundang secara khusus teringat pesan guru, “Rahmat Tuhan tidak akan mudah dicapai ketika perasaan “Aku” atau Ahamkara berada dalam dirimu. Setiap orang, baik yang berpendidikan atau tidak, seharusnya merasakan keinginan yang mendalam untuk mengetahui Tuhan. Tuhan memberi perhatian yang sama pada semua anak-anaknya, karena menerangi adalah sifat alami dari cahaya”. Anak-anak SMP guru kula itu sedang menunjukkan pelayanannya, mereka sama dengan penulis, dan juga sama dengan Bupati, identik juga dengan kepala sekolah mereka Arsada, yakni sama-sama mencari cahaya dengan belajar melepaskan sang “aku” dalam diri personal. Untuk menggapai cahaya semesta, lalu akhirnya ingin menjadi cahaya bagi banyak kehidupan di sekitarnya.

Agniotra adalah sebuah wahana untuk mencari cahaya, diri personal mencari cahaya alam yang maha tak bertepi, literleknya dengan cahaya ini, seseorang dapat melakukan banyak hal untuk mengarungi jeram kehidupan yang tak pernah terduga, lalu dengan cahaya kita bisa membaca buku-buku yang baik atau melakukan perbuatan yang terpuji. Cahaya adalah rahmat Tuhan. Kita tidak boleh menggunakan Cahaya ini (Rahmat Tuhan) untuk tujuan yang salah. Kita harus menchantingkan Nama Tuhan untuk kemajuan spiritual kita di jalan Tuhan. Itulah yang saya amati dapat dilakukan dalam setiap nafas pelaksanaan agniotra bersama anak-anak, yang tumbuh dan berkembang sebagai muiara tunas masyarakat. Dalam agniotra , pembakaran terjadi, dan bukan hanya untuk kayu bakar, gee, ataupun susu, namun yang terpenting adalah pembakaran ego, nafsu, ketamakan, dan keakuan yang berurat dan berkar dalam jejaring kisi –kisa hati kita yang terdalam. Sebab bila Aku itu muncul maka segala sesuatu yang diperbuat ibarat mempersembahkan buah berulat di atar suci Tuhan.

Bupati Bangli, I Nengah Arnawa, sesuai dengan namanya, arnawa sama air, sebagai air berfungsi untuk menyejukkan masyarakat luas, sekaligus dapat menyemaikan bibit generasi untuk tumbuh menjadi tiang penyangga masyarakat, khususnya untuk Bangli dan umat manusia pada umumnya.

Penulis sangat terpana memandang cara–cara yang dikembangkan oleh Arnawa, apa lagi melibatkan anak-anak didik SMP yang siap menjadi generasi penuh bakti. Mereka sangat bahagia dan sangat senang dapat terlibat langsung mulai dari persiapan sampai upacara ini berlangsung. Salah satu dari mereka dengan polos mengungkapkan kepuasannya dapat diberi kesempatan untuk belajar di Gurukula ini. “kami sangat senang belajar disini, ada banyak hal yang dapat ditemui di sini, tentang Bali, tentang kesenian, dan juga tentang budaya Weda”, katanya dengan polos.

Perpaduan antara budaya India (Weda) dengan budaya Bali terdapat dalam acara ini. Terdengar beberapa siswa melantunkan palawakia, menari dengan penuh bakti, melayani tamu untuk makanan, minum kopi, sungguh luar biasa. Konsep Vasudaiva kutumbakam, seakan menjelma menjadi kenyataan di SMP Gurukula lebih-lebih saat pelaksanaan agniotra.

Di sanalah didapatkan pengejahwantahan tentang sikap, dan tata laku nilai budi pakerti, yang harus anak-anak lakukan maupun harus dihindari. Sekan-akan kata bijak ini muncul dalam diri anak-anak itu, “Tiada penyakit yang lebih fatal daripada ketamakan. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kemarahan. Tiada kesedihan yang lebih menyiksa daripada kemiskinan. Tiada sukacita yang lebih besar daripada kebijaksanaan” adalah selalu menjadi harapan dalam setiap gerak I Nengah Arnawa sebagai suluh dan perilaku sebagai Bupati Bangli sampai saat ini, dan sering beberkan perihal itu, dan betapa beliau ingin membangun generasi Bangli yang ajeg terhadap nilai-nilai luhur Weda.

Apa yang membuat konsep vasudaiva kutumbakam menyatu dengan jiwa anak lewat agniotra, ada banyak mutiara sikap yang dapat dipetik. Sebagai pelaku pendidikan dan peminat kehidupan spiritual ditemuan mutiara di SMP Gurukula, betapa upacara agniotra dapat menjadi wahana implementasi konsep vasudaiva kutumbakam. Yaitu melalui pelayanan, hormat dan juga bakti, dengan tiga konsep itu maka barulah bisa menganggap bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga atau global village, meminjam konsep yang dikemukakan Marshall McLuhan, benar-benar terjadi.

Konsep global village dengan agniotra menjadi semacam inisiasi jiwa dengan udara semesta dari api pemujaan, disanalah kesadaran diri yang muncul dari roh jiwatman mendesir melantunkan ayat suci yang tak pernah lekang, “Tvameva maataa cha pitaa tvameva. Tvameva bhandushcha sakhaa tvameva. Tvameva vidyaa dravinam tvameva. Tvameva sarvam mamadeva deva.”(‘Oh Tuhan, Engkau ibuku, Engkau ayahku, Engkau kerabatku, Engkau sahabatku, Engkau kecerdasan-Ku, Engkau hartaku, Engkau segala-galanya bagiku)’.

Kesadaran energi kosmis yang membuncah dalam diri, akan memudahkan kita mendulang mutiara kebajikan dalam mengasah batu yang mengandung intan yang berserak di ladang masyarakat yang luas dan universal. Seberkas cahaya mutiarayang menggambarkan vasudiva Kutumbakam itu dapat digapai melalui beberapa kaidah dan adagium , mendengarkan dan mengamati sikap, prilaku tunas penerus generasi kita. Saya rangkup untaian muatiara itu dalam beberapa butir, yaitu.: Pertama, menggunakan nama panggilan yang baik. Nama panggilan yang kurang baik akan menyebabkan anak kita malu dan merasa rendah diri. Di SMP Guru Kula tidak ada istilah nama jelek (wada-wadaan), mereka dipanggil dengan nama yang utuh dan hormat. (Dalam Hindu berilah nama-nama anakmu dengan nama yang menyebabkan kita teringat dengan nama Tuhan, dengan demikian, dengan menyebut nama anak kita, sekaligus kita juga melaksanakan namasmaranam.

Kedua, anak anak dipanggil dan setelah mendekat diberi sentuhan pada pundaknya, dan juga diberikan pelukan dengan penuh kasih sayang. (Kajian menunjukkan anak yang dipeluk setiap hari akan mempunyai kekuatan IQ yg lebih kuat daripada anak yang jarang dipeluk). Ketiga,sebagai seorang guru, saya melihat para guru di SMP Gurukula, terutama kepala sekolah (I Wayan Arsada) memandang anak-anak guru kula dengan pandangan kasih sayang (Pandangan ini akan membuatkan anak –anak lebih yakin akan kekuatan pada diri sendiri apabila berhadapan dengan dunia sekitarnya ). Keempat, Saya melihat bila anak-anak berbuat baik , para guru memberikan peneguhan , artinya peneguhan setiap kali anak –anak berbuat kebaikan. Nampaknya itu semua sesuai dengan pesan, berilah pujian, pelukan, ciuman, hadiah ataupun sekurang-kurangnya senyuman untuk setiap kebaikan yang dilakukannya).

Kelima, saya memperhatikan, apapun yang dilakukan oleh anak-anak tidak harus sempurna, dan Janganlah mengharapkan anak anda yang belum matang itu melakukan sesuatu perbuatan baik secara maksimal dan kontinyu, mereka hanya kanak-kanak yang sedang berkembang. Perkembangan mereka membuatkan mereka ingin mengalami setiap perkara termasuk dalam mengubah sikap.

Keenam, dalam pengamatan saya di SMP Guru kula, ada semacam pesan yang agung yang saya tangkap sebagai orang tua dan guru, yaitu apabila anda berhadapan dengan masalah kerja dan keluarga, pilihlah keluarga. hal ini senada dengan sebuah tesa bahwa anak-anak terus membesar. Masa itu terus berlalu dan tak akan kembali, oleh karena itu berikan contoh yang baik bagimana semua haluk adalah bersaudara, lahir menjadi keluarga besar dunia” vasudaiva Kutumbakam.

Khabar indahnya dalah sebagai orang tua diharapkan kita berpegang teguh pada keyakinan bahwa orang yang sedang tenggelam, bahkan sebatang buluh pun bisa dipakai untuk menolongnya. Demikian juga, bagi orang yang sedang berjuang di lautan samsara (kehidupan duniawi), sedikit kata-kata bijak dari seseorang bisa menjadi pertolongan yang luar biasa.

Lalu, di dimensi itu , tidak ada satu pun perbuatan baik yang tidak berguna. Demikian halnya, setiap perbuatan buruk pasti ada akibatnya. Jadi, berusahalah sekuat tenaga untuk menghindari jejak keburukan sekecil apapun dalam segala perbuatan kita, karena itulah rekam jejak yang sedang diamati orleh anak-anak kita.
Saya kutipkan pesan guru saya untuk menutup tulisan ini, “ Jagalah selalu agar penglihatanmu selalu suci, isilah telingamu dengan kata-kata Tuhan dan jangan biarkan ia mendengarkan segala macam fitnahan. Pergunakanlah lidahmu untuk mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, baik dan benar. Ingatlah selalu pada Tuhan. Usaha yang demikian secara terus-menerus pasti akan memberimu kemenangan besar. Semoga pikiran baik datang dari segala segala arah. Om Nama siwaya. ***

Selanjutnya......

Jika Tak Bertemu Tuhan di Hati, Dimanapun Tuhan Tak Akan Ditemukan

Laporan Made Mustika


Tuhan bersemayam di hati setiap makhluk. Lahir sebagai manusia hendaknya tidak disia-siakan. Jika manusia belum bisa berjumpa Tuhan di hatinya, maka kemana pun mencari Tuhan tidak akan ditemukan. Tuhan itu berada dekat sekali dengan kita. Tidak perlu dicari jauh-jauh. Sekiranya Tuhan belum ditemukan di hati, itu disebabkan karena jiwa manusia tertutup oleh nafsu, kesombongan, dan keserakahan. Banyak orang kehidupannya diabdikan untuk ketiga hal itu. Ketahuilah, nafsu, kesombongan, dan keserakahan adalah jebakan kehidupan. Akan sangat berbahaya kalau ketiga hal itu menguasai seseorang. Kehidupannya akan kering dan semakin menjauh dari kedamaian.

Demikian antara lain dikatakan Kordinator Wilayah VII Pengurus Pusat Sai Study Group (SSG) Gusti Ngurah Eka Yudhana ketika memberikan sambutan dalam acara peresmian atau launching Center SSG Singaraja pada hari Minggu, 14 February 2010 di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Center atau tempat bhajan secara umum boleh dikatakan sebagai tempat sembahyang para pengikut Sai Baba. Tapi berbeda kondisinya dengan pura. Jika pura bersifat terbuka, maka center bersifat tertutup dalam artian beratap sehingga dalam cuaca bagaimanapun bhajan tetap bisa dilaksanakan. Istilah center mungkin mengadopsi dari bahasa Inggris, sebutan resmi untuk kompleks gedung itu adalah ashram. Nama lengkapnya adalah Ashram Prasanthi Denbukit. Center atau ashram SSG yang berlantai dua itu berdiri di atas lahan 10,6 are. Sedangkan luas lahan yang dimanfaatkan untuk bangunan center sekitar 20 x 15 meter persegi, dibuat berlantai dua. Pembangunannya dimulai 2006. Untuk kegiatan bhajan menempati lantai dua, berlangsung setiap Kamis dan Sabtu malam. Acara peresmian center tersebut dilakukan di tempat bhajan.

Di lantai dua itu, setiap mereka bhajan akan duduk teratur dan rapi menghadap altar. Laki-laki dan perempuan terpisah duduknya. Laki-laki di sebelah kanan sementara perempuan di sebelah kiri. Tidak boleh bercampur. Bayangkanlah garis imajiner yang seolah membagi ruangan itu menjadi dua bagian sama. Itulah yang menjadi pembatas antara laki-laki dan perempuan. Walau hanya garis imajiner, lintasan pembagi itu tidak boleh diduduki sama sekali oleh bhakta (umat). Mengapa demikian? Mereka meyakini, Bhgawawan Sri Sathya Sai Baba ketika dipuja akan datang secara gaib dan melewati garis tersebut. Di sebelah kiri altar (atau sebelah kanan dari posisi umat duduk) dipasang kursi kosong yang tak boleh diduduki sama sekali. Malah harus dihormati. Pertanyaan yang sama mungkin akan diajukan, mengapa demikian? Kursi kosong yang bagus dan terawat baik itu akan menjadi tempat duduk Bhagawan Sai Baba. Sekadar diketahui, altar itu dibuat paling depan dengan posisi tengah. Di altar tersebut dipasang potret diri Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dalam ukuran besar. Bagi anggota SSG, tokoh yang dipajang itu adalah orang suci yang diyakini sebagai awatara. Karena itu mereka memujanya. Di rumah para bhakta gambar Bhagawan juga dipasang dan dipuja. Orang-orang non-SSG akan mengasosiasikan peribadatan mereka sebagai menyembah orang biasa.

Boleh jadi orang lain akan tersenyum atau bahkan tertawa menyaksikan pemandangan demikian. Karena secara kasat mata Sai Baba sama sekali tidak terlihat berjalan di ruangan itu. Juga tidak terlihat duduk di kursi yang telah disediakan. Tapi para penyembah Baba meyakini sepenuhnya bahwa Bhagawan hadir tiap kali dilakukan bhajan.

Bagi mereka yang bukan anggota SSG, sah-sah saja menyebut keyakinan para pengikut Sai Baba sebagai keyakinan menyimpang. Tapi syukurlah keyakinan seseorang atau kelompok orang tidak boleh diadili. Jika keyakinan mereka itu dianggap dangkal dan bodoh, namun faktanya para pengikut Sai Baba kebanyakan kaum pendidik dan kaum terpelajar lainnya. Ada sejumlah dosen baik yang bergelar S-2 dan S-3 lengkap dengan profesornya. Tidak terhitung kalau guru sekolah menengah dan dasar. Juga banyak bergabung para profesional seperti dokter dan dokter spesialis. “Saya pernah mendengar celetukan miring gara-gara ikut Sai Baba. Saya dikatakan profesor yang bodoh karena mau menyembah manusia. Tapi saya tidak marah. Kalau saya dikatakan menyembah manusia, lantas yang lain menyembah apa? Apa mereka menyembah Tuhan? Apa mereka pernah melihat Tuhan? Juga tidak. Yang terlihat kasat mata ada orang menyembah batu paras,” tutur Prof. Wayan Jendera, SU, sesepuh SSG dan juga pengurus PHDI Bali ketika memberikan dharma wacana. Semuanya akan absurd bila penilaian berdasarkan pnglihatan semata.

Raditya dalam beberapa kali ikut bhajan tetap saja tak pernah melihat Bhagawan Sathya Sai Baba melintas dan duduk di ruangan bhajan. Namun tak setitik pemikiran pun ingin menghakimi para bhakta tersebut. Sia-siakah keyakinan para bhakta itu? Sekali lagi tak mudah menilai keyakinan seseorang/kelompok hanya berdasarkan penglihatan sekilas. Apalagi penilaian yang didasarkan prasangka. Kesenjangan itulah yang menyebabkan kelompok-kelompok spiritual sampai kini masih “dimusuhi” oleh umat Hindu tradisional. Ketika SSG Singaraja berdiri pada awal tahun 1992, mereka harus melakukan bhajan secara sembunyi-sembunyi di rumah penduduk. Berpindah-pindah dari rumah bhakta yang satu ke rumah bhakta yang lainnya. Intel dari kejaksaan berkali-kali mendatangi mereka. Namun rupa-rupanya Bhagawan Sri Sathya Sai Baba memberkati dan melindungi umatnya yang teguh hati. Terbukti, delapan belas tahun kemudian mereka telah memiliki center yang sangat bagus.

Ketua SSG Singaraja Drs Nengah Suteja menjelaskan, pembelian lahan dan pembangunan center tersebut dimulai dari Rp 0. Jika saja mereka terus memikirkan soal biaya, mungkin sampai kapanpun mereka tak akan memiliki center. Dengan keyakinan penuh bahwa Baba berada di belakang rencana itu, akhirnya center yang bernilai Rp 2 milyar terwujud. Dengan selesainya center yang baru itu, Baba seakan menjawab keragu-raguan orang khususnya yang masih sanksi akan keawataraannya selama ini.

Serangkaian launching itu, SSG juga telah memperkenalkan upacara agnihotra kepada masyarakat dan tokoh-tokoh Desa Panji, yang digelar 12 Februari 2010. Ketua panitia Dr. Wayan Redana menjelaskan hal itu. Ia adalah bhakta Baba yang menjadi dosen kimia di Undiksha Singaraja. PHDI Buleleng Drs. Putu Wilasa secara terbuka mengaku kalah segalanya dengan SSG Sekretariat PHDI yang diberi pinjam oleh Pemkab Buleleng sangat tidak sebanding dengan center yang dimiliki SSG Singaraja. Kondisi itu tercipta karena masyarakat seolah tidak ikut memiliki PHDI. Sedangkan di SSG semua bhakta ikut bertanggungjawab dan berkontribusi. Padahal, “massa” PHDI adalah semua umat Hindu. Sedangkan SSG hanya bagian kecil dari keseluruhan umat. Toh SSG bisa membangun yang jauh lebih hebat dari yang bisa diusahakan oleh PHDI. Pernyataan Putu Wilasa tersebut kemudian disambung oleh Wayan Jendera. PHDI Bali memang punya sekretariat, namun relatif kecil dan kondisinya perlu direhab oleh karena atapnya sudah bocor di sana-sini.

Lantai dua center SSG Singaraja itu dipakai untuk kegiatan bhajan, sementara di lantai dasar akan digunakan untuk pendidikan taman kanak-kanak (TK), balai pengobatan, perpustakaan, dan usaha. Namun semua itu masih dalam rencana. Walaupun masih rencana, tapi bukanlah rencana di awang-awang. Rencana itu tampaknya segera akan direlaisir. SSG Singaraja ingin mengikuti SSG Denpasar. SSG Denpasar sudah lama bisa mewujudkan TK dan SD. Juga ada pelayanan medis bagi masyarakat umum yang diberikan secara gratis seminggu sekali. Ke depan SSG Denpasar berencana mendirikan SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Jika semua rencana itu terwujud, maka ketertinggalan PHDI akan semakin jauh.

Tuhan memungkinkan berwujud dalam bentuk apapun. Awatara Wisnu pertama adalah berwujud ikan (matsya awatara), apalagi kalau Tuhan berwujud manusia tentu sangat logis. Tuhan juga menghuni badan kita. Jadi Tuhan tak perlu dicari jauh-jauh. Beliau ada di hati kita. Hanya manusia yang dibutakan oleh nafsu yang tak bisa menemukannya.

Selanjutnya......

Harmonisasi Kepentingan Agama dan Adat

Oleh IGN. Nitya Santyarsa

Agama yang dianut masyarakat dan tradisi yang hidup di masyarakat memiliki hubungan yang sangat kuat, di mana nilai-nilai agama menjadi dasar terbentuknya tradisi.


Menjadi dasar acuan dan sumber inspirasi bagi kegiatan yang dilakukan masyarakat termasuk juga apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat. Misalnya di Bali, mayoritas adalah pemeluk Hindu, sehingga tradisi yang berkembang bercirikan nilai-nilai Hindu.

Hal ini dapat dilihat, seperti bahasa, di mana pada bahasa Bali banyak terdapat kata-kata Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam Veda. Demikian juga dalam kesenian, seperti tari- tarian Bali secara prinsip sama dengan tari India, jadi tarian Bali banyak dipengaruhi oleh tarian India. Demikan juga seni sastra, karya sastra yang ada di Bali seperti cerita Ramayana dan Mahabharata berasal dari India. Bentuk tradisi yang lain seperti hubungan kekerabatan dan perkawinan yang terdapat di Bali merupakan hasil penyesuaian dengan ajaran Hindu.

Namun, tidak semua tradisi bersumber pada ajaran agama, sebagian berkembang melalui kesepakatan bersama dan sebagian lagi melalui kepentingan kelompok dalam masyarakat. Jadi dalam tradisi bisa juga terdapat ketidaksesuaian dengan nilai agama yang dianut, bahkan bisa juga bertentangan dengan ajaran agama. Jadi hubungan agama dan tradisi semestinya dicermati oleh semua orang, jangan mencampuradukkan atau menyamaratakan agama dan tradisi begitu saja. Mengenai hal ini kita bisa belajar dari apa yang dikatakan Mahatma Gandhi, Bapak Kemerdekaan India dan tokoh ahimsa. Ia berujar, ”Sungguh senang berenang di lautan tradisi, namun janganlah sampai tenggelam di dalamnya.” Menyikapi hubungan agama dan tradisi, sepatutnya kita belajar agama dengan sungguh-sunguh, kemudian menjalankan tradisi sewajarnya disesuaikan dengan ajaran agama dan perkembangan jaman yang terjadi, jadi jangan sampai terjebak pada rutinitas tradisi yang beku dan tidak memberikan kemajuan.

Di Bali hingga kini adat atau tradisi lebih dominan berkembang di masyarakat. Hal ini wajar, karena dulu Bali sempat terisolir selama beberapa abad dengan dunia luar terutama dengan India, sehingga perkembangan agama Hindu di Bali terhambat. Pada waktu itu sedang terjadi penyebarluasan agama Islam dan Kristen yang pesat di Nusantara. Dalam keadaan demikian, pengajaran agama Hindu di Bali lebih banyak dikemas dalam tradisi, seperti upacara (ritual), upakara, awig-awig dan kesenian.
Sebaliknya, tidak ada pendidikan agama yang bersifat langsung seperti melalui pesraman. Masyarakat menerima pendidikan agama secara tidak langsung, yaitu melalui berbagai cerita rakyat, mitos, kesenian dan tentunya melalui lembaga tradisonal, seperti desa pekraman dan banjar. Sehingga selama ini, desa pekramanlah memegang peranan penting dalam pelestarian ajaran Hindu melalui tradisi. Lembaga ini mengatur hampir semua aspek kehidupan orang Bali, baik itu dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarsesama dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya.

Masyarakat desa pekraman relatif bersifat homogen, jika ditinjau dari jenis suku dan kebudayaannya. Di desa pekraman hanya ada orang Bali dan tradisinya, kalaupun di Bali ada suku dan agama yang lain, mereka umumnya tidak terlibat atau tidak terkena peraturan dan tradisi setempat. Strategi pelestarian Hindu melalui desa pekraman cukup efektif selama beberapa abad terakhir, namun segera mendapat tantangan besar setelah era globalisasi terjadi. Masyarakat di Bali telah berubah menjadi masyarakat heterogen, baik dari suku dan agama, ditambah lagi mobilitas penduduk yang tinggi serta waktu yang makin sedikit untuk bertradisi. Semua ini menjadikan kontrol desa pekraman menjadi lemah. Konsekuensinya, pengajaran agama Hindu melalui tradisi menjadi kurang greget. Hal ini bisa dilihat dari fenomena banyaknya umat Hindu yang pindah keyakinan.

Untuk mengatasi masalah ini, pemberdayaan desa pekraman mesti dilakukan, namun hal ini belum cukup, karena baru bersifat kebertahanan. Harus ada upaya pemberdayaan yang bersifat progresif, yaitu pengembangan pesraman. Pengajaran agama melalui pesraman diyakini mampu menunjang peran desa pekraman, bahkan jika bijaksana bersikap, kedua lembaga ini akan bekerja sinergis memberdayakan umat Hindu. Pesraman ini sebaiknya ada di bawah binaan dan lindungan PHDI bersama Depag, sedangkan desa adat di bawah naungan MUDP dan Pemda. Kebijakan selama ini yang hanya membantu desa pekraman kurang tepat, jadi sebaiknya kedua lembaga, yaitu lembaga agama dan lembaga adat mesti dibantu, jangan pilih kasih. Jika desa pekraman saja dibantu, masyarakat Bali bisa-bisa makin terkungkung dalam rutinitas tradisi, layaknya berada di suaka alam. Jika lembaga agama saja dibantu, masyarakat Bali bisa kehilangan jatidiri.
Jadi, kedua lembaga beserta kewenangannya mesti didukung dengan adil dan bijaksana.
Masih ada lagi persoalan yang menghadang, yaitu di Bali belum ada lembaga agama yang mengakar kuat ke masyarakat. Lembaga seperti PHDI memiliki kewenangan dan akses yang terbatas bila dibandingkan MUDP, sedangkan organisasi lain seperti pesraman, pusat kajian, organisasi kepemudaan dan sebagainya jumlahnya sedikit dan sebagian besar tidak terdaftar resmi. Sangat beda kondisi ini dengan umat beragama lain seperti Islam dan Kristen, di mana peranan mesjid dan gereja sangat besar dan kuat. Kebutuhan umat dilayani dengan baik oleh lembaga agama yang mereka bentuk. Hal ini menjadi PR bagi umat Hindu ke depan, bagaimana memberdayakan lembaga agama agar bisa menjadi mitra seimbang dan harmonis bagi lembaga tradisional. Semua ini kita lakukan demi kepentingan umat Hindu dan masyarakat Bali sendiri untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.Om, Namo Siva-Budhaya!

Selanjutnya......

Duryodana antara Kebohongan dan Penipuan Kekuasaan

Oleh Luh Made Sutarmi

Udara dingin namun terasa menusuk dada para Pandawa pasca-judi dadu berdesir kembali.


Keputusan Raja Drestarasta sudah digelontorkan, bahwa Pandawa harus menjalani pembuangan selama 13 tahun di hutan. Namun, Duryodana masih meresidukan kegundahan di tengah klaim beberapa anggota Kerajaan Astina, bahwa hukuman itu tak pantas, Itu berarti pemiskinan atas nama negara sedang terjadi bagi warga bangsa. Dan, Duryodana mengatakan bahwa pembuangan sudah menerapkan hukuman yang efektif. Disanalah negara berkecamuk memegang peranan untuk penegakkan kebenaran atau memberi kemakmuran, kedua sedang samar. Kalau mau jujur, kebijakan negara sedikit pun tak menyurutkan derap badai kemiskinan yang menerjang tubuh bangsa Kuru dalam masa kekuasaan Drestarasta.

Di negara Astina, masih tampak bocah-bocah terganjal kelaparan. Dibeberapa wilayanya masih ada warga yang mengungsi ke hutan-hutan untuk sekadar mencari umbi alas perut. Bahkan ruang gerak orang miskin di ibu kota kerajaan dihambat peraturan yang disahkan untuk antirakyat miskin. Kemiskinan 'diatasi' dengan membiarkan rakyat tercerabut dari ruang kemanusiaannya. Sementara itu, pemerintah terus sibuk membangun citra, propaganda, dan selaksa pesona dari bilik istana Astina, agar Duryodana dapat menjadi penerus kerajaan Astina, dan bukan Yudistira

Duryodana secara sadar sedang mengonstruksi suatu kebijakan-kebijakan kapitalistik berwajah humanis. Kebijakan politik sumir yang mendekorasi berbagai ketidakadilan, ketidakpopulisan, dan ketidakberpihakan dalam skema 'normativitas' demokrasi yang terus mengganggu kinerja negara sebagai fungsionaris publik sesuai dengan Undang_Undang dasar yang memang tidak pernah ditaati dari Kitab Kutara Manawa Dharma sastra, namun dendam Duryodana menjadi hukum dasar kebijakan Raja Drestarasta untuk mengambil keputusan . Pada kondisi demikian, dapat dimengerti kenapa eksistensi para petani dan buruh yang terancam ambruk dilanda badai persaingan terus brgulir.

Widura yang tahu hukum tak pernah didengar dengan hati lapang, namun hati yang dibungai oleh egoisme yang terjal, sehingga bangsa Kuru terus tergelincir di lumpur nadir kematian moralnya. Institusi hukum menjadi pasar yang dibeceki transaksi fulus dan kepentingan liar yang menggundukkan kemasygulan rakyat. Degradasi hukum sporadis membuat kerajaan ini sempat tidak mampu membopong orang, seperti Drupadi kepada sebuah idealitas keadilan. Mereka tercakar rakuisme hukum dengan nurani, akal sehat dibabat mesin uang makelar kasus dan kaum oportunis kerajaan yang sering loncat pagar dalam sepinya morilatas bernegara.

Saat yang seperti itu, Yudistira yang sudah kalah dalam perjudian mendekati kakek Bisma, sambil berucap lirih, “ Kakek hidup seperti apa ini namanya, istri hamba telah dipermalukan, negara dan hak atas tanah kami telah dirampas dengan sebuah akal-akalan, apa yang aku lakukan kakek?

Kakek Bisma berkata, Yudistira, yang aku sayangi, aku memang tidak memiliki anak secara ideologis engkaulah anak-anak yang pantas menjadi anak-anaku, aku tidak menyesal untuk tidak menikah, namun kakek bahagia memiliki dirimu. Pesanku adalah ketika engkau berusaha mengingat kembali saat menjelang tidur, kejadian-kejadian pada hari itu, semua hal yang telah berlalu, engkau hanya akan mengenang hal-hal yang penuh makna, hal-hal yang sangat berkesan di dalam hatimu. Kejadian lainnya yang tidak mengesankan akan menjadi kabur, luruh dan lenyap dari ingatan. Teguhkanlah dirimu dengan keyakinan yang kuat bahwa segala penderitaan dan beban berat di dunia ini adalah khayal dan sementara adanya. Pusatkanlah pikiranmu dengan keras pada kenyataan yang utama ini dan berangkatlah dengan penuh keberanian menapaki jalan Sadhana (latihan spiritual), mengarungi perjalanan tak kenal putus dalam mengabdikan diri kepada Tuhan,

Yudistira mengangguk, kemudian bertanya kembali : kakek, kami tidak pernah merasakan kebahagian dengan ayah kami, sejak kecil ayah kami telah pergi, dalam keadaan yatim kami meraba kakimu dan kakek lah yang kami anggap sebagai ayah kami, namunsaat ini kami lemah dan seakan semua kemampuan untuk hidup hilang bersama angin setelah kami kalah berjudi, kakek, kakek apa yang harus aku lakukan? Bisma berkata, “ Usaha keras yang terus-menerus dan penuh disiplin sepanjang hidupmu sangat diperlukan untuk menjamin tercapainya tujuan spiritual. Pikiran harus terus diarahkan untuk bisa melakukan perbuatan baik. Setiap orang harus menyelidiki dirinya sendiri secara teliti, menemukan kelemahan diri dan memperbaikinya. Kalau seseorang menemukan kelemahan diri dan membukanya, itu bagaikan terlahir kembali. Ini adalah saat utama tercapainya Kesadaran. Maka dari itu, jalanilah hidup dengan menghindari perilaku yang buruk dan penuh kebencian, pikiran jahat dan jangan terikat pada keduniawian. Jika engkau hidup seperti itu, saat terakhir hidupmu akan menjadi suci, menyenangkan dan terberkati.

Yudistira, bertanya penuh harap lagi, Ya,kakek, ada kah pesan terakhir dari kakek untuk kami sebelum kami berangkat menuju pembuangan? Bisma, Orang tua yang gagah perkasa, yang tahu perhitungan hari, dan yang mengerti baik dan buruk hari berkata dengan tenang, “ya anak-anakku, saat ini hari dimana engkau dapat melaksanakan sebuah kajian yang baik untuk merenungi kekeliruan yang engkau lakukan. Pesanku terakhir Setiap malam datang ditandai dengan hadirnya kegelapan. Namun satu malam yang paling gelap, merenungi untuk kekuatan Shiva, malam itu disebut Shivarathri (malam suci Shiva). Yudistira bertanya, Apakah perbedaan antara rathri (malam) dan Shivarathri? Bisma menjelaskan lagi“ Bagi mereka yang telah menyadari keillahian Tuhan, setiap malam adalah Shivarathri. Bagi mereka yang tenggelam dalam hal-hal keduniawian, setiap malam adalah sama saja. Malam tersebut ditandai dengan kegelapan. Malam ini ditandai dengan penerangan. Spiritualitas adalah mercusuar yang menebarkan cahaya bagi orang-orang yang dipenuhi keputusasaan, tenggelam dalam nafsu keinginan duniawi yang takkan pernah terpuaskan. Nama Tuhan adalah mercusuar. Dengan melantunkan nama, sang pemilik nama akan bisa terpanggil. Untuk mengenali sifat Tuhan yang Maha Ada adalah makna dari perayaan Shivarathri. Makna tersebut tidak bisa terungkap hanya dengan melakukan puasa serta berjaga melewatkan malam saja. Itu semua hanya pelengkap dari apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama. Namun proses pencapaian kesadaran Tuhan tidak seharusnya ditunda-tunda ke suatu waktu di masa depan. Hal itu harus dilakukan disini dan sekarang juga. Itu adalah makna dari Shivarathri.

Yudistira mengangguk, dan pencerahan kembali muncul, walaupun penipuan dan kebohongan yang dilakukan Duryodana itu telah terjadi pada dirinya, namun itu terasa indah, sebagai bentuk pembebasan dan pembayaran utang yang selama ini diperbuat . Om gam ganapataye namaha****

Selanjutnya......

Teori Darwin dan Situbanda Ramesvaram

Oleh Gede Agus Budi Adnyana

Teori Evolusi yang dikeluarkan oleh Darwin dalam bukunya yang berjudul: The Origin of Species mengatakan, bahwa kehidupan dalam bentuk manusia baru dimulai sejak 100.000 tahun yang silam.


Dengan kata lain, sebelum itu maka dunia dihuni oleh makhluk-makhluk kera primitif yang tidak memiliki kecerdasan rohani dan material. Atau kecerdasan mereka rendah. Jika kita membaca seluruh buku pelajaran anak-anak di bangku SD hingga SMA, bahkan ada beberapa mata kuliah sejarah kebudayaan, nampak bahwa teori ini dijadikan satu standart utama dalam membahas mula kehidupan dan peradaban manusia dari jaman dulu hingga sekarang.

Apakah hal ini benar sepenuhnya? Atau teori itu sengaja diciptakan atas dasar motif tertentu. Dan yang paling mencengangkan adalah sekarang banyak ditemukan hasil dari banyak penelitian yang kesimpulannya bertentangan dengan teori yang dikemukakan oleh Darwin sendiri. Dengan kata lain, peradaban manusia sudah sangat maju dengan banyak teknologi sejak jutaan bahkan milyaran tahun silam. Cremo dan Thompson adalah salah satu dari sekian banyak peneliti yang menemukan banyak sisa peradaban manusia yang berumur milyaran tahun silam.

Pada tahun 1979, di situs Laetoli Tanzania, Afrika Timur, di temukan jejak kaki pada debu sisa letusan gunung berapi yang menunjukkan usia lebih dari 3,6 juta tahun silam. Dan Mary Leaky seorang peneliti tempat itu menyatakan, bahwa jejak kaki tersebut ternyata mirip sekali dengan jejak kaki manusia modern sekarang. Lalu dalam buku Forbidden Archeology banyak memuat temuan yang terdapat teknologi buatan manusia, seperti kendi, gerabah, alas kaki, dan alat masak yang canggih dengan usia milyaran tahun.

Jika kita cermati, maka ketimpangan akan teori Darwin akan semakin terlihat. Kemudian penemuan akan jembatan Situbanda Ramesvaram yang melintang di samudra menghubungkan antara Sri Lanka dengan India sekarang menunjukkan angka tahun 1.750.000 tahun yang silam. Dan dalam kisah abadi Ramayana kita menemukan durasi kehidupan Sri Rama memang benar terjadi pada jaman Tretha yang jika kita kalkulasikan akan menemukan angka 1.700.000 tahun yang lalu. Jembatan luar biasa ini diambil oleh kamera luar angkasa NASA.

Jembatan ini melintang sepanjang 30 Km dan jika kita percaya dengan teori yang dikemukakan oleh Darwin, maka tidaklah mungkin kera-kera primitive dengan kecerdasan rendah mampu membangun sebuah proyek raksasa yang sangat luar biasa tersebut. Bahkan di jaman Sri Rama, yang oleh banyak ilmuwan dunia meyakini dengan dasar bukti Arkeologis yang validitasnya tidak usah diragukan menunjukkan, bahwa sudah terdapat teknologi nuklir yang canggih.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan di tepi sungai Gangga, ditemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang menjadi bebatuan hangus. Dan jika kita ingin meleburnya, maka kita harus menggunakan bara api paling tidak 1.800 derajat celcius. Api biasa tak mungkin untuk melakukan hal itu. Banyak teknologi yang sangat canggih kita temukan sebagai satu bukti peradaban Veda.

Kembali pada jembatan Situbanda Ramesvaram, bahwa jika pendukung teori evolusi Darwin berpikir, bahwa kera primitf yang tak punya kecerdasan mampu membangun jembatan tersebut, maka itu adalah kurang tepat. Atau dengan kata lain, spesies antara yang dikatakan masih dalam proses perkembangan menuju homo sapiens (makhluk cerdas) sedang berlangsung, dan Rama adalah makhluk cerdas, kemudian Hanuman, Sugriva dan Anggada juga Vanara yang lainnya adalah masih dalam tataran yang berkembang.

Darwin sendiri bingung dengan spesies antara ini, dan ini dinyatakan dengan tidak ditemukannya penjelasan mengenai hal ini secara pasti. Dr. T.D Singh, Ph.D, seorang ilmuwan Veda terkemuka bahkan menulis beberapa kalimat yang ditulis oleh Darwin sendiri sebagai satu bentuk pengakuan terhadap teorinya, dan berikut adalah kutipan kalimat itu:….. setelah lima tahun bekerja, saya mengikuti kehendak saya untuk berspekulasi terhadap subyek tersebut……”(2006:15)

Menurut Dr. Singh, itu adalah penggalan kalimat Darwin yang menunjukkan bahwa ia melakukan spekulasi dalam teorinya yang selama beberapa tahun ia teliti. Spekulasi bukanlah pondasi kuat sebuah kesimpulan ilmiah, dan apa pun yang didasari atas spekulasi tafsiran semata, maka kecenderungan salahnya akan semakin banyak. Jadi, siapakah Vanara dalam kisah Ramayana yang melakukan proyek besar tersebut membuat jembatan yang menghubungkan satu negara dengan yang lainnya?

Dengan kata lain, kehidupan diciptakan secara bersamaan, dan itu berarti bahwa manusia dengan kecerdasan yang hebat sudah hidup berdampingan dengan kera yang memiliki badan serta kualifikasi berbeda. Dengan kata lain, ada banyak spesies yang memiliki badan sesuai dengan keadaan dan kualifikasi jaman yang berbeda juga. Kali Yuga makhluk surgawi seperti Hanuman dengan tampilan badan seolah-olah material tak akan terlihat, sebab Kali memiliki kualifikasi berbeda dengan Tretha Yuga, masa hidup Sri Rama.

Ada satu hal yang tidak dimiliki oleh evolusi Darwin, bahwa kehidupan dengan badan berbeda dapat berpindah dan hidup dalam dimensi yang berbeda dalam satu jaman, dan tidak akan muncul dalam jaman yang lain, atau sebaliknya. Kita bisa lihat hal ini pada kitab Brahmavaivarta Purana sebagai berikut:

Jalaja nava laksani sthavara laksa-vimsati
Krmayo rudra sankhyakah paksinam dasa laksanam
Trimsal laksani pasavah catur laksani manusah

“Ada 900.000 sepsies kehidupan yang hidup di air, 2000.000 spesies tumbuh-tumbuhan dan pohon, 1.100.000 spesies serangga, 1.000.000 speises kehidupan burung. 3.000.000 spesies binatang buas, dan 400.000 kehidupan manusia”

Jadi ada banyak badan dari hewan mikroba hingga para Dewata yang berjumlah demikian, dan dengan badan yang berbeda memiliki kualifikasi yang beda pula. Yang paling tidak dapat bersinergi adalah bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk yang berasal dari kera purba yang tidak memiliki kecerdasan mulanya. Lalu berevolusi dan menuju pada homo sapiens.

Jika demikian, maka saya tidak setuju bahwa Vaivasvata Manu yang merupakan murid pertama dan makhluk yang diciptakan personalitas Tuhan Yang Maha Esa, adalah kera primitive yang tidak memiliki kecerdasan. Vaivasvata Manu bahkan menerima ajaran Yoga dari Sri Krishna di awal penciptaan, dan jika kita hitung dengan kalkulasi periodik waktu menurut Bhagavad Gita sendiri, maka itu sudah menunjukkan 2 juta tahun silam. Bagaimana mungkin, kera primitive yang belum berevolusi dengan kecerdasan yang hampir tidak ada menerima ilmu pengetahuan rohani demikian luar baisa dari Tuhan Yang Maha Esa?

Sama halnya dengan Situbanda Ramesvaram, maka tidak mungkin akan dibuat dengan kera primitive yang belum berevolusi kecerdasannya. Bahkan vanara tersebut memiliki vimana, semacam pesawat terbang yang dapat digunakan untuk membawa batu-serta gunung-gunung besar dan dijatuhkan di samudra untuk membuat jembatan. Jadi percaya pada siapa? Kalau saya, lebih percaya pada Veda.
Om Namo Bhagawate Wasudewaya.

Selanjutnya......

Dhanur Veda, Ilmu Militer Veda

Oleh Wayan Ngarayana

Kalaripayattu merupakan salah satu seni bela diri yang diajarkan oleh Parasurama dan diyakini sebagai yang tertua di dunia.



Seni bela diri Kalaripayattu diyakini disebarkan pada abad ke-6 oleh Daruma Bodhidarma, seorang pendeta Buddha ke daerah China. Dan dari China beladiri tersebut berkembang berkembang ke Korea dan Jepang.

Di India, Kalaripayattu mencapai masa kejayaannya pada perang 100 tahun antara Cholas, Cheras dan Pandyas pada awal abad pertama. Kondisi perang memperbaiki teknik dan ketrampilan bertarung dalam seni beladiri. Seni bela diri ini mencapai puncak berkembangnya pada apad 13 – 16, dan menjadi bagian dari pendidikan untuk pemuda. Pada akhirnya menjadi adat kebiasaan untuk mengirim pemuda di Kerala, yang berusia diatas 7 tahun untuk belajar Kalari.

Namun pada masa penjajahan Inggris, seni bela diri ini mengalami masa surut. Robert Richards, Principal Collector dari Malabar pada tanggal 20 februari 1804, menulis surat kepada Lord william Bentinct, presiden dan jenderal di benteng St George untuk meminta ijin menindak pada penduduk yang membawa senjata, untuk dihukum mati atau dibuang seumur hidup.

Pada masa Pemberontakan Pazhassi, pasukan inggris menggeledah semua rumah untuk menyita senjata, peralatan termasuk pedoman-pedoman ilmu bela diri mereka. Situasi yang sama berulang di Travancore pada masa pemberontakan yang dipimpin oleh Veluthampi, Dalawa dari Travancore.

Untunglah beberapa guru-guru kalari yang secara sembunyi-sembunyi tetap mengajarkan Kalari untuk mempertahankan tradisi sehingga seni bela diri ini masih dapat kita temukan di India selatan saat ini.

Ilmu bela diri Kalaripayattu hanyalah salah satu bagian dari Dhanur Veda, yaitu sebuah manuskrip kitab suci Veda yang mengajarkan teknik dan strategi bertemur. Dhanur Veda yang diturunkan oleh Maha Rsi Brighu merupakan bagian Upaveda dari Yajur Veda. Visnu Purana menjelaskan bahwa Dhanur Veda merupakan salah satu dari delapan belas cabang pengetahuan tradisional. Epos Mahabharata dan Ramayana juga menegaskan bahwa Dhanur Weda adalah sarana pendidikan dalam keprajuritan. Di sisi lain, Dhanur Veda disebutkan sebagai sebuah sutra tersendiri dari Veda yang terdiri dari empat cabang (catuspada) dan sepuluh divisi (dasa vidha). Agni Purana juga memaparkan Dhanur Veda dalam empat bab terpisah [Chakravarti, 1972:14].

Secara harfiah, Dhanur Veda berasal dari kata “Dhanu” yang berarti busur panah dan “Veda” yang berarti “pengetahuan”. Sehingga kebanyakan orang beranggapan bahwa Dhanur Veda adalah cabang ilmu yang mempelajari teknik memanah. Namun demikian jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata Dhanur Veda tidak hanya mengajarkan seni memanah, tetapi juga berbagai seni bela diri dengan senjata dan tangan kosong dan termasuk teknik dan strategi perang.

Penyebutan ilmu bela diri dan bertempur Veda ini sebagai “pengetahuan busur” atau “pengetahuan memanah” atau Dhanur Veda mungkin tidak lepas dari manuskrip yang menyebutkan bahwa pertempuran dengan busur adalah sangat baik, lebih baik dari pertempuran dengan pedang atau tombak dan dikatakan pertempuran dengan tangan kosong adalah yang paling rendah (Gangadharan, 1985:645).

Meskipun secara umum Dhanur Veda tergolong Aparavidya atau pengetahuan material, namun Dhanur Veda juga memaparkan tentang paravidya atau pengetahuan ketuhanan. Dhanur Veda sebagaimana termuat dalam Agni Purana bab 248-251 menyatakan bahwa ada lima bagian pelatihan untuk prajurit di kereta, gajah, kuda, infanteri, atau gulat, dan lima jenis senjata yang harus dipelajari, termasuk yang menggunakan mesin seperti panah atau rudal (yantra-Mukta), yang dilemparkan dengan tangan seperti lembing dan tombak (Pani-Mukta), yang dilemparkan dengan tangan namun tetap dalam kendali yang empunya (Mukta-sandharita atau muktāmukta), yang secara permanen dipegang di tangan, seperti contohnya pedang (hasta-sastra atau amukta), dan bela diri tangan kosong (Bahu-yuddha).

Dimulai dengan senjata yang dianggap paling mulia, yaitu busur dan anak panah, Dhanur Veda membahas secara rinci teori dan praktek, termasuk sepuluh sikap tubuh dasar dalam menggunakan panah. Teknik memasang anak panah, meregangkan, membidik dan melepaskannya. Dalam satu bagian lainnya juga dijelaskan tentang bentuk-bentuk dan jenis-jenis busur serta anak panah. Dalam bab kedua dipaparkan teknik-teknik yang lebih sulit, termasuk juga tata cara ritual penyucian senjata oleh seorang Brahmana sebelum digunakan.

Setelah mencapai kemampuan untuk memfokuskan pikiran, pelatihan pemanah masih belum lengkap, pemanah harus menerapkan kemampuan ini semakin sulit ketika melakukan teknik seperti memanah sasaran di atas dan di bawah garis penglihatan, vertikal di atas kepala, dan sambil menunggang kuda, memanah target yang sangat jauh, dan akhirnya memanah dalam posisi berputar, serta target yang bergerak.

Pada bagian-bagian yang lainnya terdapat deskripsi singkat postur dan teknik bergulat dan penggunaan berbagai senjata termasuk tali, pedang, anak panah, kapak, trisula dan senjata-senjata lainnya. Disamping itu juga diuraikan jenis-jenis pasukan, mulai pasukan menggunakan gajah, kuda dan infantry. Bagian ini diakhiri dengan uraian mengenai cara tepat mengirim pasukan tempur terlatih ke medan perang.

Dalam Agni Purana Ada juga dijabarkan sembilan asana atau posisi berdiri dalam bela diri, yaitu; Samapada, berdiri di barisan tertutup dengan kaki menyatu (Agni Purana 248,9), vaiśākha, berdiri tegak dengan kaki terpisah (Agni Purana 248,10), mandala, berdiri dengan lutut terpisah, disusun dalam bentuk sekawanan angsa (Agni Purana 248,11), ālīḍha, menekuk lutut kanan dengan kaki kiri ditarik ke belakang (Agni Purana 248,12), pratyālīḍha, menekuk lutut kiri dengan kaki kanan ditarik ke belakang (Agni Purana 248,13), jāta, menempatkan kaki kanan lurus dengan kaki kiri tegak lurus, pergelangan kaki dengan lima jari menjadi terpisah (Agni Purana 248,14), daṇḍāyata, tetap menekuk lutut kanan dengan kaki kiri lurus, atau sebaliknya; disebut vikaṭa jika kedua kedua telapak kaki terpisah (Agni Purana 248,16), sampuṭa, setengah melingkar (Agni Purana 248,17), svastika, menjaga kaki 16 jari-jari terpisah dan mengangkatnya sedikit (Agni Purana 248,19)

Tingkat keberhasilan bela diri dan seni bertempur ini juga harus diikuti praktek-praktek ritual, yoga dan meditasi (termasuk pengulangan mantra). Dan dengan pengetahuan yang lengkap ini diharapkan seorang praktisi Dhanur Veda disamping memiliki ilmu bela diri dan ilmu militer yang mumpuni, juga diikuti oleh keluhuran budi pekerti sehingga ilmu yang dimilikinya dapat diterapkan dengan tepat.


Selanjutnya......

CITRA DUALISME DALAM AGAMA

“Makna di Balik Keberlangsungan Umat Beragama”

Oleh Agung Paramita

Fenomena yang terjadi terkait dengan keberadaan agama adalah, mengapa kini semakin membangunkan sendi-sendi pertikaian.


Betapa tidak, di satu sisi agama selalu menjadi sektor yang memudarkan nilai-nilai multikultural, padahal ajaran agama selalu mengajarkan umatnya untuk mencintai semua makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Banyak hal yang dapat dianggap sebagai bukti penting memudarnya multikultural dan toleransi karena agama.
Negara India – Pakistan merupakan satu integritas wilayah yang berseteru secara abadi, karena perbedaan agama. Sebenarnya Pakistan merupakan salah satu wilayah India, akibat ideologi fundamentalisme kaum Islam politis yang di andili oleh Muhamad Allijinah, wilayah tersebut terpecah belah dan membentuk sistem pemerintahan Islam baru, yakni Pakistan. Pemisahan tersebut karena perbedaan agama, yakni agama yang cenderung bersifat skripturalisme – yang menolak adanya pluralisme.

Pertikaian selanjutnya yakni antara Amerika – Afghanistan yang bermula adanya dugaan terorisme yang membawa misi keagamaan, sehingga banyak meraup korban sipil yang tidak berdosa, dan ini sekiranya karena agama. Dari kedua kejadian besar itu dapat dipandang, betapa agama sangat berperan besar bagi kelangsungan hidup manusia kini. Di satu sisi agama dianggap sebagai pedoman hidup manusia untuk mencari kebenaran dan tujuan hidup, namun di sisi lain, akibat adanya kaum puritan yang memiliki sifat dogma terhadap teks agama, wahyu dalam doktrin dianggap sebagai misi agama yang mesti dijalankan demi pencapaian surgawi.

Terkadang perbedaan dalam agama selalu ingin disamakan, sedangkan persamaan dalam agama juga selalu dibeda-bedakan. Cukup asasi apabila ada yang mengatakan, bahwa agama bagaikan pisau bermata dua dengan karakteristik elegan – antagonis (dualisme). Elegansi agama akan cenderung menelorkan sikap moderat para pemeluk agama yang menerima suatu perbedaan kultur, etnis, teologi, serta rasial. Kebenaran mendasar semua agama akan diterima sebagai bentuk toleransi beragama, berbeda dengan kaum puritan yang menganggap kitab suci adalah wahyu Tuhan yang rigid, literal, dan tidak boleh diganggu gugat, sehingga ilmu hermeneutika tidak diterima olehnya.
***

Perjuangan Hindu Membawa Pluralisme (antagonis)

Selanjutnya akan dibahas betapa salah satu agama tertua, yakni Hindu mengalami pergolakan politis yang keras di Indonesia, sedihnya lagi-lagi karena agama. Sempat hanya diakui sebagai aliran kepercayaan – aliran kebatinan para Hindu di Indonesia hampir dikonversi besar-besaran. Itu disebabkan, karena Hindu masih mengadopsi konsep dinamisme, pluralisme, dan politeisme yang diklaim sebagai sebuah aliran kepercayaan yang sesuai dengan Peraturan Kementrian Agama No 9/1952/ pasal VI aliran kepercayaan, yakni suatu faham dogmatis, terjalin dengan adat istiadat hidup dari berbagai macam suku bangsa, lebih-lebih pada suku bangsa yang terbelakang. Untuk itu agar suatu komunitas dikatakan telah “beragama”, komunitas tersebut seyogianya menyatakan kredo monotheistik yang diterima secara internasional – telah disampaikan oleh seorang nabi dalam sebuah kitab suci. Keadaan ini semakin mempersulit pertahanan budaya Hindu yang sepertinya masih sangat terbelakang – dianggap masih menyatakan kredo politeistiknya.

Sejalan dengan peraturan Kementrian Agama yang menjadi tonggak sejarah pengakuan Hindu Indonesia, terdapat suatu kebijakan yang sangat genting, pasalnya ingin menggunting budaya Hindu kala itu. Kebijakan itu dikeluarkan oleh Kepala Kementrian Agama, yakni tepatnya pada tahun 1952. Kebijakan frontal tersebut ialah ingin mengimplementasikan amanah Kementrian Agama yang isinya “meminta orang yang belum beragama dimasukkan ke dalam salah satu dari agama-agama yang sudah diterima.” Kebijakan tersebut sangatlah memihak dan terselimut tujuan tertentu, saya tekankan lagi, itu karena agama.

Hindu kala itu menjadi kalang kabut dan membentuk suatu wilayah keagamaan otonom agar tidak dimasukkan ke dalam salah satu dari agama-agama yang sudah terlegitimasi menjadi agama negara. Masalah tersebut sering disebut sebagai upaya konversi, ibarat semut yang berada dalam kawanan gajah, namun akibat sikap elegansi semut akhirnya perjuangan berpengharapan menemukan celah terang. Hindu berhasil lepas dari keterkepungan pengkonversian agama dengan dalih Hindu dianggap sebagai aliran kepercayaan (Baca: Pencarian Budaya Hindu Yogya: Jayakumara). Sejarah ini menunjukkan betapa besar peran agama kala itu sampai kini. Pihak agama yang cenderung antagonis selalu ingin mencari pengikut sebanyak-banyaknya, tidak memperdulikan cara apa yang diadopsinya – membunuh pun tak masalah demi perintah besar misi yang tertuang dalam teks agama. Sangat asasi apabila kitab suci Veda takut dibaca oleh orang yang belum siap menafsirkannya secara fleksibel. Karena apabila tidak, yakni “makan kacang sama kulitnya” terlahirkan sisi antagonis orang beragama yang selalu bertindak konfrontatif terhadap agama lain. Inilah satu sisi dalam citra dualisme agama.

Berbeda dengan India – Pakistan, Amerika – Afghanistan, dan kaum puritan Indonesia yang selalu memandang dari sisi antagonis. Di Bali yang merupakan salah satu pulau kecil di Indonesia, terjadi fenomena keberlangsungan beragama yang penuh toleransi, berintegritas, elegansif, menjunjung tinggi nilai plural dan multikultural. Fenomena kebersamaan itu seyogianya dapat dijadikan soritauladan bagi masyarakat domestik, bahkan masyarakat dunia sekalipun.

Mari kita simak fenomena beragama Hindu – Islam di Desa Kepaon, yang sampai kini tak pernah bersinggungan, apalagi menumpahkan darah karena perbedaan agama. Keduanya berbulan madu, tak bercerai berai, bak kumbang dan bunga yang sama-sama memberikan keharuman toleransi.
***

Bulan Madu Hindu – Islam di Kepaon (elegansi)

Di tengah pertautan dan pergolakan sosial yang diduga karena sisi antagonis agama, keberadaan agama yang berbeda di Desa Kepaon, Denpasar justru menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesadaran kolektif. Hindu – Islam di Kepaon tak seperti Hindu – Islam di India. Perbedaan signifikan sangat terlihat di wilayah tersebut, terutama sama-sama menyadari, bahwa agama merupakan tali pengikat sosial, bukan gunting penyembelih hubungan sosial.

Keberadaan agama Islam di Kepaon diperkirakan dibawa oleh kaum pedagang pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong yang memerintah pada tahun 1460-1550. Sejak itu komunitas Muslim mulai ada di Bali dan dari waktu ke waktu terus berkembang, walaupun tidak sepesat di Jawa. Betapa pun kecilnya, masyarakat Islam turut pula mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Hal itu nanti akan terlihat pada saat ada upacara agama. Pengakuan eksistensi masyarakat Islam oleh masyarakat Bali (Hindu) ada yang teraktualisasikan dalam wujud pendirian tempat pemujaan (pesimpangan Betara di Mekah) pada beberapa pura di Bali (Mengwi, Badung, dan Bangli). Jejak interaksi masyarakat Islam di Bali dapat pula dilihat lewat beberapa karya sastra yang mengandung kebudayaan Islam. Hinga kini, warga Kampung Islam kepaon tetap menjalin hubungan dengan Hindu di Kepaon, terutama di Puri Pemecutan. Jika di Puri ada hajatan seperti Pitra Yadnya, atau potong gigi (Masangih) tokoh-tokoh masyarakat maupun agama Kampung Islam Kepaon ini rajin berkunjung ke puri dan sangat diterima serta diistimewakan tanpa adanya prasangka sinis dari kedua agama itu.

Kesenian asal Kampung Kepaon, seperti rodat, rebana hadra sering juga ditampilkan di Puri Pemecutan mengiringi upacara. Tradisi di bulan suci Ramadan ini, oleh warga setempat biasanya menyediakan cendana, gergaji kayu, minyak wangi, sampalan, kemudian dibakar dan ditaruh di sudut-sudut bangunan rumah. Selanjutnya ditaburi aneka bunga mulai cempaka, melati, sampai mawar. Inilah salah satu bukti betapa selarasnya keberlangsungan kedua agama tersebut menghadapi pertautan agama. Mungkin kata yang relevan diberikan terhadap kedua agama itu adalah “bulan madu” saling menyayangi, menunjukkan citra elegansi beragama, yang sangat awas dengan sentuhan fisik. Posisi Kampung Islam Kepaon termasuk wilayah Desa Pemogan, namun masuk Desa Adat Kepaon. Mereka hidup rukun berdampingan dengan umat Hindu setempat. Kerukunan itu didapat karena sifat tolerir kedua pihak. Kerukunan itu tidak hanya terlihat pada aspek sosial, namun ditunjukkan juga ketika masing-masing merayakan hari raya keagamaannya. Di antara mereka saling memberi “give and take” dengan tetangganya yang sebagian besar beragama Hindu. Tak cuma itu, sering dalam upacara kematian, para pelayat yang mengantarkan ke kuburan membaur antara yang berpakaian adat Bali dan muslim yang mengenakan songkok (kopiah).

Mereka pun hidup damai di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Suasana harmonis dan penuh toleransi itu tidak hanya diakui oleh pihak yang beragama Islam, melainkan beberapa tokoh Hindu juga menyadari dan mengakuinya. Fenomena ini patut ditiru, seperti yang diungkap Gandhi: kebenaran fundamental ada di semua agama– jadi buat apa dipertentangkan. Namun tidak dipungkiri citra dualisme baik itu elegansi – antagonis selalu muncul dalam agama, parahnya itu tidak bisa diapa-apakan.


Selanjutnya......

Ogoh-Ogoh Nyepi, Untuk Apa

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

Hari Raya Nyepi sudah datang. Hari yang ditunggu-tunggu. Tapi kebanyakan orang Bali, apalagi kaum mudanya, bukannya menunggu saat melangsungkan brata penyepian – amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelangunan – tetapi menunggu pawai ogoh-ogoh. Pesta ogoh-ogoh ini lebih penting ketimbang Nyepi itu sendiri. Jadi, yang ditunggu-tunggu sebenarnya bukan Nyepi tetapi pengerupukan alias sehari sebelum Nyepi. Itulah hari yang sering disebut sebagai Tawur Kesanga


Tawur Kesanga ini adalah ritual untuk bhuta yadnya, kalau tingkatan rendah disebut caru, kalau tingkatan paling tinggi disebut tawur. Untuk gampang dihayati, inilah saatnya para bhuta diubah wujudnya menjadi dewa agar tidak mengganggu bumi sebelum umat Hindu melaksanakan brata penyepian. Mengubah wujud bhuta menjadi dewa ini dalam istilah agamanya: somya.

Agaknya istilah itu tak berarti bagi kaum remaja Hindu. Yang jelas, kawula muda di Bali merasakan hari ini hari yang tak bisa dilewatkan. Itu saatnya mereka menumpahkan kreasinya dalam acara mengarak ogoh-ogoh. Nyepi tanpa ogoh-ogoh sama dengan makan tanpa kerupuk, tak ada renyahnya meski kerupuk tidak membuat kenyang.

Namun di Bali, banyak yang salah kaprah memanfaatkan fungsi ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh dijadikan barang seni dan diarak sebagai sebuah bentuk kesenian dan menjadi dunia tontonan. Di luar Bali, khususnya di Jakarta dan kota-kota besar, anak-anak muda membuat ogoh-ogoh untuk kepentingan ritual. Ogoh-ogoh tak diarak, hanya untuk natab caru saja. Ketika tawur kesanga sudah selesai, bhuta sudah somya menjadi dewa, kenapa simbol bhuta diusung-usung lagi? Kenapa harus diarak ke jalanan? Ini kan sama saja dengan menghidupkan bhuta kembali, bagaimana bisa melaksanakan brata penyepian. Karena itu umat Hindu di luar Bali sering mengejek umat Hindu di Bali dengan menyebutkan: “Pantas saja selama ini bayak umat Hindu di Bali yang Nyepi sambil meceki dan main domino, karena bhuta masih gentayangan.”

Para remaja Hindu di luar Bali mengikuti upacara tawur dengan khikmad. Ketika Sulinggih muput tawur, mereka membunyikan musik keras dengan berbagai kreasi. Bisa gamelan baleganjur, bisa musik kentongan dari bambu (mirip tektekan di Tabanan) atau berbagai variasi lainnya. Saat itulah ogoh-ogoh sebagai symbol bhuta disuruh “makan caru”, selanjutnya dianggap sudah somya menjadi dewa. Jadi, ogoh-ogoh sudah dianggap tak ada lagi, lalu dipreteli di tempat.

Fenomena belakangan ini berkembang lagi ogoh-ogoh yang semakin jauh dari dunia ritual. Yakni, ogoh-ogoh kemasukan dunia bisnis dan membawa pesan sponsor. Kalau pun tidak ikut dimasuki virus bisnis, ogoh-ogoh jadi symbol untuk mengungkapkan perasaan. Bisa perasaan perorangan, bisa pula perasaan kelompok, maklum ogoh-ogoh dibuat oleh kelompok.

Misalnya, ada ogoh-ogoh yang menggambarkan perempuan berbadan sintal lagi merangkak dengan rok mini. Apa kaitannya dengan bhuta yadnya? Tapi, kalau kita tanya kaitannya, tentu saja ada jawabannya. Misalnya disebutkan, dunia ini sudah dikuasai oleh wanita-wanita binal yang merusak moral masyarakat khususnya anak-anak muda. Ini adalah bentuk bhuta yang baru, yang harus pula dibasmi atau disomya.

Ada ogoh-ogoh yang melambangkan pemuda bertubuh kurus sedang memegang botol minuman. Mudah ditebak, apa yang mau disampaikan oleh ogoh-ogoh itu. Yakni, mengajak masyarakat untuk waspada terhadap dampak minuman keras yang menyebabkan mabuk. Jadi, pemuda kurus pemabuk itu pun menjadi bhuta versi baru. Ada pula ogoh-ogoh \Anoman yang menunggang sepeda motor, ini jelas ada iklan sponsornya. Tapi orang bisa berdalih: sepeda motor yang terus bertambah di Bali dan memacetkan jalan adalah juga bentuk bhuta versi baru. Pertanyaannya adalah, apakah pesan “bhuta versi modern” itu sampai dicerna dan tak tenggelam dalam bentuk phisiknya?

Salahkah jika masyarakat Bali mengarak ogoh-ogoh dengan berbagai simbol untuk mengungkapkan perasaan atau fenomena yang ada dalam masyarakat? Ada yang salah dan ada yang tidak. Tidak salah karena uneg-uneg masyarakat bisa dicetuskan bersama dalam suasana pesta. Itu yang menjelaskan kenapa membuat ogoh-ogoh dengan biaya mahal mudah mendapatkan dana.

Yang salah adalah simbul bhuta dalam ogoh-ogoh itu harus jelas sesuai dengan sastra Hindu. Parisada pernah memberikan rincian tentang ini, apa saja ciri-ciri symbol bhuta. Salah satunya adalah symbol yang mempunyai sifat keraksasaan. Kalau ogoh-ogoh berbentuk Arjuna atau Krisna atau Anoman tentu tak dianjurkan, karena jauh dari sifat keraksasaan.

Kesalahan utama tentu saja karena ogoh-ogoh tidak dilibatkan dalam pecaruan atau tawur. Semestinya, ogoh-ogoh yang melambangkan bhutakala ini bagian inti dari ritual karena fungsinya untuk natab caru. Yang kita lihat di Bali, ogoh-ogohnya di arak di tempat lain, pelaksanaan tawur di tempat lain lagi. Jika pun berdekatan, ogoh-ogoh tidak diusung ke tempat banten tawur digelar.

Apa yang bisa dipetik dari kesalahan dalam menyikapi ogoh-ogoh Nyepi ini? Perlu dikembangkan adanya ogoh-ogoh nonritual atau ogoh-ogoh profan sebagai bentuk kesenian yang seratus persen tontonan. Hal ini sudah pernah dirintis oleh pemerintah kota Denpasar dengan menyelenggarakan pesta ogoh-ogoh non-ritual. Pesta ini diselenggarakan untuk menyambut HUT Kota Denpasar. Namun, pesta yang berlangsung di bulan Februari itu tetap saja tak mengurangi salah kaprah ogoh-ogoh ritual di saat Nyepi. Mungkin perlu waktu untuk “mengajarkan” umat Hindu di Bali, yang mana sakral yang mana profan.

Ide Walikota Denpasar untuk membuat karnaval ogoh-ogoh nonritual pada HUT Kota Denpasar sebenarnya patut disambut gembira. Banyak kota di dunia yang terkenal karena karnavalnya yang unik. Brasil, Lima, Meksiko, Paris, Napoli, Lisabon adalah contoh kota yang selalu kebanjiran wisatawan saat karnaval berlangsung. Kalau karnaval ogoh-ogoh profan ini dikelola dengan baik, ia bisa jadi obyek wisata baru di Bali, dan pada akhirnya masyarakat yang membuat ogoh-ogoh mendapatkan subsidi.

Namun, jika tidak dikelola dengan baik, beban masyarakat bertambah. Apalagi kalau ogoh-ogoh ritual tetap tak bisa dikontrol, maka penduduk Denpasar akan dua kali membuat ogoh-ogoh dalam setahun. Bayangkan, berapa juta uang yang habis untuk hura-hura seperti ini, padahal umat Hindu, menurut sensus BPS, adalah umat yang paling terbelakang dalam SDM. Bukankah lebih baik membangun sekolah, pasraman, atau membeli buku agama dibandingkan membuat ogoh-ogoh?

Selanjutnya......

Menyambut Nyepi dengan Penuh Kedamaian

Oleh: I Komang Agus Widiantara

Nyepi yang merupakan perayaan suci agama Hindu dan sekaligus Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistem kalender Hindu Nusantara, yaitu di saat Uttarayana (hari pertama matahari dari katulistiwa menuju ke garis peredaran di lintang utara), merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama nyepi artinya membuat suasana hening, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati agni), tidak keluar rumah (amati lelungan), dan tanpa hiburan (amati lelanguan), yang dikenal dengan istilah Catur Brata Penyepian.



Selama meyambut hari raya nyepi, berbagai kegiatan yang di lakukan masyarakat untuk mempersipakan segala sesuatu, baik sarana maupun prasarana dalam proses upacara nanti seperti Tawur Agung Kesanga yang dilakukan sehari sebelun perayaan nyepi keesokan harinya. Upacara ini dilakukan tentu saja untuk persembahan manusia kepada para Bhuta Yadnya agar terjadi keseimbagan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan erat antara manusia dengan alam sekitar (palemahan). Namun terkadang acara tersebut dipandang sebelah mata hanya dipersepsikan sebagai formalitas dan pelengkap hari raya nyepi. Hal tersebut bisa kita amati khususnya di Bali yang kental akan berbagai jenis upacaranya (ritualnya).

Selain itu hiruk-pikuk dalam perayaan nyepi sering sekali terjadi kejanggalan dan ketidak sesuain dengan konteks hari rayanya. Banyak masyarakat (Bali-Hindu) yang acuh tak acuh, merayakannya penuh dengan kemewahan, berpesta poria, minum-minuman keras di setiap gang-gang perumahan maupun balebanjar atupun wantilan dan yang sangat memprihatinkan sekali yaitu bahkan ada masyakat yang memanfaatkan moment ini (nyepi) untuk berjudi, karna hari ini merupakan hari libur nasionl yang di tetapkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat(Bali-Hindu) menggunakan waktu senggang ini untuk bersenang-senang. Sangat lucu dan sekaligus mengherankan. Perayaan suci (nyepi) yang sangat disakralkan dan di hormati disambut dengan penuh kegemerlapan duniawi yang tak habis-habisnya sepanjang tahun. Kemungkinan banyak umat non Hindu di luar sana yang mengetahuinya dan berfikir, kenapa bisa seorang masyarakat Bali-Hindu yang taat dan disiplin akan ritual keagamaaan bisa-bisanya menyambut hari rayanya sendiri penuh dengan foya-foya dan bersenang-senang dengan berbagai kegiatan hiburan ? Masyarakat Bali yang di puja-puji di luar sana, dengan berbagai label keramahan, ketaatan, bermoral, ramah, tamah semuanya terberangus dalam sebuah muara anomali yang terpuruk.

Memang tidak bisa dimungkiri arus pariwisata global telah mengubah pola pikir dan karakter masyarakat Bali khususnya. Sektor ini telah merubah watak manusianya semakin liar dan binal. Tentu saja disini mereka tidak bisa menahan diri dalam arus materi yang diorientasikan demi untuk mencukupi kebutuhan hidup yang semakin kompleks dan menggila. Terlebih dari sektor itu berdampak signifikan dalam merusak alam Bali yang menjunjung tinggi ajaran Tri Hita Karana. Bali yang sekarang bukanlah Bali yang dikenal seperti dahulunya. Bangunan yang super megah dengan ketinggian yang melebihi peraturan yang diberikan telah di langgar dan sekaligus disepakati dengan jalan damai(kompromi), tanpa memperhitungkan dampak dari apa yang telah di sepakatinya tersebut. Semuanya itu hanyalah keteledoran manusianya sendiri, mau terjebak dalam dunia fana yang penuh dengan sajian keduniawiaan.

Sungguh ironis sekali, ketika ketidakberdayaan manusia dalam menahan hawa nafsu(kama) maka terjerumuslah ia dalam lembah muara keterpurakan yang meyesatkan. Tanpa menyadari ia sejatinya hanyalah manusia biasa yang merupakan ciptaan Tuhan yang penuh dengan kelemahan. Dalam hakikatnya menyambut perayaan agama seperti perayaan nyepi yang merupakan hari raya yang dijunjung tinggi umat Hindu-Bali sebenarnya harus dihormati dan di sambut dengan penuh kedamaian, keheningan, intropeksi diri dan menyelami sambil mempelajari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sebelumnya bukan meyambut dengan berbagai pesta poria yang penuh dengan kenikmatan duniawi. Karna waktu kehidupan bagi manusia sangat terbatas.

Entah kapan waktu akan mengakhiri kehidupan manusia dan dunia ini. Sebelum jatuh dan jauh dari penyesalan marilah sebagai masyarakat Hindu Bali khususnya, meyambut perayaan nyepi dengan penuh hikmat betul-betul menyadarkan diri sendiri dengan keyakinan yang kuat, meskipun belum bisa sepenuhnya melakukan catur brata penyepian, dengan tahap demi tahap serta proses pembelajaran bukan tidak mungkin hal itu dapat kita capai, demi mencapai kesejahteran hidup lahir maupun batin.


Selanjutnya......